🔔 Up Setiap Hari 🔔
SS 1-2
SS 1 NATHAN-VIONA
SS 2 ZIAN-LUNA
Viona Anggella adalah salah satu dokter ahli bedah terbaik yang dimiliki rumah sakit tempatnya bekerja. Suatu malam ketika pulang dari bekerja.Dia menemukan seorang pria terkapar bersimbah darah di depan pagar rumahnya.
Tanpa peduli siapa pria asing itu sebenarnya.Viona langsung membawanya masuk ke dalam rumahnya, bahkan dia tidak peduli apakah dia pria baik-baik atau bukan. Karna tujuannya adalah menyelamatkan nyawanya yang berada dalam bahaya.
Dan tanpa Viona sadari.Pertemuan itu malah menghantarkan dia pada sebuah kisah percintaan yang rumit di mana dia berada di antara dua hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 "Hari Buruk Leo"
Sepertinya hari ini adalah hari terburuk dalam hidup Leo selama dia hidup di dunia ini, bagaimana tidak? Leo kedatangan tiga tamu tidak di undang dan mereka tak lain dan tak bukan adalah Rio, Satya dan Frans. Saat ini ketiga pemuda itu sedang berada di kantor Leo dan membuat kacau harinya, bagaimana tidak? Ketiganya mengikuti kemanapun Leo pergi bahkan itu ketoilet sekali pun, mereka bertiga sudah seperti bayangan bagi laki-laki bermarga Ardinata tersebut dan parahnya lagi mereka melakukannya secara terang-terangan.
"Yakkk!! Bocah setan, sampai kapan kalaian akan merecoki hidupku, eo? Enyahlah kalian dari sini." teriak Le meluapkan semua kemarahannya pada ketiga pemuda tersebut.
"Hoam, tiba-tiba aku mengantuk. Paman, bisakah kau tidak berisik dan berteriak seperti orang gila. Kau sangat menggangguku," ujar Ria lalu merebahkan tubuhnya pada sofa dalam ruangan itu.
"Yakk!! Bocah setan, jangan gunakan sepatumu jika ingin berbaring di sana."
"Rio, biasanya kau kan suka ngompol, kau tidak lupa memakai pempes bukan?"
"A..apa? Ngompol?? Yakk,, bocah segera turun dari sana sekarang juga." teriak Leo marah. "Turun kau bocah, turun aku bilang, aaarrrkkkhhh.... mimpi apa aku semalam sampai-sampai kedatangan tiga bocah setan seperti kalian." Leo mengacak rambutnya frustasi, kedatangan Rio, Satya dan Feans adalah mimpi buruk.
"Hyung, berhentilah marah-marah... kau bisa cepat tua jika sering marah seperti ini. Oh astaga, apa itu? Indah sekali, dan itu... guci yang sangat cantik."
Satya dan Frans terus membuat keributan dengan memainkan apapun yang berada dalam ruangan Leo, dan apa yang mereka lakukan membuat Leo menjadi naik darah. Dia bingung bagaimana ketiga bocah itu mengetahui letak kantornya. Yang perlu Leo lakukan hanyalah menendang keluar ketiga bocah itu tapi dia sendiri tidak tau bagaimana caranya.
"Hei,, jangan memegang barang milikku secara sembarangan, itu adalah barang antik yang sangat mahal."
"A..apa??" seru Frans pura-pura kaget 'Prangg!!' Lalu menjatuhkan guci giok itu kelantai hingga hancur berkeping-keping. "Ups, maaf Hyung aku tidak segaja menjatuhkannya." ujarnya penuh sesal.
"Guci giok antikku.. KALIAANNNN." teriaknya marah.
"Huaaa,, paman kau membuatku terkejut, padahal inikan waktu bobok siangku. Lihatlah aku jadi ngompol kan." jerit histeris Rio, sebenarnya itu bukanlah air kencing namun air biasa yang Rio sengaja tumpahkan pada celana dan sofa milik Leo.
"Maaf, aku tidak sengaja. Huaaa,,," Rio beranjak dan berhambur memeluk Leo dengan sengaja sambil menggosokkan celananya yang basah pada pakaian Leo.
Rio segera memberi kode pada kedua pamannya, dengan cepat mereka mencari dokumen penting perusahaan itu dan menggantinya dengan dokumen palsu yang sengaja mereka persiapkan. Keduanya mengangguk setelah mendapatkannya
"Begini saja, Paman. Ini uang untuk mengganti pakianmu dan ongkos membersihkan sofamu. Kami pergi dulu ye, byee."
Leo membuka amplop yang terlihat tebal itu lalu mengeluarkan isinya, bukannya sejumlah uang yang dia dapatkan melainkan segebok daun.
Leo membanting amplop itu kelantai dan menggeram marah "BOCAH SETAN!!!"
-
Viona terpaksa harus mengundur rencana cutinya karna saat ini rumah sakit sangat membutuhkan tenaganya. Pagi ini terjadi kecelakaan beruntun dan rumah sakit kekurangan dokter karna beberapa dokter tidak bisa membantu hingga akhirnya Viona ditarik kembali karna situasinya benar-benar darurat. Para tim medis bekerja dengan sangat keras hari ini. Karna bukan hanya satu-dua pasien saja yang dalam keadaan kritis tapi lebih dari 20 orang, dan semua adalah korban kecelakaan.
"Oppa,"
Viona baru saja menyelesaikan operasinya saat Nathan datang untuk menjemputnya. Nathan meminta agar Viona tidak lembur malam ini dan gadis itu menurutinya. Sebuah kecupan hangat mendarat mulus pada kening dokter cantik itu. "Tunggulah di ruanganku, aku akan mengganti pakaianku dulu." Ucap Viona yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
Setelah berganti pakaian, Viona menghampiri Nathan yang menunggu di ruangannya. Gadis itu datang dengan sebuah kotak p3k di tangan kirinya, Viona hendak mengganti perban yang membebat kening suaminya, meskipun 4 hari telah berlalu namun luka jahitnya belum juga kering, luka jahitnya masih memerlukan perawatan. "Oppa, sepertinya lukanya cukup dalam, sampai sekarang lukanya masih belum benar-benar kering." ujar Viona di tengah kesibukannya.
"Begitukah?"
"Hm," Viona berdehem seraya menganggukkan kepala. "Oppa, kau sudah makan malam?" tanya Viona tanpa menatap lawan bicaranya, ia terlalu serius dengan pekerjaannya.
"Bagaimana bisa aku makan malam sedangkan kau sendiri belum makan malam," Viona tersenyum, suaminya selalu memikirkan dirinya... beruntung sekali Viona memiliki suami yang selalu memperhatikannya seperti Nathan. Meskipun dia sangat arogan, tapi padanya Nathan selalu bersikap lembut dan hangat.
Tidak hanya tampan dan mapan, meskipun tidak romantis, namun Nathan selalu memiliki cara untuk membuatnya bahagia. Nathan selalu memberinya kasih sayang yang melimpa dan Vionq sangat bersyukur untuk hal itu. "Setelah ini kita pergi makan malam." ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
"Baiklah,"
-
Setelah makan malam. Mereka tidak langsung pulang dan memutuskan untuk jalan-jalan mengelilingi kota. Nathan dan Viona berjalan sambil bergandengan tangan, keberadaan mereka di sana cukup menarik perhatian, banyak sekali pasang mata yang melihat dan menatap mereka penuh kekaguman namun tidak sedikit pula yang merasa iri pada mereka.
"Oppa, kau lihat orang-orang itu? Sepertinya mereka iri pada kita, kekeke." ujar Viona dengan kekehan di akhir kalimatnya.
"Tentu saja, karna yang berjalan bersamaku adalah seorang bidadari."
Tiba-tiba Viona menghentikan langkahnya membuat Nathan kebingungan. "Oppa, sejak kapan pria dingin sepertimu bisa menggombal? Wow, bukankah itu sebuah prestasi yang sangat membanggakan." Nathan tidak menanggapinya dan hanya tersenyum tipis.
"Oppa, ice cream.. Bisakah kita membelinya??" mohon Viona sambil menggoyangkan lengan Nathan. Melihat tingkah kekanakan Viona membuat Nathan mendengus geli. "Uhh, kenapa tiba-tiba udara menjadi sedingin ini." keluh Viona sambil mengusap lengannya yang hanya tertutup kain blusnya yang trasparan.
Tanpa ada yang memerintah, Nathan langsung membuka mantelnya dan menyampirkan pada bahu Viona menyisahkan kemeja tanpa lengan dan tanktop putih yang menjadi dalaman kemejanya. Viona tersenyum tipis pada Nathan. "Terimakasih, oppa."
"Cepat sedikit , sebelum kedainya tutup." Nathan merangkul bahu Vuona dan membawanya menuju kedai ice cream yang berada disebrang jalan. Gadis itu begitu bahagia karna Nathan mau menuruti keinginan kecilnya. Sedangkan Nathan tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Melihat wajah bahagia Viona membuat hati Nathan menghangat.
.
.
Setelah dari kedai ice cream. Viona dan Nathan melanjutkan jalan-jalannya. Viona mengatakan ingin menikmati suasana malam sambil berjalan kaki, untuk itulah Nathan meninggalkan mobilnya di dekat kedai ice cream.
Suasana Seoul saat malam hari memang sangat berbeda, lampu-lampu kota yang telah dihidupkan membuat keadaan kota seakan hidup. Viona tersenyum lebar.
Gadis itu menghentikan langkahnya di sebuah kedai aksesoris ketika sepasang mutiara hezelnya melihat sebuah anting dan jepitan rambut yang mampu menarik semua atensinya. "Oppa, bisa kita melihatnya?" tanya Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan. Gadis itu tersenyum lebar. Viona menunjukkan dua pasang anting pada Nathan. "Oppa, menurutmu lebih bagus yang mana? Kanan atau kiri?"
"Jika kau suka, kau bisa mengambil keduanya,"
"Menurutmu begitu?" Nathan mengangguk. "Baiklah, aku akan mengambil keduanya. Bibi, yang ini tolong di bungkus ya," pinta Viona pada bibi pemilik kedai.
"Baik Nona,"
Nathan memberikan sejumlah uang pada wanita itu dengan jumlah lebih. "Kau ingin kemana lagi setelah ini?" Viona menggeleng.
"Entah, aku masih belum memiliki rencana. Mungkin hanya jalan-jalan menikmati malam," jawabnya.
BRAKK...
Suara gaduh yang berasal dari arah belakang mengejutkan Nathan dan Viona serta beberapa orang yang ada di sana. Sontak keduanya menoleh dan mendapati beberapa pria yang stylenya mirip preman datang dan membuat keributan. Mereka meminta uang para pedangan kecil dengan paksa dan jika ada yang menolak untuk memberikan uang maka tanpa ragu mereka melukai.
Nathan yang merasa geram langsung menghampiri mereka dan menghajar dua diantaranya. "Brengs**, siapa kau? Berani-beraninya kau ikut campur dan melukai anak buahku? Cepat hajar dan habisi pria sok pahlawan ini!!"
"Baik Boss,"
Brakk...
Nathan menangkis balok kayu yang memgarah pada kepalanya dengan menggunakan lengan kirinya. Dengan sigap Nathan merebut balok tersebut kemudian menenandang tubuh pria itu tepat di uluh hatinya hingga dia terjengkang kebelakang. Dan ketika pria itu berusaha untuk bangun, tanpa ragu Nathan mengarahkan sepatunya pada rahang kirinya hingga darah menyembur dari mulutnya.
Serangan bertubi-tubi mengarah pada Nathan secara bersamaan, dan bukan Nathan namanya jika tidak bisa mengatasi mereka yang mencoba mencari masalah dengannya. Dengan brutal Nathan balik menyerang mereka, satu persatu berhasil dilumpuhkan dan hanya tersisa beberapa orang lagi.
Melihat Nathan mulai menguasai keadaan. Beberapa pria sepakat untuk membantu dan mengusir para preman tersebut. Mereka tidak hanya di hajar saja tapi juga dipermalukan. Pakaian mereka di lucuti dan kesepuluh preman itu diarak keliling kota, tujuannya supaya mereka merasa jerah.
Viona menghampiri Nathan dan memastikan keadaannya. "Oppa, kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" tanyanya memastikan. Nathan menggeleng, meyakinkan pada Viona jika dirinya baik-baik saja.
"Kita pulang," ajak Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
"Baiklah,"
.
.
Mereka tiba di rumah tepat pukul 9 malam. Viona langsung pergi kekamarnya sedangkan Nathan menghampiri Henry di ruang keluarga. Henry memperhatikan Nathan dengan jelih, peluh pada tubuhnya membuat Henry langsung mengambil kesimpulan jika Nathan baru saja terlibat perkelahian.
"Hn, aku hanya memberikan sedikit pelajaran pada mereka yang membuat keributan dan merugikan orang-orang kecil," ucap Nathan seolah mengerti apa yang Henry pikirkan.
"Jadi kau benar-benar terlibat perkelahian, lalu apakah kau terluka?" Nathan menggeleng.
"Aku baik-baik saja," jawabnya datar.
Nathan bangkit dari duduknya. Dan tanpa sepatah kata pun dia pergi begitu saja. Meninggalkan Henry yang hanya bisa mendesah berat melihat kepergiannya. Terkadang Henry merindukan Nathan yang penuh kehangatan, dan Henry tidak ingat kapan terakhir kali Nathan tersenyum. Karna semenjak kepergian orang tuanya dia tidak pernah lagi tersenyum apalagi menunjukkan sisi hangatnya, bahkan itu pada dirinya dan Senna.
Henry pikir Amnesia bisa membuat Nathan menjadi sosok yang hangat, tapi ternyata dugaannya salah. Nathan malah menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Tapi satu hal yang pasti, jika dibalik sikap dinginnya itu Nathan adalah sosok yang penyayang dan sangat peduli pada keluarganya.
Dia begitu melindungi apa yang yang dia sayangi, dan Nathan tidak pernah membiarkan bahaya mengintai keluarganya, dan dia tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan siapa pun yang berani membuat masalah apapagi membahayakan nyawa keluarganya. Dan harga mahal yang harus mereka bayar adalah dengan kematian!!
-
Bersambung.
. piyeee to kiihh..
banyak yang kecewa pastinya
bikin gemes
Luhan
karena aku tidak suka cerita sad ending
dan tdk monoton
ada lucu2nya dari ketiga trio setannnn 😂