NovelToon NovelToon
ISTRIKU MENDIAMIKU

ISTRIKU MENDIAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NAIF

ARMILA

Mas Andra sungguh Naif. Masa tidak bisa membedakan antara ketulusan dan sandiwara. Resti itu jago akting. Setaraflah dengan artis papan atas.

Saat ia merengkuh kaki ini, aku sadar tangan itu tak hangat. Pelukannya pun serasa hambar. Dalam sorot matanya tak ada ketulusan. Bahkan hamilnya saja belum tentu benar

Aku muak dengan sikap pasangan menyebalkan itu. Yang lelaki naif menuju bodoh, yang perempuan culas dan keji. Sudah bisa dibayangkan kehidupan mereka ke depan.

Baiknya kutinggalkan saja orang-orang itu dalam kegamangan. Silakan mas Andra mengartikan sendiri sikap ini. Kalau cerdas, pasti bisa menentukan apa yang sebaiknya dilakukan.

"Bapak masih ada, Bi?"

"Sudah pulang, Bu."

Aku menghela napas berat sebab merasa masalah keputusan tak sesederhana itu. Mas Andra sudah masuk dalam skenario Resti. Sepertinya akan sulit bagiku memenangkan pertarungan ini.

Resti bukan lawan sebanding. Ia bisa melakukan apapun demi mencapai tujuannya. Bahkan menipu dan bersandiwara akan dilakukan. Tak peduli halal-haram.

Sudah seminggu Mas Andra di rumah Resti. Tak ada kabar apapun darinya di rentang waktu itu. Aku menunggu bukan karena rindu, tapi ingin kepastian sebuah keputusan.

Harapan demi harapan ia akan melepas Resti sudah jatuh hingga terbelah.. Makin hari aku makin yakin bahwa tali jodohku dengannya pendek.

Sepertinya aku harus siap melepas mas Andra. Pergi dengan kekalahan dan kembali pada orang tua. Hal tersebut lebih baik daripada terus jadi bulan-bulanan wanita keji itu.

Aku mungkin akan membawa perhiasan dan benda-benda yang dibeli atas nama sendiri. Selebihnya tak bisa sebab itu punya mas Andra. Sudah dipastikan Restilah yang akan menikmatinya.

Sudahlah, biarkan saja. Aku tak perlu menjadikan harta sebagai pertimbangan. Toh, manusia sudah diberi takaran rezeki sendiri.

Allah yang memberi rezeki, bukan mas Andra atau siapapun itu. Setelah lepas dari suami, akan ada aliran rezeki dari arah lain pasti.

Aku mendekap bayi mungil yang sekarang sedang belajar duduk. Anak inilah pelipur lara kala sakit di hati kian menggila.

Ia terkekeh-kekeh kala kucium perutnya. Geli mungkin. Karena merasa lucu melihat bibir terbuka, aku melanjutkan lagi candaannya.

"Hei, hei mau main keluar? Bentar, ya mama pake kerudung dulu!"

Aku memang suka membawa Affan ke taman bermain yang disediakan perumahan ini. Kawasan tersebut tidak terbuka untuk umum, hanya bagi penghuni perum saja. Jaraknya dapat ditempuh dengan jalan kaki, sekalianlah jalan-jalan untuk mengusir kepenatan.

Bi Cicah suka kubawa agar ada yang menemani sebab di sana kadang sepi. Tapi suka ramai juga oleh para pengasuh yang membawa anak-anak majikannya.

Menurut gosip dari bi Cicah kebanyakan para nyonya itu bekerja.

Kalaupun tidak hobinya keluar rumah. Jadi wajar tak sempat menemani anak bermain. Mungkin juga tidak pantas menurut mereka bergaul dengan tetangga.

Anak-anak itu sudah biasa hidup dengan pengasuh. Malah sudah seperti anak pengasuh. Sosok ibu bagi mereka hanyalah mesin pencetak uang, bukan sekolah utama dan pertama baginya.

Kelak, hubungan yang tercipta pun kurang harmonis. Hidup dalam satu rumah, tapi seperti manusia asing yang tak saling mengenal.

Itulah ketika wanita abai terhadap peran utamanya, yaitu pendidik generasi. Dan para suami juga turut andil sebab membiarkan istrinya larut dalam dunia yang menyita hampir separuh waktu hidupnya. Harusnya nafkah tak dibebankan pada wanita, cukup lelaki yang mampu membanting tulang sebab itu kewajibannya.

Bekerja itu boleh bagi wanita, tapi tak boleh sampai mengeliminasi peran utamanya sebagai ibu. Kalaupun tak cukup nafkah dari suami, carilah pekerjaan yang tidak menyita banyak waktu hingga anak jadi anak pembantu.

Ketika ibu dan ayah tak menjalankan peran dengan benar, tengok saja keadaan generasi sekarang. Mereka berguru tentang hidup pada youtube, g ****e, f******k, i*******m bukan pada orang tua. Hasilnya, tahu sendiri, generasi semakin lemah. Ada masalah sedikit, narkoba bahkan bunuh diri jadi solusi. Kalau tak lemah apa itu namanya?

"Dek Affan mau main, ya? Bareng om, yuk!"

Jelas aku kaget ketika kak Reiga tiba-tiba sudah ada di depan bangku taman.

Ia mengulurkan tangan pada bayi mungilku. Affan yang memang mudah dekat dengan siapapun, menyambutnya.

"Ayo, mau main apa?"

Affan menggerakkan dua tangannya ke arah wajah dokter muda itu. Ia meraba -raba hidung, mata juga bibirnya.

"Tumben sudah pulang kerja, Kak?"

"Ah, iya, tadi pulang lebih cepat sebab tidak ke klinik!"

Kak Reiga bicara tanpa melihat padaku. Ia sibuk dengan jari-jari Affan yang bermain di wajahnya.

"Kita begini ada yang merekam tidak? Nanti disebar di medsos lagi!"

Mantan kapten basket di SMP itu tertawa renyah setelah melempar sindiran. Rupanya ia belum move on dari perkara itu.

1
Titien Prawiro
Untuk apa punya istri lagi klo sdh punya anak. lelaki serakah, baru baca saja sdh benci banget.
Agus Tina
Lanjut thor, bila perlu vuat Resti susah ounya anak kareba sudah membunuh darah dagingnya sendiri. Dan buat Armila pergi jauh buat Andra tersiksa kerinduan pada anak yg sudah ia sakiti scr tidak langsung karena sudah menyakiti ibunya ...
Gusti Hamdiah
andranya goblok dong
Saskiah Khairani
mohon dukungannya teman² 🙏
Ma Em
Biar saja Armila dgn Reiga daripada sama Andra suami yg tdk punya pendirian plin plan biar Andra dgn Resti biar dia menyesal setelah berpisah dgn Armila .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!