Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
BAB 34: SURABAYA YANG GELAP
"Semua jejak mengarah ke satu kota. Kota yang selama ini disembunyikan rapat-rapat, kota yang tidak pernah disebut namanya, kota yang dianggap tidak pernah ada dalam kisah hidup wanita yang kucintai. Tapi malam ini, Surabaya bukan lagi sekadar nama kota di peta. Surabaya adalah awal mula segalanya. Adalah sarang kejahatan, adalah tempat lahirnya kebohongan, adalah tanah kelam tempat Claire Nathania tumbuh, belajar, dan merencanakan segala hal yang kemudian menghancurkan hidupku."
Arka berjalan perlahan mendekati jendela besar yang menghadap ke arah halaman belakang vila itu, namun matanya tidak menangkap pemandangan di luar sana. Pandangannya menerawang jauh, menembus jarak ratusan kilometer, menembus waktu lima tahun ke belakang, menuju kota besar di timur pulau Jawa itu. Surabaya. Nama yang terdengar biasa saja di telinga orang lain, namun bagi Arka sekarang, nama itu bergetar mengerikan, penuh bayang-bayang kelam dan rahasia besar.
"Surabaya..." gumam Arka pelan, nama itu terasa berat dan pahit saat meluncur dari lidahnya. "Kamu bilang kamu tidak pernah tinggal di sana. Kamu bilang seluruh keluargamu ada di Jakarta. Kamu bilang tidak ada satu pun kenangan atau jejak masa lalumu di kota itu. Tapi foto-foto ini... tulisan tanganmu ini... dan cerita yang baru saja kamu ungkapkan... semuanya berteriak bahwa Surabaya adalah pusat dari segala kejahatan kalian."
Arka berbalik badan, menatap Claire yang masih duduk terkulai, dan Adrian yang kini mengangkat wajahnya dengan tatapan yang gelap dan penuh ingatan menyakitkan.
"Ceritakan padaku..." pinta Arka dengan suara rendah namun tegas, penuh tuntutan. "Ceritakan tentang Surabaya yang sebenarnya. Tentang Surabaya tempat kalian berdua tumbuh bersama. Tentang Surabaya yang gelap, tempat di mana rencana gila ini pertama kali disusun."
Claire menarik napas panjang, gemetar hebat seolah sekadar menyebut nama kota itu saja sudah cukup untuk membangkitkan kembali rasa takut dan rasa sakit yang terkubur dalam-dalam. Ia menundukkan wajahnya, menatap lantai dengan pandangan kosong, lalu mulai berbicara dengan suara yang lirih namun perlahan menguat, seolah sedang berjalan kembali menyusuri lorong-lorong masa lalu yang suram.
"Surabaya bagiku bukanlah kota kenangan yang indah, Mas..." mulai Claire, suaranya bergetar. "Surabaya itu neraka. Neraka yang dibangun dari rasa iri, rasa tidak adil, dan ambisi yang tidak punya batas. Kami tumbuh di kawasan elit, di rumah-rumah besar yang tampak megah dan bersih dari luar, tapi di dalamnya penuh dengan kepalsuan dan persaingan yang kejam."
Claire mengangkat wajahnya sedikit, matanya menerawang ke langit-langit ruangan, melihat bayangan masa lalu yang mengerikan.
"Ayahku adalah adik kandung dari ayah Elena. Keluarga Wijaya adalah salah satu keluarga terpandang dan terkaya di sana. Tapi kekayaan itu terpusat semua di tangan kakek, dan aturan lama mengatakan bahwa harta itu hanya akan diwariskan sepenuhnya kepada anak sulung. Ayahku... dia hanya mendapat sedikit bagian. Sementara ayah Elena, sebagai anak tertua, memegang kendali atas segalanya: tanah, perusahaan, nama baik, dan masa depan."
Claire tertawa kecil, tawa yang kering dan menyakitkan.
