Awalnya, pernikahan itu baik-baik saja. Semua menjadi hangat, luka akibat masa lalu Ainayya Hikari Salvina sedikit demi sedikit mulai sembuh.
Tapi, pernikahan hangat itu tiba-tiba diterpa gelombang. Menghancurkan sebuah kepercayaan dan membuatnya meninggalkan rumah yang sudah mengajarkan arti sebuah keluarga harmonis.
Lalu, mampukah Albara Demian Dominic. Sang pelaku kehancuran tersebut memperbaiki rumah tangga yang sudah membuatnya sembuh dari kejadian di masa lalu? Bisakah Albara mengobati luka yang ia berikan pada istrinya?
Mari kita lihat bagaimana perjalanan Albara dalam mengejar cinta istrinya kembali!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa sitepu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Bakso
"Maaf, aku tidak bisa membantu mu saat kau dihina oleh mereka." Bara merasa gagal menjadi seorang pria sekaligus suami untuk Nayya, tidak hanya membiarkan istrinya di hina, dia juga harus melihat secara langsung tingkah laku dua manusia tidak tahu malu tersebut.
"Kakak tidak perlu minta maaf, Nayya bahkan berterima kasih karena Kakak tidak ikut campur. Bukan Nayya tidak percaya pada kemampuan Kakak, hanya saja. Wanita itu sama liciknya dengan ular, Nayya masih ingin hidup tenang. Berperang dengannya sangat melelahkan."
Bara tersenyum, senang mendengar bahwa Nayya bisa menjadi dewasa pada waktunya. Andai saja posisi mereka tidak seperti ini, andai saja pernikahan mereka berjalan dengan semestinya. Mungkin Bara tidak keberatan menghadapi Vina.
"Jadi, kemana kita akan makan siang sekarang?"
Saat ini, Nayya, Bara dan Sara sudah ada di mobil. Mood ketiganya telah hancur setelah bertemu dengan Vina, sehingga memilih keluar dari mall untuk menghindari adu mulut dengan dua manusia tidak tahu malu tersebut.
"Bagaimana jika kita makan bakso, Kak. Nayya sangat ingin makan bakso." Air ludahnya bahkan hampir menetes setelah mengucapkan makanan tersebut, membuat Bara tertawa geli
"Air ludah mu hampir menetes saat mengatakan makanan itu, sepertinya kau benar-benar ingin makan bakso."
Nayya tersenyum malu, ketika ia masih sekolah. Bakso adalah makanan favoritnya, selain harganya yang murah. Bakso juga sangat enak, bahkan membuat yang memakannya selalu ketagihannya.
Mobil akhirnya pergi meninggalkan parkiran mall, mereka menuju warung bakso langganan Nayya dulu saat masih sekolah. Lataknya tidak terlalu jauh dari gadung SMA Nayya.
Sesampainya di tujuan, ketiganya merasa sangat beruntung karena masih ada meja yang kosong. Ada tempat duduk di sebuah pondok kecil, membuat Bara tidak merasa risih. Kebiasaanya yang makan di tempat bergensi membuatnya sedikit asing dengan keramaian.
Saat sedang menunggu pesanan, Nayya yang tidak lagi memakai kaca mata dan topi langsung di panggil oleh seorang wanita muda, mungkin seumuran dengannya. Belagak sok akrab, berfikir bahwa teman kaya Nayya bersedia berkenalan dengannya, itu adalah alasan wanita tersebut menghampiri kelompok Nayya.
Untung saja Bara masih setia dengan masker dan kaca matanya, jika saja dia sudah melepaskan benda tersebut. Mungkin wanita itu akan merayunya dan membuat masalah.
"Apakah kau Ainayya Hikari Salvina?"
Wajah Nayya menjadi tidak enak, tapi berusaha tidak memperihatkannya dengan jelas. Bara yang mendengar suara itu juga merasa kesal, tidak bisakah dirinya makan siang dengan tenang dengan sang istri. Membuatnya jengkel saja.
"Ya, apakah kita saling mengenal?" Sengaja ia katakan seperti itu agar sang wanita sakit hati dan langsung pergi, tapi sayangnya. Dia malah duduk di samping Sara tanpa meminta izin lebih dulu.
"Aku teman sekelas mu. Apakah kau lupa dengan ku?"
Ingin rasanya Nayya mengatakan 'ya' tapi ia tahan karena tidak ingin membuat keributan apalagi melihat sebuah drama yang melelahkan seperti di dalam mobil tadi.
"Oh, ya. Katakan pada ku, dimana kau tinggal sekarang?"
"Sejak kapan kau perduli dengan tempat tinggal ku?" Nayya seperti memiliki kepribadian ganda, setiap kali berbicara dengan orang yang tidak penting, maka dia akan melontarkan kata-kata yang cukup kasar. Dan Bara mulai mengetahui bahwa ada banyak hal yang masih belum ia pahami tentang sang istri.
"Eh, mengapa kau mengatakan hal seperti itu, Nayya? Kitakan teman sekelas, tentu saja aku perduli dengan tempat tinggal mu." Sambil berbicara, ia beberapa kali akan melihat ke arah Bara. Seperti memberikan kode tentang kehadirannya, tapi sayang sekali, pria yang duduk di samping Nayya sama sekali tidak perduli.
