"Hei Betina! Dia Jantan ku! Apa kau berani, menyentuh Milikku?" lembut, namun tajam.
Qingling, gadis dengan sejuta pesona yang selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi setelah kematian kakeknya.
Tanpa disadari ia telah melakukan perjalanan waktu karena ulah seniornya, hingga sampai zaman dimana, para Orc atau Beastman berkuasa.
"Jantan Tampan, Manis, Arogan, Penurut dan suka Mengintimidasi aku memiliki semuanya."
"Mereka memaksaku untuk kawin dengan mereka semua? yang benar saja!"
Penasaran dengan kisah Qingling dan Jantan Tampan disekelilingnya? Bukan hanya Percintaan, tapi juga tentang Hubungan, Keberanian, Kejujuran, dan Balas Dendam.
Yuk! Simak kehidupan Qingling di Dunia Binatang.
No Plagiat. Karya murni dari isi pikiran Author. Jika ada Kesamaan Nama atau Tokoh, Mohon di maafkan..
Selamat Membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hua chia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Heul vs Qingling
Qingling berjalan mendekat hingga, bisa melihat kondisi para betina yang ternyata, di ikat dengan serat kayu.
"Apa kau akan membakarnya?" tanyanya tanpa menjawab, ucapan Heul yang sangat kekanak-kanakan.
Heul semakin geram hingga, tubuhnya bergetar karena marah. Melihat Qingling melepas ikatan, pada betina yang akan dibersihkan jiwanya.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa, kau melepas ikatannya? Kau menerbangkan jiwa kotor yang harus di murnikan" Heul menatap tajam dan geram, melihat wajah tenang Qingling yang merasa tak bersalah.
Telinga Qingling sangat sakit, mendengar teriakan penuh amarah dari Heul. "Sangat berisik. Lebih baik, tutup mulutmu mereka sedang sakit dan kau hanya bisa membakar saja!" ucap Qingling tak kalah tajam.
Mendengar bahwa, betina suku Tupai sedang sakit menimbulkan pertanyaan di hati mereka, yang akan menyaksikan proses pembersihan jiwa.
Tupai kecil yang mendengar ucapan Qingling seketika, menatapnya penuh harap dan memeluk kakinya. Qingling mengira itu, adalah hewan biasa tapi, saat tupai kecil itu melompat ke pundaknya dan berbicara, ia mengerti bahwa ini adalah Orc kecil yang belum bisa merubah wujudnya.
"Kakak cantik, apa ibu ku bisa di sembuhkan? Aku tak ingin kehilangan ibu" tanyanya dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca.
Qingling tersenyum tipis dan mengelus pipi Orc kecil, yang berada di pundaknya, "siapa nama mu, anak manis?"
Mendapat pujian dari Qingling pipi tupai itu, bersemu merah. "Nama ku Chue kak" ucapanya dengan malu-malu.
Heul tertawa congkak dan menatap remeh Qingling. "Bodoh! mereka terkena kutukan yang bisa menular jika, tidak di bakar akan menyebar ke betina lainnya. Apa kau mau menanggung dosa mereka?" ucapnya dengan lantang yang diangguki sebagian, Orc yang ada disana.
Qingling menatap dingin Heul. "Kutukan yang kau maksud itu, adalah racun. Apa kau berani bertaruh dengan ku?"
Smirk terlihat, di ujung bibir Heul mendengar tawaran Qingling. "Baik, jika kau kalah. Serahkan Yuze kepadaku" Heul melirik sekilas Yuze, dengan mata penuh ambisi.
"Jika, kau yang kalah?" Qingling menatap tajam Heul yang berani, menjadikan Yuze sebagai taruhannya.
Heul menatap sengit, penuh permusuhan dengan Qingling. "Jika, aku yang kalah. Aku akan menuruti permintaanmu" ucapnya dengan lantang.
Tanpa pikir panjang, Qingling mengangguk, "Setuju" ucapnya santai tanpa menatap Heul, yang terlihat ingin memakannya hidup-hidup.
Berbeda dengan reaksi Yuze yang terlihat kesal, dijadikan taruhan oleh, betina burung berambut ikal panjang dengan mata berwarna hazel.
Qingling mengecek kondisi, salah satu betina yang merupakan ibunya Chue, dengan seksama. "Chue, sebelum ibu mu sakit apa dia makan sesuatu?" tanyanya tanpa mengalihkan matanya, dari dada ibu Chue yang menghitam di satu titik.
'Dugaanku benar. Racun serangga darah' batinnya menatap bingung, ibu Chue yang terkena racun ini.
Tabib Su dan Yuze mendekati Qingling. "Apa yang terjadi, Nak" tanya tabib Su melihat kerutan dan wajah bingung Qingling.
"Nanti akan ku jelaskan Kek. Sekarang, kita mencari penawarnya dulu jika, sampai matahari terbenam belum mendapatkan obatnya, mereka akan mati" penjelasan Qingling membuat sebagian yang berada di sana meragukannya. Pasalnya, mereka sangat mempercayai anggota Kuil.
"Hei betina cantik, apa ucapan mu itu benar?" tanya salah satu Orc Kangguru, menatap penuh harap Qingling yang merupakan salah satu pasangan ibu Chue.
Qingling hanya diam tapi, kepalanya mengangguk. Diam-diam Heul cemas, ia merasa Qingling mengetahuinya. 'Tidak mungkin ia bisa menyembuhkannya' batin Heul berusaha menyingkirkan pikiran buruknya.
