Riana Nina Zara adalah seorang wanita yang baik dan punya pembawaan yang ceria. Ia memiliki seorang sahabat baik bernama Alina Raya Wijaya. Mereka sangat dekat karena berteman baik sejak duduk di bangku SMP. Bahkan Riana sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Orangtuanya juga selalu baik kepadanya.
Alina sendiri adalah seorang gadis piatu yang hanya tumbuh besar di bawah pengasuhan ayahnya. Ibunya meninggal dunia setelah setahun melahirkan dirinya. Sejak itu ayahnya tidak pernah menikah kembali karena fokus untuk merawat dan membesarkan dirinya.
Namun suatu hari ayahnya secara tiba-tiba memperkenalkan seorang wanita cantik kepadanya. Dan kedepannya wanita itu akan menjadi ibu sambungnya. Sayangnya ia tak menyukai wanita itu.
Apakah pernikahan itu akan terjadi atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa gelisah.
"Apa maksud ayah bicara begitu?" Alina tampak kaget ketika mendengar perkataannya.
Ervin duduk di sofa sambil menyenderkan kepalanya di sofa. Ia tampak kacau.
Alina yang penasaran, ikut duduk di sampingnya.
"Ayah!" serunya bingung.
Ervin menceritakan segalanya pada putrinya karena menurutnya Alina perlu tahu hal itu. Ia tidak ingin Alina tahu dari mulut orang lain.
Alina tampak kaget begitu mendengar hal tersebut. Ia bahkan sampai menangis dan memukul lengan ayahnya karena marah.
"Bagaimana bisa ayah melakukan hal itu pada Riana? Harusnya ayah bisa menjaga diri ayah. Bagaimana sekarang?" Alina tampak kesal dan menangis.
Ia juga ikut merasa bersalah pada Riana. Ayahnya sendirilah yang telah menghancurkan masa depan gadis itu.
"Ayah harus bertanggungjawab pada Riana. Ayah harus menikahinya apapun yang terjadi." desaknya.
"Ayah pasti akan bertanggung jawab. Tetapi keputusan tetap saja berada di tangan Riana. Kita tidak bisa memaksanya." jelas Ervin.
Alina hanya diam. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
"Kalau begitu biar Alina yang bicara pada Riana." Alina bangkit dari tempat duduknya hendak pergi menemui Riana.
Namun Ervin mencegahnya.
"Jangan temui dia sekarang. Dia pasti masih syok dan tidak bisa di ajak bicara. Kita tunggu saja sampai keadaannya lebih baik." cegah Ervin.
"Tapi, yah!"
"Keadaannya tidak baik-baik saja, sayang. Jadi jangan memperkeruh keadaan."
Alina mengurungkan niatnya. Ia tidak jadi pergi dan kembali duduk.
Mereka berdua tampak bingung.
"Sebenarnya ayah sudah memikirkan cara lain jika Riana tidak setuju untuk menikah."
"Cara apa yang ayah maksud?" tanya gadis itu pada ayahnya.
"Menyerahkan diri ke kantor polisi atas tindakan pemerkosaan."
Alina terlihat kaget mendengarnya. Cara itu memang benar, tetapi dia juga belum siap jika harus berpisah dengan ayahnya. Apalagi dengan cara seperti ini. Tetapi dia juga tidak mau memiliki seorang ayah yang tidak bertanggung jawab. Terlepas kesalahan ini terjadi karenanya ataupun tidak.
"Iya. Kita lihat bagaimana baiknya saja, yah."
...****************...
Beberapa hari kemudian....
Sejak saat itu Riana selalu bermimpi buruk sampai membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Salma yang khawatir padanya memutuskan untuk membawa Riana tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.
Keadaan Riana semakin hari terlihat mengkhawatirkan. Dia juga tidak mau makan barang sesuap pun. Dia kehilangan semangat hidupnya.
Peristiwa malam itu sangat membekas di ingatannya. Ia mengalami trauma yang parah.
"Ri! Makan ya, nak! Tante sudah buatkan makanan kesukaan kamu. Kamu sudah dua hari tidak makan apapun. Kalau begini terus kamu bisa sakit dan terpaksa harus di infus. Makan ya. Sedikit aja."
Riana hanya menggeleng.
Salma tampak putus asa. Ia lalu keluar kamar dan pergi menemui suaminya.
"Dia masih tidak mau makan?" tanya Hendri ketika melihat piring yang di bawa Salma masih penuh tidak tersentuh.
Salma hanya menggeleng.
"Kita tidak bisa membiarkannya begini terus. Dia bisa jatuh sakit. Apa tidak sebaiknya kita bawa Riana ke psikiater? Mas takut masalah ini akan berdampak pada psikisnya." saran Hendri.
Salma tampak berpikir.
"Apa Riana tidak akan semakin terguncang jika kita membawanya ke psikiater?" tanyanya ragu.
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Aku juga bingung, mas. Ha... kenapa kemalangan selalu menimpa gadis itu. Dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya dan sekarang dia harus mengalami hal berat seperti ini." Salma tampak sedih dan tak kuasa menahan air mata.
"Biar mas hubungi dokter Ridwan agar dia memeriksa kondisi Riana, ya. Untuk saat ini hanya itu saja yang bisa kita lakukan." ucap Hendri.
"Iya, baiklah!"
Tak lama dokter Ridwan datang. Kebetulan mereka tinggal di komplek yang sama. Rumah dokter Ridwan hanya berjarak beberapa rumah dari rumah Salma.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Salma pada pria berkacamata itu.
"Keadaannya sangat mengkhawatirkan. Tubuhnya kekurangan cairan karena tidak mendapatkan asupan yang cukup. Jika di biarkan saja saya takut jika dia akan mengalami dehidrasi. Mungkin kita bisa memberikan infus padanya agar tubuhnya tetap mendapatkan cairan."
"Apa bisa dilakukan di rumah saja, dok?" tanya Salma karena Riana tidak akan mau di bawa ke rumah sakit.
"Bisa saja. Saya juga akan terus memantaunya." jelas Dokter Ridwan.
"Tetapi jika keadaannya tidak membaik, terpaksa harus di bawa ke rumah sakit." lanjutnya.
"Baiklah kalau begitu." ucap Hendri.
Dokter itu lalu pulang untuk mengambil tiang infus di rumahnya. Ia di bantu oleh Hendri.
Riana terpaksa di infus di kamarnya. Hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa tetap bertahan.
Di saat orang tuanya sedang berbicara dengan dokter, si kecil Luna masuk ke dalam kamar Riana.
Luna adalah putri satu-satunya Salma dan Hendri. Usianya baru 6 tahun. Riana dan Luna sangat dekat. Anak itu sering bermain dengannya di hari libur.
Luna yang memeluk boneka kelincinya, tampak merangkak naik ke atas ranjang tempat Riana berbaring.
Ia membawa satu kantong biskuit di tangan kanannya.
"Kakak! Bangun, kak!" serunya berbisik untuk membangunkan Riana yang tampak terpejam.
"Hai! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Riana dengan suara serak yang terdengar lemah.
"Luna bawa biskuit untuk kakak. Tadi Luna buat di kelas. Rasanya manis sekali. Kakak pasti suka." ia mengambil satu biskuit dan menyuapinya ke mulut Riana.
"Buat kamu saja, ya." Riana mencoba untuk tersenyum pada gadis kecil itu.
"Kakak tidak sayang sama Luna, ya! Luna kan sudah sudah payah membuatnya." gadis itu tampak cemberut.
Riana tersenyum. "Baiklah! Tapi satu gigitan saja, ya."
"Ok." gadis itu tampak senang.
Riana membuka mulut dan menggigit biskuit itu.
"Enaknya! Kamu pintar sekali membuatnya." ucap Riana.
"Kalau enak, habiskan ya!" pinta Luna.
"Kakak sudah kenyang." tolak Riana.
"Baiklah! Tapi.... Kenapa kakak tidur terus? Kakak sakit, ya?"
"Iya. Kakak cuma kelelahan saja." jelasnya.
"Kapan kakak sembuhnya? Luna mau main lagi sama kakak."
"Nanti ya!"
Luna memeluk tubuh Riana yang lemah. Entah kenapa pelukan itu membuatnya merasa tenang.
Salma dan Hendri tampak sedikit lega setelah melihat hal tersebut. Setidaknya Riana sudah bisa tersenyum walaupun sedikit.
...****************...
Keesokan paginya, Alina tampak gelisah di kamarnya. Sudah tiga hari ini ia tidak pergi ke warung dan bertemu dengan Riana.
Sebenarnya ia ingin mengunjunginya sejak kemarin, tetapi ayahnya selalu menghalangi niatnya. Tetapi ia tidak bisa hanya berdiam diri saja tanpa melakukan apapun.
Riana sudah lebih dari sekedar sahabat. Ia seperti kakaknya sendiri.
Alina memilih untuk bolos kuliah hari ini. Kebetulan Ervin juga sudah masuk kerja. Jadi tidak ada lagi yang menghalanginya.
Ia akan menemui Riana dan melihat keadaannya. Hatinya sungguh tidak tenang sebelum melihatnya.
Perjalanan ke rumah Riana memakan waktu sekitar setengah satu jam.
Warung masih terlihat sepi pengunjung karena baru buka jam sepuluh nanti. Hanya beberapa pegawai yang tampaknya sedang bersih-bersih dan melakukan persiapan.
Alina bertanya pada salah satu pegawai tentang Riana. Dan gadis itu mengatakan jika Riana berada di rumah Tante Salma. Mereka juga belum melihatnya beberapa hari ini.
Alina langsung pergi ke rumah tantenya yang beda gang.
Ia mengetuk pintu rumahnya. Om Hendri lah yang membuka pintu.
"Alina! Kamu datang?" tanyanya.
"Iya, om. Maaf kalau Alina baru datang sekarang. Alina mau ketemu sama Riana dan melihat keadaannya. Apa Alina boleh ketemu sama Riana, om?"
Hendri tampak ragu. "Kebetulan kamu datang. Sebenarnya om dan tante berencana untuk menelepon kamu. Tapi syukurlah jika kamu sudah datang ke sini." jelas Hendri.
"Memangnya ada apa, om? Apa terjadi sesuatu pada Riana? Bagaimana keadaannya, om?" ia tampak panik.
Hendri tampak khawatir dan menghela nafas dalam. "Keadaannya tidak baik-baik saja. Mungkin kamu bisa bicara padanya. Karena kamu yang paling dekat dengannya. Kami sungguh mengkhawatirkan keadaan Riana."
Alina semakin cemas.
Ketika ia mengunjungi Riana di kamarnya di lantai atas, Alina tampak terkejut melihatnya.
"Riana!!"
...****************...