"Sejak kecil, aku sudah diajarkan untuk merasa kurang. Aku selalu dibandingkan dengan Elena. 'Lihat Elena, dia pintar.' 'Lihat Elena, dia sopan.' 'Lihat Elena, dia berhati mulia.' Di mana pun kami pergi, nama Elena selalu dipuji. Sedangkan aku? Aku hanya dianggap bayangan. Gadis yang sama cantiknya, sama cerdasnya, tapi selalu saja... kalah. Selalu saja dianggap kurang beruntung karena bukan anak sulung, bukan pewaris utama."
Claire menunjuk ke arah Adrian yang diam mendengarkan dengan mata tertutup rapat.
"Lalu ada Adrian. Adrian datang ke Surabaya saat kami berusia remaja. Ayahnya adalah manajer keuangan keluarga Wijaya. Mereka tinggal di perkebunan milik keluarga kami. Adrian pintar, licik, dan sama denganku... dia penuh rasa sakit hati dan rasa iri. Dia melihat betapa mudahnya Elena mendapatkan segalanya tanpa perlu berusaha. Dia melihat betapa beratnya nasibku yang harus berjuang keras namun tetap dianggap tidak ada."
Claire menatap Arka lekat-lekat.
"Di sanalah semuanya bermula, Mas. Di Surabaya. Di balik tembok tinggi rumah keluarga Wijaya. Di taman belakang yang rimbun dan sunyi. Di situlah kami berdua—aku dan Adrian—mulai menyusun rencana kami. Kami duduk berjam-jam, membicarakan ketidakadilan dunia, membicarakan betapa tidak pantasnya Elena memiliki segalanya hanya karena nasib kelahiran, membicarakan betapa kami berhak mendapatkan lebih banyak."
Suara Claire makin berat, makin gelap, seolah udara di sekitarnya ikut menjadi kelam seperti kota masa lalunya itu.
"Surabaya itu kota yang tertutup, Mas. Di mana rahasia disimpan rapat-rapat, di mana nama baik lebih mahal dari nyawa. Di sana, kami belajar bahwa orang akan percaya apa saja selama itu terdengar benar dan menguntungkan. Di sana, kami belajar cara memanipulasi orang, cara berbohong tanpa ragu, cara berpura-pura menjadi orang lain. Di sana, kami mengasah gigi kami, melatih niat buruk kami, sampai rencana itu menjadi matang sempurna."
Claire berhenti sejenak, menelan ludah yang pahit.
"Dan puncaknya... lima tahun lalu. Di rumah besar itu di Surabaya. Kami tahu Elena dan orang tuanya berencana pergi lama ke luar negeri. Kami tahu mereka akan meninggalkan rumah kosong, meninggalkan dokumen-dokumen penting di brankas, meninggalkan jejak-jejak identitas mereka. Di malam itu... kami membakar rumah itu. Kami merencanakannya sedemikian rupa agar terlihat seperti kecelakaan, seperti hubungan arus pendek listrik. Kami memastikan semua orang mengira mereka tewas terbakar, tidak ada sisa jenazah yang bisa dikenali."
Air mata menetes deras kembali dari mata Claire, namun kali ini bukan air mata penyesalan yang lemah. Ini air mata ketakutan akan ingatan mengerikan itu.
"Asap hitam mengepul memenuhi langit Surabaya malam itu, Mas. Api menjilat dinding-dinding rumah yang dulu sering kami maini bersama. Di tengah kepanikan dan kegelapan itu... kami mengambil semua dokumen penting. Kami mengambil identitas Elena. Kami mengambil hak milik atas nama keluarga Wijaya. Dan kami pergi. Kami meninggalkan Surabaya yang penuh debu dan abu itu, meninggalkan masa lalu kami yang gelap, dan pergi ke Jakarta untuk memulai hidup baru."
Claire menundukkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya, tubuhnya berguncang hebat.
"Surabaya itulah sumbernya, Mas. Surabaya yang penuh persaingan, Surabaya yang penuh ketidakadilan, Surabaya yang mengajarkan kami kejahatan. Di kota itulah Claire Nathania yang asli lahir dan tumbuh menjadi wanita yang jahat, wanita yang tidak segan merampas nyawa dan hak orang lain demi ambisinya. Di kota itulah Adrian mengubah kami berdua menjadi monster."
