NovelToon NovelToon
Behind The Boss

Behind The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uma hajid

Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.

Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.

Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Kamar

Radit tersenyum senang ketika handle pintu kamarnya bergerak. Ia yang tadinya berada di atas sofa, sedang mengecek sedikit laporan dari Bara langsung mematikan laptopnya dan segera naik ke atas tempat tidur. Hatinya bersorak ketika handle pintu itu semakin cepat bergerak.

Handle pintu itu kini tak bergerak lagi. Ia hanya bisa berpikir pasti perempuan itu sedang mengadu pada papa atau mamanya sekarang. Atau mungkin tidur di kamar Ari. Apapun itu, Radit tak mau ambil pusing. Ia sudah mempersiapkan jawaban. Jika papanya bertanya, ia hanya tinggal menjawab bahwa ia lupa. Selesai urusan.

Tadinya ia begitu kaget ketika menemukan bahwa tempat bajunya sudah bergeser. Peralatan mandi tak dikenal juga berjejer di dalam kamar mandinya. Terlebih lagi dua koper lusuh berdiri tegak di sudut kamar. Ia sudah bisa menduga apa yang terjadi. Satu ide menarik muncul di kepalanya yang sudah kepalang basah tidak menyukai perempuan itu. Hari ini ia akan tidur dengan tenang. Setidaknya, perempuan itu tak akan mengganggunya malam ini.

❇❇❇

Kiran yang tadinya ingin mengibarkan bendera damai, merasa kesal bukan main. Bukankah kekanak-kanakan? pikirnya. Apa yang ada dipikiran pria itu, hingga bisa mengunci pintu kamar seperti ini.

Kiran mendengkus kesal. Teringat sesuatu, ia langsung mengarahkan langkahnya ke kamar Raisa. Kamar yang dulu ia tempati. Raisa tak tampak masuk ke dalam kamarnya tadi. Kiran juga lebih dulu keluar dari kamar Mama Ariana, jadi bisa dipastikan Raisa masih berada di sana.

Kiran memasuki kamar Raisa dengan cepat, lalu melangkah menuju pintu penghubung yang berada di tengah dinding pembatas antara kamar Raisa dan kamar Radit. Kunci pintu geser dibuka. Kiran memutar kenop. Berhasil! Pintu itu terbuka kini.

Radit yang melihat pintu penghubung terbuka, terkesiap hingga bangun dari tidurnya. "Kau ...." katanya menatap Kiran tak percaya. Wanita itu bahkan belum menyerah.

Kiran melewati pintu penghubung itu dan masuk ke dalam kamar. Seharusnya ia senang sekarang karena bisa mengalahkan taktik kekanak-kanakan pria yang sedang duduk di atas tempat tidur itu. Tapi jangankan senang, hatinya masih merasa kesal.

"Jika kau tidak ingin sekamar denganku, maka gunakanlah cara yang lebih gentle lagi!" seru Kiran sembari mendekati tempat tidur. Berniat untuk tidur di atasnya.

"Hei, kau mau apa?" tanya Radit melihat gelagat wanita di depannya yang ingin tidur dengannya tanpa wajah keberatan.

"Mau tidur. Kenapa?" balas Kiran datar. Apalagi sih?

"Siapa yang membolehkan kau tidur satu tempat tidur denganku?" tanya Radit dengan tatapan tajam.

"Please, jangan kekanak-kanakan, Dit. Kau itu suamiku. Wajar kan kalau kita tidur di tempat tidur yang sama." Kiran mulai merasa jengah.

Pria ini memang sedang cari masalah denganku!

"Kau memang istriku. Tapi kau juga calon adik iparku. Aku belum bisa tidur satu tempat tidur denganmu. Aku masih belum terbiasa. Apalagi, aku masih perjaka. Jadi yang begitu masih asing bagiku. Mungkin bagimu yang pernah ...."

"Cukup!" pekik Kiran menghentikan kata-kata Radit. Ia sudah bisa menebak kemana percakapan ini akan bermuara.

"Baik. Kau mau aku tidur di mana?" tanyanya datar.

"Tidur di sana!" kata Radit lagi sembari menunjuk sofa. Mata Kiran mengikuti telunjuk Radit dengan malas. Ya, sofa!

Badannya pasti sakit jika tidur di situ. sofa itu tidak lebih panjang dari tubuhnya. Dengan permukaan yang tidak rata. Baiklah, itu masih lebih baik dibandingkan tidur di lantai.

"Jika tidak mau, kau bisa tidur di lantai." Radit berseru cepat, melihat ekspresi Kiran yang seakan tampak berpikir. "Ini kamarku. Kau seharusnya tau diri." Ia tidak ingin tawar-menawar di sini.

