NovelToon NovelToon
Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:270.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahma AR

Wina akhirnya bertemu Ardan setelah lima tahun ngga pernah ketenu. Seperti dulu, Ardan kembali mendekatinya. Dan bodohnya Wina masih saja mempercayai kalo Ardan ngga bisa melupakan dirinys.

Seperti dejavu, saingan saingan lamanya waktu sma kembali muncul. Terutama Dina yang sudah menjadi seorang dokter. Dina adalah saingan terberatnya sejak dulu dan ternyata sampai sekarang. Haruskah Mia mundur lagi seperti dulu, menghindari Ardan dan berusaha untuk melupakannya lagi?

Terimaa kasih udah baca karyaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Indah sebelum Berpisah

"Kamu makannya kok dikit, Ardan?" tanya Wina heran. Karena Ardan cuma mengambil sate ayam cuma tiga tusuk tanpa lontong.

"Aku tadi udah makan di kantor sebelum dijemput mama dan papa," kata Ardan berusaha santai.

Ardan mulai merasa ngga beres dengan lambungnya. Hanya bisa sedikit sekali kalo makan. Kalo nasi paling tiga sendok. Lebih dari itu dia akan merasa mual.

"Kalo gini, aku dong yang keliatan banyak makan," kata Wina dengan senyum malu di wajahnya.

Ardan menatapnya gemas.

"Aku suka kamu banyak makan. Nanti aku temenin kalo kamu mau makan yang lain," kata Ardan dengan wajah menggodanya.

"Iiih, apaan. Nanti si nenek bisa ngatain aku kayak ngga pernah makan sebulan," omel Wina sebal.

Ardan tergelak. Dia pernah mendengar rumor tentang betapa pedasnya mulut Oma Rosita.

"Aku juluki dia nenek gayung," bisik Wina membuat Ardan makin tergelak. Wina pun tertawa lepas.

Akhirnya keduanya memilih makan sambil berdiri.

"Ardan, ni, tambah lagi satenya," kata Wina sambil menyodorkan sate ke mulutnya.

Mungkin karena merasa senang, Ardan ngga merasa mual. Bahkan dia merasa sangat lapar.

"Bibir kamu ada kuah sate," kata Ardan sambil mengusap bibir Wina dengan tisu.

Usapan lembut itu membuat jantung Wina seakan berhenti berdetak.

Ardan pun tersenyum melihat Wina terpaku membiarkannya.

"Kayak anak kecil aja," canda Ardam membuat Mia kembali salah tingkah.

"Nih makan lontongnya," kata Wina sambil menyodorkan lontong yang ditusuk ke mulur Ardan. Tapi dengan sengaja dia mengoleskan pinggiran kuah lontomg yang berbalut kuah sate di pipi Ardan.

"Kamu malah sampai ke pipi," ejek Wina dengan wajah usilnya membuat Ardan yang tau akan perbuatan Wina jadi tertawa.

"Jangan nakal, nanti aku cium," kata Ardan pura pura mengancam setelah tawanya usai.

"Ardan mesum," ejek Wina ngga takut.

Ardan kembali tertawa. Winanya sudah kembali seperti dulu. Tapi bagi Wina, dia hanya ingin menikmati kebersamaannya saat ini. Karena besok dan besok, mama Ardan pasti akan memakinya. Sedari tadi Wina merasa tatapan Mama Ardan mengawasinya.

Akhirnya Wina mengusap kuah sate di pipi Ardan dengan tisu.

"Udah bersih," katanya manis.

Ardan tersenyum sambil meraih tisu kotor di tangan Wina dan meletakkannya di piring satenya yang udah kosong.

Seandainya dia tidak melakukan kesalahan. Momen ini sangat manis, sesal Ardan berkali kali.

"Mau makan apa lagi?" tanya Ardan menyadarkan Wina yang terpaku.

"Eh, udah lah," kata Mia malu ketahuan menatap Ardan.

