Jin Fei fan harus menerima pemegang takdir sang penjaga berikutnya. Dia harus berjuang lebih keras untuk pantas menjadi sang penjaga dan agar dapat berjumpa dengan kedua orang tuanya yang dia ketahui berada di dimensi berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neneng selfia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
melawan gurita raksasa
"Ketidaksengajaan mereka itu membuat mereka menjadi sangat kuat." ucap Wei Yan.
"Tidak hanya sangat kuat tapi, mereka menjadi lebih serakah karena kekuatan yang mereka dapatkan." ucap roh pedang.
"Serakah bagaimana?" tanya Wei Yan.
"Awalnya mereka memakan ikan itu karena kebutuhan akan makanan saja namun, karena setelah memakan ikan itu mereka yang awalnya hanya hewan biasa menjadi hewan dengan kekuatan roh, mereka kembali mencari ikan-ikan lainnya. Setelah seribu tahun berlalu, tidak mereka sangka bahwa efek memakan ikan dapat memperpanjang hidup mereka dan mereka tetap mencari ikan disekitar tempat itu." jelas roh pedang.
"Bukankah hal wajar jika menginginkan sesuatu yang dapat memperpanjang masa hidup?" tanya Wei Yan.
"Itu memang sifat naluriah mahluk hidup. Setelah melewati beberapa ribu tahun, mereka paham dengan waktu kemunculan ikan-ikan itu. Mereka tidak membiarkan seekor pun lolos dan akan menyerang siapapun yang berani menginginkan ikan-ikan itu. Mereka bahkan saling menyerang kala mendapatkan kesempatan untuk menjadi yang paling kuat di dunia." jelas roh pedang.
"Itulah sebabnya ikan permata hijau sudah tidak pernah terlihat lagi selama ini. Kita hanya dapat mengenal ikan ini dari buku saja." ucap Fei fan.
"Apakah ikan permata hijau tidak bisa dipelihara di kolam air suci?" tanya Fei fan.
"Sepertinya mereka bisa hidup di sana karena air suci adalah air yang paling cocok untuk segala jenis hewan roh, spirit maupun hewan ajaib." jawab roh pedang.
"Aku akan mencoba memasukkan beberapa ekor ke dalam sana." ucap Fei fan.
"Ikan-ikan itu akan hidup dan berkembang lebih baik di kolam itu. Tapi, untuk berkembang biak, aku tidak tahu karena ikan itu hanya bisa berkembang biak di dalam kerajaan laut." ucap roh pedang.
"Sebaiknya kita kembali ke kapal agar tidak membuat yang lainnya khawatir." ucap Fei fan.
"Aku menemukan kalian para pencuri kecil." tiba-tiba seekor gurita raksasa muncul di belakang mereka.
Gurita raksasa itu curiga dengan berkurangnya jumlah ikan yang muncul kali ini. Tapi, dia berfikir kalau dia mengutarakan kecurigaan nya maka kesempatan untuk menemukan pencuri yang dia curigai lalu merampas ikan-ikan yang di ambil oleh pencuri itu untuk dia miliki sendiri akan hilang.
Pencuri itu tidak akan lebih kuat dari dirinya yang sudah mencapai alam misteri jadi, dia sendiri menangkap pencuri itu lalu mengambil ikan-ikan berharga akan sangat menguntungkan. Dia akan menjadi lebih kuat dari yang lainnya maka dia akan menjadi penguasa lautan selamanya pikir gurita raksasa itu.
"Ukh... Tekanan yang sangat kuat." batin Wei Yan.
"Gunakan kekuatan batin kalian untuk menahan tekanan itu." ucap roh pedang.
"Ternyata kalian cukup kuat juga. Pantas saja berani mencuri ikan-ikan itu dari aku." ucap gurita raksasa saat tekanan yang dia arahkan pada dua anak kembar itu berhasil dilenyapkan.
"Tapi, kalian tidak cukup kuat untuk selamat dari sang penguasa lautan ini." ucap gurita raksasa itu.
Gurita raksasa itu lalu menyemburkan cahaya merah yang seperti api yang menyala dalam air ke arah Wei Yan dan Fei fan. Mereka berhasil menghindari serangan kuat itu dengan melompat secara terpisah.
"Ikan-ikan itu awalnya memang bukan milikmu. Bagaimana bisa kami menjadi pencuri kalau hanya menangkap ikan liar saja." ucap Wei Yan.
