Diputusin pas lagi sayang- sayangnya tentu membuat nyesek dan sakit hati. Itulah yang dialami oleh Vina yang di putus oleh Dafa. Putus tanpa kejelasan yang dilakulan Dafa membuat Vina pusing tujuh keliling memikirkan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.
Namun, perlakuan Dafa yang sama ketika mereka masih berpacaran menambah pening Vina. Perhatian- perhatian diberikan pada Vina, membuat gadis itu yang belum move on hampir goyah.
Apa sebenarnya alasan Dafa memutuskan hubungan jika masih memberikan perhatian dan harapan? Lalu, apakah Vina dapat bertahan hingga akhir atau malah goyah dan kembali jatuh?
Ikuti kelanjutan hubungan keduanya yang penuh dengan lika- liku dan berbagai emosi yang menguras hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo Balikkan
Vina masih belum memberi jawaban atas pernyataan cinta dari Galang tadi. Galang sendiri juga tidak menuntut Vina untuk segera menjawabnya, tapi dirinya juga tidak bisa berbohong jika di dalam hati harap- harap cemas. Cowok itu menoleh ke samping memperhatikan wajah Vina yang menatap lurus ke depan. Galang berusaha menahan tawanya melihat wajah blank Vina yang terlihat sangat lucu dimatanya.
“Udah, Vin. Nggak perlu terlalu dipikirkan, gue cuma mau beritahu perasaan gue aja…”
‘Tapi lo juga jawab, Vin. Beritahu gue gimana perasaan lo?’ lanjut Galang dalam hati.
“Ha? I… iya, Kak,” jawab Vina masih linglung.
Galang manampilkan senyum manisnya dan kembali fokus pada jalanan. Sementara pikirang Vina sangat kacau, ia sama sekali tidak menyangka jika dengan yang terjadi tadi. Cewek itu masih bimbang dengan hatinya sendiri. Entah kemana hatinya ini akan dibawa.
“Vin, udah sampai. Maaf gue nggak bisa mampir, ada urusan di café,” ucap Galang membuyarkan lamunan Vina.
“Oh, iya Kak. Nggak apa- apa. Ehm, makasih ya?”
Vina buru- buru keluar dari mobil Galang dengan wajah menunduk, entah mengapa dirinya tidak bisa menatap wajah Galang.
Malam harinya, Vina menceritakan apa yang terjadi sepulang sekolah tadi pada Candra. Mereka bertemu di café dekat rumah Candra. Candra menyedot minumannya sambil mendengarkan cerita sahabatnya itu.
“Lo belum kasih jawaban?!” pekik Candra heboh, membuat pengunjung lain menatap ke arah meja mereka.
“Ampun, Bang Jago,” ucap Candra menangkup kedua tangannya dengan wajah memelas meminta maaf.
“Mulut di jaga ya? Iya, gue belum kasih jawaban ke dia. Masih bingung gue.”
“Bingung kenapa lagi? Lo sama Kak Galang klop, kok.”
“Dih, bukan masalah klopnya.”
“Ckck, Dafa lagi ya?”
Vina mengangguk lesu, ia masih teringat dengan perkataan cowok itu saat di Bali. Vina sudah tau jika yang bersama Fena malam itu adalah Dafa.
“Sekarang lo pikir, Vin. Seandainya kalian balikan lagi, apa hubungan kalian bisa kayak dulu lagi?”
“Pasti jadi canggung, Can. Ish, gue bener- bener bingung. Kenapa ribet gini sih? Gue nggak suka ribet.”
“Lo sendiri yang bikin ribet, Vin,” ucap Canda, “Lo pikirin mateng- mateng dulu, deh. Jangan pernah main- main sama perasaan, Vin,” lanjutnya.
Vina dan Candra tidak langsung pulang, mereka menghabiskan malam di alun- alun kota. Namun tetap Bunda memberi batasan waktu bagi dua gadis itu. Vina dan Candra duduk di salah satu warung lesehan di alun- alun itu. Sambil melihat orang- orang yang berlalu- lalang, terkadang mulut Candra yang tidak bisa diam itu mengomentari orang- orang yang lewat. Walau dengan suara lirih tentunya, hanya Vina yang bisa mendengar.
“Mingkem, Can. Nambah dosa mulu kerjaan lo,” ucap Vina mulai jengah.
“Nggak usah khawatir, Vin. Gue bagi- bagi nih dosa,” jawab Candra cengengesan.
“Oh ya, Can. Lo mau lanjut kuliah dimana?” tanya Vina mulai serius.
“Gue pengen kuliah desain,” jawab Candra enteng, memakan bakso bakarnya.
Vina menatap datar Candra, “Lo bercanda ya?”
“Ngapain gue bercanda? Gue serius tau.”
Vina hanya mengangguk meng- iyakan perkataan sahabatnya itu. Tentu ia masih ingat bagaimana gambar yang Candra ciptakan saat itu dan sekarang mendengar jawaban Candra yang hendak menjadi seorang desainer membuatnya syok.
