Kisah sepasang suami istri yang menikah karena sebuah perjodohan.
Ara dan Fawwaz.
Berawal dari tidak saling kenal, lalu dipaksa hidup dalam satu atap.
Ara bersikap sangat dingin dan acuh, berbanding balik dengan Fawwaz yang begitu hangat dan penuh perhatian. Walau sudah berkali-kali di acuhkan, ia tak pernah merasa bosan sedikitpun.
Suatu ketika Ara merasa kasihan dan ingin memperbaiki sikapnya. Benih-benih cinta mulai bersemi, tapi justru ujian berbalik kepadanya.
Dia harus melewati berbagai ujian untuk mendapatkan Fawwaz seutuhnya. Hingga suatu hari ia di melihat kenyataan yang membuat dunianya serasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiva cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Matahari sudah naik ke singgasananya, cahayanya menelisik hingga ke penjuru Nusantara.
Diana dan Hermawan sudah siap untuk membawa Fawwaz kembali ke rumah.
"Kamu sudah siap pulang Nak," tanya Diana. Ia menyeringai memandang Putranya yang sudah kembali segar.
Fawwaz mengangguk.
"Tapi tunggu Angelie datang ya Ma," ucap Fawwaz.
Diana menghentikan aktifitas merapikan barang-barangnya.
"Untuk apa Nak?" tanya Diana.
Tok tok.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Angelie.
Diana dan Hermawan hanya bisa terbelalak melihat kedatangan wanita itu.
"Waalaikumsalam," sahut Fawwaz.
"Masuk Ngel," pinta Fawwaz.
Angelie masuk ke dalam ruangan dengan perasaan cemas tapi ia tidak mau melewatkan kesempatan ini.
"Ma Pa, Angel ikut di mobil kita ya," pinta Fawwaz.
Diana dan Hermawan hanya bisa bertukar pandang tanpa berkata-kata.
"Eee, gak usah gak apa Waz, aku bawa mobil sendiri kok." Sahut Angelie.
"Aku bisa ngikuti mobil kalian kok." Tambahnya.
Diana dan Hermawan tidak menggubris ocehan Angelie, mereka hanya sibuk dengan aktifitasnya.
"Waah sepertinya anda sudah mengemasi barang-barangnya ya." Sambut Dokter yang memeriksa Fawwaz.
"Iya Dokter, kami sudah siap pulang." Jawab Diana.
"Saya lepas dulu infus nya ya Pak," ucap seorang perawat.
Fawwaz menyeringai.
"Dimana istri anda Pak, wanita yang menunggu anda selama anda belum siuman?" tanya Dokter dengan ketidak tauanya.
Fawwaz hanya diam kebingungan.
Sedang Diana dan Hermawan hanya bisa saling tatap.
"Dokter, ada pasien yang butuh pertolongan." Pekik perawat dari luar ruangan, suaranya terengah-engah.
"Baik, saya permisi dulu." Pamit Dokter tersebut kemudian beranjak keluar ruangan.
Beruntung pertanyaan Dokter bisa teralihkan secara tidak langsung.
****
"Buk, nanti sore Ara mau ke makam Nathan ya," ucap Ara.
"Sama siapa Nak?" tanya Ratih sembari mencuci piring kotor.
"Sendiri Buk." Jawab Ara.
"Apa gak sebaiknya tunggu Mas mu pulang dulu Nak ... " pinta Ratih. Ia menyelesaikan aktifitasnya.
"Gak usah Buk, Ara bisa sendiri kok." Sahut Ara sembari mengupas bawang di dapur.
"Ya sudah, hati-hati." Kata Ratih.
"Oh iya, Ibuk dengar Silvi sudah kembali dari studynya di Luar Negeri," ujar Ratih. Ia duduk berhadapan dengan Putrinya.
"Iya kah Buk? kenapa dia gak kasih tau Ara ya," Ara berdecak heran.
"Mungkin dia sibuk Ra," sahut Ratih.
"Ibuk mau mandi dulu ya, badan Ibuk gerah," ujar Ratih sembari beranjak dari dapur.
"Kenapa dia gak kasih tau aku ya, kalau sudah pulang ... " Ara bergumam sendiri.
Jarum jam sudah menunjuk angka tiga, setelah shalat Ashar, Ara bergegas pergi ke makam seperti yang di katakanya tadi pagi pada Ibunya.
Tok tok,
"Buk, Ara berangkat ya ... " pekiknya dari balik pintu kamar Ratih.
Ratih menyelesaikan shalat nya lebih dulu, lalu membuka kan pintu kamar untuk Putrinya.
"Kamu sudah shalat Nak?" tanya Ratih pada Ara.
"Sudah Buk, Ara mau berangkat sekarang. Assalamu'alaikum," pamitnya sembari mencium tangan Ratih.
"Waalaikumsalam, hati-hati ya Nak." Ratih menyeringai.
"Iya Buk." Sahut Ara.
Ratih mengantar kepergian Putrinya dari teras depan rumah.
Ara memesan taxi online untuk perjalananya ke makam.
Sesampainya di dalam mobil, Ara membuka kaca mobil, lalu melambaikan tanganya sembari tersenyum.
Ratih pun membalasnya dengan lambaian dan senyum dari bibirnya.
Saat mobil baru keluar dari halaman rumah Ara, Arga datang dari tempat kerjanya.
"Ara mau kemana Buk?" tanya Arga penasaran, dan berniat mengejar adiknya.
