Bagaimana rasanya ditinggal untuk selamanya oleh kedua orang tua, dan mempunyai ibu tiri yang yang gila harta, menjual anak tirinya kepada lelaki kaya demi uang, inilah yang dirasakan Lusiana gadis malang yang dijual ibu tirinya demi dirinya sendiri, dan harus menikah dengan pria yang membelinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34 Gagalnya Pernikahan
Tama dan Lusiana akhirnya sampai juga di acara pernikahan Adam dan Nurin, Tama masih ragu untuk masuk kedalam gedung pernikahan.
"Lho, kenapa kok kamu berhenti?" tanya Lusiana yang melihat langkah Tama terhenti.
"Kamu aja deh masuk aku tunggu di mobil aja"
"Kenapa lagi?"
"Aku malas aja masuk kedalam"
"Nggak, barusan dirumah kamu bilang mau ikut, sekarang kamu nggak mau masuk, percuma aja dong kamu ikut kesini"
"Ya, itung-itung aku mengantarkan kamu aja"
"Ayok ah" Lusiana menarik tangan Tama untuk masuk kedalam
"Iya, iya, yaudah aku masuk nih, tapi kita cuma sebentar aja ya, selesai akad nikahnya kita langsung pulang"
"Iya"
Semua orang telah bersiap untuk menyaksikan akad nikah Adam dan Nurin. Adam telah duduk didepan penghulu, Adam melihat kedatangan Tama dan Lusiana.
"Syukur deh, akhirnya mereka datang juga, setidaknya aku punya keluarga di acara sakral ku ini" ucap Adam dalam hatinya.
Tak lama kemudian Nurin juga datang dengan didampingi oleh kedua orangtuanya, karena kedua mempelai telah ada, maka acara akad nikah akan segera dimulai. Papa Nurin menyampaikan sepatah dua patah kata terlebih dahulu sebelum acara akad nikah dimulai. Dan kini tibalah saatnya acara inti untuk dimulai, yaitu akad nikah.
"Gimana apakah kedua mempelai sudah siap?" tanya penghulu
"Iya, siap pak" jawab Adam dan Nurin serentak.
"Yaudah, kalau gitu mari kita mulai aja acaranya, pak silahkan" ucap penghulu kepada papanya Nurin yang akan menjadi wali nikahnya Nurin.
"Baik" papanya Nurin mengulurkan tangannya, dan dengan segera Adam menjabat tangan calon papa mertuanya itu. Namun kepala Adam terasa pusing, Adam mencoba untuk menahannya, tetapi ia tak kuasa akhirnya Adam tumbang juga, seketika keadaan menjadi riuh melihat Adam pingsan.
"Mas..,mas" Nurin mencoba memanggil nama Adam namun tak ada sahutan dari Adam.
"Pa, ma, bagaimana ini?" tanya Nurin panik
"Yaudah, kita bawa aja kerumah sakit" kata mama Nurin
Tama yang melihat kejadian itu tak menunjukkan reaksi apapun, dia hanya diam terpaku ditempat duduknya, padahal semua orang telah sibuk untuk membawa Adam kerumah sakit.
"Kita pulang sekarang" kata Tama yang mengagetkan Lusiana.
"Pulang bagaimana? papa kamu itu pingsan, kita susul kerumah sakit ya"
"Kita kesini buat menyaksikan pernikahan mereka, karena mereka nggak jadi nikah, yaudah ngapain kita lama-lama disini" ucap Tama santai.
"Papa kamu itu masuk rumah sakit lho, kamu nggak penasaran papa kamu sakit apa?, itu papa kandung kamu, kamu nggak boleh gitu lah" Lusiana mencoba membujuk Tama.
"Itu nggak ada urusannya dengan ku, selama ini dia bisa ngurus dirinya sendiri kan, kenapa sekarang nggak bisa, apalagi sekarang ada Nurin kan"
"Iya, tapi kamu anaknya, kamu setidaknya cobalah untuk berbakti kepada papa mu"
"Aku nggak mau memperdebatkan masalah yang nggak penting disini, kalau kamu mau pulang ayok, kalau tidak yasudah terserah kamu aja" Tama berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menuju keluar aula namun segera disusul oleh Lusiana.
*Di Rumah Sakit*
"Dok.... dokter.." teriak Nurin memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Adam
"Mba dan keluarga tunggu disini dulu ya, saya akan memeriksa keadaan pak Adam " ucap dokter Beni kepada Nurin yang menerobos untuk masuk kedalam, Adam dibawa kerumah sakit miliknya.
"Kamu tenang ya nak, biarkan dokter memeriksa keadaannya dulu" kata mamanya Nurin untuk menenangkan anaknya.
"Makanya apa yang papa bilang, dia itu udah tua, belum sempat nikah aja, kamu yang ngurusin dia, sampai kapan kamu mau mengurus laki-laki tua itu" ucap papa Nurin yang kesal melihat anaknya mencemaskan Adam.
"Papa kok ngomong gitu sih, walau bagaimanapun jika mas Adam sadar nanti kami akan tetap melanjutkan pernikahan"
"Nggak, papanya nggak mau kamu terjebak lagi didalam kehidupan laki-laki tua itu, kalian belum sempat menikah jadi kamu nggak usah memikirkan dia lagi"
"Nggak pa, Nurin mau disini menemani mas Adam sampai sembuh" Nurin bersikeras untuk tetap merawat Adam.
"Sayang, papa mu benar, dia punya anak biarkan anaknya yang mengurusnya" kata mamanya Nurin.
"Tama nggak ada disini ma, kalau Nurin beritahu Tama belum tentu juga dia mau datang ma, mereka aja lagi nggak baikan ma"
"Coba deh kamu telfon dulu" kata mamanya Nurin.
"Yaudah, Nurin coba hubungi Tama dulu"
Nurin mencoba menghubungi Tama berulang kali, namun tak diangkat juga oleh Tama, akhirnya Nurin mencoba untuk menghubungi Lusiana.
"Halo Lus, Tama mana?" tanya Nurin ditelfon
"Ada ni tunggu bentar ya" Lusiana memberikan telfonnya kepada Tama
"Siapa?" tanya Tama
"Nurin mau ngomong penting"
"Bilang sama dia, aku nggak ada dirumah"
"Kok kamu gitu, ngomong aja sebentar, kasihan Nurin pasti panik mengurus papa kamu sendirian" ucap Lusiana berusaha membujuk Tama.
"Siapa yang menyuruhnya untuk mengurusi laki-laki tua itu, pokok nya aku nggak mau bicara sama dia" ucap Tama
"Hallo Nurin, memangnya ada apa?" tanya Lusiana
"Tama nya mana?" tanya Nurin yang masih mendengar suara Lusiana.
"Tama nggak mau ngomong, kamu ngomong sama aku aja, ada apa, apa papa Adam baik-baik aja?" tanya Lusiana penasaran.
"Aku nggak tau juga, sekarang dia lagi diperiksa dokter, tapi sampai sekarang dokter belum selesai memeriksanya"
"Aku minta maaf ya, aku belum berhasil membujuk Tama untuk datang kesana"
"Kamu harus berusaha terus ya, untuk membujuk Tama agar dia mau datang kesini"
"Iya pasti, aku akan usahakan"
"Iya, soalnya nggak mungkin juga aku selalu berada di rumah sakit ini, papa mama aku nggak mengizinkan"
"Iya, tapi untuk malam ini aku minta tolong ya, kamu jagain papa Adam dulu, besok pagi aku akan datang kerumah sakit"
"Yaudah, aku tunggu besok ya"
"Gimana?" tanya mama Nurin ketika melihat anaknya telah menutup telfon.
"Tama nggak mau datang sekarang ma" ucap Nurin
"Anaknya aja nggak mau ngurusin papanya, jadi ngapain kamu yang harus mengurusnya" ucap papa Lusiana kesal.
"Tapi besok pagi, Lusiana akan datang pa"
"Siapa itu Lusiana?" tanya papa Nurin
"Istrinya Tama pa"
"Kenapa nggak sekarang aja dia datang, bagaimanapun juga dia yang lebih berhak merawat laki-laki tua itu, karena dia menantunya"
"Iya, tapi nggak masalah juga jika Nurin yang menjaga mas Adam untuk malam ini, lagian Nurin iklas kok"
"Tapi papa yang nggak iklas, pokoknya kamu harus ikut dengan papa pulang sekarang" papa Nurin menarik tangan Nurin untuk pulang.
"Nggak pa, Nurin nggak mau pulang, kasihan mas Adam sendirian disini" Nurin melepaskan tarikan papanya.
"Kamu lebih kasihan sama laki-laki tua itu dibandingkan papa!?"
"Bukan gitu pa, tapi Nurin nggak bisa ninggalin mas Adam sekarang apalagi dokter belum keluar juga sampai sekarang"
Dan akhirnya setelah menunggu lama dokter Beni pun keluar juga.
"Bagaimana dok keadaan mas Adam?" tanya Nurin penasaran.
"Sampai sekarang pak Adam belum sadarkan diri juga, jadi mohon doanya aja buat pak Adam" ucap dokter Beni sambil menepuk bahunya Nurin dan pergi berlalu dari sana.
Melihat itu, mamanya Nurin tak tega, dia mengizinkan Nurin untuk menemani Adam untuk malam ini.
"Yaudah, kamu boleh menemaninya untuk malam ini, tapi begitu pagi datang kamu harus langsung pulang"
"Ma, kok gitu" ucap papa Nurin tak terima
"Udah lah pa, biarkan aja Nurin di sini dulu, kita pulang aja"
Nurin akhirnya diizinkan mamanya untuk menemani Adam malam ini dirumah sakit.
Bersambung 😍
dr cerita dia (adam) mulai awal sampek kerumah nurin ,dan kehamilan nurin ,sampek diusir gk direstui oleh bram,
padahal habis pulang dr rmh nurin langsung meninggal si adam
dan dlm semua dramanya sllu jadi protagonis dan mudah senyum
like episode tertinggal
salam dari IKYD