Pernikahan, Yasmin berpikir jika ia menikah dirinya akan hidup bahagia. Kehidupan sehari-hari ada yang mencukupi dan ia tidak perlu capek-capek kerja. Malah sebaliknya, laki-laki yang ia kenal baik dan tidak pelit ternyata adalah seorang yang pemalas tidak mau bekerja. Sebut saja namanya Hendro.
Kehidupan rumah tangga yang tidak di penuhi oleh Hendro di tambah lagi suaminya ini ternyata menikah secara diam-diam dengan tetangga samping rumahnya yang bernama Susi, janda empat kali di cerai.
Penasaran bagaimana Hendro dan Susi bisa menikah? Apakah Yasmin dan Hendro akan bercerai? Sama saya juga penasaran, yuk ikuti cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
"Hai Bagas....!" Sapa Farida tiba-tiba muncul di kantor Bagas. Wanita ini celingukan memastikan jika Bagas sendirian.
"Ada keperluan apa kau di kantor ku?" Tanya Bagas penasaran.
"Em, begini. Sebentar lagi jam makan siang. Aku ingin mengajak mu makan siang sambil mengurus pekerjaan."
"Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah janji pergi makan siang bersama istriku." Tolak Bagas. "Jika kau mau mengurus pekerjaan, sebaiknya kau temui saudara sepupu ku. Namanya Danis, dia ada di ruangannya."
"Tapi, aku hanya ada perlu dengan mu saja!"
"Katakan saja terus terang apa mau mu?" Tanya Bagas langsung pada intinya.
"Aku suka dengan mu," ucap Farida tak bermalu.
"Besar juga nyali mun!" Seru Bagas.
"Aku tahu istri mu hanya seorang janda. Apa kau tidak malu memiliki istri bekas laki-laki lain?"
"Sudah sejauh mana kau mencaritahu latar belakang istri ku?" Bagas mulai tertarik untuk bermain. "Istri ku bekas janda kenapa kau yang repot?"
"Istri mu juga tidak memiliki latar belakang pendidikan dan keluarga yang jelas."
"Sepertinya kau lebih cocok jadi pembawa acara gosip!" Sahut Bagas. "Aku tidak tertarik dengan mu!" Imbuhnya kemudian pergi begitu saja.
Farida mengikuti Bagas, menahan pintu mobil Bagas saat pria ini hendak masuk ke dalam.
"Entah kenapa aku baru nemu perempuan dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Minggir,...!"
"Aku hanya mengajak mu makan siang bersama. Lagian, aku tidak begitu buruk jika kau ajak pergi."
Bagas jengah, pria ini menarik Farida agar menjauh dari pintu mobilnya kemudian pria ini masuk ke dalam mobil.
Bagas membuka kaca mobilnya lalu mencuci tangannya dengan air mineral.
"Cuci dulu biar bersih," ucap Bagas.
Setelah mencuci tangannya, Bagas melajukan mobilnya.
"Seperti orang yang tidak berpendidikan!" Ucap Farida kesal.
Wanita ini memutuskan untuk pergi dari kantor Bagas.
Tak berapa lama Bagas tiba di rumah, untuk beberapa bulan ke depan pria ini akan bekerja dari rumah. Urusan perusahaan sudah di wakilkan kepada saudara sepupunya.
"Mas,.....!"
Yasmin kegirangan saat melihat suaminya pulang. Ia berlari kecil untuk menghampiri istrinya.
"Apa mas bilang, jangan lari-lari. Kamu ini sedang hamil," ujar Bagas menegur istrinya.
"Eh, iya mas. Aku lupa....!"
"Mamah pergi lagi?" Tanya Bagas yang tak mendengar suara mamahnya.
"Pergi ke mana gitu, di anterin sama pak Don. Jenguk temannya yang sakit kalau gak salah."
"Sayang, itu Farida bisa-bisanya nyamperin mas di kantor dan ngajak makan siang. Aneh mas rasa perempuan itu," ujar Bagas mengadu.
"Selama mas gak nanggepin dia, tidak akan ada yang namanya hubungan spesial." Sahut Yasmin.
"Ya gak mau lah. Ngapain coba? Puncak keberhasilan seorang laki-laki saat ia bisa menjadi suami dan ayah yang baik dan anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Jika salah satu dari itu tidak seimbang, maka goyahlah pertahanan seorang laki-laki."
"Bijak sekali. Ya udah, ayo makan. Aku lapar!" Ajak Yasmin.
"Iya ayo....!"
Bagas dan Yasmin pergi ke ruang makan.
"Sayang, mas rindu." Ucap Bagas dengan suara pelan.
"Perasaan kita bertemu setiap saat. Bisa-bisanya rindu, aneh kamu, mas."
"Maksudnya mas itu, rindu pengen nyoblos!"
"Sebenarnya aku juga rindu mas," ucap Yasmin pelan.
"Setelah makan kita melepas rindu yuk?" Ajak Bagas.
"Masih siang loh mas!"
"Ya gak apa-apa. Kita udah satu minggu lebih loh gak gituan. Rasanya berdenyut juga!"
"Udah, bahas di kamar aja. Malu di dengar orang!"
Bagas dan Yasmin cekikikan, mereka mempercepat acara makan siang karena sudah tidak sabar untuk melepas rindu.
Di tempat lain, Hendro yang terlihat oleh tetangga Susi langsung di singgung-singgung oleh mereka.
Hendro hanya diam saja, membiarkan para tetangga menyinggung dirinya.
"Kok sepertinya enak ya bu menjilat ludah sendiri," ucap tetangga samping rumah Susi.
"Bilangnya ini lah itu lah sampai ngomong talak segala. Tapi, masih aja di tidurin."
"Apa pun makanannya, ludah sendiri minumnya!" Sahut tetangga depan rumah.
"Heh ibu-ibu, apa di rumah kalian gak ada kerjaan? Berhenti mengurusi kehidupan orang lain!" Teriak Susi tidak terima.
"Eh, sampah kampung ngomong!" Sahut tetangga samping rumah.
"Kalian itu sampah kampung. Kalau gak menggosipkan kehidupan orang lain tuh gak bisa tidur nyenyak ya?"
"Udah, biarin aja. Nanti mereka juga dia sendiri."
Hendro menarik tangan Susi.
"Wuuuu.....pelakor.....!!"
"Makanya di kasih wajah cacat sekarang karena kualat!"
Ingin rasanya Susi menjambak tetangganya itu tapi, Hendro manarik Susi masuk ke dalam rumah.
"Kalau membunuh di legalkan, sudah pasti akan ku bunuh mereka semua." Ucap Susi geram.
"Ngomong apa sih? Gak boleh ah...!"
"Mereka pikir aku gak punya uang buat operasi. Awas aja, akan ku buat suami mereka tunduk sama aku," ucap Susi dalam hati.
"Ya udah, aku mau pergi ke rumah ibu dulu." Pamit Hendro yang masih ingat dengan ibunya.
Hendro pun pergi, tinggallah Susi yang saat ini sedang menjaga toko sembakonya.
"Sus, beli rokok!" Teriak salah seorang pemuda.
"Bisa sopan gak?" Tegur Susi.
"Eh Susi, katanya kamu pemain ya? Mau dong di goyang sama kamu." Goda pria yang bernama Hajri.
"Gak doyan sama kamu!" Seru Susi.
"Sialan kamu, Susi...!" Umpat Hajri. "Timbang dapat laki hasil merebut aja sombong. Biasanya perempuan seperti kamu ini di jual murah kok!"
"Bajingan satu ini,...!" Balas Susi. "Pergi gak....!"
Hajri menatap tajam ke arah Susi sebelum ia pergi. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu sekarang.
Kembali ke rumah Bagas, pria ini sedang membandingkan rasa sebelum hamil dan sesudah hamil. Tentu saja rasanya beda, Bagas tidak bisa bergerak bebas seperti biasanya. Sejak Yasmin di nyatakan hamil, baru sekarang mereka kembali melakukan hubungan suami istri.
"Apa semua laki-laki sama merasakan apa yang aku rasakan?" Tanya Bagas dalam hati.
"Mas,....!" Panggil Yasmin.
"Eh, iya sayang. Ada apa?"
"Aku kok pengen lihat kamu botak!" Ujar Yasmin.
"Aduh, gak ada yang lain apa?" Tanya Bagas.
"Aku pengen lihat kepala atas dan bawah mu botak!"
"Kalau kepala bawah ok lah. Kalau kepala atas, mas malu. Mas belum pernah botak."
"Aku ngidam loh mas," ucap Yasmin. "Ya udahlah, kalau gak mau!"
"Eh, jangan marah sayang. Iya, nanti mas botakin sendiri. Nanti bantuin mas buat nyukur yang bawah ya?"
Seketika senyum yasmin lebar.
"Permintaan anak kamu ini mas," ucap Yasmin menyakinkan.
"Iya sayang. Mas tahu," Jawab Bagas. "Belum lahir aja udah ngerjain orang tua. Apa lagi kalau sudah lahir?"
"Jangan gitu, nanti anak kita takut mau lahir."
Bagas pun mengusap-usap perut istrinya, mengajak anaknya mengobrol seperti biasa.
rupa nya katak jandaku diartikan ada sorang janda dan ada seorang lelaki yang menclaim janda itu adalah miliknya