"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Rencana Baru
Mobil SUV hitam yang dikemudikan Adrian melaju membelah jalanan setapak di pinggiran hutan timur dengan kecepatan konstan. Kabut fajar yang tebal membantu menyamarkan pergerakan mereka dari jangkauan satelit termal milik Vanguard Maritim. Di dalam kabin yang sunyi, hanya terdengar deru halus mesin mobil dan helaan napas pendek Adrian yang masih berjuang menahan rasa perih luar biasa di lengan kanannya.
Elena duduk di kursi penumpang samping kemudi dengan pandangan yang terus terlempar ke kaca spion luar. Ia memastikan tidak ada siluet jip taktis musuh yang membuntuti mereka dari belakang. Setelah merasa situasi cukup aman, Elena menoleh ke arah Adrian. Guratan merah darah yang merembes di kemeja hitam pria itu tampak makin melebar, membuat kecemasan di dada Elena tidak bisa ditahan lagi.
"Adrian, hentikan mobilnya di depan," kata Elena tegas, matanya menatap tajam sebuah area lapang yang terlindung pohon-pohon rindang besar. "Lenganmu harus segera dibersihkan. Jika dibiarkan terus berdarah saat menyetir, kamu bisa kehilangan kesadaran karena kehabisan darah."
Adrian tidak membantah. Ia perlahan memutar setir dengan tangan kirinya dan menginjak rem, menghentikan mobil di bawah naungan pohon-pohon lebat yang luput dari pandangan udara. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya ke kursi, memejamkan mata sejenak sembari mengembuskan napas berat. Keringat dingin tampak membasahi pelipis dan rahang tegasnya yang mengeras kencang.
Tanpa membuang waktu, Elena membuka sabuk pengamannya dan meraih kotak pertolongan pertama darurat yang tersimpan di bawah dasbor mobil. Ia menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Adrian, dengan cekatan membuka kancing kemeja hitam suaminya untuk memeriksa balutan perban di lengan kanan yang kembali rusak.
Saat kain perban itu dibuka, Elena menahan napas. Beberapa titik jahitan baru dari tim medis pabrik semalam tampak sedikit merenggang akibat guncangan ekstrem saat mereka melompat dari jendela ruang perawatan. Cairan merah segar merembes lambat dari sela-sela kulit yang terluka.
"Keras kepala," bisik Elena lirih, mengulangi kata-kata yang biasa diucapkan Adrian kepadanya. Namun, kali ini nada suaranya dipenuhi oleh rasa khawatir dan kehangatan emosi yang tulus. Dengan sangat lembut, ia mulai membersihkan sisa darah menggunakan cairan antiseptik, lalu membalutkan perban baru dengan tekanan yang pas agar pendarahannya berhenti.
Adrian membuka matanya, menatap lekat-lekat wajah cantik Elena yang berada sangat dekat di depannya. Aroma parfum mawar yang lembut dari tubuh Elena mendadak membius indra penciumannya, mengalahkan bau tajam antiseptik di dalam kabin mobil. Sisi posesif di dalam dada Adrian bergejolak melihat bagaimana wanita yang awalnya hanya terikat pernikahan kontrak dengannya ini, kini begitu tulus dan berani bertaruh nyawa di sampingnya.
Tangan kiri Adrian yang bebas dari cedera perlahan terangkat, mendarat di pinggang ramping Elena dan menarik tubuh wanita itu sedikit lebih dekat ke arah dekapan dadanya yang hangat.
Elena sempat terkejut, gerakannya mengikat perban terhenti sejenak. Ia mendongak, langsung tenggelam ke dalam sepasang mata gelap Adrian yang sedalam samudra night.
"Aku tidak akan kehilangan kesadaran selama kamu berada di dekatku, Elena," bisik Adrian dengan suara baritonnya yang rendah, serak, namun sarat akan otoritas absolut yang protektif. "Sentuhan tanganmu jauh lebih efektif daripada obat bius mana pun yang dimiliki oleh tim medis pabrik."
Wajah Elena merona tipis mendengar ucapan itu, namun ia tetap mempertahankan tatapan menantangnya yang elegan. "Kalau begitu, tetaplah hidup dan patuhi perintahku untuk tidak menggerakkan lengan ini, Tuan Arsa. Kita belum menang dari Syndicate."