Kiran menatap Radit tajam, menghela nafas berat. Dengan dada bergemuruh Kiran beranjak mengambil satu selimut dari lemari. Ia sudah tau pasti tempatnya, karena sudah memeriksa semua isi lemari di kamar Radit sebab mencari bajunya. Kemudian berjalan mendekati sofa lalu mengambil pose nyaman dengan tidur di sana.

Aku kira bakalan sulit. Ternyata dia penurut juga, pikir Radit dalam hati. Pria itu kini menyeringai. Jika seperti ini semua akan baik-baik saja.

Radit membaringkan tubuhnya kembali dengan mencari pose paling nyaman. Ia bergelung dengan selimut sembari menutupi senyuman yang sedari tadi terbit dan tak pernah hilang dari bibirnya. Entah kenapa hatinya jadi bahagia. Balas dendam atas kata-kata yang perempuan itu ucapkan di kamar Ari terbalas dengan semua ini.

Baru saja ia akan hanyut dalam mimpi, terdengar ponselnya berdering. Dengan malas Radit bangkit kemudian segera menyambar ponselnya dari atas nakas.

"Ada apa?" tanya Radit setelah sebelumnya menjawab salam.

'Kenapa kau lama sekali? Aku menunggu kepastian darimu sedari tadi. Bagaimana, sudah kau cek?'

Radit terkesiap. Ia baru ingat, bahwa sebelumnya ia harus mengecek sedikit laporan yang diberikan Bara. Temannya itu sedang menunggu keputusannya. Tadinya ia memang berniat ingin mengecek laporan itu ketika sampai di rumah, di ruang kerjanya. Namun begitu mendapati barang-barang Kiran di kamarnya, keinginan itu pun ia urungkan. Ia pun mengecek laporan itu di dalam kamar.

Laporan itu Bara simpan di dalam flashdisk. Ia memang sengaja menyuruh Bara, jika ingin menyampaikan file apapun kepadanya yang bersifat rahasia harus dalam bentuk flashdisk, dan bukan via email. Agar lebih terjaga kerahasiaannya.

Radit bangkit dan mendekati laptop yang letakkan di atas nakas, mencari flashdisk yang seharusnya ada di sana. Tidak ada!

Radit berpikir sebentar. Ia ingat betul jika tadi ia membawa flashdisk itu bersama dengan laptop. Kemudian ia membuka laptop di atas sofa dan ....

Ia Baru sadar jika flashdisk itu mungkin masih tertinggal di sofa. Mungkin terselip di samping sofa. Ia yang buru-buru tadi saat mendengar handle bergerak, dengan cepat merapikan semuanya. Mungkin flashdisk itu tanpa sengaja terjatuh di sana.

Radit mendekati sofa dan melirik meja yang ada di depannya. Berharap jika saja flashdisk itu ada di sana. Namun nihil. Flashdisk itu tak ada di atas meja. Fix, benda itu pasti ada di sana. Sekarang ini pasti sedang berada di bawah tubuh wanita yang tampaknya telah tidur dengan nyaman di atas sofa.

Radit memasukkan tangannya ke dalam saku. Merasa bingung. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus membangunkan wanita yang tampak sudah terlelap itu? Ia harus bagaimana?

Dengan ragu-ragu Radit coba mengulurkan tangannya, menjangkau tubuh wanita itu. Mungkin ia akan menggoyangkan tubuhnya dengan perlahan agar bangun. Ia menggeleng cepat. Apa tunggu besok pagi aja? Tapi laporan ini mendesak!

Radit menghela nafas. Ia merasa menyesal telah terburu-buru. Ia merasakan kecanggungan yang luar biasa. Sebuah ide terbersit.

Radit meletakkan satu kaki kanannya di sofa kemudian mencoba menggoyang tubuh Kiran dengan jari kakinya. "Hei, hei ..., bisa bangun sebentar?"

Wanita itu tak bergeming. Radit menekan jari kakinya ketubuh Kiran dengan lebih kuat. "Hei, bangunlah sebentar. Ada yang mau aku cari!"

Kiran yang sebenarnya belum bisa tidur nyenyak mendengkus kesal. Ia berbalik, melirik Radit kemudian ....

"AAAA....!!" Radit menutup mulutnya. Menghentikan teriakannya yang nyaris keluar dengan sempurna. Teriakan kesakitan dari jari kakinya. Kiran sedang menggigit jempol kakinya. Lebih tepatnya menggigit dengan sangat kuat.

Setelah merasa cukup meninggalkan jejak gigitan yang dalam, Kiran melepaskan gigitannya pada jari kaki Radit. Melirik pria itu tajam kemudian berbalik melanjutkan tidurnya.

"Kau gila, ya? Kenapa kau gigit kakiku!" seru Radit sembari menarik kakinya, melihat tanda bekas gigitan di sana, berwarna kemerahan. Syukurnya darahnya tidak keluar.

Kiran menoleh, "Kau tidak punya tangan? Di mana kesopananmu? Harus membangunkanku pakai kaki!"

"Setidaknya katakan begitu. Jangan langsung gigit. Jariku masih dipake!" Radit melototkan matanya menatap Kiran.

"Kau ini wanita piranha ya?" katanya lagi. Ia ingat pernah membeli ikan itu waktu kecil namun langsung membuangnya karena hampir menggigit tangannya.

Kiran menatap Radit tajam kemudian berbalik dan kembali tidur. Radit mendengkus kesal. "Ternyata selain murahan dan licik dalam memutar balikkan fakta. Kau ini juga ahli dalam menggigit kaki seseorang. Kau ini memang ...." Radit tak sanggup lagi. Dadanya dipenuhi dengan emosi. Baik, wanita itu tidak akan pernah mendapatkan belas kasihnya di kemudian hari.

Rahangnya mengeras. Jika tak ingat kedua orang tuanya dan pesan guru bela dirinya bahwa bagaimanapun dilarang memukul wanita, ia pasti sudah menarik wanita yang ada di hadapannya ini. Mengepalkan tangannya kemudian Radit kembali naik ke tempat tidur.

Besok saja aku beri keputusannya. Kau tidur saja, dan JANGAN GANGGU AKU LAGI DAN BERTANYA LAPORAN LAGI. AKU MAU TIDUR. AKU BISA MELEDAK JIKA TIDAK TIDUR. KAU MENGERTI?!

Send. Radit mengirimkan pesan pada Bara.

Di kamar Bara....

Notifikasi pesan berbunyi. Bara segera membuka dan membacanya. Pria itu menaikkan satu alisnya. Sudah jelas bagaimana suasana hati sahabatnya itu sekarang. Bara menghela nafas pelan.

Apalagi dosaku sekarang? Kenapa dia begitu emosi.

Bara meletakkan benda pipih yang mengeluarkan kata-kata seram itu di atas nakas. Ia segera membaringkan tubuhnya. Ia harus segera tidur. Lupakan semua laporan dan pencaharian untuk malam ini. Biar seseorang tidak jadi meledak, pikirnya sembari memejamkan mata.

❤❤❤💖

1
nurhayati sataral
endingnya tidak menarik, jadi malas bacanya
Tangsah Jagad
ceritanya bagus,di tunggu kisah Kiran dan Radit
nobita
serasa nonton drama.. author ku ini bisa membuat para readersnya masuk dan hanyut dlm alur ceritanya... wow wow... jd nyesek dan pengen nangis berjamaah
nobita
ya ampun ya ampun... aku gk kuat bacanya klo Radit sama Kiran berpisah... piye yo iki? saran aja thor pertemukan Ari dg cewek lain... selain Kiran...
nobita
gk bosan bosannya aku baca karyamu ini thor.. trs ku ulang ulang... emang is the best
nobita
tulisannya rapi... alurnya apik.. mengalir apa adanya... kerenn
nobita
author kesayangan ku ini banyak pengalaman... dan berwawasan luas tentunya...
nobita
Ari tipikal cowok yg usil. humoris, tengil.. sedangkan Radit cowok serius.. pilih yg mana ya?? dua duanya ku suka... karna sama nilainya... hahahah
Fitri Nuryani
siip
Nur Ismawati
segera up lagi ya,,kami tunggu
Dela
jrengggg... jrenggggg pada nungguin kan..penasaran dong.. nyok kita lanjutin bacanya.. untungnya saya nemuin novel ini udah end.. jadi tinggal lanjut baca nuntasin penasaran d dada... emang jempol kamu thor.. pinter banget ngadukin hatil readersmu yg setia...semen kali d aduk
Hj Mia Mubin
akhirnya author kehabisan ide.... tamat sdh. 🤭
🌻Ruby Kejora
Aku mampir kak dan fav novelnya
Edi Candra
setuju lw kiran sama radit..
Mom Dee🥰🥰
terakhir update bulan 4 ini sdh bln 12 thor 🥲
🌻Ruby Kejora: Mungkin masi cari ide kak author nya ato sibuk
total 1 replies
sabila 78
kutunggu selalu karyamu ... please lanjutkan
sabila 78
lanjutkan kakak novelnya
chui
kok cerita y gantung Thor
Sumi
apa Uda tamat Thor ??? ko g up jg si
Quinn ATIFAH 2 👑
daan sekarng sudah END 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!