Amayra Alifya Husna, adalah seorang gadis yang baru saja menginjak kelas 3 SMA. Gadis cantik berhijab, cerdas dan disukai banyak orang. Memiliki masa depan cerah dan memiliki cita-cita mulia menjadi seorang Guru. Namun kejadian naas pada suatu malam telah mengubah nasibnya.
Amayra terpaksa harus putus sekolah karena ketahuan hamil di luar nikah oleh seorang pria mabuk yang baru saja dia temui, ia adalah seorang presdir di perusahaan Calabria grup Bramastya Zein Calabria yang sering di sapa Bram, terpaut jauh usianya dengan Amayra yang masih belia. Tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Amayra, Bram melimpahkan tanggungjawab kepada sang adik, yang merupakan seorang dokter muda bernama Satria Alvian Calabria baru saja lulus dari fakultas kedokteran. Sementara Bram menghilang!
Amayra yang kehilangan mimpinya berusaha menghadapi pernikahan di usia dini, dia berusaha menjadi istri yang baik dan Sholehah. Walau pikirannya masih ingin sekolah, Satria awalnya cuek dan tidak peduli pada Amayra berubah menjadi perhatian melihat sikap Amayra yang baik dan taat. Cinta pun mulai hadir diantara mereka, namun saat hubungan mulai terbina. Bram hadir kembali dalam kehidupan mereka dan mengatakan akan mengambil kembali Amayra dan anaknya dari Satria.
Kepada siapakah Amayra akan menjatuhkan pilihannya? pada pria brengsek yang meninggalkan nya di saat saat tersulit? atau pada suaminya yang bertanggungjawab untuk dirinya? Berhasilkah Amayra meraih mimpi dan cita-cita nya?
follow Ig author: Irmanurhayati41
FB :Irma Nurhayati
follow juga author nya ya ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Aku suaminya
...🍀🍀🍀...
Di rumah sakit..
Satria menyuapi Amayra makan soto dengan perhatian. Awalnya Amayra menolak Satria untuk menyuapi nya, tapi Amayra sadar kalau dia masih belum bisa bergerak bebas, terlebih lagi di tangannya terpasang selang infus.
"Alhamdulillah sudah habis,apa kamu mau tambah lagi?" tanya Satria sambil menyimpan mangkuk bekas soto itu. Makanan yang ada di dalamnya tidak bersisa sedikit pun, bahkan kuahnya pun sudah habis oleh ibu hamil itu.
"Enggak, udah kak." Amayra tersenyum sambil memegang perutnya.
"Yakin?" Satria mengambil air minum dan memasukkan sedotan ke dalam bungkus minum itu.
"Ya, kak" jawab Amayra sambil mengangguk.
"Minum ini, bukannya kamu mau jus stroberi." ucap Satria sambil menyodorkan jus di dalam gelas cup itu pada Amayra. Dia menyeruput jus nya melalui sedotan, pelan-pelan.
Amayra merasa kalau Satria bersikap lebih lembut padanya setelah meminta maaf. Mungkin memang lebih baik kalau Amayra dan Satria memiliki hubungan seperti om dan keponakan saja. Amayra tidak mau mengharapkan cinta dari Satria, walau rasa cinta sudah berada di dalam hatinya untuk suaminya itu.
Suami yang dia anggap dewa penolong yang sudah berbuat banyak untuknya. Melindungi nya dari rasa malu yang lebih besar, menjaganya selama 2 bulan ini. Dia tidak akan berharap lebih banyak. Dia hanya berharap pada Allah, agar rasa cinta itu menghilang di dalam hatinya untuk Satria.
Tak lama setelah makan siang, Amayra tertidur pulas di ranjang pasien. Satria masih menjaga Amayra disana. Dia menyelimuti tubuh Amayra dengan selimut hangat. Tatapan hangat juga mengarah pada wanita itu.
Sesaat dia terpana melihat wajah cantik di dalam balutan kerudung berwarna biru itu. Ada rasa ingin membelai pipinya, tangannya sudah mulai bergerak secara naluriah mendekati wajah yang sedang tertidur lelap itu.
Satria, apa yang kamu lakukan? Tanpa sadar kamu malah...ahh.. sadarlah Satria, usianya 10 tahun lebih muda darimu. Dia teman keponakan mu. Satria merutuki dirinya di dalam hati.
Cekret!
Pintu ruangan itu terbuka lebar, Satria langsung menoleh ke arah pintu. Dia melihat Bram dan kedua orang tuanya berada disana.
"Papa, mama? Kak Bram?" Satria beranjak berdiri dari kursinya. Satria terkejut melihat Bram berada disana juga, pria itu masih memakai baju OB nya. Terlihat bahwa dia baru pulang dari kantornya dan langsung ke rumah sakit.
Cakra dan Nilam segera menghampiri Amayra untuk melihat keadaan nya. Tapi, gadis itu sedang tertidur. Sementara Satria menatap Bram dengan tatapan tidak senang, itu karena dia melihat Bram menatap Amayra dengan cemas.
"Gimana keadaan nya Sat? Dia dan bayinya baik-baik saja, kan?" Bram menoleh ke arah Satria, menanyakan keadaan Amayra dan anaknya.
Pertanyaan yang meluncur dari bibir Bram itu membuat Satria terperangah. Ada kepedulian dan kekhawatiran di dalam ucapannya. Satria merasa kalau Bram sudah mulai berubah semenjak Amayra tinggal di rumah keluarga Calabria.
"Dia gak apa-apa, bayinya juga." Jawab Satria singkat pada Bram.
Tatapan Bram beralih melihat Amayra yang masih tertidur pulas. "Satria, lalu kenapa dia masih belum sadar?" tanya Cakra cemas melihat menantu perempuan nya.
