Karena keadaan keluarganya, Arimbi ingin membawa ibu dan neneknya pindah ke tempat baru yang di mana tidak ada orang yang tahu asal mereka. Tentu semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Sampai suatu saat tawaran datang dari seorang gadis kaya yang menjanjikan uang yang menggiurkan, membuat Arimbi pergi ke kota dan nekat menerima tawaran itu. Apa yang selanjutnya terjadi dengan Arimbi gadis cantik dan polos yang berasal dari desa itu?
Hati-hati ya, ceritanya bikin sakit perut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran yang membuat cemas
Clara sendiri yang mengantar Hugo dan Arimbi ke bandara. Clara sudah tidak marah lagi. Saat makan, Arimbi menghampirinya dan berkata kalau dia membawa hadiah dari Clara.
"Kau tidak membohongi aku hanya untuk menyenangkan aku saja bukan?" tanya Clara menyelidik.
Arimbi menggeleng dan tersipu malu.
"Kata kak Hugo dia juga ingin melihat ku memakai baju itu. Kak Hugo sendiri yang memasukkannya ke koper," sahut Arimbi berbisik dan tersenyum malu.
"Makanya, kau turuti aku saja! Mana ada pria yang tidak suka lihat yang seksi-seksi! Kau kan hanya mempertunjukkannya di kamar, bukan di depan umum. Kak Hugo kan pria normal, sudah pasti dia suka. Apalagi body mu seksi!" balas Clara berbisik sambil kembali memperhatikan body Arimbi dengan iri.
"Kau apain sih body mu? Kok bisa kayak gitu, menonjol di tempat yang pas, tidak seperti aku. Lihat perut ku masih saja ada lipatannya walau aku gak gemuk!" ujar Clara tidak puas.
"Kata siapa? Kau juga langsing kok!" puji Arimbi.
"Kalian berdua kenapa masih bisik-bisikan di meja makan? Ayo Ra, cepat makan. Nanti Kak Hugo dan Arimbi terlambat sampai di bandara!" tegur ibu Clara.
"Arimbi! Kau duduk di sini, jangan ladeni Clara terus. Clara kalau bergosip bisa tahan seharian gak berhenti," perintah ibu Clara menunjuk kursi di samping Hugo. Hugo sendiri hanya tersenyum melihat tingkah kedua perempuan itu.
"Iya Bu," sahut Arimbi yang segera meninggalkan Clara dan menuju ke samping Hugo. Hugo segera menarik kursi Arimbi dan menepuk kursi itu memberi tanda pada Arimbi untuk duduk di sampingnya.
"Terimakasih kak," ujar Arimbi tersenyum. Hugo membalas senyum Arimbi juga.
"Ayo segera makan."
Arimbi benar-benar bahagia, Hugo menjadi begitu sayang dan perhatian padanya. Rasanya apapun yang diinginkan Hugo akan dia kabulkan. Inilah pertama kalinya Arimbi merasa seperti apa yang namanya jatuh cinta!
**********
"Kak Hugo hati-hati ya, jaga Arimbi baik-baik," pesan Clara sebelum berpisah di pintu masuk.
"Cerewet! Gak usah dipesan juga aku akan menjaga baik-baik istri ku. Untung kau itu perempuan, kalau enggak aku bisa curiga kalau kau itu juga suka sama Arimbi!" canda Hugo.
"Tapi aku tetap sukanya sama kak Hugo," sahut Arimbi dengan cepat.
"Kalian berdua jangan bikin aku cemburu ya! Mentang-mentang Reyhan gak ada!" ujar Clara memajukan bibirnya merajuk.
"Tapi kau tetap sahabat terbaik ku Ra," sahut Arimbi.
"Sudah cepat masuk, nanti kembali honeymoon baru kita cerita lagi. Kasih tahu enak gak ya? Kalau enak aku akan meminta Reyhan segera melamar ku!" canda Clara. Arimbi hanya bisa mencubit Clara yang suka berbicara ke arah vulgar itu.
"Ayo kita masuk bi, kau jangan terlalu meladeni si Clara!" ujar Hugo memeluk pundak Arimbi dan membawa Arimbi melangkah masuk. Arimbi masih sempat menengok ke belakang dan melambaikan tangannya pada Clara. Clara sempat-sempatnya melengkungkan tangannya dekat perut, memberi tanda pada Arimbi agar pulang nanti perutnya sudah harus berisi junior.
**********
Saat ini Arimbi merasa dia adalah orang yang terbahagia di dunia, sampai-sampai Arimbi sudah lupa dengan kebohongan yang sudah diciptakan oleh dia dan Clara.
