“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Beni, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Untuk hari Kamis nanti, ke Bogornya naik taksi online saja, Ria. Tidak apa-apa mahal, yang penting kalian sampai tujuan. Kamu tahu sendiri, akhir bulan begini pekerjaan saya sedang banyak-banyaknya apalagi kantor sedang membuka cabang retail yang baru. Untuk salon tempat kembar dirias dan menyewa baju, saya sudah bookingkan. Uangnya juga sudah saya transfer ke pihak salon, jadi nanti kamu tinggal antar kembar saja ke sana. Tempatnya tidak jauh dari sekolah, salon Andaria namanya, kamu pasti sering lewat saat mengantar kembar ke sekolah,” ujar Syafira pelan saat mengantar Ria ke depan rumahnya.
Ria pun mengangguk tanda paham.
“Tapi, Bu, soal ke Bogor sepertinya kita tidak perlu bayar taksi online mahal-mahal untuk pulang pergi. Kita dapat tumpangan gratis. Ada wali murid yang menawarkan tumpangan untuk kita pergi bersama ke sana. Nanti Ria antar kembar ke sekolah seperti biasa, jadi kita berangkat bersama-sama dari sekolah,” jelas Ria sumringah.
Mengernyitkan dahinya, Syafira bak tak bisa langsung senang begitu saja, karena ia tak kenal siapa orang yang Ria bicarakan. Apalagi saat menanyakan nama wali murid tersebut, Ria bahkan lupa menanyakannya. Tentu, Syafira setengah cemas jika kembar kenapa-napa bersama orang asing.
Memastikan mereka akan aman sampai kembali pulang ke rumah, Ria terus meyakinkan bosnya itu bahwa wali murid tersebut memang berniat baik.
“Ria sudah beberapa kali bertemu dengan orangnya, Bu. Kembar bahkan tidak takut dengannya. Lagi pula, anaknya juga sekolah di sana, jadi tidak mungkin kalau berniat macam-macam. Penampilannya juga rapi dan baik kok, Bu. Ria ‘kan juga bisa menilai orang dari penampilan dan tutur katanya. Bu Syafira tenang saja, ada Ria yang akan selalu menjaga kembar,” imbuh Ria.
Memang, saat tadi Ria tengah melamun menunggu kembar selesai beraktivitas di kelas, Khale yang akan menjemput Aura menghampirinya. Ria tampak menopang dagu seperti orang yang sedang berpikir keras saat itu, karena ia juga memang tengah memikirkan dengan apa akan mengantar kembar ke Bogor. Lalu, saat Khale menyapa dan menanyainya, Ria dengan jujur menjawab apa yang ada di pikirannya, bahwa ibu kembar harus bekerja dan mereka masih belum tahu akan berangkat ke Bogor naik apa. Tentu, Khale langsung menawarkan bantuannya karena juga akan mengantarkan Aura ke Bogor dalam agenda pentas budaya yang sama.
“Apa tidak merepotkan, Pak?” Ria memastikan ia tak salah dengar.
Menggeleng, Khale bahkan mempersilakan teman-teman kembar yang lain jika ingin menumpang 1 mobil dengannya, karena ia akan menggunakan mobil yang lebih besar nanti.
Sementara itu di apartemen Khale, ia juga sedang melamun memikirkan pembicaraannya dengan Ria tadi pagi.
“Agak aneh rasanya, pengasuhnya sampai bingung harus mengantar anak-anak ke Bogor naik apa, padahal papanya ‘kan kaya raya. Seharusnya hal-hal seperti ini sudah Pak Putra sediakan. Ah, aku baru sadar juga. Kenapa orang sekaya beliau, memberikan fasilitas mobil dan sopir untuk anak-anak dan pengasuhnya ke sekolah saja tidak mau dan hanya memberikan motor untuk dinaiki bertiga. Apa jangan-jangan memang benar tak banyak yang tahu soal pernikahan rahasia Pak Putra? Atau malah hubungannya terlarang sehingga seperti tak ingin ketahuan memiliki anak kembar?” pikirnya.
***
Proyek pendirian cabang baru milik Putra terus berjalan, Khale dan timnya berjanji akan segera menyelesaikannya dengan cepat dan hasil yang memuaskan. Ia tak ingin proyek besar ini mengecewakan semua pihak, termasuk pihaknya sendiri. Sebab ada calon klien besar berikutnya yang juga sedang menunggu hasil dari pembangunan cabang baru milik Putra ini.
“Kalau proyek dari Pak Putra hasilnya cepat dan bagus, saya juga mau mempercayakan cabang restoran saya yang baru nantinya dikerjakan oleh Pak Khale dan tim,” ujar calon klien tersebut.
Khale pun tak ingin melewatkan kesempatan ini karena akan semakin membumbung tinggikan nama baik perusahaannya sebagai salah satu perusahaan kontraktor besar.
Sementara itu, Putra tak berhenti membujuk Syafira agar mau menerima tumpangannya mengantar kembar ke Bogor. “Lebih baik aku yang antar mereka dari pada orang lain yang kamu tak kenal.”
Terdiam, Syafira bak berada dalam kebimbangan karena di satu sisi ia tak ingin semakin banyak menerima pertolongan Putra, tapi di sisi lain ia juga tengah khawatir saat anak-anaknya bersama orang asing meskipun tetap ada Ria di samping mereka.
Hingga saat keberangkatan, kembar yang sudah tiba di sekolahnya, bertemu dengan Khale dan Karina yang sudah bersiap mengantar Aura. Seketika Khanza dan Khayra pun terlihat terdiam menunduk, lalu sesekali saling bertatap sendu satu sama lain saat melihat Aura yang diantar kedua orang tuanya. Hal itu pun mengundang perhatian Khale yang turut memandangi ekspresi mereka. Sedangkan Ria yang seolah paham dengan apa yang sedang kembar rasakan, bergegas mengajak mereka untuk segera berangkat.
“Ya sudah, yuk, kita berangkat. Nanti terlambat,” ajak Khale.
Namun tak lama, sebuah mobil hitam seharga 800 juta berhenti di hadapan mereka semua. Seorang lelaki yang ternyata adalah Putra itu pun turun dari mobil. Setelah belum lama Syafira berubah pikiran dan meminta Putra yang mengantar kembar.
Saat Putra menampakkan wajahnya di hadapan mereka semua, terlihat Karina melihatnya tak berkedip lalu sedikit memalingkan wajahnya, begitu pun dengan Putra.
“Oh, jadi Bapak Khale yang mau mengantar kembar? Terima kasih sudah berbaik hati. Maaf, jadi merepotkan. Kami kurang komunikasi dengan Ria,” ujar Putra tegang lalu memberi kode pada Ria untuk segera membawa kembar masuk ke dalam mobilnya.
Tersenyum kecil, entah mengapa terbesit perasaan kecewa dalam diri Khale karena kembar tak jadi berangkat dengannya.
“Ya sudah, ayo berangkat,” ajak Karina buru-buru masuk mobil.
Sementara itu saat Ria akan masuk ke dalam mobil, Putra berbisik lirih padanya untuk tak lagi sering bertemu dengan Khale, begitu pun juga dengan Karina yang mengingatkan Khale agar tak terlalu baik dengan orang asing.
“Aku tahu kamu sedang rindu anak kembarmu, tapi bukan berarti kamu perhatian dengan anak kembar tadi, mereka ‘kan punya orang tua, kamu tak perlu repot-repot,” ujarnya sewot.
...****************...
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh