Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Laras berbicara dengan nada bersemangat, matanya berkilat penuh kebencian. “Bagus kalau begitu! Kita tidak akan minta maaf, titik! Sepupuku terus saja menyuruhku meminta maaf, tapi aku benar-benar tidak paham kenapa aku harus meminta maaf sama Bimo? Dia yang mengubah hidup kita jadi kacau balau, dan sekarang kita malah dimusuhi banyak orang. Semua ini gara-gara dia! Kenapa sih dia nggak bisa sedikit lebih besar hati, berhenti terus-menerus menentang kita?”
Tania mengangguk kuat, wajahnya tampak keras kepala. “Betul sekali! Kita nggak akan minta maaf, apa pun yang terjadi. Biarkan saja pengadilan mau melakukan apa. Selama aku nggak minta maaf, nggak ada satu pun yang bisa mengatur atau menekanku.”
Tiga hari kemudian.
Sidang pengadilan dilanjutkan kembali.
Kali ini, persidangan disiarkan langsung melalui berbagai platform internet, dan perhatian seluruh Indonesia tertuju pada ruang sidang itu.
[Akhirnya dimulai lagi! Gue udah nggak sabar banget nih!]
[Sidang lanjut lagi! Jantung gue rasanya mau copot karena deg-degan!]
[Mereka harus dihukum! Harus, nggak ada tawar-menawar!]
[Harus ada vonis tegas! Kalau mereka lolos begitu saja, dunia ini nggak ada keadilannya lagi!]
[Apakah bukti-bukti sudah lengkap? Pengacara dan hakim harus teliti banget nih! Jangan sampai ada yang lepas cuma karena punya koneksi! Mereka semua harus bertanggung jawab!]
[Kedua gadis itu masih saja pamer! Gue lihat mereka baru saja unggah video di TokTok, bilang kalau Bimo itu orangnya kikir dan nggak tahu cara memaklumi orang lain. Di kolom komentar banyak yang minta mereka minta maaf, tapi mereka malah marah-marah dan nolak mentah-mentah!]
[Lucu banget kelakuan mereka. Kali ini mereka bikin tulisan panjang di Instakram lagi, isinya tetap sama mengaku-ngaku nggak bersalah sama sekali. Mereka pikir mereka benar terus? Sudah saatnya mereka dapat pelajaran!]
Ribuan komentar bermunculan dengan sangat cepat, hampir tak terbaca karena kecepatannya. Penonton siaran langsung sudah menembus angka 10 juta orang. Seluruh bangsa seolah menahan napas mengikuti perkembangan kasus ini.
Banyak mata yang kini tertuju pada satu sosok di ruang sidang itu: Arga.
Semua kekacauan dan pengungkapan fakta dalam kasus ini, semuanya berawal dari dia. Tanpa Arga, Bimo pasti masih harus membayar ganti rugi dalam jumlah yang sangat besar. Padahal Bimo cuma mahasiswa biasa dari mana dia bisa dapat uang sebanyak itu?
Dia adalah korban fitnah, dituduh macam-macam, bahkan dituduh merekam orang lain diam-diam. Dan jika Arga tidak turun tangan, korban itu malah harus mengeluarkan uang sebagai ganti rugi. Siapa yang sanggup menerima ketidakadilan seperti itu?
Tak ada yang menyangka kasus sederhana ini akan mengungkap jaringan masalah yang begitu rumit dan luas.
Hakim, juri, dan semua pihak yang terlibat sudah masuk ke ruang sidang dan duduk di tempat masing-masing. Penggugat, tergugat, hingga perwakilan Perusahaan Kereta MRT Jakarta sudah menunggu di tempat yang disediakan.
Hakim Santoso menatap tajam ke arah Arga, lalu bertanya dengan suara tegas, “Penyelidikan tahap sebelumnya hampir selesai. Kepada pengacara penggugat, apakah masih ada bukti tambahan yang ingin diajukan ke pengadilan?”
Arga mengangkat tangan kanannya, menggenggam sebuah flashdisk kecil.
Melihat benda itu, seisi ruang sidang serentak menahan napas. Bahkan para pengacara lawan dan pihak hakim tampak terkejut. Masih ada bukti lagi? Apa lagi yang belum terungkap?
Arga berbicara dengan tenang namun berwibawa. “Saat ini, saya selaku kuasa hukum, mengajukan tuduhan baru terhadap Perusahaan MRT Jakarta. Pada hari kejadian, sistem pengawasan stasiun sebenarnya berfungsi dengan baik. Namun, pihak perusahaan beralasan bahwa kamera sedang dalam perbaikan, semata-mata untuk menghindari tanggung jawab hukum dan ingin meredam masalah agar tidak berlarut-larut. Karena insiden ini terjadi, mereka memilih untuk bilang tidak ada rekaman, sehingga klien saya, Bimo, sangat sulit membuktikan kebenaran dan haknya.”
“Setelah kejadian itu, Perusahaan MRT langsung memberhentikan petugas keamanan yang bertugas saat itu, dan memberi pernyataan publik bahwa petugas tersebut hanya pekerja harian lepas, bukan karyawan tetap. Mereka berusaha melepaskan keterkaitan petugas itu dengan perusahaan demi menghindari tanggung jawab. Padahal nyatanya, rekaman pengawasan sengaja dihapus secara curang. Oleh sebab itu, perusahaan ini wajib memikul tanggung jawab hukum penuh atas semua kerugian yang dialami klien saya.”
Begitu Arga selesai berbicara, perwakilan dari Perusahaan MRT langsung berdiri dengan wajah merah padam.
