NovelToon NovelToon
I Love U! Suami Dadakan 2

I Love U! Suami Dadakan 2

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti / Aliansi Pernikahan / Obsesi / Beda Usia / Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:254.9k
Nilai: 4.7
Nama Author: unchihah sanskeh

Angkasa, seorang Kapten tentara Angkatan Udara yang tegas dan dingin berusia 28 tahun, sangat malas berhadapan dengan wanita. Namun dengan karakternya yang rumit itu, ia justru harus menikah dengan seorang gadis cerewet, ceplas-ceplos dan kekanakan bernama Aina Maura; Kekasih dari adik kembarnya sendiri, Samudera.

Pernikahan paksa tersebut terjadi ketika Samudera mengemban tugas penyelamatan sandera di Tongo, dan mewasiatkan agar Angkasa menikahi kekasihnya jika ia tak kembali lagi. Beban yang diemban Angkasa, perasaan duka serta kasih sayangnya pada adik kembarnya itu akhirnya mendorong Angkasa mengucapkan kata nikah di hadapan ayah Aina.

"Saya akan menikahinya, sekarang!"

Karakter Aina yang tidak cocok untuk Angkasa, membuatnya bersikap dingin bahkan mengacuhkan istrinya sendiri, "Saya tidak pernah mencintai kamu, semua terjadi karena permintaan adik saya dan mendiang ayah kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 - Bukan Yang Dicinta

"Aku tidak mau dengar kebohongan kamu lagi Dian! Jangan pikir aku tidak tahu apa pun yang kamu tekankan pada Aina, istriku di belakangku."

Dian membeku, napas kemarahan Angkasa berdengung di telinganya bagai bisikan yang tidak pernah ia duga akan dapatkan sebelumnya. Dan sekarang, setelah segala tuduhan dari lelaki yang ia cintai itu terlontar, ia tidak bisa hanya diam.

"Aku tidak tahu apa-apa Sa!" Dian berteriak untuk membalas tudingan Angkasa. Dari sisi kanan, tangannya mengepal hebat.

"Setelah semua yang kamu lakukan di belakangku, jangan kira aku akan percaya dengan jawabanmu Dian?! Aina ada di mana?! Katakan!" tuntut Angkasa.

"Aku tidak bohong, Sa!" ujar Dian sambil menggeleng tegas. Semua ini terlalu aneh dan Dian seolah tak mampu memahami dengan segala yang dikatakan Angkasa, istrinya menghilang? atau apa?

"Begini," lanjutnya dengan nada sumbang. "Aku tidak mengerti, kamu datang ke sini tengah malam, tiba-tiba, terus marah-marah dan tuduh-tuduh aku, bertanya soal istrimu. Memangnya ada apa sih, Sa?!"

Angkasa mendongak lalu menghela napas dan menatap Dian tajam. Pikiran tentang Aina semakin lama semakin mengganggunya. Dia ada di mana? Mungkinkah ia dalam bahaya sekarang?

"Aina tidak ada di rumah, dia tidak pulang setelah bertemu denganmu---"

"Lalu kamu menuduhku yang menculiknya?" Sela Dian, napasnya bergerak tak beraturan sekarang. "Hanya karena aku orang terakhir yang dia temui? Kamu menuduhku yang menyembunyikan dia?"

Demi Tuhan, Angkasa tak bisa berpikir apa-apa lagi. Di saat begini, ia bukan ingin mendengar bantahan apa pun, ia hanya ingin tahu di mana istrinya sekarang. Bukan soal khawatir belaka, tapi----10 tahun itu, Aina---telah menderita banyak hal dan mengalami trauma berat---sekarang jangan sampai terulang lagi, saat ia berada di bawah perlindungan Angkasa.

Angkasa mengusap wajahnya kasar, seolah ia tengah mengalami frustasi berat.

"Bukan, Sa," kata Dian, dan dengan susah payah menahan gejolak di dadanya. "Aku memang cinta dengan kamu, dan aku memang bicara terang-terangan dengan istrimu ingin bersaing untuk mendapatkan kamu; karena aku tahu, kamu dan dia tidak saling cinta. Tapi sebelum aku mendapatkan cintamu, aku bahkan tidak terpikirkan untuk melakukan usaha sinting semacam itu."

Rasanya masih tak percaya, bahwa mereka tengah bersitegang sekarang. Dian bahkan tak menyangka kalau Angkasa, lelaki yang selalu membela dan ia kagumi itu---sekarang menuduhnya dengan sangat menyakitkan, tanpa ada bukti apa pun, hanya berdasarkan alasan yang---dikira-kira, itu terlalu kejam.

"Aku cinta dengan Aina, Aku cinta dengan istri ku." Angkasa mendekat pada Dian, "Jadi berhenti mencoba bersaing dengan Aina! Kamu sahabatku, hanya itu. Tidak lebih. Jangan pernah berusaha apa pun lagi, tolong hargai rumah tangga kami."

Dian mendengar ketegasan di nada suara Angkasa, dan tak dapat menahan senyum meskipun rasa kecewa dan sakit masih menggerogoti hatinya.

"Kamu cinta dia, Sa. Tapi bagaimana dengan Aina?" Tawa kecil mulai menghiasi ekspresi Dian kali ini. "Jangan-jangan dia tidak pulang ke rumah bukan karena hilang atau diculik. Tapi sengaja pergi, karena memang tidak cinta dan tidak bisa tinggal bersama kamu."

Angkasa mengernyit saat merasakan kepedihan atas kata-kata Dian, segala tampak begitu nyata bagaikan irisan pisau.

"Atau mungkin dia pergi darimu untuk mencari Samudera?!"

