Novel ini lanjutan dari BU GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA, jadi biar nyambung di harapkan baca kisah RAQILA dulu🙏🙏
Rama Edrik Abraham merupakan putera sulung dari Raffa dan Aqila, saat ini Edrik sedang berada diusia pubernya. Edrik tumbuh menjadi anak yang berbeda, masuk geng motor, urakan, pergaulan bebas, membuat kedua orang tuanya pusing tujuh keliling menghadapi sikap keras Edrik.
Berbeda dengan Kakaknya, Rakka Endro Abraham merupakan anak yang penurut, pendiam, dan lebih kalem.
Kehadiran Alisya Anggun Almira yang merupakan murid baru di sekolah mereka, membuat kehidupan kedua Kakak beradik itu jungkir balik. Wajahnya yang cantik membuat semua orang jatuh cinta kepadanya termasuk Edrik dan Raka.
Siapa yang nantinya akan di pilih oleh Alisya, apakah Edrik pria sombong dan tak terbantahkan? ataukah Raka, pria kalem dan baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 ( Pura-pura Lupa )
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
Waktu pun berjalan dengan cepat, tidak terasa dua minggu sudah Icha mengalami koma dan selama itu juga Edrik tidak pernah beranjak dari sisi Icha bahkan Edrik tidak berangkat ke kantor.
Edrik tampak lemas dan tidak bersemangat, Edrik sudah jarang makan dan jarang tidur juga dia tidak mau kalau Icha sadar dan dia tidak ada disisinya.
"Cha, sudahan dong ngambeknya ayo bangun jangan buat aku seperti ini. Aku sudah nyerah dan mengaku kalah, ayo bangun marahi dan pukuli aku, aku janji ga bakalan ngelawan," gumam Edrik dengan masih menggenggam tangannya.
"Memangnya kamu ga rindu apa, bertengkar denganku. Please aku mohon bangunlah."
Edrik tak henti-hentinya berbicara kepada Icha.
Ceklek...
"Bang, kamu aku bawain kamu makan, kamu makan dulu ya," seru Raka.
"Aku ga lapar, Raka."
"Bang jangan begini, aku yakin disaat Icha sadar nanti dia bakalan ngamuk sama kamu, dan kamu harus banyak makan supaya kamu kuat menghadapi amukan singa betina," seru Raka berusaha menghibur Edrik.
"Iya Bang, kan ga lucu pas Icha sadar, Abang malah sakit," sambung Rima.
"Baiklah, aku makan."
"Nah gitu dong, sebentar ya Rima siapkan makanan untuk Abang."
Rima pun dengan cekatan menyiapkan makanan untuk Edrik.
Ceklek...
"Selamat pagi semuanya," sapa Juna.
"Yaelah, manten baru cerah banget wajahnya," ledek Raka.
Juna datang kesana bersama Niken, satu minggu yang lalu Juna dan Niken sudah resmi menjadi pasangan suami istri, meskipun diantara mereka belum ada cinta tapi Juna dan Niken berusaha membuat pasangannya merasa bahagia dengan cara mereka masing-masing.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan rawat inap Icha pun kembali terbuka dan menampilakan wajah Riana dan Fiko.
"Wuidih lagi kumpul-kumpul nih," seru Fiko.
Kebetulan hari ini adalah hari minggu, jadi semuanya bisa kumpul bareng.
"Ri, kayanya kamu cocok deh sama Fiko," seru Rima.
"Idih ogah, hancur dunia persilatan kalau aku sampai menikah sama dia," ketus Riana.
"Yeee...siapa juga yang mau nikah sama cewek galak dan bar-bar kaya kamu," sahut Fiko.
"Ih aku juga ga mau nikah sama cowok konyol kaya kamu, aku tuh ya pengen nikah sama seorang Dokter," seru Riana.
"Buahahaha...mana ada Dokter yang mau sama modelan kaya gini, istri Dokter itu harus anggun, kalem ga kaya kamu cerewet, galak," ledek Fiko.
"Lihat saja, aku bakalan dapetin calon suami Dokter, aku bakalan minta bantuan Icha dan Rima untuk kenalin aku ke teman-temannya."
"Bodo..."
"Astaga, berisik banget sih kalian," seru Edrik.
"Maaf Bang Ed, si Fiko duluan tuh yang mulai."
Tiba-tiba tangan Icha bergerak, Rima yang saat ini sedang duduk di samping Icha menyadarinya.
"Ya ampun, tangan Icha bergerak," seru Rima.