“Saya keberatan! Saya menolak tuduhan itu!” serunya keras. “Saya yakin apa yang dikatakan Pengacara Arga adalah fitnah dan berita bohong. Pada hari kejadian, sistem pengawasan kami memang sedang dalam pemeliharaan rutin, hal itu di luar kendali kami, makanya tidak ada rekaman. Anda menuduh kami menghapus rekaman dengan sengaja apakah Anda punya bukti nyata atas tuduhan berat ini?”
Semua orang kembali menatap Arga. Tanpa bukti yang kuat, perkataan Arga tadi bisa berbalik menjadi fitnah.
Arga sedikit mengayunkan flashdisk di tangannya, lalu berkata tenang, “Saya punya rekaman video di sini. Tapi sebelum kita menontonnya, izinkan saya memperkenalkan saksi kami.”
“Saksi ini adalah karyawan biasa dari Perusahaan MRT. Namanya Rahman Prasetya. Dia sudah bekerja di sana selama tiga bulan. Perusahaan menolak mengangkatnya jadi karyawan tetap, dan berusaha memaksanya mengundurkan diri secara sukarela karena jika dia yang dipecat, perusahaan wajib membayar pesangon.”
Tak lama kemudian, Rahman masuk ke ruang sidang dan duduk di kursi saksi.
Suaranya sedikit bergetar namun jelas terdengar. “Saya bekerja di sana selama tiga bulan. Mereka tidak mau mengangkat saya jadi tetap, malah memindahkan saya ke tempat yang jauh dan terpencil, bahkan sering menindas saya di tempat kerja supaya saya minta berhenti sendiri. Saya merekam semua kejadian itu pakai alat perekam dan kamera kecil demi melindungi diri saya sendiri. Nah, di hari kejadian itu, kebetulan saya sedang bertugas di ruang kendali pusat, lalu ada seorang pimpinan masuk dan berbicara dengan rekan kerja saya...”
Arga lalu menyerahkan flashdisk itu ke petugas pengadilan, dan tak lama kemudian, isi rekaman itu terpampang jelas di layar besar di ruang sidang.
Di dalam video itu terlihat dua orang pejabat menengah dari perusahaan tersebut. Salah satu pengawas berbicara tegas, “Hapus semua rekaman pengawasan hari ini. Bilang sama semua orang kalau sistemnya rusak atau sedang diperbaiki. Kalau video ini sampai keluar, perusahaan kita pasti kena masalah besar dan harus bertanggung jawab. Dampaknya bisa buruk banget buat nama baik kita.”
Lalu terlihat rekan kerja yang lain berjalan menuju komputer dan menghapus seluruh data rekaman itu, sambil mengangguk mengerti.
Video berakhir di situ.
Arga kembali mengambil alih pembicaraan. “Seluruh bukti yang saya ajukan ini sudah cukup jelas dan tak terbantahkan. Perusahaan MRT terbukti sengaja menghapus rekaman demi menghindari tanggung jawab. Tindakan ini sangat merugikan klien saya, Bimo, baik secara materi maupun batin, serta memberikan dampak buruk yang luas.”
“Oleh karena itu, kami menuntut agar Perusahaan MRT membayar ganti rugi sebesar 10.000.000 Rupiah kepada Bimo sebagai kompensasi atas tekanan mental dan kerugian yang dialami. Kami juga meminta pihak berwenang memberikan sanksi berat kepada perusahaan, dan mewajibkan perusahaan memasang surat permintaan maaf resmi kepada Bimo di papan pengumuman resmi perusahaan selama lima hari berturut-turut.”
Saat rekaman itu selesai diputar, wajah perwakilan perusahaan dan pengacara mereka menjadi pucat pasi. Mereka sama sekali tidak menyangka ada bukti semenyata itu, yang direkam diam-diam oleh seorang karyawan magang yang diperlakukan tidak adil.
Di sisi lain, penonton siaran langsung meledak dengan komentar penuh kekaguman.
[YA AMPUN! GILA BANGET!]
[LUAR BIASA! Pengacara Arga emang kelas atas banget!]
[Nggak kasih ampun deh! Mulai dari kedua gadis itu, sampai perusahaan kereta, bahkan oknum yang curang semuanya dibongkar habis-habisan! Katanya dia cuma pengacara magang? Nggak masuk akal banget!]
[Kalau Arga dibilang pengacara magang, gue rela makan baju gue deh!]
[Dia bukan sekadar pengacara magang, dia pengacara jenius! Berhasil bikin semua pihak lawan diam seribu bahasa!]
[Sekarang lihat saja keputusan hakim! Semoga kedua gadis itu juga kena hukuman yang setimpal! Mereka masih kelihatan sombong lho!]
Detik berikutnya, Hakim Santoso membenturkan palu meja dengan suara keras.
Ia menatap tajam ke arah perwakilan perusahaan kereta. “Kepada pihak tergugat Perusahaan MRT. Apakah ada pembelaan atau pernyataan terakhir yang ingin disampaikan?”
Perwakilan perusahaan itu menunduk dalam, wajahnya penuh rasa bersalah dan keputusasaan. Ia tak punya alasan lagi untuk membantah bukti yang begitu kuat. “Kami...kami mengakui segala kesalahan kami. Kami mengaku bersalah. Waktu itu kami bertindak ceroboh dan salah langkah dengan menghapus rekaman. Kami menerima segala keputusan dan hukuman yang dijatuhkan pengadilan.”
Bukti itu tak terbantahkan. Tak ada lagi celah untuk membela diri.
Sementara itu, di sudut ruang sidang, Laras dan Tania saling berpandangan. Meski situasi sudah berubah drastis dan semua kebenaran mulai terungkap, ekspresi mereka masih sama keras kepala dan sama sekali tidak merasa bersalah.
Tania mengangkat tangan dan berdiri tegak, lalu berseru keras, “Yang Mulia Hakim! Saya masih punya hal yang ingin saya sampaikan!”
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