Berbagai cara telah dilakukan Angelica Jane untuk kabur dari neraka yang disebut sebagai rumah itu dan ribuan kali pula dirinya gagal dalam usaha pelarian. Tak sekali dua kali, bahkan berkali-kali. Vincent Federico-- iblis berkedok paras malaikat itu merenggut kebebasannya.
Sampai ketika, seorang pria misterius tiba-tiba datang dan membawanya pada sebuah kenyataan yang tak terduga. Kenyataan tentang rahasia masa kecilnya yang selama ini tidak diketahuinya sama sekali.
Memori serta ingatan asing perihal kejadian di masa lalunya mulai bermunculan, seolah ingin mengungkap dan mengingatkannya akan suatu hal yang selama ini dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xyniee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. Menghilang.
Nicholas masuk ke dalam mansion dengan raut wajah kebingungan, mengapa dia merasa mansion milik Vincent terasa agak berbeda? Apa mungkin karena pemiliknya sedang tidak ada, atau hanya perasaannya saja? Namun, Nicholas tidak peduli dan kembali melangkah menuju ruangan dimana adiknya dirawat.
Pria itu mendudukan tubuhnya di sebuah kursi di samping tempat tidur, perlahan jari jemarinya menggenggam tangan sang adik dan mengelusnya lembut. Nicholas memperhatikan tubuh Jane yang semakin pucat, dia bahkan bisa merasakan kehangatan yang ada pada tubuh adiknya seolah menghilang berganti menjadi sedingin es.
“Cepatlah bangun, apa kau tidak lelah tidur sepanjang hari?”
Nicholas menundukkan kepalanya seraya meletakkan keningnya pada telapak tangan Jane, mata pria itu terpejam sejenak sebelum akhirnya kembali terbuka tepat pada saat hujan tiba-tiba turun.
Ingatannya mengarah ke masa lalu, saat itu dia tengah menemani adiknya menyaksikan hujan dari balik jendela. Tiba-tiba Jane bicara padanya bahwa dia ingin bermain hujan-hujanan, tetapi Nicholas tahu jika ibu mereka pasti tidak akan mengizinkannya. Melihat permohonan sang adik membuatnya tak tega, akhirnya diam-diam membawa Jane ke halaman belakang rumah yang tak jauh dari taman dan membiarkan adiknya bermain di bawah hujan.
Nicholas tersenyum melihat sang adik yang bahagia sambil melompat-lompat kecil menikmati rintikan hujan, hatinya merasa hangat akan hal itu. Bibir mungilnya melengkung cantik, menatap ke arah Nicholas sambil melambaikan tangannya.
“Kakak!” serunya.
Jane berlari hendak menghampiri sang kakak yang berada tak jauh darinya, Nicholas terus memperhatikan sampai matanya menangkap sebuah sinar merah kecil dari kejauhan. Mata tajamnya menyipit, memastikan bahwa penglihatannya tidak bermasalah. Detik berikutnya dia menyadari sesuatu, dengan cepat Nicholas juga berlari menuju adiknya.
“ADIK!” teriaknya keras.
Sementara Jane masih melangkah riang dan tidak tahu bahaya sedang mengincarnya, Nicholas segera menarik lengan sang adik dan menjatuhkan diri ke tanah yang basah. Sampai akhirnya sebuah tembakan keras terdengar di belakang mereka, menghancurkan kaca jendela di dapur.
Jane gemetar hebat setelah mendengar tembakan tersebut, Nicholas memeluknya berusaha untuk menenangkan. Dia menatap ke arah semak-semak dengan curiga, sebelum akhirnya orang tua mereka datang dan terkejut melihat keduanya.
“Anakku!”
Viona menggendong Jane yang menangis yang ketakutan, sedangkan Lucas membangunkan Nicholas yang masih menatap ke arah semak-semak. Pria itu menyadarinya, dia melihat ke arah penglihatan Nicholas. Namun, dia tidak melihat apa-apa berpikir jika anak laki-laki itu hanya masih syok saja.
Viona melihat kaca jendela dapurnya yang pecah, lalu melirik Lucas dengan tanda tanya. Keduanya terdiam sejenak, kemudian segera membawa anak-anak masuk ke dalam sebelum hujan semakin deras. Lucas mengelus bahu istrinya untuk menenangkan, berkata jangan khawatir karena dia akan menyelidikinya.
“Ayo kita ke dalam, tidak baik bermain di bawah hujan seperti ini. Kalian bisa terkena flu nanti,” ujar Lucas.
Nicholas digendong olehnya, tetapi mata anak itu masih mengarah tepat ke semak-semak di sana. Setelah mereka semua memasuki rumah, seorang pria misterius dengan senapan merangkak keluar dari persembunyian lalu pergi dari sana tanpa jejak.
Sejak hari itu, Nicholas membenci hujan karena mengingatkannya pada peristiwa tersebut. Mungkin adiknya telah lupa, tetapi tidak dengannya. Setiap dia mendengar suara hujan turun, memori ingatannya secara naluriah memutar kenangan itu membuat Nicholas merasa cemas berlebih.
Helaan napas terdengar, pria itu menatap sang adik yang masih betah menutup matanya.
