Semenjak mama dan kakek meninggal, hidup Ryuna seperti kereta api tanpa rel. Memiliki papa, namun dia tak pernah mencintai mamanya dan menginginkan dirinya. Bagi papanya, hidup dengan mamanya itu hanya sebuah kecelakaan dan paksaan.
Memiliki kepribadian introvert dan pendiam. Ryuna sering kali di-bully dan dipandang remeh oleh teman-teman satu sekolahnya.
Hidup Ryuna terasa komplit.
Ya, komplit untuk semua luka dan derita.
Tapi, sikap lembut Barry padanya membuat Ryuna sering kali marah dan tak membutuhkan belas kasihannya.
Barry menegaskan bahwa dia benar-benar mencintainya. Tapi, semua lelaki di mata Ryuna sama saja. Mereka hanya sosok pria kasar yang berhati dingin.
Apakah Barry juga bersikap dingin seperti papanya suatu hari nanti? Apakah mungkin cinta yang dilontarkan Barry itu tidak semata-mata hanya untuk menjebak lalu mempermalukannya di depan semua orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei68, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35. Pergi Berkemah
“Pada hari sabtu ku turut sayang ke sana, naik unta istimewa ku duduk di mana ....”
Lucio dengan girangnya bernyanyi sembarangan sambil melihat suasana yang ramai. Pada dasarnya mereka hari ini akan berangkat berkemah.
Hari sabtu yang menyenangkan, hampir semua siswa yang ikut, hanya beberapa orang saja yang tak bisa ikut karena kepentingan mereka masing-masing.
Barry menggeleng kecil, heran. “Lirik lagu lo itu salah Lucio. Bukan gitu, tapi gini ... hm....” Dia malah berdehem sebentar lalu mulai bernyanyi, tapi siapa sangka suaranya cukup bagus. “Pada hari sabtu ku turut kamu ke hutan, naik sepeda istimewa ku duduk di depan. Memboncengi cintaku yang tersenyum merekah ..." Ia tersenyum genit niat menggoda Ryuna yang tegang saat cowok itu mengedipkan sebelah matanya kepadanya.
“Udah-udah, cuekin aja. Ayo masuk semuanya ...” Ajak Lucio ketika bus sudah datang. Murid-murid sekelas mereka ikut masuk dengan tas yang berisi barang-barang yang mereka bawa.
Sementara Barry hanya sedikit terperangah tak percaya, tak ada yang mendengarkannya. Apakah dirinya seperti tidak terlihat alias hantu?
Ryuna terkekeh kecil. Itu cukup menghibur. “Barry, udahlah. Ayo masuk, nanti malah ketinggalan bus.” Ajaknya, dia menarik tas gendongan cowok itu.
Barry hanya mengangguk kecil, dia mengikuti Ryuna yang lebih dulu masuk ke dalam bus. Setelah semua murid-murid yang ikut berkemah sudah masuk ke dalam bus pun segera berangkat meninggalkan pelataran gedung sekolah tercinta.
Di dalam perjalanan mereka terlihat sangat asyik dengan kegiatan masing-masing, ada yang bermain game, ada yang tidur padahal baru saja berangkat. Tapi, lebih dominan mereka yang tengah bersama-sama bernyanyi untuk membunuh rasa kejenuhan dan mencari suasana yang baru.
Ryuna duduk di bangku nomor delapan yang berdekatan dengan jendela, di sampingnya sudah ada Viona yang juga ikut bernyanyi dengan teman-temannya, dia tampak sangat ceria. Sedangkan di belakangnya Barry yang juga ikut bernyanyi, lain halnya dengan Rafan dia hanya mendengarkan lagu dari ponselnya seorang diri, earphone-nya menyumpal di kedua telinganya.
Sifatnya yang datar selalu di cap sombong oleh teman-temannya, tetapi karena kadar ketampanannya dia malah menjadi idola yang sangat dikagumi para anak perempuan. Yang kurang pada cowok itu hanya kesombongannya saja, yang lainnya merasa sangat sempurna. Sudah menjadi ketua kelas dan juga OSIS, kepintaran juga dipegangnya. Kini dia hanya bisa menutup matanya sembari bersedekap mendengarkan lagu yang didengarnya melalui earphone.
...***...
Sesampainya di tempat tujuan, mereka disibukkan dengan membangun tenda. Dalam satu tenda akan dihuni oleh 4 orang.
Kegiatan berkemah bukan hanya untuk mencari kesenangan ataupun sekadar memasang api unggun, tetapi juga melakukan interaksi sosial.
Seperti sekarang, Ryuna dan Viona berada di satu tenda dengan anak kelas X. Mereka adalah kelompok 5 yang harus bisa bekerja sama. Mereka juga akan digabungkan dengan kelompok 8 yang merupakan kelompok dari Barry dan juga Rafan.
“Ryuna, gue bantuin ya?” Tawar Barry, dia tiba-tiba datang bersama Rafan yang hanya memasang wajah datar.
Ryuna, Viona dan dua teman kelompoknya sama-sama meliriknya. Viona sempat melirik ke Rafan yang juga melihatnya kini kembali menilik Barry. Dia tak mau lagi berkontak mata dengan lelaki dingin itu.
“Oh, jadi kamu kesini cuma buat bantu Ryuna aja.” Viona bersedekap, sejujurnya dia merasa iri karena Barry selalu saja perhatian pada Ryuna.
