Yan Lan seorang anak raja dari salah satu kerajaan di benua bintang. Orang tuanya terbunuh oleh para pemberontak yang ingin melengserkan kepemimpinan ayahnya.
Kemudian dia bertemu dengan kakek Wu Kong dan mengangkatnya menjadi murid. Dia bertekad menjadi kuat untuk membalaskan kematian orang tuanya.
"Aku Yan Lan, barang siapa yang menghalangi jalanku, menghalangi tujuanku, bahkan berani menyinggungku. Meskipun dia adalah dewa, hanya ada satu kata untuknya, MATI".
Bagaimana perjalanan Yan Lan? Apakah dia mampu membalaskan dendamnya? Apakah dia mampu mengembalikan kejayaan klan Yan dan membuatnya menjadi penguasa lagi?
Ikuti terus kisahnya "SANG KAISAR"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35. Anak Kecil
Ketika Yan Lan sedang memanggang daging beast yang dia bunuh, dia sekarang paham dan mengerti kenapa dulu Lu Sia melarangnya untuk memilih jalan melewati Lembah Berkabut.
Selain kondisinya yang berkabut, beast yang menghuni Lembah Berkabut juga seperti tidak ada habis-habisnya. Juga, semakin dalam memasuki Lembah Berkabut, beast yang menghuninya semakin kuat.
"Sebaiknya besok aku harus lebih berhati-hati lagi" batin Yan Lan.
Setelah perutnya kenyang, Yan Lan lalu istirahat tanpa merasa khawatir akan ada yang masuk ke gua yang dia tinggali, karena dia sudah memasang formasi di pintu masuk gua.
...****************...
Dua minggu berlalu.
Yan Lan telah berada di dalam Lembah Berkabut selama dua minggu. Dia juga telah menjelajahi Lembah Berkabut dan telah banyak membunuh beast tinggi. Selain beast, Yan Lan juga mendapatkan beberapa tanaman sebagai bahan untuk membuat pil. Meskipun persediaan bahan pembuat yang diberikan oleh kakek Wu Kong masih banyak, tapi Yan Lan tidak menyia-nyiakan tanaman-tanaman yang dia temukan.
Saat ini Yan Lan sedang beristirahat di dalam gua yang baru saja dia temukan.
"Sudah sekitar dua minggu aku menjelajahi Lembah Berkabut ini, tapi sepertinya aku masih belum menemukan tanda-tanda akan keluar dari lembah ini. Menurut informasi yang paman Yan Zu katakan, aku harus menjelajahi Lembah Berkabut selama tiga minggu. Artinya aku akan keluar dari lembah ini sekitar seminggu lagi" gumam Yan Lan.
Seperti biasa Yan Lan akan langsung istirahat jika perutnya sudah kenyang.
Keesokan harinya, Yan Lan keluar dari gua tempatnya istirahat untuk melanjutkan perjalanannya menjelajahi Lembah Berkabut.
Yan Lan kembali melanjutkan rutinitasnya membunuh semua beast yang menghalangi jalannya.
"Baiklah kalian akan menjadi beast yang ke tujuh ratus yang akan menjadi korban ku di lembah ini" kata Yan Lan yang di kepung oleh kawanan beast. Ada sekitar dua belas beast badak bercula dua yang mengepungnya dan merupakan beast tingkat enam.
Yan Lan lalu mengeluarkan dua pedang andalannya dan bersiap untuk menyerang.
Langkah cahaya...
Tarian pedang angin.
Wushhh wushhh wushhh....
Duarrrrrrr booommm...
Yan Lan menyerang kawanan beast tersebut dengan salah satu teknik yang di miliki. Dia tidak memakai teknik Pedang Semestanya karena terlalu banyak menguras energi qi nya.
Kawanan beast badak bercula dua yang terkena oleh serangan Yan Lan tersebut hanya mundur beberapa langkah tanpa ada yang terluka.
"Hohoho ternyata kulit kalian cukup keras juga" kata Yan Lan yang melihat serangannya tidak mempan pada beast badak bercula dua tersebut.
Grudukkk grudukkk
Beast badak bercula dua tersebut berlari menyerang Yan Lan secara bersamaan.
Wusshh wushhhh
Yan Lan menghindari setiap serangan yang di berikan oleh kawanan beast tersebut.
Yan Lan juga cukup terkejut dan mengernyitkan alisnya. Dia tidak menyangka beast badak bercula dua yang menjadi lawannya itu selain kulitnya keras, gerakannya juga sangat cepat tidak sebanding dengan tubuhnya yang besar.
Pertempuran sengit pun terjadi, Yan Lan beberapa kali kewalahan dengan kecepatan badak bercula dua tersebut. Tapi Yan Lan sangat menikmati pertempuran yang dia lakukan saat ini. Yan Lan dapat merasakan sensasi pertarungan yang sangat dia inginkan.