"Aku temenin," kata Ardan sambil mengambil piring kosongnya dan memberikan pada pegawai katering yang kebetulan lewat.

Ardan pun menarik Wina untuk mencicipi kesukaan mereka jaman sekolah. Bakso.

"Satu mamgkok aja ya berdua," ucap Ardan membuat Wina tersenyum.

Ardan mengambil dua garpu kecil dan menyerahkan satunya pada Wina. Malam ini Ardan pun ingin menikmati kedekatannya dengan Wina tanpa bisa di ganggu mamanya.

Paling nanti pas pulang dia bakal diceramahin mamanya. Andai saja mamanya ngga punya penyakit jantung, Ardan akan mudah menolak keinginan mamanya.

Mereka pun makan bakso dengan mangkok yang sama dengan wajah memancarkan kegembiraan. Bahkan kadang Wina dam Ardan saling menyuapkan.

Mereka terlihat santai dan manis sebagai pasangan kekasih. Banyak yang memandang iri. Bahkan dokter Eri tersenyum melihat keceriaan keduanya.

Berbeda dengan Gaga, yang cukup tau hubungan Wina dan Ardan. Mengingat mama Ardan yang memaki Wina membuat dia ingin marah.

Ketika.Gaga melirik mama Ardan, Gaga yakin kepala wanita paruh baya itu udah dipenuhi asap. Gaga tersenyum kecut melihat tatapan horor wanita sombong itu pada Wina.

Gaga kembali memakan satenya dengan santai. Para tamu saat ini sedang menikmati hidangan yang sangat mewah dan lengkap.

"Nanti kamu pulang sama siapa?" tanya Ardan agak cemas, karena hari udah semakin malam dan Ardan juga ngga membawa mobil sendiri

"Mungkin sama dokter Eri."

Tadi, kan aku berangkat sana dia.

Diam diam Ardan mengetik pasan pada asistennya agar mengantarkan mobilnya ke alamat rumah Oma Rosita.

"Kamu pulang sama aku aja ya," pinta Ardan penuh harap.

"Mama papa kamu gimana?"

"Mama nanti pulang sama papa."

Wina terdiam.

"Aku akan bilang sama Eri biar ngga nyariin kamu," kata Ardan lagi.

Rasanya lebih tenang kalo Ardan sendiri yang mengantar Wina pulang.

"Nanti mama kamu ngga marah?" tanya Wina pelan.

Ardan melirik mamanya yang menatap kesal padanya. Tapi saat melihat papanya, pria itu tersenyum sambil melambaikan tangannya yang memegang sendok. Papa dan mamanya sedang menikmati cake bersana keluarga Dina.

"Malam ini aja Win. Biarkan aku ngantar kamu."

Wina pun menatap Ardan sedih. Seakan akan yang mereka lakukan adalah hal hal indah sebelum berpisah.

"Baiklah," kata Wina mencoba berdamai dengan hatinya.

Ardan menatap Wina dengan perasaan senang.

Ardan memberikan mangkok bakso yang sudah tinggal kuahnya itu pada pelayan katering yang lewat.

"Mau makan puding? Kelihatannya enak," pancing Ardan sambil menarik tangannya ke arah puding puding cantik seperti kaca.

"Hai, Ardan," sapa Tiara yang sudah berdiri di sampingnya.

Wina melirik gadis cantik yang menyapa (mantan) kekasihnya.

Wajahnya langsung keruh. Wina ingat gadis ini yang berciuman mesra dengan Ardan.

"Puding?" tanya Tiara lagi yang ngga mendapat respon dari Ardan.

Tiara pun mengulurkan sepiring kecil yang berisi sepotong puding buah.

"Sayang kamu mau puding apa?" tanya Ardan sambil menatap Wina dan membiarkan puding yang diulurkan padanya.

"Hei."

Ardan yang menyadari kekesalan di wajah Wina mentowel pipinya sambil tersenyum.

