NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 22

Matahari mulai menyingsing, cahaya keemasannya menerobos masuk, memantul pada jendela kaca yang gordennya dibiarkan terbuka.

Alyra menggeliat pelan di atas peraduan kecil, sementara ranjang besar dikuasai oleh seorang Erlan.

Ia perlahan membuka kelopak mata, saat menoleh, Alyra langsung dikejutkan oleh sosok yang duduk menyilangkan kaki sambil menatap tajam dirinya.

“Aaakhh!” Ia memekik sekuat tenaga.

Sosok itu hanya menghela napas.

“Pak Erlan?” Alyra memicingkan mata. “Ngapain kamu duduk di situ dengan tatapan kayak gitu? Saya pikir ada setan.”

“Setan? Mana ada setan di siang bolong kayak gini?” Erlan mencebik. Kemudian kembali menatap sang istri. “Apa rencanamu hari ini?”

“Rencana?” Alyra mengangkat alis. “Seperti biasa, menulis naskah di kamar. Setelahnya … kembali berleha-leha.”

Erlan melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu bangkit dari duduknya. Ia meraih jas yang tersampir di sandaran kursi dengan gerakan tenang dan tegas.

Penampilannya sudah rapi dalam balutan setelan kerja berwarna gelap, dipadukan rambut klimis khasnya yang semakin menonjolkan kesan berwibawa.

“Temenin gue ke pertemuan bisnis, gue butuh bantuan,” ujar Erlan.

“Bantuan?” Kini Alyra sudah turun dari ranjang, membereskan selimut dan bantal. “Bantuan apa?”

“Gue mau ketemu sama penulis amatiran. Gue udah baca premis yang mereka kasih, tapi rasanya masih ada beberapa poin yang kurang.” Erlan menoleh sekilas, lalu melanjutkan, “Sebagai penulis yang cukup senior … Lo bisa bantu gue buat analisis tulisan mereka?”

“Cih ….” Alyra mendecih. “Katanya produser hebat … tapi masih butuh bantuan juga cuma buat analisis naskah.”

“Akhir-akhir ini gue kurang fokus di pekerjaan,” kata Erlan. “Takutnya gue salah ambil keputusan, jadi boomerang nantinya.”

“Oke … aku bisa bantu. Tapi ….” Alyra menggantung kalimat, matanya melirik ke arah jam dinding. “Jam 10 nanti aku ada jadwal ke dokter kandungan, sama kelas ibu hamil. Palingan beres sekitar jam 12 siang.”

“Dokter kandungan? Kelas ibu hamil?”

“Heem.” Alyra menganggukan kepala, lalu melangkah ke arah kamar mandi.

Erlan menelan ludah, mengulum bibir, seolah hendak bicara namun suara tertahan di tenggorokan.

“Biar gue yang anter.” Akhirnya kalimat itu keluar dari bibirnya yang sejak tadi komat-kamit tanpa suara.

Alyra seketika menghentikan langkah, menoleh dengan cepat.

“Apa?” Tentu saja dirinya terkejut tak percaya, seorang Erlan menawarkan diri untuk mengantarnya ke dokter kandungan.

“Gue tunggu di mobil,” ucap Erlan, gerak-geriknya terlihat gugup, namun raut wajah dipaksa tetap tenang.

Alyra masih menganga, menatap heran pada sang suami yang bertingkah tak biasa.

“Ada apa dengannya?” Alisnya terangkat sebelah. “Sikapnya aneh belakangan ini … bikin aku jadi merinding.”

Ia mengedikkan bahu, lalu buru-buru masuk ke kamar mandi.

.

.

.

Alyra telah bersiap, mengenakan gaun berwarna cerah, tas selempang kecil dan menenteng tote bag berisi buku catatan kehamilan. Wanita hamil itu tetap terlihat cantik paripurna, meski perut mungilnya sudah tampak lebih berisi dari biasanya.

Ia menuruni undakan tangga dengan hati-hati. Namun baru beberapa langkah, seseorang dari belakang tiba-tiba meraih tangannya, membantu Alyra menapak turun.

Sentuhan itu membuat Alyra refleks menoleh.

“Ervin?” Seketika, ia langsung menghempaskan genggaman mantan kekasihnya itu, sorot matanya berubah dingin.

“Kamu udah gila, ya?” Intonasinya meninggi. “Gimana kalau istrimu lihat? Atau kamu sengaja mau bikin huru-hara di rumah ini?”

“Al … dengerin dulu, nggak usah marah-marah. Velisa udah berangkat syuting,” sahut Ervin.

Ia memindai penampilan wanita hamil itu dengan tatapan kagum, dari ujung rambut hingga turun dan berhenti pada buah dada yang semakin hari terlihat semakin montok, akibat perubahan hormon.

Ervin meneguk ludah kasar, lalu mengalihkan pandangan. Ini bukan waktu yang tepat untuk menyalurkan otak mesumnya.

“Kamu mau periksa kandungan, ‘kan? Biar aku yang anter,” ujarnya dengan raut wajah yang sudah kembali berekspresi biasa, tak lagi menatap penuh damba.

“Nggak usah,” tolak Alyra tegas. “Suamiku yang mau anter, tuh udah nunggu di mobil.”

Ia menunjuk ke arah dinding kaca dengan gorden yang dibiarkan terbuka, yang membingkai langsung halaman luas, sosok Erlan terlihat jelas tengah menunggu di dalam mobil tanpa atap.

Pria itu duduk tenang di balik kemudi, satu tangan bertumpu santai, sementara tatapannya lurus ke depan, senantiasa sabar menunggu sang istri keluar.

Alyra menatap tanpa ekspresi ke arah mantan kekasihnya, tanpa sepatah kata, ia akhirnya melangkah keluar.

“Alyra ….” Panggilan lembut itu sama sekali tak dihiraukan oleh wanita pemilik nama Alyra.

Ervin menatap penuh dendam, kedua tangannya mengepal sampai ujung kuku menusuk telapak tangan, ia lalu menyeringai sinis.

“Lihat saja … aku nggak akan biarin kalian berdua hidup bahagia.”

.

.

.

Di sebuah ruang yang tak begitu luas, Alyra duduk gelisah di kursi, jemarinya saling bertaut. Ia berhadapan dengan dokter Sindy — yang menangani kehamilannya sejak awal.

Ruang dokter kandungan itu terasa dingin oleh hembusan AC, hanya terdengar suara pelan mesin USG dan ketikan dokter di balik meja kerja.

“Tumben sekali sang ayah ikut menemani periksa hari ini,” ucap wanita berusia 30 tahunan, mengenakan jas putih dan berkacamata transparan.

Dokter Sindy menatap bergantian pasangan suami istri yang duduk bersebelahan di hadapannya.

“Iya, Dokter. S-suami saya kebetulan ada waktu menemani, sebelum berangkat kerja,” sahut Alyra, suara ditekan pelan serta menerbitkan senyum yang dipaksakan.

Begitu kaku bibirnya untuk mengakui Erlan sebagai suami di hadapan dokter kandungannya.

Sementara yang dibicarakan tak fokus pada obrolan dua wanita, tatapannya terpaku pada layar monitor yang mengarah ke wajahnya, menampilkan bentuk mungil seukuran buah anggur.

Ia menelisik, kepalanya sedikit miring, memperhatikan hasil USG.

Dokter Sindy tersenyum hangat, dirinya langsung menangkap sorot mata kagum dan seakan tak percaya dari seorang Erlan.

“Baiklah, karena sang ayah baru pertama kali menemani periksa … saya akan jelaskan ulang, agar ayahnya juga paham, bayinya tumbuh dengan baik di dalam perut ibunya,” kata Dokter Sindy.

Lalu mulai menjelaskan detail, dari ukuran, bagian anggota tubuh yang mulai terbentuk, dan beberapa saran yang harus dilakukan sang ayah kala janin mulai bisa mendengar di dalam kandungan.

“Jadi … makhluk mungil ini nantinya juga bisa mendengar … saat seseorang bicara lantang, suara-suara kencang yang ada di luar?” tanya Erlan dengan raut wajah polosnya.

“Betul, Pak. Janin juga dapat merasakan apabila sang mama tengah bersedih. Jadi … sebisa mungkin tolong hibur mamanya, jangan biarkan mama berlarut dalam kesendirian dan kesedihan,” saran Dokter Sindy.

Erlan terdiam selama beberapa detik. Ucapan Dokter Sindy seolah menancap tepat di dadanya, memaksanya mengingat kembali berbagai kejadian yang menimpa Alyra belakangan ini.

Perlahan, ia menoleh menatap sang istri.

Sementara Alyra menundukan wajah dalam-dalam, jemari masih saling tertaut erat. ‘Laki-laki ini … bukanlah ayah dari bayi yang kukandung, Dokter—’

Erlan meraih tangan Alyra, membuat wanita itu sedikit terkejut. Pria itu menatap mantap ke arah dokter Sindy.

“Terima kasih atas saran baiknya, Bu Dokter.” Lalu ia kembali menoleh, menatap istrinya, tatapannya cukup lembut dan dalam. “Saya akan berusaha menjadi suami dan ayah yang lebih baik lagi. Selama ini saya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan membiarkan istri saya terlalu lama bersedih dalam kesendirian,” ucap Erlan.

Alyra terpaku.

Ia menatap pria di sampingnya dengan sorot tak percaya. Namun entah kenapa, setiap kata yang keluar dari mulut Erlan terdengar begitu tulus dan nyata.

Dadanya perlahan berdesir dan menghangat.

‘Andai pernikahan kami tidak diawali dengan keterpaksaan … apakah semuanya akan berjalan berbeda?’

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!