"Amayra baru saja selesai makan dan minum obat, jadi dia tertidur sekarang. Papa gak usah cemas, dia baik-baik saja." jelas Satria pada papa nya.
"Syukurlah kalau begitu, sebenarnya apa yang terjadi sih?" tanya Cakra penasaran.
Tiba-tiba saja Bram menarik baju Satria dengan kasar, dia menatap adiknya dengan emosi. Cakra dan Nilam kebingungan melihat kedua anaknya seperti akan berkelahi itu. Terlebih lagi mereka masih berada di dalam ruang rawat Amayra.
"Ada apa ini kak?" Satria mencoba tenang menghadapi kakak nya.
"Bagaimana kami menjaganya? Kenapa dia sampai seperti ini? Kalau dia dan bayinya sampai kenapa-napa, bagaimana?!" Bram mulai meninggikan suaranya, dia menaikan baju Satria dengan keras.
"Maaf kak, tapi kakak siapa bertanya seperti ini padaku?" Satria membalikkan pertanyaan Bram dengan pertanyaan pedas.
"A-Apa?" Bram terperangah.
"Bagaimana cara aku menjaganya, itu bukan urusan kakak. Aku suaminya kak, seperti nya kakak lupa itu. Dia dan anak di dalam perutnya, tidak berhak mendapatkan perhatian dari kakak yang bukan siapa-siapa!" Satria meninggikan suaranya, menegaskan kepada Bram siapa dirinya yang tidak berhak mengatur Amayra ataupun Satria.
Tanpa sadar karena marah, Satria mengatakan hal itu dari mulutnya. Dia sendiri tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja dia ucapkan pada Bram, pengakuannya sebagai suami Amayra sekaligus mengakui bayi di dalam kandungan nya. Perlahan-lahan Bram melepaskan tangannya dari baju Satria yang dia genggam. Bram termenung, kedua matanya membulat.
"Kalian apa apaan sih? Ini rumah sakit, dan ada orang sakit disini!" Cakra menengahi kedua anaknya yang saling memancarkan sinar kemarahan dan perselisihan.
Bram masih terdiam, lagi-lagi ucapan kedua temannya terlintas di pikiran nya. Tiba-tiba saja dia menatap murka pada Satria, "Tidak! Bayi itu bukan anakmu, aku lah ayah bayinya!"
Apa kak Bram baru saja bilang kalau dia adalah ayah dari bayi yang dikandung Amayra? Hah!
Satria dan Bram sama-sama terpana dengan ucapan mereka masing-masing. Sementara Cakra diam-diam tersenyum mendengar ucapan Bram yang sudah mulai mengakui bayi yang dikandung Amayra. Hal itu membuat Nilam khawatir, dia tak percaya kalau Bram yang berhati keras akan mengakui bayi Amayra.
Apa akhirnya hati Bram sudah mulai terbuka? Baiklah, mungkin ini saatnya aku bicara pada Satria.
"Hentikan! Sudah! Satria itu papa, papa ingin bicara sebentar sama kamu!" Cakra meminta Satria ikut dengannya keluar dari ruangan itu. "Nilam, Bram! Kalian tunggu Amayra disini!" titah Cakra tegas.
Cakra dan Satria keluar dari ruang rawat itu, sementara Nilam dan Bram berada di ruangan Amayra. Cakra segera mengatakan apa yang harus dia katakan.
"Satria, kamu sudah lihat sendiri kan bagaimana perubahan kakakmu?" tanya Cakra sambil tersenyum.
"Iya, dia memang banyak berubah." jawab Satria dengan nada yang malas.
"Dia sudah mulai merasakan tanggungjawab di dalam dirinya pada Amayra dan anaknya. Satria, papa cuma mau bilang sama kamu..kamu bisa melepaskan Amayra kapan saja."
Satria mendongak, dia tersentak kaget mendengar ucapan papa nya. Apa maksud dari ucapan Cakra itu? Melepaskan Amayra?.
"Apa maksud papa?" tanya Satria seolah meminta semua ucapan pak Cakra diperjelas.
"Papa tau kamu sangat menderita karena harus menggantikan kakak mu menikahi Amayra yang sudah hamil. Kamu juga harus menahan semua hinaan orang karena hal ini, papa benar-benar minta maaf. Tapi, papa akan mencoba membujuk Bram sedikit lagi agar dia sadar akan kesalahan nya!"
"Sebenarnya apa yang papa maksud?! Aku tidak mengerti pa!" Satria mulai takut mendengar ucapan Cakra yang menurutnya mengarah ke hal lain.
"Papa hanya ingin mengembalikan semua nya ketempat yang semula. Bram lah yang harusnya menikah dengan Amayra...dan kamu Satria! Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan di luar sana dengan orang yang kamu cintai."
"Papa! Apa maksud papa?!" Suara Satria mulai meninggi, begitu mendengar rencana Cakra yang sejak awal ingin menikahkan Bram dan Amayra.
"Papa pikir kamu sudah paham apa maksud papa tanpa papa jelaskan. Baiklah akan papa jelaskan, papa ingin kamu bercerai dengan dia, lalu dia menikah dengan kakak kamu." Cakra mengungkapkan rencana awalnya para Satria
Satria terpana mendengar nya, dia tidak percaya kalau papa nya sudah memiliki rencana seperti itu. Dia menganggap pernikahan seperti sebuah permainan yang bisa diganti perannya sesuka hati.
...---***---...
ceritanya bagus, keren banget dan banyak ilmu yang bisa diambil, semoga kakak Author selalu sehat, selalu semangat dan selalu sukses, aamiin yaa Rab...🙏🙏🙏💪💪💪