Pelakor adalah korban bukan salah dia mencintai lelaki yang sudah memiliki seorang istri tapi karena sebuah perasaan yang mempermainkannya.
Untuk menyelamatkan nyawa sang nenek, Vivian Cambriella terpaksa menikah dengan lelaki tampan yang tak lain adalah seorang CEO , atasannya sendiri.
Setelah dua tahun menikah Ia baru mengetahui suaminya telah memiliki seoarang istri.
Alasan Keanu mau menikah dengan Vivian adalah untuk menyewa rahimnya , supaya Ia memberikannya seorang anak.
Bagaimana nasib Vivian ?
Akankah Ia mendapatkan cinta dan kebahahiaan dari suami yang telah membohonginya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mora Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : ANAK YANG MIRIP
...ANAK YANG MIRIP...
" Kenzi sayang, kamu pasti bosan menunggu Mama " Seru Vivian.
" Gak terlalu lama kok, Ma. " Jawab Kenzi sambil tersenyum.
Vivian mencium kening putranya dengan penuh kasih sayang, anak pertamanya memang sangat pengertian berbeda dengan Kenza yang tidak sabaran, Ia pasti akan mengeluh jika menunggu terlalu lama.
Namun sayangnya Kenzie lebih keras kepala dari pada Kenza, Vivian ketawa cekikikan ketika membandingkan sifat kedua anaknya.
" Hihihiihihiihi "
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Vivian cekikikan sendiri, membuat Radit dan Kenzi saling memandang satu sama lain.
" Mama " Kenzi menghentakkan lengan Vivian.
" Ah...iya maaf " Kata Vivian dengan muka yang memerah.
" Kamu sedang memikirkan, apa ? sampai ketawa seperti itu. " Tanya Radit sambil bertolak pinggang.
" Tidak ada " Ucap Vivian.
Mana mungkin aku mengatakan apa yang sedang aku pikirkan, aku tidak ingin membandingkan mereka.
Meskipun kedua anakku memiliki parah dan suara yang sama, tapi karakter keduanya sangat bertolak belakang.
Kalau kata orang Kenzi dan Kenza bagai pinang di belah dua sangat mirip, hanya warna rambut yang membedakan keduanya. dan biasanya kembar yang berlawanan jenis, jarang sekali memiliki wajah yang mirip.
" Kok tumben Kenza tidak kelihatan, Mam ? " Tanya Kepala Kenzi sambil celingak-celinguk mencari Adiknya.
" Tadi katanya mau membelikan sesuatu untuk kamu "
" Oh... " Kenzi memanggukan kepalanya.
" Kalau gitu Mama ke dalam dulu untuk berbicara dengan dokter. Kamu mau ikut mama atau mau di sini aja ? " Kata Vivian.
Kenzi menggelengkan kepalanya, Ia merasa udara di luar rumah sakit lebih sejuk ketimbang ikut kedalam menemui dokter.
" Aku di sini saja, Ma " Celetuk Kenzi.
" Baiklah kalau begitu " Vivian mengusap rambut Kenzi sambil tersenyum.
Radit dan Vivian masuk kedalam untuk bertemu dengan dokter spesialis jantung, sekalian ingin menanyakan hal penting kepada sang Dokter.
Tiba-tiba Kenzi kebelet mau buang air kecil, Ia meninggalkan buku hariannya di bangku taman, lalu bergegas pergi ke kamar mandi.
Tidak terduga Keanu kembali lagi ke bangku taman, Ia sedang menunggu Kenzo yang sedang buang air kecil.
Keanu menemukan buku harian Kenzi di taman, hatinya tersentuh melihat halaman yang sudah terbuka, dan tanpa sadar tangannya terus bergerak membuka halaman demi halaman.
Takdir memang belum mempertemukan Kenzi dengan Kenzo, saat Kenzi masuk kedalam, Kenzo keluar dari dalam kamar mandi, tetapi takdir mempertemukan Kenzo dengan Kenza.
" Kakak ngapain berdiri di sini ? " Kata Kenza dengan suaranya yang cempreng.
Kenzo yang tidak mengenali Kenza memasang tampang bingung sekaligus terkejut karena wajah mereka sangat mirip.
" Hah ? " Gumam Kenzo sambil menggaruk kepalanya.
" Kenapa tampang mu jadi terlihat bodoh begitu ? " Ucap Kenza mengejek Kakaknya sendiri.
" Sudahlah lupakan saja ! tolong pegangin ini, aku mau pipis. " Celetuk Kenza sambil menyerahkan bungkusan yang Ia beli untuk Kenzi.
Kenzo masih berdiri di depan kamar mandi, menunggu gadis yang mirip dengannya. Ia butuh penjelasan, tapi ponselnya berdering terus.
" Kamu masih lama ? Papa harus segera pergi ke kantor " Matanya tidak berhenti menatap jam di pergelangan tangannya.