"Benarkah?"
Andai saja tujuannya bukan mencari tahu pria yang ada di samping Nayya dan kehidupannya setelah lulus sekolah. Ia sudah akan pergi, setiap kata yang di ucapkan Nayya seperti pisau bermata 2, terdengar normal tapi mengandung ejekan.
"Tentu saja, dan siapa pria yang ada di samping mu?"
Sudah terlihat jelas niatnya, berpura-pura baik hanya untuk mencari tahu siapa pria yang ada di samping Nayya. Bahkan tidak repot-repot menjaga perasaan teman sekelsanya.
"Dia adalah-"
"Siapa diriku bukan urusan mu, jadi sekarang. Pergilah dari hadapan ku, atau aku akan membuat mu menyesali permainan menjijikan ini."
Wajah wanita itu menjadi pucat, ia tidak menduga Bara akan sedingin itu. Bahkan menatap saja tidak mau saat berbicara, tapi sifat dingin tersebut membuatnya semakin ingin mendapatkan Bara.
"Sepertinya anda salah paham, Tuan. Saya hanya mencari tahu dengan siapa sekarang teman saya tinggal, tidak lebih dan tidak kurang."
"Kau bukan ibunya, jadi jangan terlalu ikut campur dengan siapa dia tinggal. Satu hal lagi, aku muak melihat wajah wanita yang suka memainkan drama teman baik adalah seorang penikung."
Kalau saja Bara pria tidak beres seperti Leonal, mungkin dia akan memahami kode yang wanita itu mainkan. Tapi sayangnya Bara tidak begitu, ia memiliki banyak gengsi, jika pun ingin mencari selingkuhan. Dia pasti akan mencari wanita yang jauh lebih cantik dari Nayya, bukan wanita yang bahkan tidak bisa di banding dengan istrinya. Selera Bara cukup tinggi untuk masalah wanita.
"Anda sangat keterlaluan, Tuan. Saya hanya ingin bertanya pada teman saya, tidak ada maksud menjadi penikung seperti yang anda sebutkan." Ia mulai memainkan drama, membuat banyak orang menatap kearah kelompok Nayya.
Sara yang mulai jengah akhirnya angkat bicara, Vina saja sudah membuatnya kesal. Kini wanita yang mengaku sebagai teman sang nyonya muda membuat drama kembali, Sara bahkan mulai berfikir apakah selama ini dia kurang banyak piknik sehingga tidak pernah bertemu dengan wanita sejenis Vina serta para pengikutnya.
"Jika saya menjadi anda, saya pasti akan pergi sejak teman saya mengatakan apakah kita saling mengenal. Bukannya tetap di sana dan memainkan drama menjijikan seperti ini. Apakah anda tidak tahu bahwa ada beberapa orang tidak suka di ganggu dan ada juga beberapa pria yang tidak suka dengan wanita seperti anda."
Nayya masih tetap diam, ia ingat dengan jelas seperti apa wanita yang ada di hadapannya dulu saat mereka masih di kelas yang sama. Selama 3 tahun berbagi kelas, Nayya sudah sangat puas di hina dan di bulyy oleh banyak teman perempuannya termasuk orang yang ada di hadapannya sekarang.
Melihat bahwa dirinya tidak di terima dan bahkan di hina, wanita itu akhirnya pergi dengan wajah tertunduk malu. Ia juga menyempatkan diri menghapal nomor BK mobil Bara, berfikir jika dirinya bisa merayu pria dingin tersebut di lain waktu. Tapi sayang, dia lupa Bara sudah sering bertemu dengan wanita sejenis dirinya.
"Katakan pada Albert untuk langsung mengganti BK mobil ini setelah kita pulang nanti."
"Baik, Tuan."
Tidak terasa, makanan yang mereka pesan sudah tiba. Nayya dengan sangat antusias mulai menuangkan banyak cabai dan saos kedalam mangkuk baksonya, membuat Bara bergidik ngeri. Tidak heran mengapa lidah istrinya terkadang bisa sangat tajam ternyata makanannya selama masih sekolah sepedas itu.
Sebenarnya itu tidak benar, memang pada dasarnya Nayya suka makan bakso dengan level yang pedas. Tidak ada hubunganya dengan lidahnya yang kadang tajam.
"Apa kau selalu makan bakso seperti ini?"
"Ya, rasanya aneh jika makan bakso dengan rasa yang tidak pedas, Kak. Hambar dan tidak enak."
Bara mengkasihani lambung Nayya, mereka pasti akan menahan pedasnya makanan yang di akan di lahap oleh istrinya. Untungnya, sang istri belum hamil, jika saja sudah ada anak di dalam sana. Bara pasti akan mengambil paksa semangkuk bakso tersebut.
Ngomong-ngomong tentang anak, tiba-tiba Bara merasa ada yang aneh dalam dirinya. Ada bisikan yang mengatakan bahwa dirinya memang harus memiliki anak dan ibunya hanya bisa menjadi Nayya.