"Stroberi?" tanya Ardan lagi dan hanya mendapat anggukan Wina.

Tiara dengan malu menarik tangannya yang dicuekin Ardan. Beberapa orang menatapnya kasihan.

"Sorry, pacarku maunya stroberi," kata Ardan pada Tiara, hanya sebagai etika kesopanan, juga karena Tiara datang bersama orang tuanya.

"It's oke," kata Tiara senang karena ditanggapi juga oleh Ardan.

Ardan kembali menarik tangan Wina menjauhi Tiara.

Gadis itu berpenanpilan sangat wah. Tapi setelah diputusin Wina, niatnya untuk iseng dengan gadis gadis juga sirna. Memang aneh.

Sekarang dia hanya ingin memperbaiki image baiknya yang sudah hancur gara gara sampai tergoda dengan Tiara.

"Jangan cemberut lagi," kata Ardan berusaha membujuk karena kini Wina hanya diam saja.

Ardan menghela nafas. Suasana manis tadi sudah lenyap.

"Jangan marah Win," bujuk Ardan lagi.

Tapi rasa cemburu sudah memenuhi rongga dada Wina. Wina sebenarnya ngga mau begini, tapi mood cerianya tadi benar benar sudah hilang.

Kini keduanya saling dian. Ardan masih memotong pudinngnya

"Ayo di makan," kata Ardan lembut sambil menyuapkan puding tersebut pada mulut Wina yang terbuka

Ardan tersenyum, kemudian menyuapkan puding itu ke mulutnya sendiri.

Wina menatap wajah tampan Ardan yang sedang memakan pudingnya.

"Kenapa?" tanya Ardan balik menatapnya

"Ngga pa pa," jawab Wina sambil mengambil sesendok puding dan menyuapkannya pada Ardan yang tentu saja menerimanya dengan senang hati.

Wina mencoba menyimpan wajah Ardan yang sedang tersenyum di hatinya.

Dia berusaha mengingatkan hatinya, kalo malam ini adalah malam terakhirnya dengan Ardan.

Setelah ini dia akan melupakan laki laki yang penuh pesona ini untuk membuka lembaran baru.

1
Lia Kiftia Usman
suka part ini... baca ulang2🤭
Lia Kiftia Usman
suka karakter papa ardan...bagaimanapun keadaannya ... keluarga tetap prioritas utama, ardan juga hormat, sayang ke mamanya...
Lia Kiftia Usman
bagus... suka... karena alur ceritanya menegangkan tapi singkat dan menyenangkam
Lia Kiftia Usman
mobilnya dianter ke hotel.... ardan
Pujierde
hahaha nenek gayung judesnya sama yaks 🤭🤭
Pujierde
Luar biasa
Youleannaa
bagus
Deandra Putri
nah lohhh... sodaraan ternyata..🤭🤭🤭🤭🤭
Deandra Putri
ibu rasa monster...hiiii...
Deandra Putri
ah, gak seru emaknye gak jantungan lagii
Deandra Putri
semoga jantungnya langsung putus
Deandra Putri
nah loh... kena kan sama anak sendiri, baik atau buruk pasti akan kembali kpd diri kita sendiri
Deandra Putri
lagipula Wina, dokter eri lebih potensial dan keluarganya juga baikkkkkkk bgt... hdup kamu kayaknya bakal sejahtera KLO sama dokter eri
Deandra Putri
mending pindah hati aja gak sih Wina? sama dokter eri baik, ganteng, kaya dan keluarganya mendukung..gak bakal makan ati KLO jadi mantu dirumah itu
Deandra Putri
tuh kann benerr.. dipanas2in terus biar putus
Deandra Putri
dan rencana orang tua Ardan berhasil...
Deandra Putri
Nemu lagi ibu mertua jahat..
Deandra Putri
laki laki kok GK ada tegas2nya
Siti Sarifah
Luar biasa
falea sezi
qm gk pantes dapet Wina ardan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!