WARNING!!! BIJAKLAH MEMBACA!!! NOVEL DEWASA!!! JIKA TIDAK SUKA SKIP SAJA .
Laura Elsabeth Queen tidak menduga ia akan bertemu kembali dengan Zafran Volkofrich mantan kekasihnya, di acara ulang tahun teman sekelas mereka, 10 tahun yang lalu mereka berpisah dengan tidak damai, orang tua Laura menentang keras hubungan mereka karena Zafran pria miskin. Zafran masih sakit hati pada Laura dan ingin membalas dendam.
Di sisi lain Laura mengetahui rahasia kedua orang tuanya setelah mereka meninggal, dan kini beban berat berada di pundak Laura.
Sedangkan Zafran pria miskin itu kini telah berubah menjadi penguasa dunia bisnis.
Bagaimana kisahnya yuk baca kelanjutannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35
Laura bertanya pada Zafran dengan malu-malu, gadis itu tidak berani menatap wajah Zafran.
"Mansion ini di bangun persis dengan desain yang kita gambar, kau harusnya tahu dimana ruangan itu." Kata Zafran tersenyum.
"Cobalah kau cari sendiri." Sambung Zafran dengan senyuman.
Laura melangkah keluar dari ruang baca. Ia berhenti sejenak, memandangi keseluruhan bangunan. Ada perasaan aneh, akrab, aneh, seolah kakinya tahu ke mana harus melangkah.
"Aku sangat hafal desain Mansion yang ku gambar dengan Zafran saat masih sekolah, impian kami berdua, impian kekanak-kanakan kami.” Kata Laura dalam hatinya.
Langkah Laura pelan, menyusuri lorong demi lorong. Zafran mengikutinya dari belakang, menjaga jarak. Dadanya terasa lega, hangat. Ia tersenyum tipis, seharusnya sejak dulu ia sadar, Laura adalah satu-satunya gadis yang pernah benar-benar ia cintai. Namun ego dan luka masa lalu telah lama menutupi perasaannya sendiri.
"Apakah ini?" Laura menoleh dan tersenyum pada Zafran. Senyum itu muncul begitu saja, tanpa ia sadari. Entah mengapa, sikap Zafran saat ini membuat dadanya hangat, seperti bertemu kembali dengan sosok yang dulu ia kenal.
"Bukalah." Kata Zafran lembut sambil tersenyum.
Laura membuka pintu besar di hadapannya.
Cahaya langsung menyambutnya hangat dan lembut, memancar dari jendela-jendela besar yang memenuhi ruangan itu. Untuk sesaat, Laura merasa seolah kembali ke masa remajanya, ke hari-hari ketika segalanya masih sederhana dan penuh mimpi.
Dulu, Laura dan Zafran pernah sepakat. Mereka ingin membangun sebuah ruangan khusus, tempat menyimpan kenangan saat masih berpacaran.
Sebuah ruang yang hanya akan diisi oleh hal-hal kecil, remeh, namun berarti bagi mereka berdua.
Langkah Laura melambat. Pandangannya tertarik pada sebuah lukisan yang tergantung rapi di dinding. Ia mendekat, ujung jarinya menyentuh kanvas itu dengan hati-hati, seolah takut merusak ingatan yang melekat di sana.
“Aku ingat… kita melukis ini bersama.” Ucap Laura pelan.
Zafran berdiri di belakangnya, menatap punggung gadis itu dengan senyum yang nyaris tak terlihat.
“Kemarilah.” Katanya lembut.
Zafran menarik tubuh Laura perlahan dari belakang, tidak memaksa, hanya mengarahkan. Laura terhenti di depan sebuah dinding lain, dipenuhi foto-foto mereka. Tersenyum, tertawa, cemberut, bahkan foto-foto konyol yang nyaris terlupakan oleh waktu.
Laura terdiam.
“Astaga…” Napasnya tertahan.
”Zafran, bagaimana mungkin kau menyimpan semua ini?”
Zafran menatap dinding itu, lalu Laura.
“Karena bagiku…” katanya rendah, “tidak ada satu pun dari kenangan itu yang benar-benar hilang.”
Laura menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca. Ruangan itu bukan sekadar tempat, ia adalah bukti. Bahwa di balik jarak, luka, dan kesalahpahaman, ada cinta yang diam-diam bertahan.
Dan di tengah cahaya pagi yang lembut, kenangan itu akhirnya menemukan rumahnya kembali.
