NovelToon NovelToon
SURAT DARI BATAVIA

SURAT DARI BATAVIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
​Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
​Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Gema di Ruang Konservasi

​14 Oktober 2024. Pukul 23.00 WIB.

Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Kota Tua.

​Hujan deras mengguyur kawasan Kota Tua, menyamarkan suara klakson samar dari jalan raya. Di dalam gedung tua peninggalan Belanda yang dingin itu, Alina (28 tahun) sendirian.

​Sebagai kurator muda yang lebih suka bergaul dengan benda mati daripada manusia hidup, Alina sering menghabiskan malam di Ruang Konservasi bawah tanah. Ruangan itu berbau khas: campuran debu, kertas lapuk, dan bahan kimia pengawet.

​"Sial, pitanya macet lagi," gumam Alina.

​Di hadapannya, di atas meja kerja yang diterangi lampu belajar kuning, tergeletak sebuah mesin tik antik. Benda itu berat, terbuat dari besi hitam kokoh dengan tombol-tombol bulat berbingkai perak. Mereknya "Remington Portable No. 3".

​Mesin tik ini baru saja disumbangkan oleh seorang kolektor anonim pagi tadi. Kondisinya menyedihkan saat datang: berkarat, penuh debu, dan tombol huruf 'A'-nya macet.

​Alina mengambil pinset, dengan hati-hati menarik serat kain yang menyangkut di tuas huruf.

​"Nah, sudah bisa," ucapnya puas.

​Dia memasang selembar kertas HVS putih bersih ke dalam roller mesin tik itu. Dia ingin menguji apakah tuts-tutsnya sudah berfungsi normal.

​Jari-jari lentik Alina menekan tombol dengan ragu. Bunyi TAK-TAK-TAK yang keras dan mekanis memecah kesunyian ruangan besar itu. Suara yang memuaskan, suara dari masa lalu.

​Alina mengetikkan tanggal hari ini dan sebuah kalimat iseng yang melintas di kepalanya yang lelah.

​14 Oktober 2024.

Jakarta hujan deras malam ini. Aku sendirian lagi di museum, bicara dengan hantu.

​Alina tersenyum miris membaca tulisannya sendiri. Tinta hitam tercetak sempurna di atas kertas putih.

​"Sudah bagus. Besok tinggal dipoles vernis," gumam Alina.

​Dia berdiri, merenggangkan punggungnya yang pegal. Dia butuh kopi. Alina berjalan meninggalkan mesin tik itu di meja, menuju pantry kecil di ujung lorong.

​Dia menyeduh kopi instan, membiarkan aroma kafein sedikit menenangkan sarafnya. Sekitar lima menit dia berada di sana, menatap hujan lewat jendela berjeruji besi.

​Saat Alina kembali ke meja kerjanya, langkahnya terhenti.

​Dia mengernyit.

​Posisi kertas di mesin tik itu berubah.

​Tadi, dia yakin roller-nya berhenti tepat setelah kalimat terakhirnya. Tapi sekarang, roller itu berputar turun dua spasi ke bawah.

​"Perasaan tadi nggak di-enter..." Alina mendekat, mengira gear mesin tik itu mungkin longgar dan melorot sendiri karena gravitasi.

​Namun, saat dia melihat kertas itu, cangkir kopi di tangannya nyaris terjatuh.

​Di bawah kalimat yang diketik Alina, ada baris baru.

​Tinta di baris baru itu terlihat basah dan segar, tapi jenis hurufnya sedikit berbeda—lebih tebal, seolah ditekan dengan tenaga yang kuat dan mendesak.

​14 Oktober 1930.

Batavia juga sedang hujan, Nona. Tapi di sini bukan hantu yang harus kau takuti, melainkan PID yang berkeliaran di jalanan.

​Alina mundur selangkah, menabrak lemari arsip di belakangnya. Jantungnya berdegup kencang.

​Dia menoleh ke kanan dan kiri. Ruangan itu kosong. Pintu terkunci dari dalam. CCTV di sudut ruangan berkedip merah dengan tenang. Tidak ada orang lain di sana.

​"Siapa yang ngetik ini? Pak Jono?" teriak Alina, memanggil nama satpam malam.

​Hening. Tidak ada jawaban.

​Dengan tangan gemetar, Alina memberanikan diri mendekati mesin tik itu lagi. Dia menyentuh tinta tulisan baru itu.

​Basah. Dan baunya... bukan bau tinta printer modern. Baunya seperti... tembakau cengkeh dan mesiu?

​Alina menelan ludah. Dia duduk kembali di kursinya. Rasanya gila, tapi jarinya bergerak sendiri di atas tuts.

​Siapa kamu? Ini lelucon apa?

​Alina menunggu. Satu detik. Dua detik.

​Tiba-tiba, tombol mesin tik itu bergerak sendiri di depan matanya!

​TAK. TAK. TAK. TAK.

​Tuas besi menghantam pita tinta, mencetak huruf demi huruf di kertas tanpa ada jari yang menyentuhnya. Seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang sedang mengetik dengan cepat.

​Alina memekik tertahan, mendorong kursinya menjauh. Dia melihat huruf-huruf itu muncul satu per satu membentuk kalimat:

​Saya bukan lelucon. Nama saya Arya. Dan saya sedang bersembunyi di gudang belakang Gedung Stadhuis. Jika kau bisa membaca ini... tolong beritahu saya, apakah jalan di depan Toko Merah sudah aman dari patroli Belanda?

​Alina membeku.

​Gedung Stadhuis. Itu adalah nama lama dari Museum Fatahillah—tempat Alina berada sekarang.

​Gudang belakang? Itu adalah Ruang Konservasi tempat dia duduk saat ini.

​Alina melihat sekeliling ruangan lagi dengan merinding. Jadi... pria bernama Arya ini sedang duduk di ruangan yang sama dengannya, di titik koordinat yang sama, tapi terpisah waktu 94 tahun?

​Alina menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa logika rasionalnya. Ini pasti mimpi. Halusinasi akibat kebanyakan lembur.

​Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Alina mendekatkan kursinya lagi. Dia mengetik dengan gemetar.

​Aku Alina. Sekarang tahun 2024. Belanda sudah pergi 79 tahun yang lalu. Kamu aman, Arya.

​Mesin tik itu diam sejenak. Hening yang panjang. Mungkin sekitar satu menit.

​Lalu, tombol itu bergerak lagi. Kali ini lebih lambat, seolah si pengetik sedang bingung atau takjub.

​2024? Tujuh puluh sembilan tahun?

Jadi... kita menang?

Indonesia merdeka?

​Membaca dua kata terakhir itu—Indonesia merdeka?—air mata Alina tiba-tiba menetes tanpa alasan yang jelas. Ada kepedihan, harapan, ve dan kerinduan yang luar biasa dalam pertanyaan sederhana itu.

​Alina mengetik balasan dengan mantap.

​Ya. Kita menang. Indonesia merdeka.

​TAK-TAK-TAK.

​Balasan muncul cepat.

​Syukurlah. Terima kasih, Tuhan.

Tapi Nona Alina... jika kau benar ada di masa depan, tolong jawab satu hal. Apakah saya selamat malam ini? Karena di luar pintu gudang ini, saya mendengar langkah sepatu lars marsose semakin mendekat.

​DUG! DUG! DUG!

​Tiba-tiba terdengar suara gedoran keras.

​Bukan di pintu ruangan Alina di tahun 2024. Tapi suara gedoran itu seolah bergema dari dalam mesin tik, suara hantu dari masa lalu yang merembes ke masa kini.

​Alina panik. Dia tidak tahu sejarah detail tentang Arya.

​Lari, Arya! Jangan diam di situ!

​Mesin tik itu mengetik satu baris terakhir dengan terburu-buru, tintanya agak berantakan.

​Mereka mendobrak pintu. Doakan saya, Nona Masa Depan. Sampai jumpa di halaman sejarah.

​Lalu hening.

​Mesin tik itu berhenti bergerak.

​Alina menunggu lima menit, sepuluh menit. Dia mencoba mengetik "Halo? Arya?" berkali-kali.

​Tidak ada balasan.

​Hanya suara hujan tahun 2024 yang tersisa.

​Alina menatap kertas itu dengan horor. Dia baru saja berkenalan dengan seseorang, memberinya kabar gembira tentang kemerdekaan, dan mungkin... baru saja mendengar detik-detik pria itu ditangkap atau dibunuh.

​Alina segera menyambar ponselnya. Dia membuka Google.

​"Raden Mas Arya aktivis 1930 Batavia."

​Hasil pencarian muncul. Sebuah artikel Wikipedia pendek dan foto hitam putih yang buram.

​Raden Mas Arya (1905 - 1930)

Jurnalis dan anggota Perhimpoenan Indonesia. Hilang secara misterius pada malam 14 Oktober 1930 di Gedung Stadhuis. Diduga dieksekusi mati oleh PID tanpa pengadilan. Jasadnya tidak pernah ditemukan.

​Alina menutup mulutnya. Wajahnya pucat.

​Tanggalnya hari ini. Malam ini.

​Arya baru saja ditangkap 94 tahun yang lalu. Dan Alina baru saja menjadi saksi terakhirnya.

​Tapi... kalau mesin tik ini bisa menghubungkan mereka...

​Bisakah Alina mengubah tulisan di Wikipedia itu?

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Duhh ....berat nian mempertahankan rasa dan hidup seolah dipermainkan takdir.
Nyawa seolah dalam genggaman penjahat.
Damai sekejap, lepas beban berat
tapi belati dan peluru kembali mengintai.
Jika cinta butuh pengorbanan,semua telah berkorban.
Mengalah
Melepaskan
Merelakan dalam keikhlasan.

Bertahan walau hidup serasa di parit busuk.
Melindungi sekeping hati dari duka.

Menjaga dan mencoba memperpanjang kontrak hidup
mati-matian mencari jalan keluar
Pontang- panting dengan akses masa depan yang canggih

semoga kali ini bisa lolos lagi dari si mata satu
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Semoga sesuai perkiraan polisi tidak "curiga"
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.

Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Masa lalu yang berontak terhadap masa depan.
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
bagus, buat kalian yang suka baca buku ini rekomendasi bagus.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
gantian sarsinah yg cemburu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Waduh pertarungan versi 1931 dan masa depan... disini kayak Alina bisa merubah yang terjadi di tahun itu atau antisipasi mungkin dari catatan masa depannya.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Sedikit saya udah bisa menangkap alur ini cerita Arya Alina ini. saya penasaran jadi lanjut lgi ya kak👍
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Wahh, ....sarsinah auto terlonjak kaget,takut dan rasa tak percaya🤭.

hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.



kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Oohhhoooiii ....ingin membolak balik sejarah ,namun semua berjalan tak sesuai keinginan.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aduh rumit rumit wes kna Remington 😁
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
padahal nggak nyata tapi sakitnya kayak nyata ya Alina.
Ai Emy Ningrum
bagus bnget ceritanya..breath taking story..
Ai Emy Ningrum: /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
apakah akan see Arya again😁
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
perempuan itu sungguh kuat ,teguh dan berani, meski terluka dan butuh waktu untuk membalut nya ,tapi hidupnya akan selalu baik2 saja.
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
semakin menarik next kaka
tanty rahayu: siap ka 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
lanjut kaTant
tanty rahayu: tencuhh loh ka mampir lagi
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
menjemput kematian rancangan sendiri....
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
tanty rahayu: iya juga ya... 🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
di saat dua orang cerdas bersatu walaupun berbeda tahun
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
sejatinya cinta
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
atas nama cinta tidak ada yg salah klo harus mengakui nya Alina 🥲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!