Bismillah karya baru FB Tupar Nasir
WA 089520229628
Sekuel dari Ya, Aku Akan Pergi Mas Kapten
Kapten Excel belum move on dari mantan istrinya. Dia ingin mencari sosok seperti Elyana. Namun, pertemuan dengan seorang perempuan muda yang menyebabkan anaknya celaka mengubah segalanya. Akankah Kapten Excel Damara akan jatuh cinta kembali pada seorang perempuan?
Jangan lupa ikuti kisahnya, ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Mimpi Nikah
"Zinni sakit, dia masuk angin?" Excel kaget, terlihat wajahnya begitu khawatir.
"Betul, Den. Sepertinya begitu kalau dilihat dari tanda-tandanya," ujar Bi Ocoh.
"Baiklah. Biarkan dia istirahat di kamarnya. Kalau dia melakukan pekerjaan rumah, tolong Bi Ocoh cegah saja," perintah Excel.
"Bibi mohon maaf, Den. Sebetulnya Neng Zinni, sebelum muntah-muntah, Neng Zinni sudah ngepel seluruh ruangan di lantai dua, kecuali kamar Den Excel. Katanya sudah dua minggu belum dipel. Tadi bibi sudah melarangnya, tapi Neng Zinni berkeras dan tetap ngepel lantai atas," jelas Bi Ocoh.
"Waduhh, bisa jadi sakitnya karena terlalu lelah setelah ngepel. Si Zinni ini memang orangnya selalu begitu, keras kepala. Sudah tahu tubuhnya sakit, malah memaksakan diri," rutuk Excel.
Tiba-tiba Hp Excel berdering, Excel meraih Hp nya dan menerima panggilan. "Baiklah, aku segera ke sana," sahutnya. Panggilan itu hanya sebentar.
"Bi Ocoh, titip dulu Zinni, ya. Saya keluar sebentar. Nada ingin dijemput," kata Excel sembari bergegas menuju pintu keluar.
"Baik Den."
Excel segera menyalakan mesin mobilnya, menuju sebuah tempat yang dijanjikan Elyana. Dia akan menjemput Nada, karena Elyana bilang Nada kangen Zinni.
Mobil Excel tiba di sebuah emper mall yang dijanjikan Elyana. Kebetulan Elyana dan Rafka, habis mengajak Nada makan dan jalan-jalan di mall.
"Papaaa."
Nada berteriak ketika melihat Excel datang. Wajahnya bahagia. Bocah lima tahun itu langsung berlari memburu Excel. Elyana dan Rafka sontak terkejut, kemudian Rafka berusaha mengejarnya, karena ia takut ada kendaraan yang kebetulan lewat ketika Nada berlari menuju Excel.
"Nada, jangan lari!" teriak Rafka khawatir, iapun mengikuti Nada dan berusaha menyamai langkah sang anak sambung.
"Papaaa."
"Ya ampun, Sayang. Kenapa Nada harus berlari menghampiri papa? Papa bisa menghampiri Nada bersama mama dan Papa Rafka," protes Excel terdengar khawatir.
Excel memeluk bocah lima tahun itu, kemudian mengangkatnya dalam pangkuan.
"Ya ampun, Sayang. Sudah papa Rafka bilang jangan lari. Biarkan Papa Excel yang menghampiri kita. Bagaimana kalau tadi ada kendaraan lewat. Itu bisa bahaya, Sayang," tegur Rafka lembut.
"Mas Rafka. Apa kabar, Mas? Elyana sudah baikan?" Excel menyambut Rafka, menjabat tangannya. Hubungan mereka kini setelah dua tahun berlalu, sudah sangat baik. Excel pun sudah menerima keadaan dan bisa melepas Elyana dengan ikhlas.
"Seperti yang kamu lihat, Cel. Istriku sudah tidak mual dan muntah lagi."
Elyana semakin dekat ke arah Excel dan Rafka juga Nada. Dia menyalami Excel dengan sikap yang lebih santai dan hangat, karena antara dirinya dan Excel, kini sudah sangat baik dan saling merelakan.
"Mas, Excel, apa kabar, Mas?" Elyana menyalami Excel. Sudah tidak ada perasaan cemburu di wajah Rafka.
"Baik, El. Seperti yang kamu lihat."
"Syukurlah, Mas. Oh iya, Aku dengar Zinni mantan guru TK nya Nada, tinggal di rumah kamu. Apakah itu benar? Nada yang bilang, da dia kemarin bilang kalau dia kangen Bu Zinni," tutur Elyana
Excel sejenak tertegun, dia sedikit tidak enak bahwa kehadiran Zinni di rumahnya sudah diketahui oleh Elyana.
"Iya, betul itu, El. Dia meminta pekerjaan di rumah, karena ternyata di TK Dahlia sudah dikeluarkan secara halus. Aku terpaksa menerimanya, meskipun semua pekerjaan sudah bisa dihandle Bi Ocoh," ujar Excel.
"Sepertinya, dia lebih cocok menjadi ibu sambung Nada, apalagi Nada sudah begitu dekat dengan Zinni," tukas Elyana.
Excel memerah. Ucapan Elyana membuat Excel terlihat kikuk. Untuk menghindari perasaan kikuknya, Excel buru-buru mengajak Nada pulang.
"Baiklah kalau begitu, aku dan Nada sebaiknya pulang. Kalian hati-hati, ya," pamit Excel. Elyana dan Rafka mengangguk seraya menatap kepergian Excel dan Nada.
Tiba di rumah, Nada berlari memasuki ke dalam rumah. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Zinni.
"Bu Zinni. Buuuu." Nada berteriak menuju kamar yang ditempati Zinni.
Sementara Excel menatap kepergian sang anak seraya geleng kepala. "Ya ampun, Nada."
"Nada, jangan diganggu Bu Zinninya. Bu Zinni saat ini sedang sakit. Biarkan dulu," cegah Excel khawatir, sebab setahunya Zinni juga mengalami demam dan panas.
"Bu Zinni. Bu." Nada memasuki kamar Zinni. Di sana Zinni masih terbaring dengan tubuh yang masih panas.
"Papa, tubuh Bu Zinni panas," ujar Nada setelah barusan menyentuh tubuh Zinni yang tertidur pulas. Sepertinya Zinni tidur pulas akibat reaksi obat penurun panas yang tadi diberikan Bi Ocoh.
"Sayang, menjauh dari Bu Zinni. Sudah papa bilang, Bu Zinni sedang demam. Kalau Bu Zinni sudah sembuh, Nada nanti bisa bermain lagi dengan Bu Zinni," tukas Excel khawatir, sebab Zinni memang demamnya tinggi.
Nada patuh dan akhirnya keluar lagi dari kamar Zinni. Excel meraih bocah kecil itu lalu keluar dari kamar Zinni.
Sementara Zinni, saat Nada tadi menyentuhnya, dia sedang berkelana di alam mimpi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alzinni Zailan binti Bapak Zainal almarhum dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sepasang sendal cross, TUNAI."
"Pak Excel suamiku, ahhhhhhhh."
Tiba-tiba tubuh Zinni yang berada di atas ranjang terpelanting jatuh. Excel yang hendak membalikkan badan, tersentak dan sejenak bengong.
"Papa, Bu Zinni jatuh. Itu lihat!" seru Nada sangat khawatir.
Excel menghampiri Zinni yang sudah berada di lantai kamar, yang tadi sebelum jatuh sempat meneriakkan namanya.
"Pak Excel suamiku? Maksudnya?" Kening Excel mengkerut dalam, dia berpikir jangan-jangan Zinni sedang bermimpi tadi, sehingga ia sampai terjatuh. "Apa si Zinni sedang mimpi nikah?" batin Excel lagi heran.
semoga saja benar ya Thor ☺️🤩