"Mau ke makam Nathan." Jawab Ratih.
"Apa perlu Arga kejar ... " ucap Arga.
"Gak usah, adikmu sudah besar." Sahut Ratih sembari masuk ke dalam rumah.
Perjalanan rumah Ara ke makam membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit.
Akhirnya Driver menghentikan mobilnya di depan gang pemakaman umum.
"Berhenti di sini saja Pak," ucap Ara pada Driver.
"Baik Mbak."
Ara berjalan sekitar tiga puluh meter dari jalan utama ke pemakaman.
Tak lupa ia membeli bunga di pinggir jalan saat perjalananya ke makam.
"Assalamu'alaikum Than, kamu apa kabar di sana?" ucapnya sembari menyentuh batu nisan Nathan.
"Kamu pasti sudah bahagia berada di sisi-NYA."
"Aku juga bahagia bersama suamiku."
Bulir-bulir bening mulai berjatuhan dari sudut matanya.
Ingatanya membawa kembali saat ia menemukan kebohongan dari suami dan keluarganya.
"Aku juga sekarang lagi hamil anaknya," air matanya berjatuhan membasahi tanah kuburan Nathan.
"Than, apa aku masih boleh merindukanmu, meskipun sekarang aku sudah menjadi istri orang."
Hik hik,
suara Ara terisak-isak.
Kemudian Ara menyeka air matanya.
"Aku kemarin melihat seseorang yang mirip denganmu, tapi sifatnya jauh berbeda." Ara mengingat momen tidak menyenangkan sewakti berada di pesawat.
"Dia tengil, sok ganteng, sombong dan pokoknya semua hal-hal yang jelek untuk dia. Bersyukur aku gak punya suami model dia." Ara berdecak kesal.
"Tapi dia memiliki wajah yang mirip denganmu, namanya Nicholas. Dokter Nicholas," lanjutnya.
"Ehem," seseorang berdehem di belakang Ara.
Ara terkejut saat melihat orang yang ia bicarakan sudah berada di belakangnya.
"Dokter Nicholas ... " pekik Ara tidak percaya.
"Sudah selesai menjelek-jelekan aku di depan saudara kembarku?" tanya Nicholas dengan raut wajah kesal.
"Saudara kembar katamu? maksud saya anda," sahut Ara terbata-bata.
"Than, jadi cewek ini yang mau lu nikahin?" Nicholas seolah berbicara dengan saudara kembarnya.
Ara hanya menatap tidak percaya.
Bagaimana bisa Nathan tidak pernah memberitahukan hal ini padanya.
"Ta ... tapi Nathan tidak pernah memberitahukanya padaku." Jawab Ara.
Namun Nicholas tidak menggubrisnya.
Setelah mendoakan Nathan, Nicholas pergi dari makam tersebut.
Sedang Ara masih diam mematung di samping batu nisan Nathan.
"Apa kau tidak akan pulang ke rumah?" tanya Nicholas dengan sikap Aroganya.
"I ... iya," sahut Ara kemudian berjalan mengikuti Nicholas dari belakang.
Setelah Nicholas masuk ke dalam mobilnya, ia melewati Ara begitu saja.
"Dasar Pria sombong, congkak, tengil." Umpat Ara.
Namun tanpa disangka, Nicholas menghentikan mobilnya di ujung jalan setapak. Tapi Ara melewatinya begitu saja.
Tin,
Ara menoleh ke arah suara.
"Naiklah, aku akan mengantarmu pulang." Pekik Nicholas.
Ara mengabaikanya, tapi Nicholas mengikutinya dari belakang.
"Apa kau tidak melihatnya tadi,"
Nicholas menyetarakan laju mobilnya dengan langkah Ara.
"Apa," sahut Ara ketus.
"Itu, ada beberapa makhluk yang mengikutimu." Kata Nicholas.
Seketika Ara merasa merinding di sekujur tubuh.
"Apa sih, jangan coba nakut-nakuti aku ya. Lagian ini masih siang bolong." Jawab Ara ketus.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku tidak akan memaksamu. Tapi aku juga tidak mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu denganmu," ujar Nicholas lalu melajukan mobilnya sedikit lebih cepat.
"Tu ... tunggu !" Pekik Ara.
Nicholas menyeringai.
Lalu Ara setengah berlari menghampiri mobil Nicholas.
Ara duduk di bangku belakang dengan perasaan sedikit ketakutan.
Nicholas memperhatikanya dari kaca kecil di atas kemudi.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa denganmu. Toh aku juga gak berniat menyakiti wanita hamil." Pekik Nicholas kemudian ia melajukan kemudinya.
Sepanjang perjalanan, Ara menyimpan banyak pertanyaan dalam benaknya. Tapi iya enggan bicara dengan Pria Arogan seperti Nicholas.
"Apa kau tidak ingin mencaritau siapa aku?" tanya Nicholas.
Ara menggeleng, ia menatap keluar jendela.
"Ya sudah, jarang-jarang bisa satu mobil sama Pria keren kayak gue."
"Ueekk," perut Ara serasa mual mendengar ucapan Nicholas.
Bersambung.
•
•
•
Jangan lupa, sebelum baca episode selanjutnya silahkan tekan tombol like nya dulu, jangan lupa di komen. Terus balik ke profil novel, kasih rate lima dan kasih vote sebanyak-banyaknya.
pasti ada hati yg tersakiti.
Duhh knpa ujungnya kek gini sih😥
dasar laki laki