Mendadak muncul kekosongan di dalam hati Angkasa, dan walaupun ia tahu tidak mungkin bagi Aina mencari Sam yang berada jauh di sana, tak tahu di mana batang hidungnya. Walaupun Angkasa tahu semua yang dikatakan Dian tidak mungkin, karena Aina sendiri yang mengatakan ingin mempertahankan rumah tangga mereka, dan Asa sadar memikirkan semua perkataan Dian merupakan sikap yang bodoh. Tapi entah mengapa semua malah bisa terdengar sangat mungkin dan membuatnya sangat hancur.

Tapi Angkasa mengakhiri semua ini bukan karena terprovokasi, tapi Aina saat ini lebih penting.

"Aku tak perduli soal itu," jawab Angkasa, mencoba mengambil langkah untuk meninggalkan Dian sekarang. "Sengaja pergi atau tidak, mencari dan menjaga Aina adalah tanggung jawabku. Dan, kalau ternyata memang benar hilangnya Aina sekarang ada kaitannya denganmu, aku tak akan pandang siapa kamu lagi. Siapa pun yang berani menyentuh Aina, akan selesai di tanganku. Tapi---"

"Tidak usah dilanjutkan. Aku tidak mengharapkan kamu akan menyesali segala tuduhanmu ini padaku," ujar Dian. "Tidak lagi."

Dian menggeleng, berusaha untuk mengabaikan rasa sakitnya, seakan-akan hal itu memang sangat mampu untuk ditanggungnya sendirian. "Aku mencintai kamu, Sa. Apa yang membuatmu mengabaikan perasaan ku ini? Apa yang membuatmu enggan memberi hati untuk ku?"

"Aku tidak punya waktu membahas perasaan sekarang," kata Angkasa begitu tangkas, dan mulai membelakangi Dian. "Aku harus mencari istriku."

Namun, Dian tak tinggal diam. Sebelum Angkasa benar-benar berangkat menaiki motor hitamnya dan sungguh menghilang dari pandangannya. Dian maju, dan meraih lengan kekar Angkasa.

"Apa kurangnya aku, Sa?" tanyanya. "Apa yang menurutmu, bagian dari diriku tidak mampu bersaing dengan bocah tengil itu?"

"Lepas--" Kata Angkasa.

"Katakan padaku Sa? --- " Jawabnya memelas, "Aku cinta kamu, Sa. Aku cinta kamu dari dulu, dari kita masih kecil. Bahkan setelah kita bertunangan, aku rela melepasmu pelan-pelan, agar kamu mencintaiku dari hati. Lalu apa lagi kurangnya perasaanku ini untukmu, Sa? Kamu menikahi wanita lain karena wasiat Samudera---"

Belum selesai Dian berkata, Angkasa menarik cepat lengannya. Terasa sangat kasar dan garang, dia memandang Dian dengan tajam, seolah membenci tingkah perempuan yang ia hormati sebagai sahabat tadinya.

"Aku sudah katakan padamu 'Lepas', aku harus mencari keberadaan istriku."

Dan begitu Angkasa pergi meninggalkannya, Dian masih tak terima penolakan mentah-mentah itu, kesekian kalinya...

Dari depan pintu rumahnya, Dian kembali memekik pada Angkasa di depan pagar.

"Aku tak berharap untuk mencintaimu. Aku sendiri tak menyangka bisa mencintai seseorang sedalam ini. Dan aku tak menginginkan cintaku ditolak mentah-mentah." Katanya, kemudian menghela napas sejenak. "Sekarang istrimu itu sudah pergi, Sa! bukannya bagus kalau dia menghilang?! kamu tidak perlu susah payah menjalankan wasiat Samudera terus menerus, kamu bisa pelan-pelan memulai membuka hati dengan benar, Sa."

Angkasa memandang Dian dengan tajam, tatapan yang sama legamnya dengan langit malam ini. Ia telah siap mengambil jawaban. Demi diri sendiri, demi Samudera, demi Dian, dan demi Aina. Mau cinta atau tidak, Dian Hardianti baginya tak pernah diciptakan sebagai pendamping hidupnya.

"Kamu harus tahu sekarang. Aku tidak mencintai kamu Dian, tidak pernah sama sekali. Memaksakan perasaanmu terus-menerus, hanya akan membuatmu sakit."

Demikianlah, malam ini... Dian harus menelan pil pahit dari sisi buruknya cinta. Sementara Angkasa, masih harus berkutat di dinginnya kabut malam, mencari Aina yang tak tahu di mana batang hidungnya.

"Di mana kamu, Na? Siapa yang menculikmu?---"

1
Siti Aisyah
Biasa
Siti Aisyah
Kecewa
Bigo S
Buruk
Jumi Eko
bagus
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
kenapa kisah sam & berlian digantung, kak thor?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
akhirnya cinta masa kecil itu bertahan
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
baik author, ditunggu ya
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
oke asa sudah dengan aina. nicolo belum ada hilal jodohnya. sam sudah menikah dengan berlian. tapi kenapa belum up lagi, kakak author?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸: oke kak. tapi lapak nikolo dimana? 🤔🤔🤔
total 2 replies
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
dahlah Nico, biarin aja mereka kumpul keluarga dulu. kamu urus laras & the ganks aja ya
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
oke. lanjutkan
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
lalu siapa itu?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
laras sakit jiwa juga berisik. gak mungkin asa ceraikan aina demi kamu
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
laras bilang apa?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
obsesi laras pada asa & keluarga nya sungguh merugikan
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
laras
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
aina disekap dimana ya?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semua mengira dian lah yg menculik aina. padahal....
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
aina pasti selamat. apakah sam akan muncul di moment ini?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
inikah momen aina diculik laras
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
aina sudah cukup tegas, dian harus paham ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!