" Iya ini sudah selesai, Pa " Sahut Kenzo sambil menoleh ke belakang terus.
Kenzo tidak mempunyai pilihan lain selain pergi meninggalkan gadis itu, dan terpaksa membawa barang milik gadis yang mirip dengannya.
Di dalam mobil Kenzo ingin menceritakan pertemuannya dengan Kenza kepada Keanu, namun nampaknya Ayahnya sedang terburu-buru, niat itu Ia urungkan.
Kenzi yang tidak tahu apa-apa langsung kena semprot, Kenza memarahinya habis-habisan, Ia kesal Kakaknya pergi duluan, di tambah lagi dengan kado yang Ia beli telah hilang.
" Aku kan sudah bilang tungguin tapi, Kaka malah ninggalin ! " Teriak Kenza dengan raut wajah yang di tekuk.
" Aku mana tahu kamu ada di dalam " Seru Kenzi bersikeras.
" Gak tahu gih mana ? jangan pura-pura lupa deh, tadi kita kan ketemu di depan toilet. " Gerutu Kenza
" Kapan ? " Kenzo malah balik bertanya dengan mengkerut kan alisnya.
" Sebelum aku masuk ke dalam, dan aku juga menitipkan hadiah yang mau aku berikan ke kakak. Kakak sudah buka kadonya ? " Ucap Kenza.
Kenzi semakin pusing dengan perkataan Kenza, tadi adiknya marah karena tidak di tungguin, sekarang malah nanyain barang yang tidak pernah di sentuh apalagi di lihat oleh Kenzi.
" Barang apa lagi ? aku beneran gak tahu "
Kenzi masih berbicara dengan halus, meskipun Kenza terus memarahinya, Ia berusaha untuk tetap menahan emosinya, namun bukan berarti Ia harus mengalah apalagi kalau dia tidak bersalah sama sekali.
Vivian yang mendengar keributan antara Kenzi dan Kenza, segera bergegas menemui kedua anaknya.
" Ada apa ? Suara kalian berdua keras sekali, terutama kamu, Kenza " Kata Vivian sambil melirik kearah putrinya.
Kenza menceritakan segalanya kepada Ibunya, dan Kenzi ikut nimbrung membela diri.
Aku menatap ke arah Kenza, kemudian ke wajah Kenzi, Ia mempercayai kedua anaknya, mereka tidak mungkin berbohong.
Tiba-tiba aku teringat kembali kejadian lima tahun yang lalu. waktu itu, firasat ku mengatakan kalau aku melahirkan tiga bayi kembar, dan jangan-jangan semua itu benar.
" Kamu bertemu dengan anak itu, di mana ? "
Bibir Vivian bergetar, wajahnya terlihat sangat pucat.
" Di depan toilet " Kenza menunjukan arah toilet.
Radit memperhatikan wajah Vivian yang memucat, berseru kepada-nya, " Kenapa Vi ? "
" Nanti aku ceritakan, tolong jaga anak-anak " Teriak Vivian sambil berlari meninggalkan mereka semua, jantungnya berdebar kencang, dan hatinya gundah gulana, berharap anak yang mirip dengan Kenzi masih ada di dalam kamar mandi.
" Permisi.....apa ada orang " Teriak Vivian menerobos masuk kedalam kamar mandi Pria.
Tidak ada siapapun disana, Vivian merasa kecewa tidak menemukan anak itu, bisa saja anak itu adalah anaknya yang hilang.
Tapi siapa yang menculik anaknya ?
Vivian meneteskan air mata di pojokan kamar mandi, setelah mendengar percakapan antara Kenzi dan Kenza, Ia semakin yakin melahirkan tiga orang anak.
Vivian menghapus air matanya, dan memutuskan untuk mencari anaknya yang hilang. Pertama-tama Ia akan mendatang rumah sakit, lalu mencari dokter dan suster yang telah membantunya melahirkan.
... ...
...♧♧♧♧♧♧...
Kenzo membuka hadiah yang di berikan oleh Kenza, Ia tahu membuka barang milik orang lain tidak baik, tapi hati kecilnya menyuruh untuk melihat isinya.
" Kalung " Seru Kenzo sambil mengangkat sebuah liontin berbahan stainless.
" Anak laki-laki mana yang memakai kalung mainan seperti ini " Gumam Kenzo.
Kenzo meletakan kalung itu kedalam lacinya, seandainya Ia membuka liontin yang berbentuk hati, Ia akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang terlintas di pikirannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuk baca terus, dan jangan sampai ketinggalan 😁😁
Tunggu di chapter selanjutnya 😉
TERIMA KASIH sudah membaca novel dari seorang yang amatir ini , semoga dapat menghibur dan menyenangkan kalian.
Jangan lupa dukung aku, seperti like , vote , dan share ato mau nampol pake bunga ****** juga boleh 😁😄😂🥰😍😍🤩