Tiga puluh menit berlalu, pertarungan beast badak bercula dua dengan Yan Lan masih berlangsung. Belum ada tanda-tanda menyerah dari kedua belah pihak. Tapi beast badak bercula dua tersebut, pergerakannya sudah mulai melambat kelelahan.
"Baiklah, saatnya mengakhiri pertarungan ini" kata Yan Lan.
Gerakan ketiga, pedang penghancur langit.
Duarrrrrrr duarrrrrrr duarrrrrrr....
Yan Lan mengeluarkan gerakan ketiga dari teknik Pedang Semesta dan membunuh semua beast badak bercula dua tersebut. Akibat serangannya membuat pohon-pohon sejauh lima ratus meter juga ikut hancur.
Hah hah hah
Yan Lan ngos-ngosan setelah menggunakan teknik terkuatnya.
"Teknik ini sangat menguras energi qi ku, sepertinya aku harus segera meningkatkan kekuatan ku. Bagaimana jika suatu saat aku menemukan lawan yang kuat" gumam Yan Lan.
Yan Lan kemudian duduk beristirahat untuk mengembalikan tenaganya.
Lima belas menit kemudian Yan Lan berdiri dan melanjutkan perjalanannya.
Lima hari berlalu lagi dengan cepat.
Yan Lan saat ini terlihat sedang santai memetik tanaman untuk membuat pil. Tiba-tiba Yan Lan mendengarkan raungan beast yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.
Goarrrrr... goarrrrr...
"Ahh ternyata ada mangsa lagi" gumam Yan Lan. Selama beberapa hari ini Yan Lan merasa cukup bosan karena beast yang dia temukan sangat sedikit.
Yan Lan lalu pergi ke arah sumber suara tersebut. Tidak jauh dari tempat beast yang dia dengarkan, dia melihat seekor beast tingkat dua sedang menyerang seorang anak kecil yang berusia sekitar 10 tahun.
Anak kecil tersebut terlihat terluka di kakinya. Ketika Yan Lan melihat anak tersebut, dia seperti bernostalgia bagaimana dirinya dulu ketika berlari ke Hutan Hitam dan di kepung oleh kawanan beast. Yan Lan kembali mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu.
Yan Lan menjadi sedih teringat akan kedua orang tuanya dan merasa sangat bersyukur karena telah bertemu dengan kakek Wu Kong.
"Huhh apakah ini yang di namakan takdir" batin Yan Lan melihat anak kecil yang sedang di serang oleh beast tersebut.
Yan Lan lalu mengeluarkan belati dari cincin penyimpanannya dan melemparkannya ke arah beast yang sedang sedang menyerang anak kecil tersebut.
Swusss jlebb...
Belati tersebut menancap di leher beast tingkat dua tersebut dan mati.
Anak kecil tersebut yang sudah pasrah akan mati di makan oleh beast yang ada di depannya hanya memejamkan matanya.
"Kakek maafkan aku" gumam anak tersebut.
Cukup lama dia memejamkan matanya, tapi tidak terjadi apa-apa. Dia juga tidak merasakan kesakitan karena di makan oleh beast tersebut.
Karena penasaran, dia akhirnya membuka matanya dan melihat beast yang menyerangnya mati dengan belati menancap di leher beast tersebut.
Anak tersebut cukup terkejut dan melihat ke sekelilingnya mencari siapa orang yang telah menolongnya.
Ketika dia menoleh ke sana kemari, dia melihat seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah Yan Lan terbang ke arahnya.
"Telanlah pil ini" kata Yan Lan menyodorkan sebutir pil kepada anak kecil yang dia tolong.
"Terima kasih" kata anak tersebut mengambil pil dari tangan Yan Lan dan menelannya.
Tidak lama kemudian, baik luka yang ada di kaki maupun tubuhnya sembuh seperti semula tanpa ada bekas luka.
Anak tersebut kemudian berdiri.
"Terima kasih tuan karena telah menolong ku" kata anak tersebut menunduk hormat kepada Yan Lan.
"Siapa nama mu?" tanya Yan Lan lembut.
"Nama ku Qi Rui tuan" kata anak tersebut masih menunduk.
"Jika berbicara, lihatlah lawan bicara mu. Aku Yan Lan dan jangan panggil aku tuan. Panggil saja aku kakak Yan atau kakak Lan" kata Yan Lan menasehati anak tersebut sambil memperkenalkan dirinya.
#Bersambung.
...Terus dukung Thor ya readers...
...Jangan lupa tekan LIKE, KOMEN, VOTE dan FAVORIT....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...