“Aku sangat khawatir, setiap saat bahaya selalu mengintai dirimu tanpa kenal waktu.”
Nicholas mengelus surai hitam Jane perlahan, tetapi langsung terpaku kala melihat beberapa helai rambutnya rontok dan tertinggal di tangannya. Pria itu tak bisa menghentikan rasa takutnya terhadap sang adik, dia menatap Jane penuh harap sembari berbisik di telinganya.
“Kau kuat, aku yakin itu.”
Setelahnya Nicholas bangkit dari kursi, dengan enggan dan tak rela hati harus pergi kembali guna mengurus perusahaannya sekaligus masalah Jason. Ruangan kembali hening sepeninggal Nicholas, setetes air mata jatuh di pipi Jane. Pria itu tidak tahu, jika adiknya tengah berusaha melawan ketakutannya untuk bisa bangun.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ***
Aktivitas di mansion terbilang cukup lengang, sebagian besar hanya ada penjaga serta beberapa pelayan yang sibuk ke sana kemari untuk mengurus keperluan Jane. Terpantau selama tiga hari ini Nicholas tidak melihat entitas Vincent, tetapi dia masih melihat David yang selalu datang untuk memeriksa kondisi adiknya.
Hal itu membuatnya sedikit aneh, Nicholas berpikir apa Vincent sedang merencanakan sesuatu terhadap Jane? Namun, jika begitu rasanya masih tidak masuk akal mengingat bagaimana terobsesinya pria itu pada adiknya. Dia juga tahu, jika Vincent tidak bisa menahan dirinya saat bersama sang adik.
“Ini terlalu mencurigakan,” monolognya.
Meski begitu, Nicholas tak mengatakan apa-apa ataupun menanyakan keberadaan Vincent. Sebaliknya, justru dia senang mengetahui pria itu mulai menjauh dari adiknya. Namun, dia tetap akan mengawasi pergerakan pemilik mata elang itu untuk berjaga-jaga.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ***
Hujan turun membasahi perkotaan, sebagian besar orang-orang lari berhamburan guna mencari tempat berteduh. Awan mendung menutupi langit malam, menjadikan suasana sedikit mencekam. Iris tajamnya melihat keluar jendela mobil, memperhatikan tetesan air yang membasahi kaca.
Vincent terdiam sesaat. Tangannya memegang ikat rambut Jane, memandangi barang gadisnya itu sambil melamun. Jackson memperhatikan melalui kaca mobil, Tuannya terlihat memikirkan sesuatu.
“Tuan, apa anda akan kembali ke Mansion malam ini?” tanya Jackson.
Vincent sedikit terkejut, tetapi dia menyembunyikan keterkejutannya sambil menyimpan kembali ikat rambut Jane dalam saku jasnya. Pria itu berpikir sejenak, sebelum akhirnya memerintahkan asistennya tersebut.
“Tidak, bawa aku ke apartemen.”
Jackson mengangguk patuh.
“Tuan, apa anda tidak ingin mengunjungi Nona Jane? Sudah tiga hari anda tidak bertemu dengannya, Tuan David berkata jika Nona Jane mengalami perkembangan walau tidak sepenuhnya.”
Pria itu mencoba membangun topik, agar membuat Vincent tidak terus melamun. Jackson jelas tahu alasan di balik keterdiaman sang Tuan, sekaligus alasan mengapa selama tiga hari ini pria itu tidak pulang ke mansion meski rumah itu, adalah rumahnya.
Vincent mengangkat kepalanya, melihat Jackson melalui kaca mobil.
“Aku akan mengunjunginya nanti,” singkatnya.
Ini jelas sangat berbeda dari Vincent sebelumnya, dia tidak terlihat seperti biasanya. Namun, Jackson tak berani berkomentar apapun dia hanya bisa menuruti perintah Tuannya itu.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ***
Vincent menatap datar dua orang yang berada di ruang kantornya, mereka dengan lancang masuk ke dalam menjadikan pria itu benar-benar geram. Ketika hendak mengusir mereka, seorang pria paruh baya menghampiri Vincent dan merangkul bahunya tanpa beban.
“Putraku sudah dewasa dan sukses rupanya, hahaha! Sayang lihatlah, kita bisa meminta apapun pada putra kita karena uang yang dia miliki tak terbatas!”
Vincent segera menepis lengan pria tua itu dari bahunya, kemudian mengacungkan senjatanya pada mereka.
“LANCANG! Cepat pergi dari sini, sebelum tubuh kalian kujadikan pakan anjing milikku.”
Keduanya terkejut dan membeku dengan ancaman Vincent, seorang wanita paruh baya berjalan ke arahnya tanpa rasa takut dan berdiri di hadapan Vincent.
“Anakku ....”
Wanita tersebut berusaha meraih wajah Vincent, tetapi langsung ditepis olehnya dan didorong kasar menyebabkan ia jatuh dan membentur meja.
“Atas dasar apa kalian bisa masuk kemari?!” sentaknya.
Pada saat yang bersamaan, David melangkah masuk terburu-buru dan melihat adiknya sedang menodongkan senjata kepada pasangan suami istri itu.
“Vincent!”