JUARA 1 Event Sweet Marriage
Rania, gadis tomboi yang memiliki saudari kembar terpaksa menikahi kakak iparnya sendiri karena wasiat terakhir dari kakak kembarnya sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Evan Anthony. Kakak ipar super jutek dan menyebalkan adalah pria yang akan menjadi suami Rania. Lantas, mampukah Rania bertahan dalam kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dicintainya?
"Aku menikahimu hanya karena wasiat istriku, tidak lebih! Jadi, jangan berharap aku akan menyentuhmu dan menganggapmu sebagai seorang istri!" (Evan Anthony)
"Aku tidak pernah bermimpi untuk disentuh oleh pria sepertimu. Jadi, tidak perlu khawatir! Aku tidak akan mengganggumu!" (Rania Tyas Permata)
Lantas, bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apa jadinya jika tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sengatan lebah
Rania tersenyum sambil memejamkan matanya. Ternyata benar, Evan tidak mungkin bisa tahan dengan godaan darinya. Apalagi saat itu ia sudah tidak memakai apapun. Evan berada di balik punggung sang istri sembari tangannya merayap dan memeluk istrinya.
Rania masih terdiam seolah-olah sekarang dirinya yang tidak menghiraukan sang suami. Sesekali Rania meringis saat Evan mengecup punggungnya, terasa sangat geli sehingga membuat Rania membusungkan dadanya.
Tentu saja dengan leluasa Evan menjamah sesuatu yang selalu dibawa istrinya kemana-mana. Sesuatu yang selalu Evan genggam dan mainkan.
Sampai akhirnya, Evan memeluk sang istri sembari berbisik. "Hmm kamu pintar sekali menggodaku!"
Rania mendengar suara sang suami yang terdengar begitu berat. Rania menyunggingkan senyumnya lalu menjawabnya. "Siapa juga yang goda kamu! Aku nggak goda kamu kok. Aduhhh Evan stop!" seketika Rania terkejut ketika Evan melakukan sesuatu yang membuatnya tiba-tiba nafasnya naik turun.
"Kalau kamu tidak menggodaku, lalu kenapa kamu membuka semuanya. Kamu tahu semua yang ada dalam dirimu adalah canduku." balas Evan dengan suaranya yang serak.
"Aku hanya ingin tahu seberapa besar rasa sabarmu saat kamu cuekin aku! Sekarang, apa kamu masih ingin mengacuhkan aku lagi!" ucap Rania sembari mencengkram erat sprei tempat tidurnya. Karena Evan selalu saja mendesak dan menghimpit tubuhnya.
"Demi Allah! Aku tidak pernah berniat melakukan itu. Aku minta maaf jika ucapanku tadi sudah membuatmu terluka. Aku sangat cemburu saat aku tahu jika mas Farel pernah menyukaimu. Aku benar-benar tidak ingin wanita yang sangat aku cintai dilirik oleh laki-laki lain, meskipun itu adalah kakak kandungku!" ucap Evan sembari membalikkan badan sang istri.
"Tapi aku tidak suka kamu bersikap seperti itu, aku dan mas Farel tidak ada hubungan apa-apa. Dia memang pernah mengirimkan surat untukku. Tapi aku tidak pernah membalasnya. Aku harap kamu bisa mengerti dan kamu tidak usah cemburu lagi dengannya." ucap Rania dengan wajah sendunya.
"Iya aku tahu aku sudah bersalah. Aku janji! Aku tidak akan bersikap seperti itu lagi." balas Evan yang sudah ancang-ancang melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Sarung yang dipakainya terlepas begitu saja setelah ia tahu bahwa sang istri sedang memancing gairahnya.
"Benar!" Rania bertanya lagi untuk meyakinkan ucapan sang suami adalah serius.
"Tentu saja, Sayang! Sekarang boleh ya!" seru Evan yang sudah tidak tahan lagi. Ibarat seekor lebah yang bersiap untuk menyengat. Hampir saja sengatan Evan mulai ia tusukkan. Tiba-tiba saja Rania menahannya dengan menggeser tubuhnya.
"Eits tunggu dulu!"
"Duhh apa lagi, udah kenceng nih!" sahut Evan yang kembali menahan sengatan lebahnya.
"Aku tadi bertanya dan kamu belum menjawabnya,"
"Tanya apa, cepetan!" sahut Evan.
"Emmm ngga jadi deh! Karena tadi kamu bilang terserah. Ya udah besok aku masak air dan aku mau puasa sunnah saja! Besok kan hari Kamis," jawab Rania. Mendengar ucapan sang istri sontak Evan menggelengkan kepalanya sambil berkata. "Nggak ada! Besok kamu tidak usah puasa!"
"Loh kenapa? Kan kamu bilang sendiri tadi terserah. Ya udah aku juga terserah. Kamu nggak mau aku masakin!"
"Nggak bisa! Aku tidak mengizinkanmu puasa, besok kamu akan tetap memasak untukku. Kalau kamu puasa aku nggak bisa deketin kamu dan aku nggak mau. Lagipula itu hanya puasa Sunnah dan tidak wajib. Karena yang wajib bagi istri adalah menyenangkan hati suami, terutama di atas ranjang, bismillahirrahmanirrahim!"
Setelah mengatakan hal itu, Evan langsung menancapkan sengatan lebahnya sehingga membuat Rania tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
"Sayang, kamu nakal sekali!" rintih Rania.
"Ssssttt diam lah dan rasakan!"
BERSAMBUNG