Adrian melepaskan tawa rendah yang tipis, mempererat remasan tangan kirinya di pinggang Elena selama beberapa detik sebelum akhirnya membiarkan wanita itu menyelesaikan balutan perbannya. Kedekatan fisik di tengah pelarian ini perlahan mengikis sisa-sisa batasan dinding kontrak di antara mereka, menyisakan sebuah ikatan perasaan nyata yang makin mengikat kuat.
Setelah perban selesai dipasang dengan rapi, Elena kembali ke posisi duduknya dan membuka komputer tablet taktis darurat yang ada di dalam mobil. Layar monitor langsung menampilkan beberapa tajuk berita internasional utama yang masih gencar melakukan pembunuhan karakter terhadap mereka.
"Berita tentang tuduhan terorisme korporat itu makin meluas," kata Elena, alisnya bertaut serius saat membaca perkembangan opini publik. "Vanguard Maritim benar-benar bergerak cepat. Mereka menggunakan seluruh jaringan medianya untuk menekan Otoritas Pengawas Finansial agar membekukan total aliran dana domestik Arsa Group dan Luminous Beauty dalam waktu dua puluh empat jam ke depan. Kita sedang dikunci dari segala arah."
Adrian membetulkan posisi duduknya, auranya kembali berubah menjadi sangat dingin dan mematikan bagai seorang predator yang sedang membaca pergerakan mangsanya. "Itu adalah taktik standar faksi atas saat mereka mulai merasa terdesak, Elena. Mereka menggunakan hukum yang bisa mereka beli karena mereka tahu kekuatan operasional fisik mereka di jalur darat selatan sudah hancur."
"Lalu apa rencana kita sekarang?" tanya Elena, menoleh menatap suaminya. "Kita tidak bisa masuk ke gedung Komisi Tindak Integritas (KTI) pusat lewat gerbang depan. Tempat itu pasti sudah dipenuhi oleh orang-orang dalam yang disuap oleh Vanguard untuk memusnahkan kita begitu kita menampakkan diri."
Adrian menatap lurus ke depan, sepasang matanya berkilat penuh dengan kecerdasan taktis yang pekat. "Kita memang tidak akan mendatangi KTI pusat, Putri Kecil. Kita akan membuat KTI yang datang mencari kita dengan sukarela."
Elena mengernyitkan keningnya, mencoba menangkap arah pemikiran Adrian. "Maksudmu?"
"Ketua komisi hukum KTI yang dinonaktifkan pagi ini adalah seorang pria paruh baya bernama pengacara senior Malik. Dia adalah satu-satunya orang jujur yang tersisa di jajaran atas," jelas Adrian, suara baritonnya terdengar penuh keyakinan. "Dia tidak ditangkap, melainkan diisolasi di sebuah rumah aman di pinggiran faksi pusat agar tidak bisa mengakses data tingkat tiga yang kita kirimkan."
Adrian meraih tuas transmisi mobil dengan tangan kirinya, bersiap untuk kembali melaju. "Kita akan menuju ke tempat isolasi Malik malam ini. Kita bebaskan dia, lalu kita gunakan jalur komunikasi satelit cadangan milik unit militer swasta kita untuk menyiarkan seluruh isi dokumen enkripsi tingkat tiga langsung ke sistem pusat KTI yang tidak bisa diintervensi oleh pejabat korup mana pun. Begitu data suap Vanguard Maritim terekspos secara otomatis ke sistem global, seluruh pejabat yang disuap akan lumpuh dalam hitungan detik."
Elena mendengarkan rencana itu dengan binar kekaguman yang luar biasa di matanya. Adrian selalu selangkah lebih maju, bahkan ketika musuh mengira mereka telah berhasil memojokkannya ke dalam sudut paling gelap.
"Operasi penyelamatan di tengah status kita sebagai buronan wilayah," Elena tersenyum menantang, sebuah senyuman menawan yang memancarkan keberanian mutlak. "Terdengar sangat berbahaya, namun sangat layak untuk dicoba."
"Bersiaplah, Nyonya Arsa," ucap Adrian sembari menginjak pedal gas, membuat mobil SUV hitam itu kembali melaju membelah kabut malam yang mulai turun, menuju ke pusat jantung pertahanan musuh.
"Malam ini, kita akan mulai meruntuhkan dinding hukum palsu yang mereka bangun."
......BERSAMBUNG......