Setelah menghabiskan bakso bakarnya, dua cewek itu pun memutuskan untuk pulang. Candra mengantar Vina pulang ke rumahnya. Namun saat dalam perjalanan, ponsel Vina tiba- tiba berdering. Ia menyuruh Candra untuk berhenti terlebih dulu di pinggir jalan. Vina turun dari motor Candra dan mnecari ponselnya di dalam sling bagnya. Tempat mereka berhenti berada tidak jauh dari rumah Vina.
“Halo?” sapa Vina mengernyitkan dahi setelah mengetahui siapa yang menelpon.
“Bisa ketemu sebentar? Gue di depan rumah lo,” ucap si penelpon di seberang sana.
“Gue nggak di rumah…”
“Lo dimana? Gue jemput,” potong si penelpon itu.
“Nggak usah, tunggu aja di taman perumahan rumah gue. Kita ketemu di sana.”
“Oke, gue tunggu lo di sana,” si penelpon itu memutus sambungannya.
Candra yang sedaritadi mendengarkan mengerutkan dahinya, ke- kepoannya sudah meronta. Sementara Vina menghembuskan nafas pasrahnya. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan seseorang yang baru saja menelponnya itu.
“Gue darisini jalan aja, Can. Gue mau ketemu seseorang.”
“Siapa?”
“Besok gue ceritain, lo pulang aja. Hati- hati di jalan.”
Vina sudah pergi meninggalkan Candra yang masih mematung di tempatnya. Cewek itu mendengus sebal melihat punggung Vina yang semakin menjauh itu.
“Ish, lupa gue mau minta uang bensin,” sebal Candra, tapi akhirnya pergi juga darisana.
Sedangkan Vina sudah sampai di taman tempatnya bertemu dengan seseorang yang tadi menelponnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan orang itu. Angin berhembus kencang, udara semakin dingin malam ini. Langit mulai terlihat mendung. Vina menghampiri seseorang yang sedang berdiri tidak jauh dari motornya.
“Ada apa?” tanya Vina tanpa mneyapa terlebih dulu.
“Vina?” panggil orang itu, tapi spontan ia mendongak melihat langit yang sepertinya sebentar lagi menumpahkan kesedihannya.
“Ayo pindah tempat. Cari tempat indoor, kayaknya sebentar lagi hujan,” ajaknya.
Vina menggeleng, “Nggak perlu, gue cuma bisa sebentar. Lo mau ngomong apa?”
“Tapi ini mau hujan, Vin. Lo baru sembuh, kalo sakit lagi gimana?”
“Nggak usah peduliin gue, lo mau ngomong apa?”
“Tapi…”
“Kalo lo cuma mau ngomong nggak penting, gue pulang,” ancam Vina.
“Nggak! Jangan pulang!” cegahnya menahan tangan Vina.
Orang itu menarik nafas dalam sebelum mengutarakan apa yang ingin diutarakannya sejak lama. Sementara Vina masih menunggu dengan mempertahankan wajah datarnya. Namun tak bisa dipungkiri, jantungnya sudah berdegub kencang.
“Ayo kita balikan, Vin,” ucap orang itu menatap dalam manik mata Vina.
Vina membeku, “Lo bercanda, Fa?”
Dafa menggeleng menunjukkan jika ucapannya barusan bukan suatu candaan, ia benar- benar serius dengan ucapannya itu. Rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Vina mendongak begitupun dengan Dafa. Semakin lama, rintik itu berubah menjadi hujan lebat disertai angin.
“Ayo berteduh, Vin,” ajak Dafa.
“Nggak perlu, gue pulang,” jawab Vina berjalan mundur menjauh dari Dafa.
“Vina! Aku nggak bercanda! Ayo kita mulai lagi dari awal!” teriak Dafa memecah suara hujan itu.
Beruntung taman ini sangat sepi, tak seorang pun lewat. Keduanya sudah sama- sama basah kuyup. Vina masih belum menoleh kearah Dafa, ia terus berjalan ke depan. Tidak peduli juga jika sudah basah kuyup. Sementara Dafa menatap sendu punggung Vina yang semakin jauh dari pandangannya. Ia pun memutuskan untuk pulang juga.
“Terlambat ya?” gumam Dafa tertawa hambar.
Cowok itu memacu motornya membelah derasnya hujan, tidak berniat untuk berteduh. Dafa hanya berpikir untuk cepat sampai di rumah. Namun saat melihat ke depan, seketika matanya membulat.
BRAKK! SREET! CKITT!
...🐈🐈🐈...
dah punya gc ayo gunakan para membernya
😂😂😂😂 lagi seru-seru, baca pertarungan mereka....tegang dengan emosinya Juno. Eh kox gambar mas Kardi mendelik 🤣🤣🤣
Si bunda juga iseng banget, sampe nyuruh semua anaknya beli minyak goreng promo
Untung sukses bund 👍👍😂😂
Eh Ekky, kamu kox sepertiku, yang suka maling mangga 🤣🤣 dan selalu sukses juga 😂😂 sumpah deh, nih cerita eh, episode....judulnya Maling Mangga yang Gesrek 🤣🤣🤣
pagi pagi absen dimari
kolom misi tertera karya Author lain 🤦🤦🤦
Omegot NT mah
duh....nostalgila dehh
kalian bikin kepengen 😥😥