“Jangan merasa iri, kalau gitu minta Rafan agar lo bisa diperhatiin juga.” kata Barry tersenyum miring, dia melirik ke arah Rafan yang hanya menatapnya enggan.
Merasa disinggung dengan nama itu lagi, Viona tergagap. Dia memang sempat melirik Rafan, tapi kembali dialihkannya ke objek lain. Dia tak akan mau lagi menumbuhkan luka yang sama, sudah cukup baginya.
“Nggak usah.” jawabnya dengan singkat. Mendadak nada suaranya menjadi dingin.
Ryuna merasa Viona sedang berusaha untuk tidak menyangkut pautkan lagi tentang Rafan, dia sedang ingin melupakannya.
“Barry, jangan ngomong kayak gitu.” tutur Ryuna, dia menggeleng pelan. Barry hanya mengangguk kecil, dia paham apa yang terjadi. Ekspresi gadis itu sedang serius, begitu pula dengan Viona yang seperti tidak ingin membahas tentang cowok itu lagi.
Tanpa berpanjang kata untuk bernegosiasi lagi, Barry langsung membangun tenda.
“Raf, lo nggak mau nih bantuin gue?” tanya Barry, dia melihat cowok itu yang masih berdiri, dia hanya melihatnya dengan datar.
Rafan memejamkan matanya sebentar. “Gue nggak bisa bantu,” ujarnya. Dia menilik ke Ryuna yang juga menatapnya. Setelah itu dia pergi meninggalkan tempat itu.
“Dia kenapa?” Barry menatap kepergian Rafan sekilas lalu kembali melanjutkan kegiatannya, dia membentangkan kain dan mengeluarkan pasak dan frame dari tas.
Ryuna merasa heran karena dirinya ditatap sebelum cowok itu pergi. Kenapa dia natap gue? Lamunannya buyar ketika Dea, anak kelas X yang satu tenda dengannya buka suara.
“Kak Ryuna dan Kak Barry pacaran ya?” tanyanya. Dea seperti ingin tahu.
Rita, temannya juga ikut penasaran. Dia menatap ke Barry yang terdiam. “Serius, Kak?”
“Nggak kok. Kami cuma berteman.” Sela Ryuna tersenyum.
“Iya, kami cuma berteman,” Timpal Barry. Tapi, mau kalau bisa gue mau lebih dari itu. Dia tersenyum kecut menatap kain yang dipegangnya.
“Hahaha, mungkin di dalam hati Barry udah berharap pacaran kan? Tapi, dia nggak bisa apa-apa,” Viona tertawa saat menyadari ekspresi wajah dan mata Barry mendadak berubah menjadi kesal.
“Jangan ngarang!”
Dea dan Rita terkikik geli, meskipun tampan ternyata Barry memiliki selera humor yang bagus.
“Oh iya, Kak, yang tadi itu siapa?” tanya Rita.
“Dia ganteng banget, tapi sombong,” Ungkap Dea.
“Oh, dia namanya Rafan. Karena dia ganteng itulah jadi sombong.” kata Barry, dia masih menyambungkan batang-batang frame, juga dibantu oleh Ryuna untuk memasukkan frame ke selubung tenda.
“Tapi, Kakak juga ganteng dan nggak sombong.” ujar Dea yang sepertinya sedikit tertarik pada Barry. Dia asyik melihat cowok itu yang sedang memasang tenda pada pasak dan menancapkannya di tanah.
“Jangan muji dia, nanti dia sombong.” Sela Viona menoleh ke Barry yang tetap fokus pada apa yang dilakukannya. Dea kayaknya suka sama Barry, nggak tau apa? Orang ini juga sama-sama saling suka, tapi ceweknya gengsian.
“Mungkin Dea aja yang suka Kak Barry. Makanya dia berani ngomong kayak gitu.” Balas Rita menggodanya langsung dibalas cubitan dari Dea.
"Ih, nggak kok." Dea mengelak pernyataan itu, tetapi dia justru menahan untuk tidak tersenyum.
Sementara Ryuna hanya bergeming mendengar bisikan mereka, entah kenapa hatinya terasa pilu. Apakah dirinya sedang cemburu? Ryuna mengamati Barry yang memasang flysheet, dia sama sekali tak tertarik untuk mendengar bisikan dua adik kelas itu. Sesekali Barry mencuri pandang ke Ryuna yang langsung menegang saat kedapatan jika ia sedang memerhatikannya.
Ryuna dengan cepat melengos, diam-diam hatinya sudah berdegup dengan kencang. Ia menahan gejolak hati yang sudah panas dingin. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan laki-laki itu, matanya tertahan untuk melihat beberapa kelompok yang sedang bercengkerama sembari mendirikan tenda.
"Kalau kamu mau merhatiin aku gak usah pura-pura nengok ke yang lain. Kamu nggak akan bisa nipu aku, karena hati kita bertaut." Perkataan Barry mampu membuat jantung Ryuna terjadi guncangan yang dahsyat, untung saja tidak ada petir yang menyertainya.
Sementara teman-teman mereka hanya bingung dan ikutan terheran-heran, kedua lawan jenis itu sepertinya ingin mengusir mereka ke tepi agar bisa romantisan tanpa harus diganggu.
Terima kasih
semangat dan sukses selalu ya
jgn lupa mmapir ya 🤗😍
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
sukses iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan tentang cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam damai dari keturunan raja