"Heh, serangga kecil seperti dirimu pandai berbicara juga." ucap gurita raksasa lalu menghantamkan satu tentakel ke arah Wei Yan.
"Bum...."
"kau harus bersyukur karena ma*i di tangan penguasa hebat seperti diriku." ucap gurita raksasa setelah menghantamkan satu tentakelnya ke dasar laut membuat air keruh.
"Hanya dengan gerakan se-lamban itu kau ingin membu*uh aku? Kau terlalu menganggap remeh aku." ucap Wei Yan yang terlihat melayang di air.
"Aku sepertinya memang terlalu meremehkan dirimu."
"Sret... Akh...."
"Kau mengabaikan aku karena menganggap aku ini lemah heh hewan tua?" ucap Fei fan yang berhasil menyayat kulit belakang gurita raksasa itu.
"Kalian berhasil membuat aku murka." ucap gurita raksasa itu lalu tiba-tiba Wei Yan dan Fei fan merasa tidak bisa bergerak bahkan untuk bernafas saja susah.
"Ukh...." gurita raksasa itu melilitkan tentakelnya pada tubuh dua anak itu lalu mengangkat tubuhnya.
"Kalian akan menjadi santapan lezat untukku." ucap gurita raksasa itu.
Lilitan tentakel pada tubuh keduanya semakin erat membuat mereka kesulitan untuk bernafas. Kesadaran keduanya hampir hilang tiba-tiba.
"Syut syut.... Akh groar....." dua tentakel yang melilit Wei Yan dan Fei fan itu terputus oleh cahaya putih berbentuk tebasan pedang.
"Siapa yang berani menyerang penguasa lautan ini hah?" tanya geram gurita raksasa.
"Hanya seekor hewan bau saja sudah mengaku penguasa lautan." ucap pria berbaju putih yang entah datang dari mana.
"Syut.... Aaaakkk." satu tebasan dari pria itu berhasil membelah tubuh gurita raksasa itu menjadi dua.
Sedangkan Wei Yan dan Fei fan, tubuh keduanya ditangkap oleh sebuah gumpalan putih membentuk awan yang merupakan kumpulan energi yang diarahkan oleh pria itu untuk melindungi keduanya.
"Ayah..." ucap Wei Yan lemah setelah pria yang ternyata adalah Jin hu itu mendekat ke arah dia dan Fei fan.
"Maaf karena terlambat." ucap Jin hu lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah dua buah hatinya.
Cahaya putih keluar dari telapak tangannya lalu menyelubungi tubuh dua anak itu. Seketika tubuh mereka terasa lebih ringan.
"Maaf karena membiarkan kalian menderita sayang." ucap Jin hu kala dua buah hatinya itu memeluk dirinya.
"Ayah sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan kami. Tidak perlu meminta maaf ayah." ucap Fei fan.
"Dunia dasar lautan tidak cocok untuk kalian dengan kekuatan kalian saat ini. Sebaiknya hindari mencari masalah di dasar lautan Weiwei dan Feifei." ucap Jin hu sambil mengusap punggung keduanya yang masih memeluk dirinya.
"Baik ayah." saut dua anak kembar itu.
"Ayah memiliki sesuatu untuk Feifei yang telah tulus memberikan hewan roh pada Wei." ucap Jin hu sambil memberikan seekor burung kecil yang terlihat menggemaskan setelah dia mengurai pelukannya.
"Wah, sangat imut dan menggemaskan." ucap Fei fan.
"Siapa namanya ayah?" tanya Fei fan.
"Itu milikmu jadi kau yang harus memberikan nama." jawab Jin hu.
"Kalau begitu aku panggil Lulu saja." ucap Fei fan.
"Bukankah itu merak dewa?" tanya roh pedang tiba-tiba.
"Ya, kau ada di sini tapi anak-anak aku bisa terluka. Kau semakin tidak berguna saja." ucap Jin hu.
"Kau tahu kalau aku hanya bisa bergerak jika putramu memberikan ijin. Sedangkan dia tidak mengingat aku sama sekali saat itu." ucap roh pedang memberikan pembelaan.
"Kau seharusnya memberikan perintah lewat pikiran pada pedang mu itu saat terdesak seperti tadi Weiwei." ucap Jin hu.
"Iya ayah, maaf karena aku belum terbiasa menggunakan pedang yang dapat bergerak hanya dengan memberikan perintah menggunakan pikiran saja." ucap Wei Yan.
terhura aq thor.....