Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami kejaaam!
"Ais... Pssssttt... Ais bangun, udah siang." panggil Nisa padanya.
Ais pun perlahan membuka mata, dan menguceknya agar dapat melihat dengan jelas.
"Nisa? Kok disini? Ngga sekolah?" tanyanya, sembari merubah posisi duduk.
"Izin, demi Loe. Gue kira Loe sebatang kara, rupanya Paksu nemenin."
"Ya iyalah, setidaknya kasihan sama Gue." jawab Ais.
Nisa pun dengan sigap mengambilkan air di dalam gayung, lalu mengelap wajah Ais dengan sapu tangan basah miliknya.
"Dah, bersih dikit. Katanya Loe udah boleh pulang, noh. Kak Lim lagi urus."
"Hmmm, gue ngga betah disini."
Nisa merapikan tubuh Ais, sembari menunggu Lim dan perawat datang untuk melepas infusnya. Tak lupa Ia menyemprotkan parfum, agar Ais semakin harum dan segar.
"Jangan banyak-banyak, weey..." tegur Ais.
"Biar wangi, diem sih." sergah Nisa, yang juga menepuk-nepukkan skincarenya di wajah sang sahabat
"Ais, kita cabut infusnya dulu, ya?" ucap seorang perawat yang kembali masuk dengan perlengkapannya.
Ais mulai memegangi tangan Nisa. Ia sangat takut dengan jarum suntik sebenarnya, tapi itu terpasang ketika Ia lemah dan tak dapat memilih jalan ninjanya sama sekali.
" Aduh, gemeter." ucap Ais yang cemas.
"Jangan begitu, nanti malah berdarah. Sini, peluk gue."
Nisa meraih kepala Ais, dan memeluknya dengan erat di pinggangnya. Hingga kini, semua alat telah terlepas dari tubuh Ais.
"Sudah, tinggal tunggu pulangnya. Bisa ambil kursi roda di IGD, kalau masih lemas."
"Iya, Sus. Terimakasih." ucap Ais.
Perawat pergi, Lim pun datang.
"Ayo, pulang." ajaknya.
"Bentar, Nisa cari kursi roda dulu."
"Emang masih lemes?" tanya Lim.
"Ho'oh." angguk Ais bertampang manja.
Lim hanya diam, tapi Ia bergerak. Di raihnya tangan kanan Ais, dan Ia bersimpuh membelakanginya.
"Ngga perlu mempersulit keadaan." ucap Lim, yang langsung menggendong Ais dibelakang punggungnya.
"Nisa, tolong bawakan tas yang lain."
"Ba-baik, Kak." ucap Nisa padanya.
Mereka pun berjalan beriringan, dengan Ais yang duduk manis di pundak Lim. Dan Lim pun dengan entengnya, menyangga Ais hanya dengan Satu tangan nya. Sedangkan Ais merangkulkan tangan di leher Lim, dan menggelendot dengan manjanya di sana.
"Ini anak, kayaknya enteng banget bawaannya. Kayak bawa boneka manekin." gumam Nisa, yang berjalan dengan cepat menyesuaikan langkah Lim di depannya.
"Nisa naik apa, tadi?"
"Na-naik ojek, Kak." jawabnya.
"Baiklah, pulang kerumah kami dulu. Masih membutuhkan bantuan Nisa, soalnya." ucap Lim.
"Baik...."
Ketiganya telah sampai di parkiran, dan langsung menuju mobil Lim. Mereka masuk, dan langsung pulang kerumah dengan cepat. Lim lelah, dan Ais masih lemah. Hanya Nisa harapan mereka.
"Jalan." ucap Lim, yang membukakan pintu mobilnya.
"Masih lemes." ucap Ais manja.
"Jangan bohong. Kamu daritadi bercanda, dan tertawa riang sama Nisa. Tandanya udah sembuh. Ayo, jalan. Melatih tenaga kamu agar cepat sembuh."
"Ish, jahaaaat! Suami kejam!" pekik Ais.
Ia pun turun, dan menghentakkan kakinya dengan kuat di lantai. Lalu, berjalan naik menuju kamarnya yang berada di ruangan atas. Lim hanya diam, memperhatikan semua keanehan istrinya itu.
"Nisa?"
"Iya? Kak Lim?"
"Kenapa diam?"
"Oh, iya. Lupa kalau Nisa harus urus Ais. Maaf ya, Nisa turun sekarang." ucap Nisa, lalu turun dan mengejar Aishwa masuk ke kamarnya.
Lim pun memasukkan kembali mobilnya ke garasi. Setelah itu, Ia masuk dan merebahkan dirinya di sofa yang ada di ruang tamu. Ia tak biasa tidur dikamar yang bukan miliknya. Tapi, ada Ais dan Nisa disana. Hingga Ia yang harus mengalah demi mangistirahatkan tubuh dan fikirannya.
biar je...