Namanya Dinara, perempuan 29 tahun yang terjebak dengan dua pria bermasalah dalam hubungan percintaannya, sehingga dirinya dijadikan bagian dari tumbal ilmu hitam.
Seseorang menginginkan kematiannya hanya karena dia di anggap sebagai wanita penggoda.
Dimulai dengan mantra pelet yang diterimanya, Dina menjadi pribadi yang berbeda dan setengah gila mengejar laki - laki yang tidak pernah disukainya.
Akhirnya santet berdatangan pada malam - malam dimana seharusnya Dina bisa tertidur lelap.
Dibantu ayahnya yang pernah ngelmu di sebuah padepokan Dina berusaha mempertahankan nyawanya.
Apakah Dina berhasil melewati angkara yang selalu didatangkan padanya? Apakah Dina akhirnya menemukan labuhan cintanya?
Simak kisah cinta Dinara dan perjalanan spiritualnya yang penuh air mata dan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 34
Dua kuntilanak terbang rendah di depanku, rambut riap - riap dan wajah hancur serta darah yang menetes dari sudut mata membuatku bergidik ngeri. Bau anyir memenuhi udara sekitar. Suara tawa cekikikan yang sangat ganjil mengisi malam yang sedang sunyi ini.
Sementara di belakangnya ada makhluk tinggi besar penuh bulu menyeringai menampakkan gigi besarnya. Oh Tuhan, aku tidak pernah melihat mereka sebelum hari ini. Kenapa pakde juga harus memelihara lelembut jenis ini?
Aku menebar garam yang diberikan bapak di sekitarku, mereka hanya mengawasi dengan marah karena tidak leluasa menyentuhku.
Ular hitam yang sedari tadi menungguku mulai melata mendekat. Desisannya mengguncang jantungku, dengan kecepatan luar biasa dia sudah melilit kakiku. Aku jatuh berguling di tanah, ular itu mulai mengencangkan lilitannya berusaha meremukkan tulang kaki, akibatnya kakiku mulai kesemutan dan hampir mati rasa.
Kepala ular hitam bermata merah darah itu sudah menghadapku dan siap mematuk, mungkin juga bersiap untuk masuk ke dalam tubuhku melalui salah satu lubang indra di kepalaku. Tangan kananku yang memegang tusuk sate itu reflek menghadang, aku menghantam kepalanya tanpa belas kasihan. Entah kekuatan dari mana yang membuatku mudah melakukan hal itu dan tiba-tiba saja kepala ular itu lemas dan jatuh ke kakiku menjadi sebentuk logam sekecil jari kelingking, panjang 15 cm dengan luk yang indah. Keris hitam berkepala ular tanpa gagang.
Aku yakin siluman naga yang diceritakan dalam dongeng ini juga membawa pusaka yang akan ditanamkan di tubuhku, pusaka yang lebih besar tentunya. Kekuatannya sungguh berbeda dengan ular tadi, naga yang sangat besar sedang berdiri di depanku. Apa dia juga akan menyemburkan api seperti di film-film?
Aku seperti sedang berada di negeri dongeng, bagian buruknya aku bisa kehilangan nyawaku di sini. Tidak menyangka jika ada siluman yang mempunyai bentuk seperti ini. Dalam keadaan normal aku tidak akan mempercayai ini pernah ada di depanku.
Dan benar saja dia sudah menindih dan melilitkan tubuhnya berusaha masuk ke dalam tubuhku tanpa aku sadari, padahal barusan aku hanya mengedipkan mata satu kali. Kecepatan makhluk-makhluk gaib ini sungguh luar biasa, kebanyakan tidak bisa diikuti dengan pandangan mata normal manusia.
Rasa sakit yang amat sangat di dada ketika taringnya menembus kulitku, aku menarik nafas panjang menahan rasa nyeri. Aku bergerak melawan mengikuti insting, membela diri dengan kekuatan yang ada, aku memikirkan bahwa aku bersenjatakan tombak di tangan kananku. Dengan beringas dan tanpa ampun aku memukul kepalanya dan menusuk matanya berulang-ulang dengan tusuk sate pemberian bapak.
Entah bagaimana tusuk sate itu berubah menjadi tombak dengan pendar cahaya biru jika aku lihat dengan mata batinku. Tidak ada yang dapat aku pahami dengan logika manusia. Tusuk sate itu menancap sempurna di mata naga itu seperti sebuah tombak pusaka tanpa tanding. Menyedot semua kekuatan naga itu hingga habis, meledakkan kepalanya hingga hancur. Dentuman keras terdengar ketika sebuah trisula naga sepanjang satu meter patah jadi dua dan jatuh dari tubuh siluman itu. Pusaka yang amat besar, warna perak mendominasi bagian atas, sementara gagangnya terbuat dari kuningan.
Aku hampir kehabisan nafas, kelabang besar itu entah muncul dari mana, menyengat kakiku dengan kuat. Rasa panas menjalar dari kaki ke seluruh tubuh. Jantungku berdegup kencang, mungkin ada racun yang masuk ke dalam aliran darahku, dengan sisa tenaga aku tancapkan tombak biruku yang hanya tersisa satu ke ekornya. Tiba-tiba tubuhnya mengecil dan berubah menjadi kelabang kecil biasa yang panjangnya hanya satu jari telunjuk dengan tusuk sate yang menancap dan hampir memotong ekornya.
Dua kuntilanak yang hanya menonton dan terus mengikik akhirnya melesat, memeluk dan mencekikku bersamaan, aku berkunang-kunang kehabisan nafas, aku tidak mau mereka menguasai tubuhku, aku menjambak rambut mereka menariknya dengan keras. Jeritan dan tawa cekikikan mereka menggema dan menghilang di sunyinya malam. Aku mendapati gumpalan rambut dua kuntilanak itu di tangan kanan dan kiriku.
Aku menatap genderuwo itu, menunggu serangannya, tapi dia hanya menyeringai seperti tadi, tidak menyerangku. Dia bergerak masuk rumah, mungkin lebih memilih menyerang yang ada di dalam rumah. Tapi tiba-tiba makhluk hitam besar penuh bulu itu hilang, hanya terdengar suara seperti tulang yang patah dan geraman di telingaku. Sepertinya dia tertangkap ekal yang ada di atas pintu.
Aku mengatur nafas dan fokusku. Jauh dalam pandangan mata batinku aku melihat Pakde sedang membaca mantra dan membakar kemenyan lagi. Tapi sesajen besarnya sudah terguling berantakan bersama dengan tumbangnya naga tadi. Firasatku mengatakan naga tadi merupakan salah satu perewangan andalannya.
Aku mendengar mantra itu, aku melihat pusaka itu terbang dengan kecepatan tidak bisa diperhitungkan. Aku tidak bisa menangkapnya, benda pusaka itu masuk ke dalam tubuhku. Sakit luar biasa aku rasakan di kepalaku. Darah keluar dari hidungku cukup banyak. Aku jatuh dalam posisi berlutut mengatur nafas.
Fokusku mulai hilang ketika satu lagi cahaya merah menyambar dan langsung masuk ke dalam perutku. Aku juga tidak sempat menangkap pusaka itu. Aku muntah darah seketika. Aku lihat dalam mata batinku Pakde tertatih meninggalkan ruangannya yang sudah berantakan itu. Sepertinya dia juga terluka walaupun tidak separah aku.
Aku mengumpulkan benda - benda santet tadi dan masuk ke dalam rumah secepatnya. Aku lihat Alan baru sadar, seluruh tubuhnya memar dan penuh dengan bekas luka cakar tanpa darah yang membengkak. Dia melihatku dengan iba dan mendatangiku, memapahku dan membantuku meletakkan bawaanku ke atas meja.
Mas Ari sudah tenang tapi masih belum sadar. Aku lihat banyak sesuatu dalam tubuhnya. Walaupun Bapak sudah mengusir seluruh silumannya tapi mereka berhasil meninggalkan benda santet yang akan menyakiti tubuh kakakku dari dalam.
"Dina butuh air dalam ember Pak," kataku pada Bapak.
Bapak langsung ke belakang mengambilkan.
"Punya rokok mas?" tanyaku pada Alan. Dia hanya menjawab dengan mengangguk. "Minta satu!"
Aku mencari kemenyan Arab di laci meja ruang tengah. Aku tau Mas Ari menyimpan oleh-oleh dari temannya itu di sana.
"Ini Pak!" Aku mengulurkan rokok dan kemenyan pada Bapak. Seperti biasa Bapak yang lulusan padepokan pasti lebih mengerti hal ini. Beliau membakar rokok di atas asbak dan menaburkan kemenyan Arab di atasnya.
Begitu rokoknya habis, Bapak mengecek isi ember dan mengeluarkan isinya. Aku sudah tidak tertarik untuk ikut mengurusi ember yang berisi lusinan paku, rambut kuntilanak dan satu keris bengkok seperti huruf L di mana bagian yang pendek adalah kepala buaya.
Aku mengambil ekal kuningan yang sudah tidak berbentuk dari atas pintu, ekal itu remuk dalam kondisi sedang melilit dua keris kembar berkarat dengan sedikit luk, hampir lurus. Tanpa gagang, tanpa bentuk kepala.
Aku menyandarkan diri di sofa dan mengatur nafas. Aku dalam kondisi buruk, mataku berkunang-kunang. Aku bahkan belum mengganti baju yang basah karena keringat, kotor karena tanah dan bernoda darah. Aku hanya ingin memejamkan mata. Kekuatanku sudah mencapai batasnya.
Bapak memberikan pijatan lembut di telapak kaki, menyalurkan tenaga dan kekuatannya padaku. Aku terlelap lima detik berikutnya.
"Sejatine ekal iku qolbune manungso, Ngger." (Jimat sejati itu hati manusia, Nak) Aku mengerjap bangun mendengar suara Kakek berbaju Surjan itu. Suaranya sangat dekat. Ternyata aku terlelap hanya beberapa saat, bahkan Bapak masih memijat telapak kakiku.
Detik berikutnya aku terlelap lagi, aku melihat Bapak berdiri dengan gagah, membawa pedang besar yang panjangnya sampai menyentuh tanah, beliau memimpin seribu pasukan berbaju putih di belakangnya.
Aku membuka mata lagi dengan takjub, itu hanya sesaat yang lalu. Bapak masih ditempatnya memijat kakiku dengan tangannya yang terasa dingin menyejukkan itu.
Aku belum menolong Alan, ada sesuatu bersarang dalam tubuhnya. Aku meminta Bapak untuk mengusap dada kirinya, dari sana terjatuh plat hitam dengan rajah yang tidak aku mengerti. "Ini mantra pengasihan," kata Bapak.
"Buat apa Pakde memasukkan mantra pengasihan ke tubuh Alan Pak?"
"Mungkin istrinya yang minta agar Alan kembali mencintainya."
Ya, itu memang alasan yang masuk akal. Tapi bukan itu firasat yang aku dapat. Ada hal lain lebih besar yang jadi alasan Pakde melakukan itu. Semoga firasatku salah.
Aku pergi ke dalam untuk mandi dan mengganti baju, juga membuat kopi. Suasana sudah kembali normal walaupun jarum pendek jam belum tepat di angka 3.
Aku dengar Bapak, Alan dan Mas Ari membahas apa yang terjadi barusan, membicarakan banyaknya benda pusaka ataupun benda santet yang semuanya berwujud.
Aku mengambil beberapa keris yang bagus dan memisahkannya, "yang ini Dina ambil Pak." Aku punya rencana sendiri dengan pusaka-pusaka itu.
"Buat apa Nduk?"
"Ada perlunya Pak, setelah Bapak kosongkan nanti kasihkan Dina ya Pak," pintaku pada Bapak yang disetujui Beliau dengan berat hati.
"Jadi benar Pakdemu memelihara naga kembar," gumam Bapak mengamati trisula besar yang sudah patah itu. Bentuk naga berhadapan mengapit bagian tengah trisula tersebut. Pusaka yang sangat bagus, sayangnya sudah rusak.
"Artinya masih ada kembarannya di sana Pak?"
"Mungkin."
"Apa setelah ini Pakde masih akan terus meneror Dina Pak?" tanyaku lugu pada Bapak.
"Batas waktunya 40 hari untuk melenyapkan bencananya, Bapak rasa dia masih akan terus berusaha."
Aku tercengang, ini saja baru 12 hari sejak Beliau pertama kali membuatku tergila-gila pada Andric. Aku melemaskan badan tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini.
"Boleh Dina istirahat Pak? Dina dalam kondisi tidak baik, ada sesuatu di dalam kepala dan perut Dina yang perlu diurus selanjutnya."
"Ya, tidurlah saja di sini. Alan dan Kakakmu akan menjagamu sampai matahari terbit. Bapak juga akan mengaji di sini."
Kepalaku berdenyut sakit, sesuatu dalam kepalaku membuat aku kembali merindukan Andric. Mantra pengasihan dengan pusaka bertuah ada di dalam kepalaku, keris lebar kepala buaya mendekam di rahimku. Bukan berita bagus untuk aku sampaikan pada Bapak yang sudah kelelahan mengurus Mas Ari.
***
tapi tetap suka ceritanya