Arka mendengarkan semuanya dalam diam, dada rasanya sesak dan panas. Bayangan kota Surabaya yang selama ini ia kenal sebagai kota pahlawan, kota yang ramai dan bersejarah, tiba-tiba berubah menjadi tempat paling mengerikan dalam imajinasinya. Di bawah kemegahan dan ketenaran nama itu, ternyata tersimpan rahasia pembakaran, pencurian, dan pembunuhan yang kejam.
Ia menatap Adrian yang kini membuka matanya perlahan. Mata itu menatap kosong ke ruang depan, penuh bayangan masa lalu yang kelam.
"Kau tidak pernah ingin kembali ke sana, kan, Adrian?" tanya Arka dengan suara dingin dan tajam. "Kalian berdua selalu menghindari Surabaya, selalu melarang siapa pun menyebutkannya, selalu menghapus semua jejak yang mengarah ke sana. Karena kalian tahu... bahwa di Surabaya itulah kuburan dosa kalian berada. Bahwa di Surabaya itulah bukti-bukti asli masih tertanam dalam tanah, menunggu waktu untuk terangkat kembali."
Adrian mengangguk pelan, senyum miris mengembang di bibirnya.
"Kau benar, Pak Arka... Surabaya adalah tempat yang mengutuk kami. Kami membencinya, tapi kami tidak bisa melepaskannya. Di setiap langkah kami, di setiap rencana kami, di setiap kebohongan yang kami ucapkan... bayangan Surabaya selalu ada di belakang kami, mengintai, mengancam akan menelan kami kembali ke dalam kegelapannya. Kami pergi ke Jakarta, kami membangun istana baru, kami hidup mewah dan aman... tapi kami tahu, asal-usul kami tetaplah di sana. Di kota yang gelap itu."
Arka kembali menatap Claire. Wanita itu kini terlihat jauh lebih kecil, jauh lebih rapuh, seolah beban berat masa lalu Surabaya itu menimpanya sepenuhnya saat ini juga.
"Jadi setiap kali kamu bersamaku, setiap kali kamu tersenyum, setiap kali kamu berjanji masa depan indah... kamu sebenarnya sedang lari dari masa lalu Surabaya itu, bukan?" tanya Arka lirih, penuh kepahitan. "Kamu berusaha sekeras mungkin untuk menjadi Elena yang bersih, untuk menutupi noda Surabaya yang gelap itu. Tapi semakin kamu lari, semakin masa lalu itu menarikmu kembali. Semakin kamu berpura-pura, semakin kota itu menghantuimu."
Claire mengangkat wajahnya, matanya merah dan bengkak, namun penuh kepastian yang menyakitkan.
"Ya, Mas. Segala yang salah dariku, segala yang gelap di dalam diriku, segala kejahatan yang pernah kulakukan... semuanya bermula dari Surabaya. Aku tidak bisa menyangkalnya lagi. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Surabaya yang gelap itulah yang membentuk diriku. Dan Surabaya itulah yang akhirnya menghancurkan segalanya, membawa kami sampai ke titik ini... di mana semua kebohongan terbongkar, dan kebenaran yang mengerikan terpampang nyata di hadapanmu."
Ruangan itu kembali hening. Namun keheningan itu kini terasa lebih berat, lebih kelam, karena kini mereka semua tahu asal mula dari segalanya. Di balik nama yang indah, di balik wajah yang cantik, di balik kehidupan yang tenang di Jakarta... tersembunyi kota besar di timur sana. Kota yang menjadi saksi awal mula kejahatan. Kota yang melahirkan Claire Nathania. Kota yang gelap, yang kini akhirnya menyerahkan semua rahasianya ke dalam cahaya kebenaran yang menyakitkan ini.
Surabaya.
Awal mula segalanya.
Dan tempat di mana semuanya seharusnya berakhir, sebelum sempat menghancurkan hidup seorang pria jujur bernama Arka.
— BERSAMBUNG.......