Selama belasan tahun Alesha Kamil sendirian membesarkan keponakannya, Azzam. Ia berharap seluruh cinta yang ia berikan dapat menggantikan figur ayah yang tak pernah dikenal anak itu.
Namun tiba-tiba, suatu hari Keenandra Malik Gunawan mendatangi Alesha di rumahnya. Musisi yang terkenal playboy itu sebetulnya ayah kandung Azzam, dia datang karena surat-surat kaleng yang berisi pemberitahuan jika dia memiliki seorang anak.
Akankah Keenan mengambil Azzam dari Alesha yang sudah mengurus dan membesarkannya? atau Keenan justru menginginkan yang lain?
Yuk baca selengkapnya di Dia juga Anakku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Andra sedang mengocok botol berisi jus jeruk ketika Alesha masuk ke dapur. “Kopinya hampir siap,” ucap Andra.
“Aku tidak mau minum kopi.” Suara Alesha yang begitu tegas membuat guncangan botol itu langsung berhenti. “Satu-satunya yang aku mau darimu adalah penjelasan lengkap tentang mainan mewah yang kau limpahkan untuk Azzam. Kupikir kita sudah sepakat tentang kemewahanmu yang berlebihan itu semalam.”
Dengan hati-hati Andra meletakkan botolnya. “Apa aku harus mengambil kembali apa yang sudah kuberikan padanya? Come on, Alesha. Apa yang kita sepakati semalam adalah bahwa aku orang tua yang berlebihan karena aku tidak memiliki anakku selama tujuh belas tahun dan bahwa kau akan bersabar terhadap sikapku.”
“Tapi setelah melihat taman impian elektronik yang memenuhi kamar Azzam, kesabaranku langsung habis.”
Andra bertolak pinggang. “Ada apa sih, Al? kok tiba-tiba kamu jadi begini?”
“Kau melimpahi Azzam dengan barang-barang yang indah untuk mengambilnya dariku!” tuduh Alesha.
“Itu tidak benar.”
“Kurasa itu benar.”
“Buat apa aku melakukan itu?”
“Karena kau harus menjadi yang pertama dalam kamus hidupmu, orang paling hebat, sang pemenang, nomor satu, di posisi puncak.”
“Yang jelas aku tidak akan jadi yang tercantik, karena kalau yang itu adalah kamu.”
Wajah Alesha memerah. "Kau ini benar-benar menyebalkan," Ia berbalik dan berjalan menuju pintu depan, saat ia membukanya Alesha langsung berhadapan dengan Azzam dan Chiki yang baru masuk.
“Ibu!” seru Azzam. “Aku tidak percaya waktu melihat mobil Ibu di depan. Ada apa?”
Alesha terlalu kaget melihat Azzam, hingga tidak mampu berbicara. Ia juga merasa takut jika Azzam tahu Andra menemaninya semalaman.
“Eyangmu, Azzam,” ujar Andra dari belakang Alesha.
Alesha akhirnya berhasil berbicara dan dengan pelan memberitahu Azzam, “Eyang meninggal kemarin siang.”
“Kemarin?”
“Ibu dan Ayah berdiskusi dan memutuskan untuk tidak merusak acara menginapmu. Ayah akan meninggalkan kalian berdua. Ayo Chiki, kita ke belakang.”
Kucing cantik itu mengikuti Andra lewat lorong meninggalkan Alesha dan Azzam berdua. Azzam tampak sangat menyesal. “Ibu, maaf aku tidak ada di sana waktu Eyang meninggal.”
“Kau kan tidak tahu.”
“Iya juga sih, tapi kenapa Ibu tidak menghubungiku? Ibu kan jadi sendirian semalam.”
“Maafkan Ibu, Azzam. Ini permintaan Eyang, beliau tidak ingin kau menangis di pemakamannya. Kamu tidak perlu khawatir, Ibu tidak apa-apa kok. Ibu memang perlu waktu untuk berpikir sendirian.”
Azzam melangkah maju dan memeluk ibunya. “Ibu pasti sangat sedih. Aku mungkin tidak akan setegar Ibu, jika ada sesuatu terjadi pada Ibu.”
Alesha balas memeluk Azzam erat-erat, air mata mengalir di pipinya. “Terima kasih, Sayang.”
“Apa nanti malam Ibu akan menggelar acara tahlilan?” tanya Azzam, melangkah mundur.