Mungkin ini yang seperti orang ucapkan, Dunia terasa milik berdua! pikir Arimbi tersenyum sendiri. Bagaimana tidak, semenjak pesawat tinggal landas, Hugo memeluk bahunya terus, bahkan terkadang Hugo mengecup keningnya tanpa sebab. Arimbi sampai merasakan detak jantungnya yang berdebar semakin kencang.
"Aku suka wangi rambut mu, Bi", gumam Hugo yang menarik pembatas kursi pesawat dan memeluk Arimbi semakin mendekat padanya. Dengan sebelah tangannya Hugo mengarahkan kepala Arimbi agar menyender ke dadanya, sudah tentu Arimbi kesenangan dan segera memeluk perut Hugo. Kali ini Hugo tidak memarahinya, Hugo kembali meletakkan kepalanya di atas kepala Arimbi, menghirup wangi lavender pada rambut Arimbi.
Aku akan memakai sabun wangi lavender juga ah! Arimbi langsung mencatat dalam hati kesukaan Hugo dan kembali tersenyum sangking bahagianya.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Hugo mendadak membuat Arimbi kaget. Tampak Hugo memperhatikannya dari jarak dekat membuat Arimbi menjadi salah tingkah.
"Aku senang kak Hugo menyukai wangi rambut ku, aku berpikir untuk merubah sabun ku dengan sabun yang wanginya seperti ini,"' jawab Arimbi dengan jujur.
"Wangi yang aku suka kan bukan hanya satu macam saja. Siapa tahu aku juga suka dengan wangi sabun mu, jadi untuk apa kau ganti?" tanya Hugo tertawa. Hugo merasa Arimbi sungguh polos. Sebetulnya Hugo sempat merasa asing dengan Arimbi, tapi Hugo berusaha membuang perasaannya itu, Hugo tidak ingin membuat Arimbi sedih karena perasaannya itu, karena itu Hugo sejak tadi mencoba bersikap dekat dan mesra pada Arimbi.
"Memang kak Hugo tahu wangi sabun ku dan suka juga?" tanya Arimbi bingung.
"Tidak, tapi kalau mau tahu kan masalah gampang," sahut Hugo dengan senyum rahasia.
'Kok bisa?"
"Bisa dong! Apa yang tidak bisa aku lakukan," sahut Hugo sombong.
"Caranya?" tanya Arimbi penasaran.
"Sepertinya kau memang mau memancing ku!" gerutu Hugo.
"Aku gak bawa pancing," sahut Arimbi dengan wajah polos dan bingung. Melihat wajah polos itu Hugo langsung menjadi gemas. Tiba-tiba saja Hugo mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Arimbi. Arimbi yang tidak menyangka perbuatan Hugo, tubuhnya menjadi tegang seketika. Bahkan sesudah itu Hugo dengan bibirnya menelusuri leher Arimbi membuat Arimbi merasa tubuhnya menjadi lemas dengan perbuatan Hugo. Seperti awal yang mendadak, Hugo tiba-tiba menarik wajahnya dari leher Arimbi, membuat wajah Arimbi memerah ketika melihat salah satu pramugari yang tersenyum ke arahnya.
"Tidak usah kau ganti bi, aku juga suka dengan wangi tubuh mu!" ujar Hugo yang kini sudah terlihat biasa lagi, seakan-akan kejadian tadi adalah hal yang biasa saja buat Hugo. Arimbi tentu tidak tahu kalau Hugo menghentikan kegiatannya karena merasakan jantungnya yang berpacu semakin cepat saat melakukan hal itu, Hugo yang tadinya cuman berniat menggoda Arimbi saja, malah ikut tergoda.
Sabar Hugo, ingat ini pesawat. Kalau kau memang menginginkan istri mu, paling tidak tunggu sampai di hotel! omel Hugo pada dirinya sendiri dan berusaha menahan gejolak hatinya. Sedangkan Arimbi sendiri merasa kalau dia semakin mengenal Hugo, Ternyata kak Hugo pria yang hangat dan romantis kalau bersama perempuan yang dia sukai. Semoga aku akan menjadi perempuan yang dia sukai selamanya! Harap Arimbi dalam hati.
Tapi bagaimana kalau suatu saat kak Hugo sadar? Apakah kak Hugo akan tetap sama dan tidak membenci ku? pikiran lain yang kembali muncul membuat Arimbi menjadi cemas dan tidak tenang
Bersambung.............
aduh othor sayang, ku candu dengan cerita mu, sehat sehat biar up teratur 🫰❤️
semangat othor kesayangan