NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:92.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Elave Di Malam Hari

Setelah berbincang cukup lama, waktu perlahan bergeser menuju sore. Cahaya matahari mulai condong ke barat, membias lembut melalui jendela ruang VIP. Suasana pertemuan yang hangat perlahan harus diakhiri.

Alvarez menatap jam tangannya dan berkata, “Ben, sudah hampir jam tiga. Kami harus kembali ke Hotel Velouré Palace—masih ada barang-barang kami yang tertinggal di sana. Sekalian check-out, karena malam ini kami berencana menginap di sini.”

Benza tersenyum hangat. “Oh, kalian mau menginap di sini? Kebetulan sekali… hotel ini milik keluargaku. Dan sekarang akulah yang mengelolanya.”

Mendengar itu, Max dan Toni saling melirik. Max langsung tertawa kecil, lalu menepuk bahu Benza. “Wah, kalau begitu saya akan merekomendasikan hotel ini ke ayah saya! Pelayanannya luar biasa.”

Toni menambahkan sambil tersenyum lebar, “Saya juga! Saya akan ceritakan ke keluarga saya. Apalagi makanannya… luar biasa enak. Hehehe.”

Benza menatap Toni dengan rasa ingin tahu. “Kamu bilang keluargamu? Kalau boleh tahu, siapa nama ayahmu?”

Dengan bangga Toni menjawab, “Nama keluarga saya Aurellian. Ayah saya—Draven Aurellian.”

Mendengar nama itu, ekspresi Benza berubah. Ia sedikit terkejut, namun segera tersenyum penuh hormat. “Ah… jadi kamu tuan muda keluarga Aurellian. Ibumu, Nyonya Virenelle Aurellian, sering menginap di sini setiap kali beliau berkunjung ke kota ini. Beliau sangat dihormati.”

Toni membusungkan dada, jelas terlihat bangga. Namun sebelum suasana semakin dipenuhi kebanggaan, Benza menoleh ke Max.

“Kalau kamu, Max? Siapa ayahmu? Kelihatannya kamu juga sangat membanggakan beliau.”

Max terkekeh. “Tentu saja. Ayah saya Jonathan Blake—wali kota di kota G. Tapi ya… orang tua satu itu pelitnya nggak ketulungan.”

Benza hanya tertawa kecil dan mengangguk. “Luar biasa. Jadi kalian berdua anak dari orang-orang berpengaruh, ya?”

Max hendak menjawab lagi, tapi sebelum sempat membuka mulut, Alvarez menyela dengan suara yang tenang namun penuh makna.

“Sudahlah… ayo kita turun. Dan berhentilah terlalu membanggakan orang tua kalian… kalau kalian sendiri belum bisa membuat mereka bangga.”

Ucapannya tajam tapi tak bernada marah. Justru ada kejujuran yang dalam dalam kata-katanya. Sejenak, Max dan Toni terdiam, menatap sahabat mereka itu yang kini berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.

Tanpa berkata apa-apa, mereka bertiga pun menyusul di belakangnya, melangkah bersama menuruni lantai, meninggalkan ruang VIP yang kini kembali hening, namun menyimpan jejak cerita yang tak akan mudah dilupakan.

Setelah mereka berempat tiba di lobi hotel, Alvarez menyalami Benza dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.

“Terima kasih untuk semuanya, Ben,” ucap Alvarez.

Benza hanya mengangguk dan tersenyum. “Semoga kalian betah menginap di sini malam nanti.”

Alvarez, Max, dan Toni pun melangkah keluar dari hotel, meninggalkan kesan hangat di belakang. Benza menatap mereka hingga ketiganya menghilang di balik pintu kaca, sebelum ia membalikkan badan dan berjalan menuju meja resepsionis.

Setibanya di sana, suaranya terdengar tenang namun tegas.

“Siapa yang tadi melayani ketiga tamu itu?”

Seketika, Lyra—resepsionis wanita yang sebelumnya meninggalkan Alvarez dan yang menyambut mereka saat pertama kali datang—menjawab dengan cepat.

“Bukan saya, Pak. Tapi... Virella yang melayani mereka.” Nada suaranya terdengar ringan, tapi ucapan berikutnya sarat dengan prasangka. “Kenapa ya, Pak? Apa mereka membuat masalah? Sejak awal saya sudah curiga, lihat saja penampilan mereka… saya pikir mereka bahkan tidak mampu membayar makanan yang mereka pesan.”

Mendengar itu, sorot mata Benza berubah. Ada amarah yang naik, namun ia menahannya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata datar, “Panggil Virella sekarang. Segera.”

Lyra tersentak, lalu menjawab gugup, “Baik, Pak.” Ia berbalik, berjalan pergi sambil menyembunyikan senyum licik. Dalam hatinya ia mencibir, Huh, untung tadi aku meninggalkan mereka. Sekarang lihat saja, Virella—itu kesialanmu.

Beberapa menit kemudian, Virella muncul di lobi. Ia berdiri di hadapan Benza, tubuhnya kaku dan wajahnya pucat. Ketakutan terlihat jelas di matanya. Sebelum tiba di sana, Lyra sempat memperingatkannya bahwa ketiga tamu yang ia layani tadi telah membuat masalah besar di restoran hotel.

Benza duduk santai di sofa lobi, menatap Virella yang kini berdiri gelisah di hadapannya.

“Virella,” ucap Benza tenang. “Kamu yang melayani ketiga tamu tadi, bukan?”

Virella menelan ludah, lalu menjawab dengan suara pelan, “I-iya, Pak… saya yang melayani mereka.”

“Waktu itu,” lanjut Benza, “apakah memang giliranmu berjaga di meja resepsionis?”

Virella menggeleng dan segera menjelaskan, “Sebenarnya belum, Pak. Itu masih giliran Lyra. Tapi dia bilang ada keperluan dan meminta saya menggantikannya. Tapi… sepertinya dia kesal setelah berbicara dengan ketiga tamu itu…”

Ia menunduk, matanya terpejam seolah bersiap menerima hukuman terburuk.

Namun yang terdengar justru sebaliknya.

“Bagus. Bulan ini kamu dapat bonus gaji,” kata Benza ringan.

Virella mengangkat wajahnya perlahan. “A-apakah saya tidak salah dengar, Pak?”

“Saya sudah hubungi HRD. Bonusmu sudah dicatat. Sekarang kamu bisa kembali bertugas,” kata Benza sambil menekan layar ponselnya.

Virella membungkuk sopan dan hendak pergi ketika suara Benza kembali memanggil.

“Oh ya,” ucapnya. “Satu jam lagi kamu berjaga di meja resepsionis, bukan?”

“Iya, Pak,” jawab Virella cepat.

“Kalau ketiga orang tadi kembali, layani mereka sebaik mungkin. Jangan ambil satu sen pun dari mereka. Paham?”

“Tapi, Pak… mereka sudah membayar uang booking kamar VIP. Apakah Anda ingin saya mengembalikannya?”

Benza menggeleng pelan. “Tidak perlu. Biarkan saja. Dan satu lagi—jangan katakan kepada mereka kalau ini permintaan saya. Anggap saja... pelayanan hotel.”

Virella mengangguk perlahan, masih belum percaya atas apa yang terjadi. Ia kemudian melangkah pergi, dengan perasaan lega sekaligus penuh rasa hormat pada atasannya yang ternyata jauh berbeda dari yang ia bayangkan.

Menjelang pukul lima sore, Alvarez, Max, dan Toni akhirnya kembali ke Hotel The Elave. Mereka melangkah masuk ke lobi yang kini tampak lebih tenang dibandingkan siang tadi.

Begitu tiba di lobi Hotel The Elave, ketiganya langsung disambut dengan senyum hangat dari Virella, sang resepsionis yang berdiri tegak seperti prajurit kerajaan, namun tetap anggun dalam balutan seragam elegan berwarna navy.

“Selamat datang kembali di Hotel The Elave, Tuan Alvarez, Tuan Max, dan Tuan Toni,” ucapnya dengan ramah. “Kami telah menyiapkan kamar VIP Anda. Apakah ingin langsung check-in?”

Sebelum Alvarez sempat menjawab, Toni menyikut Max dan berbisik, “Gila, Max… kalau resepsionisnya kayak gini, saya bisa betah nginep seminggu penuh tanpa keluar kamar—asal kamarnya ada jendelanya ngadep ke lobi.”

Max terkekeh. “Kamar ngadep ke lobi? Yang ada lo diliatin CCTV tiap malam sambil ngobrol sendiri di kaca.”

Alvarez geleng-geleng kepala. “Tolong Nona, abaikan dua orang badut ini. Kami ingin check-in, seperti dalam booking sebelumnya.”

Virella tersenyum tipis, menahan tawa dengan profesionalisme yang mengesankan. “Tentu, Pak. Kami sudah menyiapkan kamar Anda di lantai tujuh, dengan pemandangan langsung ke taman kota. Ini kartu akses kamar Anda.”

Toni segera menyambar kartu aksesnya dan berkata sok formal, “Terima kasih, Nona. Kalau kami sampai tersesat di lantai tujuh, boleh saya panggil Anda lewat walkie talkie imajinasi saya?”

Virella hanya mengangguk, masih mempertahankan senyum. “Tentu saja, Pak. Dan jika ada permintaan khusus—selain walkie talkie imajinasi—silakan tekan tombol layanan kamar.”

Max menambahkan sambil menoleh ke Alvarez, “Bos, saya harap ada bonus sandal hotel yang bisa dibawa pulang. Sandal di hotel sebelumnya terlalu licin, saya hampir tergelincir waktu joget.”

“Joget di kamar mandi bukan olahraga, Max,” timpal Alvarez sambil tertawa kecil.

Virella menoleh ke pelayan di sebelahnya dan memberi instruksi. “Silakan antar para tamu kita ke kamar VIP 701. Oh, dan jangan lupa welcome drink-nya.”

Pelayan itu mengangguk. Sementara mereka bertiga berjalan ke lift, Toni tiba-tiba berkata dengan gaya sok bijak, “Max, saya udah tahu arti kebahagiaan sekarang.”

Max menoleh. “Apa tuh?”

“Duduk di hotel bintang lima, minum es jeruk gratis, dan nggak perlu bayar kalau ngaku temennya tuan benza, hehehe.”

Perjalanan menuju kamar berlangsung tenang, hanya terdengar suara langkah kaki dan dentingan halus musik dari lantai bawah.

Begitu sampai di kamar mereka yang luas dan mewah, ketiganya langsung melepas penat. Tanpa banyak bicara, mereka bergantian membersihkan diri. Setelah itu, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum turun kembali ke restoran hotel untuk makan malam.

Di luar jendela, matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung kota, menyisakan warna jingga yang lembut memantul di kaca kamar mereka.

Hari yang panjang belum benar-benar usai. Tapi malam menjanjikan ketenangan yang mereka butuhkan.

......Note:"Kalau kamu suka ceritanya, jangan lupa tekan like ya! Komentar kalian juga sangat berarti buat saya—ceritakan bagian favoritmu atau tebak apa yang akan terjadi selanjutnya!"......

1
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
Swikong
Oke
Swikong
Lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!