Edrik langsung berlari mendekati Icha..
"Cha bangun Cha, ini aku."
"Aku telpon Dr.Zaki dulu soalnya hari ini Dr.Zaki libur," seru Rima.
Perlahan Icha mulai membuka matanya, membuat semua orang yang ada disana merasa sangat bahagia.
"Alhamdulillah..." seru semuanya beraamaan.
Tidak lama kemudian Dr.Zaki pun tiba, semuanya tampak menyingkir dan memberikan ruang untuk Dr.Zaki memeriksa Icha. Semuanya tampak antusias memperhatikan Icha.
"Cha, apa kamu bisa melihat aku?" tanya Zaki.
Icha menganggukkan kepalanya...
"Apa aku kenal siapa aku?"
"Dr.Zaki..." lirih Icha.
"Bagus, semuanya sudah sehat."
Zaki pun melepas semua peralatan yang menempel di tubuh Icha kecuali infusan. Icha terlihat melihat kesekeliling ruangan itu yang penuh dengan orang-orang yang dia sayangi.
"Cha, kamu sudah sadar. Syukurlah," ucap Edrik dengan mata yang berkaca-kaca.
Edrik langsung memeluk Icha saking bahagianya.
"Kamu siapa?" lirih Icha.
Deg....
Edrik melepaskan pelukkannya dan menatap Icha tidak percaya, bahkan semua orang disana pun merasa sangat terkejut.
"Maksud kamu apa? kamu jangan bercanda Cha," seru Edrik.
Zaki segera memeriksa Icha kembali...
"Coba kamu sebutkan satu persatu orang yang ada disini," seru Zaki.
Icha pun mulai menyebutkan semua orang yang ada disana.
"Terus yang ini siapa?" tanya Zaki dengan menepuk pundak Edrik.
Icha terdiam dan menggelengkan kepalanya..
"Aku ga kenal dia," sahut Icha.
Jedddaaaaarrrrr....
Bagai tersambar petir di siang bolong, Edrik merasa sakit sungguh sangat sakit, kenapa hanya Edrik yang tidak Icha ingat.
"Cha, kamu jangan bercanda itu sungguh tidak lucu," seru Raka.
"Memangnya dia siapa? kenapa aku mesti kenal dengan dia?" sahut Icha.
Semuanya tampak terkejut, mereka tidak menyangka kalau Icha bakalan lupa kepada Edrik.
"Cha, dia Bang Edrik pacar kamu," seru Riana.
"Pacar? pacar aku pergi entah kemana, bahkan dia tidak pernah menghubungiku," sahut Icha lemah.
Edrik sampai limbung mendengar ucapan Icha..
"Dr.Zaki bagaimana ini, masa Icha lupa kepada satu orang saja?" tanya Rima.
"Begini saja, tolong kalian keluar dulu biar saya periksa keadaan Icha."
"Baiklah..."
Semuanya pun keluar, dan sekarang hanya tinggal Zaki dan Icha berdua. Zaki melipat tanganny di atas perut dan menatap tajam ke arah Icha, sedangkan Icha tampak membuang wajahnya ke arah lain supaya tidak melihat tatapan Zaki.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Zaki.
"Melakukan apa?"
"Pura-pura lupa, padahal kenyataannya kamu baik-baik saja."
Zaki ternyata tahu kalau Icha sedang berpura-pura, Icha ingat kepada Edrik cuma dia pura-pura tidak ingat karena Icha sudah terlanjur benci kepada Edrik.
"Aku tidak mau mengingat dia lagi."
"Kenapa?"
"Buat apa mengingat suami orang Kak, itu hanya membuatku tambah sakit dan terluka walaupun pada kenyataannya aku tidak akan pernah bisa melupakan dia," sahut Icha lemah bahkan saat ini airmatanya sudah kembali menetes.
"Suami orang? siapa yang kamu maksud suami orang? Edrik?"
Icha diam tidak menjawab pertanyaan Zaki..
"Edrik itu belum menikah."
"Iya, dan sebentar lagi akan menikah," sahut Icha.
"Edrik tidak jadi menikah dengan Niken, yang aku dengar Niken justru sudah menikah dengan Juna."
"Apa? maksud Kakak apa?"
"Aku dengar, Juna bersedia menikahi Niken demi kalian."
Icha sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi, ternyata Edrik memang tidak menikah dengan Niken.
"Kakak serius?" tanya Icha terkejut.
"Serius, bahkan pernikahannya pun sudah berlangsung satu minggu yang lalu."
"Jadi----"
"Jadi Edrik tidak menikah, kamu koma selama dua minggu dan selama itu pula dia nungguin kamu terus disini bahkan dia rela cuti dari kantornya hanya untuk nungguin kamu," jelas Zaki.
Ada sedikit perasaan bersalah dihati Icha, tapi dia sudah terlanjur pura-pura hilang ingatan.
"Terus sekarang apa yang mau kamu lakukan?" tanya Zaki.
"Kak tolong bantu aku, walaupun dia tidak menikah tapi aku tetap saja masih merasa kesal dan jengkel sama dia karena dia tidak mau berterus-terang sama aku. Jadi aku mohon Kakak tetaplah berpura-pura bilang kalau aku hilang ingatan."
"Hei, kita itu sudah disumpah masa aku harus memalsukan rekam medis kamu itu namanya pelanggaran," seru Zaki.
"Kak please, bantu aku sekali ini saja aku ingin kasih pelajaran sama tuh bule gila," rengek Icha.
Zaki tampak berpikir sejenak...
"Aku nangis nih..." ancam Icha.
Icha sudah bersiap-siap akan menangis tapi Zaki menghentikannya.
"Stop..oke-oke aku akan membantu kamu."
"Yeayyy...terima kasih Kak."
"Ya sudah sekarang kamu istirahat, bagaimana pun juga kamu baru sadar dari koma kamu dan kamu masih membutuhkan banyak istirahat. Aku keluar dulu mau memberitahukannya kepada Edrik."
"Iya, terima kasih Kak," ucap Icha dengan memberikan finger love kepada Zaki.
Zaki hanya geleng-geleng dan terkekeh melihat tingkah konyol Dokter cantik itu.
Ceklek...
Semua orang melihat ke arah Zaki...
"Edrik, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya."
"Bisa Dok."
Edrik pun mengikuti Zaki ke ruangannya, sementara yang lainnya masuk ke dalam ruangan inap Icha.
"Silakan duduk."
"Terima kasih."
"Begini Edrik, sepertinya akibat benturan keras dikepalanya Icha mengalami amnesia retrograde."
"Apa itu?"
"Sebuah amnesia yang kesulitan mengingat masa lalu, bisa jadi orang itu merasa sakit hati di masa lalu dan sangat membenci seseorang sehingga sebagian memorinya menjadi hilang."
"Apa Icha bisa sembuh?"
"Bisa, itu sifatnya sementara tidak permanen jadi masih bisa diobati. Kamu terus saja mengajak dia bicara supaya dia mengingat semuanya tapi ingat, jangan dipaksa."
"Baik Dok, terima kasih kalau begitu saya permisi dulu."
Edrik pun keluar dari ruangan Zaki dengan langkah gontai dan tidak bersemangat. Ponsel Edrik berbunyi tanda ada notif pesan masuk.
"Bang, kita semua pulang dulu soalnya Icha sedang istirahat nanti sore kita ke rumah sakit lagi."
Itulah isi pesan yang dikirim oleh Raka..
Perlahan Edrik membuka pintu ruangan rawat inap Icha, dilihatnya Icha sedang tertidur. Edrik kembali mendekat dan menggenggam tangan Icha.
"Maafkan aku Cha, aku sudah sangat melukai hati dan perasaanmu sepertinya kamu sangat membenciku makannya hanya aku yang kamu lupakan. Maafkan aku yang tidak bisa berterus terang dari awal, sungguh aku tidak mau berada di posisi seperti itu tapi percayalah dari dulu sampai sekarang hanya namamu yang terukir dihatiku tidak ada yang lain," seru Edrik.
Edrik pun mencium tangan Icha, Edrik beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Perlahan Icha membuka matanya, sebenarnya dari tadi Icha tidak tidur dan Icha mendengar apa yang barusan Edrik ucapkan.
"Maaf Bang bule, walaupun aku belum tahu apa alasan kamu bersikap seperti ini tapi aku harus tetap menjalankan rencanaku, aku ingin lihat seberapa seriuskah kamu sama aku dan seberapa kerasnya kamu meyakinkan aku," batin Icha.
Pintu kamar mandi pun terbuka dan Icha pun kembali menutup matanya pura-pura tidur. Edrik melihat ke arah Icha, dan dia pun mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tubuh dan pikirannya begitu sangat lelah, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Edrik pun masuk ke alam mimpinya.
.
.
.
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU