Blurb
Bisma Putra Prasetyo berniat menghadiri sebuah pesta yang sejujurnya tak ingin didatanginya. Acara perayaan yang sudah pasti membuka kembali perihnya luka lama. Sebuah undangan pesta anniversary dari mantan istri dan mantan sahabat karibnya, dua orang pengkhianat yang menghancurkan pernikahan juga perusahaan yang diwarisinya dari sang ayah hingga habis tak tersisa.
Dia berencana datang membawa pasangan guna mematahkan keangkuhan si mantan istri, Prita Arhdya. Namun, dia kebingungan sekarang. Selama dua tahun ini dirinya menutup diri, tak pernah berminat dekat lagi dengan wanita manapun terlebih lagi menjalin hubungan serius. Masih didera trauma ketika ketulusan sepenuh hatinya dulu dicampakkan ibarat sampah, melukainya hingga ke titik sanubari terdalamnya.
Bisma memutuskan mencari wanita bayaran yang akan dimintanya berpura-pura menjadi kekasihnya. Dan dalam usahanya mencari kekasih palsu membawanya bertemu dengan Tya. Si kupu-kupu bersayap noda dan dosa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SA Bab 34
Sinful Angel Bab 34
Perawat baru keluar dari ruang rawat inap VIP yang ditempati Tya. Pak Sarif dan istrinya meminta izin pada perawat untuk menjenguk dan sipersilakan asalkan tidak terlalu lama. Di dalam sana, Tya tidak sedang tidur, tetapi terlihat melamun.
“Mbak Tya.” Pak Sarif menyapa pelan, berdiri di sisi ranjang bersisian dengan istrinya, memecah lamunan Tya.
“Eh, kapan datang Pak?” tanya Tya begitu menyadari kedatangan tamu.
“Baru saja, Mbak.”
“Maaf, di pemakaman tadi saya belum sempat mengucapkan terima kasih. Oh iya, berapa kekurangan dana pemakaman Caca, Pak? Berapa hutang saya pada pengepul rongsok?”
“Tidak apa-apa, Mbak Tya. Kami sangat paham kalau Mbak sedang berduka. Kami tidak jadi meminjam kekurangan pada pengepul atas nama Mbak. Biaya pengajian buat tujuh hari ke depan pun sudah terpenuhi, sudah kami berikan pada pengelola mushola terdekat untuk mendo’akan mendiang Caca. Para penggali dan anak-anak pemulung yang hadir di pemakaman kami berikan uang jajan, semoga keberkahannya tersampaikan pada Caca dan semoga berlimpah untuk Mbak Tya juga. Kami tidak menyangka, Caca rezekinya bagus,” terang Pak Sarif menjelaskan pada Tya.
“Lho, uangnya kan cuma sedikit. Mana cukup?” Tya bertanya dengan sorot mata jelas tak mengerti sebab jumlah rupiah yang diberikannya rasa-rasanya tidak mungkin cukup memenuhi semua itu.
“Mana ada sedikit, Mbak Tya. Banyak banget malah. Calon suami Mbak Tya yang kasih. Yang ganteng dan bajunya rapi itu lho, Mbak. Yang punya tahi lalat di pelipis kanan.” Istrinya Pak sarif ikut bersuara.
“Hah? Calon suami?” Tya makin tak mengerti, mengerjap seperti orang bodoh.
“Iya, Mbak beruntung banget ya, calon suaminya kelihatannya selain kaya juga baik budi. Sopan lagi. Ruang perawatan Mbak Tya juga biasanya ini buat orang-orang banyak duit. Saya pernah sekali jenguk yang sakit dan ruangannya kayak gini itu pas Pak Haji Badrudin yang punya kontrakan banyak itu sakit.”
Melihat sekeliling, Tya baru menyadari ruang perawatannya ini tak biasa. Benar kata Pak Sarif, ini adalah ruang perawatan yang masuk kategori mewah dan pasti tidak murah. Kepalanya mulai mencerna meski agak linglung saat kata ‘calon suami’ terlontar dari dua tamunya ini bersama ciri-ciri Bisma yang jelas disebutkan sebagai orang yang bersangkutan.
“Tadinya kami ke sini mau kasih sisanya, masih ada tiga juta. Tapi pas kami ke kontrakan Mbak Tya buat menyimpan barang-barang Caca yang diserahkan pihak rumah sakit, ada ibu-ibu pakai baju hebring ditemani laki-laki kayak preman yang datang tiba-tiba. Ngangkut barang-barang baru di kontrakan sama maksa ngambil sisa uang di tangan saya. Katanya kompensasi karena Mbak enggak bisa bekerja sesuai perjanjian.” Pak Sarif menyambung kata.
Kalimat Pak Sarif bertepatan dengan pintu perawatan Tya yang didorong dari luar. Marsha yang datang ditemani Jerry. Masuk tanpa permisi maupun mengucap salam.
“Nah, itu ibu-ibunya, Mbak Tya,” bisik istri Pak Sarif yang sedikit ketakutan melihat tampang judes Marsha.
Bisma sedang meneguk kopi sembari cari angin malam di area kantin rumah sakit. Meninggalkan Tya ketika perawat dan dokter masuk ke ruangan untuk memeriksa kondisi Tya dan mengganti beberapa perban serta mengecek luka luar lainnya. Berhubung sudah pasti baju Tya akan banyak dibuka, Bisma memilih keluar, khawatir matanya kurang ajar meskipun tak sengaja. Juga guna memberi ruang dan waktu serta ruang pada dokter bersama perawat melaksanakan tugasnya.
“Kenapa pikiranku agak-agak mesum di situasi begini? Hei, ini enggak benar!” gerutunya mengomeli diri sendiri. Menyugar rambutnya setengah menjambaknya.
Penunjuk waktu di pergelangan tangan menunjuk ke angka delapan. Sudah satu jam berlalu sejak dia meninggalkan Tya, merasa sudah cukup lama memberi waktu pada dokter dan perawat, Bisma memutuskan bergegas kembali ke ruang perawatan Tya.
Bersambung.
BISMA, TYA, BUNDA VIONA MAAFKAN PRITA DAN CABUT LAPORAN KE POLISI KARENA KASIHAN SAMA RENDRA ANAKNYA PRITA YG MASIH BAYI 🙂, DAN PRITA JUGA TOBAT DAN MINTA MAAF KE BISMA, TYA DAN BUNDA VIONA 🙂.
RADIKHA DAN CYRA NIKAH SIRI, BANGKRUT DAN KENA HIV 😓.
AYAHNYA PRITA SAKIT STROKE DAN KOMA KARENA KEBANYAKAN MINUM OBAT KUAT 😓😓😓,
BISMA LAPORKAN PRITA 😡,
PRITA BENERAN HANCUR 😏
RADHIKA JUAL 3 KEBUN TEH TANPA SEPENGETAHUAN PRITA 😏.
PRITA DAN RADHIKA BERSIAP MASUK KE PENJARA DEH 😡😏
UNTUNG BISMA PUNYA KARTU TRUF UNTUK ANCAM MARKUS 😏😡
& MINTA TYA TINGGAL BERSAMA BUNDA VIONA 😓😰
TAPI BUNDA VIONA CUEK DAN BILANG SUDAH TAU, TAPI PRITA MARAH-MARAH & BILANG BAKAL BILANG KE MEDIA, TAPI BUNDA VIONA ANCAM BALIK 😡😏
AKHIRNYA HAPPY SEMUA 😭😂
TYA MERASA MIMPI INDAH DI PELUK DAN DI KISS BISMA 😊