Laura menutup mulutnya, gadis itu menitik kan air di sudut matanya.
"Aku selalu menyimpannya, aku mencuci dan mencetaknya sendiri." Zafran memandangi semua foto tersebut dengan kepuasan dan kelegaan.
"Apakah ini foto ketika pertama kali kita berkencan?" Tanya Laura mengambil pigura kecil yang berdiri di atas meja.
"Hm... Saat itu kau sakit perut.... Karena..."
"Jangan katakan itu Zafran... Aku akan malu." Laura memukul dada Zafran pelan.
Zafran tertawa mengingat betapa menggemaskannya Laura saat itu.
"Kenapa kau dulu menahan untuk buang air?"
"Aku bilang jangan di bahas Zafran..." Laura mencubit lengan kekar Zafran.
"Saat itu aku sangat malu, karena itu adalah kencan pertama kita, dan aku minum terlalu banyak karena gugup."
"Dan kau akhirnya sakit perut karena menahannya... Kita harus mencari kamar mandi umum terdekat." Kata Zafran tersenyum.
"Aku sudah katakan jangan dibahas lagi..." Laura memukul Zafran lagi, namun kali ini Zafran menangkap tangan Laura dan menggenggamnya.
"Aku mencintaimu..." Kata Zafran.
"Aku sangat mencintaimu..." Zafran memandang Laura dan mendekatkan wajahnya.
Zafran merengkuh Laura dengan hati-hati. Satu tangannya bertumpu di pinggul Laura, menahannya agar tetap dekat, sementara tangan lainnya menggenggam jari-jari Laura erat, seolah takut kehilangan lagi.
"Aku ingin mencium mu." Pinta Zafran jujur.
Laura menutup mata. Bukan karena ragu, melainkan karena percaya.
Ciuman itu datang lembut, nyaris seperti sentuhan kenangan. Hangat. Penuh rindu yang lama dipendam. Bukan desakan, bukan paksaan, hanya perasaan yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Kerinduan akan masa lalu yang pernah mereka miliki, dan harapan akan masa depan yang masih mungkin.
Laura membalasnya dengan pelan. Mereka saling mendekap, saling menggenggam, seolah dunia di luar ruangan itu berhenti berputar. Dalam keheningan yang sarat makna, hanya ada dua hati yang belajar percaya kembali.
Dan di antara cahaya yang memantul dari jendela-jendela besar, cinta itu, yang sempat terluka, akhirnya berani bernapas lagi.
***
Zafran meninggalkan Laura di Mansion itu dengan hati yang sedikit lebih tenang. Ia percaya, setidaknya untuk saat ini, Laura akan baik-baik saja. Wajah gadis itu sudah tidak lagi sepucat tadi malam, dan sorot matanya perlahan menemukan kembali cahayanya.
Sebelum pergi, Zafran memberi pesan tegas pada para pengawal dan pelayan.
“Mulai sekarang…” Ucapnya dingin namun pasti, “Laura adalah Nyonya di Mansion ini. Semua perintahnya setara denganku. Jangan ada yang berani membantah.”
Tak satu pun dari mereka membantah. Kepala-kepala menunduk penuh patuh.
Perjalanan menuju tempat tinggal yang biasa ia tempati tak memakan waktu lama. Mobil melaju dalam keheningan, sementara pikiran Zafran dipenuhi bayangan Laura, senyumnya yang rapuh, tatapan matanya yang masih menyimpan sisa luka.
Begitu mobil berhenti, Zafran melihat Stark sudah menunggu di depan. Pria itu segera membukakan pintu mobil dengan sikap sigap.
“Selamat datang kembali Tuan. Bagaimana keadaan Nona Laura.” Sapa Stark dengan sopan.
“Sudah lebih baik.” Jawab Zafran.
Zafran melangkah turun, wajahnya kembali dingin dan terkendali. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang sedang ia siapkan, sesuatu yang tidak akan ramah bagi siapa pun yang masih berani menyentuh atau mengancam Laura.
“Bagaimana perkembangan terakhir?” Tanya Zafran singkat.
Stark menarik napas kecil sebelum menjawab.
“Semua sudah siap, Tuan. Kita hanya menunggu perintah Anda.”
Zafran mengangguk pelan.
“Bagus,” kata Zafran.
“Sekarang… kita selesaikan semuanya.”
Langit sore tampak tenang. Namun Zafran tahu, badai berikutnya akan segera dimulai.
“Dimana dia?”
"Ada di ruang bawah tanah tuan."
Zafran kemudian berjalan dengan cepat diikuti Stark menuju ruang bawah tanah.
Terlihat Gaby sangat berantakan, rambutnya acak-acakan dan bajunya serba terbuka.
"Kenapa dia?" Tanya Zafran.
"Ehem..." Stark malu dan berdehem canggung.
"Dia... berusaha menggoda saya dengan tubuhnya agar saya melepaskannya, dia membuka pakaiannya sendiri, tidak mau makan, tidak mau apapun, pelayan datang untuk mengganti bajunya pun ia tidak mau."
"Apa dia gila.”
"Sepertinya hanya pura-pura." Jawab Stark.
Kemudian Zafran mendekat pada Gaby, dan wanita itu berbalik melihat siapa yang datang.
"Zafraan... Kau datang... Bukan aku Zafran, aku tidak mungkin melakukan itu, kau tahu kan?" Kata Gaby ingin memeluk Zafran namun dengan cepat Stark menghadangnya, Zafran memundurkan badannya seolah ia tidak ingin di sentuh. Merasa jijik.
"Adalah kesalahan ku... Pernah bermain dan bersenang-senang denganmu, tapi tak lebih dari satu hari aku sudah bosan denganmu, dan kau masih tidak menyadari itu, aku memberikanmu waktu untuk pergi sendiri namun kau justru terus menempel padaku dan merencanakan kejahatan, untuk mencelakai Laura."
“Zafran… Aku mohon, jangan tinggalkan aku…”
Tangis Gaby pecah. Suaranya serak, tubuhnya gemetar di kursi besi.
Zafran berdiri tenang di hadapannya. Wajahnya tak menunjukkan emosi, seolah air mata itu tak berarti apa-apa.
“Apa uang yang kau terima masih belum cukup mengobati rasa haus dan ketamakanmu?” tanyanya datar. Dengar, aku sudah membunuh Ramon, dan ku pastikan kau akan menyesal sampai seumur hidupmu."
"Apa...! Kenapa kau membunuh adikku dasar bedebah!” Teriak Gaby.
Zafran kemudian mencengkram rahang Gaby.
"Aku bedebah dan kau pelacur. Kita sudah impas!"
"Aku akan membunuh Laura, membalas semua dendamku."
"Sebelum kau membunuhnya, aku akan lebih dulu menghabisimu." Kata Zafran.
"Ya... Bunuh lah aku... Bunuh aku Zafran, bunuh aku sekarang, dan Laura akan jijik denganmu, kau adalah seorang pembunuh!” Teriak Gaby.
"Tutup mulutmu!” Zafran semakin keras mencengram rahang Gaby dan kemudian menghempaskan gadis itu ke lantai.
Dengan kesal Zafran kembali naik menuju lantai utama, dan membiarkan Gaby tetap berada di ruang bawah tanah.
Saat kemudian Zafran ada di ruangannya dan di susul oleh Stark.
"Apa ada perintah Tuan."
"Kita tidak bisa melepaskan dia begitu saja, wanita itu sangat berbahaya, apalagi untuk Laura." Kata Zafran datar.
"Aku harus pulang, Laura pasti sedang menungguku."
"Baik tuan."
Dengan semangat dan suasana hati yang baru Zafran kembali pulang menuju Mansion.
Zafran teringat kalimat Gaby yang cukup membuatnya khawatir.
"Edward benar, seharus nya aku tidak bermain-main dengannya." Kata Zafran memandangi jalanan yang cukup lengang.
Sebuah kesalahan besar Zafran memiliki permainan dengan Gaby, dan ia menyesali semua itu, bukan karena Gaby selalu menghambur-hamburkan uang nya namun masalah yang di timbulkan wanita itu sangat mengerikan, terlebih Zafran tidak ingin kejadian yang menimpa Laura terulang lagi apalagi hingga membuat Laura dalam bahaya.
"Putar balik, kita pergi ke pemakaman." Kata Zafran pada sang supir.
"Baik Tuan."
Supir memutar balik mobil mewah Zafran dan menuju tempat yang Zafran maksud.
Tak butuh waktu lama dan beberapa mobil telah terparkir di halaman tempat pemakaman dengan setengah pengawal bersiaga di sana, dan setengahnya lagi bersama Zafran masuk ke dalam area pemakaman.
"Aku datang lagi..." Sapa Zafran di depan pusara kedua orang tua Laura.
Bersambung\~