“Ya. Ibu sudah memesan kue untuk nanti malam, tapi hanya sederhana saja. Yang penting doa dan kekhusyukannya.” Alesha menceritakan jika Ibundanya di makamkan di dekat makam Annisa dan ayahnya.
“Aku dan Ayah akan datang. Jam berapa?”
Alesha menyebutkan waktunya. “Hanya tahlilan sederhana.”
Azzam mengangguk, membuat beberapa helai rambutnya jatuh di keningnya. Secara refleks Alesha mengulurkan tangan untuk merapikannya. “Bagaimana acara menginapnya?”
“Asyik sekali. Kami bergadang sampai jam empat main poker.”
“Poker?”
“Ya. Ayah memberiku beberapa trik sebelum aku pergi dan akhirnya aku menang lima ratus ribu.”
“Kau bermain judi?” tanya Alesha mulai meninggikan nada bicaranya.
Azzam menggeleng. “Tidak. Uangnya sudah aku kembalikan, aku hanya ingin mengasah kemampuan bermainku," ucap Azzam. "Kemarin aku mencoba menelepon Ibu untuk minta izin, tapi handphone Ibu di luar jangkauan. Jadi, aku meminta izin kepada Ayah, meski awalnya aku sempat takut kalau Ayah tidak mengizinkanku pergi.”
“Kenapa tidak?”
“Ayah menghubungi orang tua Farel, dan menanyakan apakah mereka ada di rumah atau tidak, lalu menanyakan apa di sana ada minuman keras atau obat terlarang atau hal-hal semacam itu.” Azzam menyeringai. “Sekarang aku punya dua orang tua yang over protect dan sangat keras!”
“Apakah Ayahmu keras padamu?”
“Di sini ada hal-hal yang disebut Ayah sebagai 'peraturan rumah'. Tidak boleh nonton TV sampai semua PR selesai dan Ayah sudah memeriksanya, semuanya harus benar kalau tidak aku harus mengulangnya sampai sempurna. Hanya satu kaleng soda per hari, tapi aku boleh minum jus buah dan susu sebanyak yang aku mau. Jam 10 malam sudah harus tidur. Kalau suara musik sampai bisa didengar Ayah, berarti itu sudah terlalu keras, dan aku harus mematikannya," tutur Azzam
“Ayah sangat mirip dengan Ibu. Ayah bahkan mengatakan padaku bahwa aku tidak boleh bersantai-santai setelah lulus nanti, Ayah menyuruhku mencari pekerjaan part time untuk uang saku dan uang bensin karena Ayah hanya akan membayar uang kuliahku saja. Tuh, kan? Ayah sepakat dengan Ibu tentang hal itu. Aku bilang aku memang sudah berencana untuk bekerja saat lulus nanti.”
“Kau suka tinggal bersamanya, Azzam?” Alesha tahu ia bersikap tidak adil dengan menempatkan Azzam dalam posisi itu, tapi ekspresinya yang sungguh-sungguh menuntut jawaban yang jujur.
“Ya, tentu saja,” jawab Azzam, salah tingkah. “Rumahnya bagus, ada si cantik Chiki yang selalu menemaniku. Setelah makan malam, Ayah dan aku akan mengobrol tentang banyak hal, sama seperti yang aku dan Ibu lakukan. Kadang kami bercanda dan tertawa-tawa, tapi Ayah akan menjadi serius tentang topik-topik penting seperti: Agama, integritas, dan hal-hal yang penting lainnya. Sama persis dengan Ibu.”
Azzam menguap lebar-lebar dan menutupnya. “Maaf, Ibu. Sepertinya aku mengantuk berat setelah bergadang semalaman.”
“Bagaimana kalau kau tidur dulu? Kita bertemu nanti sore.”
“Ibu yakin? Apa Ibu tidak mau kutemani pulang ke rumah untuk beres-beres?”
“Tidak, Ibu baik-baik saja kok. Kau istirahat saja.”
Alesha dapat melihat Azzam merasa lega, Walaupun anak itu sekali lagi memeluknya dengan tulus. Ia sudah keluar dari pintu depan ketika ia mendengar Azzam berseru, “Ayah... Ayah di mana?” sama seperti yang biasa diucapkan Azzam padanya.
Bagaimana ia bisa bersaing dengan ayah kandung Azzam, seorang musisi terkenal yang mampu memberinya sebuah mobil baru dan televisi baru, sementara ia sendiri harus menabung lebih dari setahun baru bisa membeli wallpaper dinding kamar anak itu?
Ia tidak bisa. Ia tidak mau. Tidak lagi.