5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pemberitahuan
Kegelapan total menyelimuti Menara Mageia, namun di dalam ruang arsip yang hancur itu, cahaya dari tekad mereka mulai berpendar. Suara alarm darurat meraung-raung di kejauhan, membelah kesunyian kota yang kini buta tanpa energi.
Vera terbatuk, mengibaskan debu dari jubahnya yang koyak. "Azzura, sensor gerbang luar baru saja aktif. Ratusan Paladin cadangan sedang menuju ke sini. Kita harus pergi sekarang lewat jalur pembuangan sebelum mereka mengepung lantai ini!"
Rachel sudah bersiap melompat ke arah celah ventilasi, namun ia berhenti saat melihat Azzura tetap berdiri tegak di tengah reruntuhan mesin.
Azzura tidak bergerak. Ia menatap telapak tangannya yang masih menyisakan sisa-sisa asap hitam, lalu beralih menatap High Sage Valerius yang terkapar lemas.
"Tidak," ucap Azzura. Suaranya rendah namun bergema kuat di ruangan yang hampa itu.
"Apa maksudmu?" Luna mengernyit, tangannya masih membeku karena menstabilkan sisa ledakan tadi. "Jika kita tertangkap di sini, mereka akan mengeksekusi kita sebagai teroris yang memadamkan kota."
Azzura mendongak, menatap layar monitor raksasa di dinding pusat kendali yang masih berkedip lemah karena sisa daya cadangan. Ia melangkah menuju konsol utama, jemarinya menari di atas papan ketik kristal yang retak.
"Kita tidak akan lari lagi seperti sebelumnya," tegas Azzura.
Ia menoleh ke arah teman-temannya. Mata belangnya—biru dan abu-abu—berkilat dengan kejujuran yang menyakitkan.
"Dulu, orang tuaku pergi dalam diam. Kebenaran disembunyikan dalam kegelapan, dan kita semua dipaksa hidup dalam kebohongan yang nyaman. Jika kita lari sekarang, Valerius dan Dewan Sage akan mengarang cerita bahwa kitalah monster yang ingin menghancurkan Euthopia Baru."
Azzura menarik napas panjang. "Kita harus menjelaskan kepada seluruh kota. Biarkan mereka melihat apa yang selama ini menghidupi lampu-lampu di rumah mereka."
"Rachel! Bantu aku meretas pemancar satelit Mageia," perintah Azzura. "Gunakan frekuensi darurat yang tidak bisa dimatikan dari luar."
Jari-jari Rachel bergerak secepat kilat. "Satu menit lagi, Azzura! Aku butuh enkripsi dari inti Luna untuk menembus protokol keamanan tingkat tinggi!"
Luna segera menempelkan tangannya ke mesin, membiarkan energi esnya bertindak sebagai konduktor frekuensi murni.
"Lakukan sekarang. Aku akan menahan transmisi ini agar tidak dilacak."
Sementara itu, di lorong luar, suara langkah sepatu besi Paladin terdengar semakin dekat. Duar! Duar! Pintu baja ruang arsip mulai dihantam dari luar.
"Vera! Olivia! Jaga pintu itu!" teriak Rachel.
Vera berdiri di depan pintu yang bergetar hebat. Ia tidak lagi memiliki perisai, jadi ia merentangkan kedua tangannya, membiarkan aura peraknya membentuk barikade fisik. "Selama napas ini masih ada, tidak ada satu pun dari mereka yang boleh masuk!"
Olivia berdiri di belakang Vera, tangannya menyentuh punggung sahabatnya itu, menyalurkan energi kehidupan untuk menutup luka-luka Vera. "Kita adalah satu sistem, Vera. Tahan sedikit lagi!"
"Tiga... dua... satu... KITA ON AIR!" teriak Rachel.
Seketika, di seluruh penjuru Euthopia Baru—di layar-layar raksasa alun-alun kota yang mati, di perangkat komunikasi setiap penduduk, bahkan di proyeksi langit malam—muncul sebuah gambar.
Gambar itu memperlihatkan ruangan bawah tanah yang mengerikan: tabung-tabung kristal berisi cairan hitam yang tersiksa, simbol keluarga Adam yang ternoda, dan sosok High Sage Valerius yang tergeletak di depan mesin penyiksaan dimensi.
Lalu, wajah Azzura muncul.
Wajahnya kotor, lelah, namun matanya memancarkan otoritas yang tak terbantahkan. Seluruh penduduk kota terdiam. Para Paladin yang sedang menghantam pintu pun berhenti sejenak, terpaku menatap layar di pergelangan tangan mereka.
"Warga Euthopia Baru," suara Azzura mengalun jernih ke setiap sudut kota. "Namaku adalah Azzura Adam. Selama ini, kita diberitahu bahwa cahaya kita adalah anugerah. Kita diberitahu bahwa kita adalah pelindung kedamaian."
Azzura mengarahkan kamera ke arah tabung-tabung hitam di belakangnya.
"Tapi lihatlah kebenarannya. Cahaya kalian berasal dari jeritan dimensi lain. Kemakmuran kita dibangun di atas fondasi rasa sakit yang tidak pernah kita akui. High Sage Valerius dan para pendahulu kita telah menjadikan kita semua parasit tanpa kita sadari."
Di luar pintu, suara hantaman berhenti. Para Paladin saling lirik, keraguan mulai merayapi hati mereka.
Azzura melanjutkan, "Malam ini, kota ini gelap. Dan aku minta maaf atas ketakutan yang kalian rasakan. Tapi kegelapan ini lebih jujur daripada cahaya palsu yang kita miliki kemarin. Kami tidak akan lari. Kami ada di sini, di jantung kebohongan ini, menunggu kalian untuk memutuskan: apakah kita akan terus menjadi parasit, atau kita akan membangun masa depan yang benar-benar baru?"
Azzura menatap kamera dengan tajam untuk terakhir kalinya.
"Pilihan ada di tangan kalian. Tapi satu hal yang pasti... dinasti kebohongan Adam dan para Sage berakhir malam ini."
Klik.
Transmisi terputus.
Keheningan yang luar biasa menyelimuti ruang arsip. Vera menurunkan tangannya dari pintu. Tidak ada lagi hantaman. Hanya suara angin yang berhembus melalui celah-celah reruntuhan.
"Kau melakukannya, Azzura," bisik Olivia.
Azzura terduduk lemas di kursi kendali. Ia menatap teman-temannya yang kini berdiri mengelilinginya. Mereka semua terluka, lelah, dan kini menjadi buronan paling terkenal dalam sejarah.
"Sekarang apa?" tanya Rachel sambil menyandarkan busurnya.
Azzura melihat ke arah pintu yang kini perlahan terbuka. Bukan dengan hantaman keras, melainkan dibuka dengan ragu oleh seorang prajurit Paladin muda yang menurunkan tombaknya.
Azzura berdiri, menggenggam tongkatnya kembali. "Sekarang... kita hadapi dunia yang baru."