"Yu, apa kau ingat daun berwarna ungu pekat bentuknya bulat? Bisakah kau ambilkan itu, di dalam tas ku?"
Tanpa pikir panjang, Yuze mengangguk dan segera pergi mengambilkan permintaan Qingling. Melihat Yuze pergi, tanpa banyak tanya Qingling tersenyum. Memang Yuze yang terbaik.
Setelah itu, Qingling meminta tabib Su mencarikan wadah kecil dan bunga tulip daun lima.
"Nak Qing, di lemari penyimpan obat kakek sepertinya, ada bunga yang kau maksudkan. Sebentar, kakek akan meminta Zing untuk mengambilnya."
Saat tabib Su akan beranjak pergi, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Qingling.
"Tidak Kek, yang ada di laci itu tulip sungai. sedangkan, yang kita butuhkan tulip daun lima yang hidup di dalam jurang atau lembah" jelasnya yang membuat tabib Su terdiam.
Hening.
Hingga, satu suara memberikan harapan.
"B-betina cantik, a-apa... Bunga itu mengeluarkan cahaya dalam kegelapan?" tanya Orc jantan merpati, dengan gugup dan rona merah di pipinya.
Mata tajam Qingling berbinar, "Benar sekali, dimana kau melihatnya? Tunjukkan padaku" suaranya riang karena bunga ini termasuk, tanaman langka yang mudah mati sebelum masa matangnya.
Orc merpati itu, bertambah gugup saat matanya bertabrakan dengan mata indah Qingling, 'D-dia cantik sekali...' batinnya tersipu malu.
"Aku... Melihatnya di lembah terlarang dekat suku Harimau" jelasnya dengan menunduk tak, berani menatap manik indah Qingling.
"Bisakah, kau mengantarku kesana?"
"Biar aku saja yang mengambilnya" Mendengar suara dingin yang dikenalinya. Qingling menoleh ke arah gerombolan Orc, yang membuka jalan untuk Kaian yang berjalan menghampirinya.
Qingling mengerutkan alisnya, merasa aneh dengan sikap Kaian, 'Sejak kapan dia menjadi baik?' batin Qingling tak senang, dengan kedatangan Kaian.
'Sial. Beraninya dia mendekati Kaian? Bagaimana bisa Kaian menyukai betina pendek seperti itu.' api cemburu di hati Heul semakin menyala. Melihat Yuze dan Kaian yang ia incar sama sekali, tidak meliriknya sedikitpun.
Sejenak, ia mengingat perkataan dari temannya sekaligus, rivalnya tentang betina yang berhasil merayu Yuze maupun Kaian. Ia enggan mempercayai saat itu, dan sekarang ia melihatnya. "Tidak. Yuze hanya bisa menjadi milikku, begitupun Kaian." suaranya lirih penuh ancaman nyaris terbawa angin.
"Tidak usah. Aku akan mengambilnya sendiri." tolak Qingling. Menatap malas Kaian.
Kaian mendengus kesal, "Lembah terlarang bukan lembah biasa. Kau bisa celaka" ucapnya dengan serendah mungkin, menahan rasa kesal di hatinya melihat sikap Qingling yang sepertinya, tidak menyukainya.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri" Qingling mendongak dan menatap dingin Kaian yang ternyata, juga menatapnya.
Kaian maju satu langkah hingga, ia bisa melihat tanda pasangan Qingling yang terlihat dari atas. Sudut bibirnya berkedut melihat itu, "Jika, begitu aku akan ikut denganmu."
"Ak—"
"Bagus. Nak Qing, biar Kaian ikut agar ada yang menjaga mu. Lembah itu, sangat berbahaya aku tak akan mengizinkan mu jika, pergi sendiri." ucap tabib Su, yang memotong ucapan Qingling.
Ia tau bahwa, Qingling akan menolak Kaian. Sepertinya, perjuangan Ketua suku Serigala dalam mendapatkan hati Qingling telah di mulai.
Qingling termenung. Jika, ia pergi sendiri itu terlalu gegabah. Pasalnya, Ia baru sampai disini dan belum mengenal, dengan jelas tempat tinggalnya.
"Baiklah, ayo kita pergi" putus Qingling pergi dan di ikuti Kaian di belakangnya.
Tabib Su, menatap haru kepergian Kaian. Ia tak menyangka bahwa, hati Kaian perlahan mencair setelah kedatangan Qingling, "Wuwuwu.... cucuku suda besar" ucapnya menyeka ujung matanya, yang jelas tidak mengeluarkan air mata.
Setelah kepergian Qingling dan Kaian. Yuze kembali, membawa tas Qingling. Ia mengedarkan pandangannya dan tak mendapati Qingling. " Kakek, dimana Ling?" tanyanya khawatir.
"Qing sedang pergi, ke lembah terlarang bersama Kaian" jawabnya dengan membuka catatan obatnya.
Yuze yang mengerti, mengapa Qingling pergi ke lembah terlarang hanya mengangguk setelah, mendengar penjelasan tabib Su. Ia tenang jika, perginya Qingling bersama dengan Kaian bagaimanapun Ketua idiot itu, juga pasangan Qingling.
"Sekarang, apa yang akan kita lakukan, Kek?"
"Lihatlah, ujung kirimu."
ditunggu ya kelanjutannya author 🤭
jangan lama2 soalnya penasaran nungguin yaa author
jangan lama2 thor
jangan lama-lama😊😊😊😊
q menanti Thor
jangan digantung ok