Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 Anjani Menghilang
Subuh datang bersama udara dingin yang menyelinap melalui celah jendela. Anjani terbangun lebih awal. Refleks pertama yang ia lakukan adalah menyentuh dahi Bella, sudah tidak sepanas semalam. Syukurlah. Anjani mengembuskan napas lega.
Bella masih tertidur pulas dengan posisi meringkuk memeluk bantal. Wajah kecil itu terlihat jauh lebih tenang.
Setelah memastikan kondisi anaknya membaik, Anjani melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 05.30 Matanya langsung melebar.
Hari ini, H-1 Aurora. Jadwal latihan terakhir, final fitting, gladi bersih, briefing media, dan puluhan hal lain yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
"Aduh..."
Anjani segera berdiri. Kalau berangkat sekarang, ia masih sempat pulang ke kontrakan sebentar lalu langsung ke kantor. Ia mengambil tas, map dokumen, ponsel, lalu berjalan keluar kamar. Rumah masih sepi, tidak ada suara siapa pun.
"Mas?" Anjani memanggil, tapi tidak ada jawaban.
Ia menuju ruang makan, dapur, garasi, ruang kerja, tapi kosong. Keningnya mulai berkerut.
"Mas Satriya?"
Tetap tidak ada jawaban. Perasaan tidak enak perlahan muncul. Anjani mempercepat langkah, mengecek lantai atas, balkon, teras belakang, tetap kosong. Satriya tidak ada.
"Aneh."
Ia mengambil ponsel, berniat menghubungi pria itu. Namun, tepat saat layar menyala, wajahnya berubah. Baterai tinggal satu persen dan belum sempat ia menekan nomor, layar mendadak gelap. Mati.
"Ya ampun."
Anjani mengusap wajahnya. Semalam ia terlalu fokus menjaga Bella sampai lupa mengisi daya. Ia teringat charger miliknya tidak dibawa, namun ia segera mencari charger lain di sana, tapi tidak ada.
Rasa tidak nyaman semakin besar. Anjani memutuskan keluar rumah saja. Mungkin Satriya sedang membeli sarapan. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu utama, tidak bisa dibuka. Anjani mencoba lagi, tetap tidak terbuka.
Ia mengerutkan kening, lalu melihat ke arah kunci elektronik. Mode penguncian aktif dari luar.
Deg.
Perasaan tidak enak itu langsung membesar. Anjani berjalan cepat menuju pintu samping, pintu belakang, pagar menuju taman, tapi semua akses keluar rumah tertutup.
"Astaga...," gumamnya pelan.
Kini ia tidak lagi merasa ini kebetulan. Anjani mengambil napas panjang, mencoba berpikir jernih.
Satriya tidak mungkin sengaja melakukan ini. Tidak mungkin, kan?
Namun semakin ia mencari alasan.
Semakin sulit ia menemukan penjelasan lain, karena semua pintu tidak mungkin terkunci bersamaan tanpa disengaja.
Tangannya mulai mengepal. Ia berjalan kembali ke ruang tengah, mencari perangkat apa pun yang bisa digunakan menghubungi kantor, tidak ada. Seolah seluruh rumah tiba-tiba berubah menjadi pulau kecil yang terputus dari dunia luar.
Dan yang paling membuat dadanya mulai dingin, hari ini bukan hari biasa. Hari yang tidak boleh gagal. Aurora sedang berada di titik paling krusial. Tim pasti mencarinya. Maria pasti mencarinya. Raka pasti mencarinya.
Dan Ren...
Anjani memejamkan mata, membayangkan wajah masam CEO itu ketika mengetahui model utamanya menghilang sehari sebelum acara.
Aduh. Bahkan membayangkannya saja sudah membuat kepalanya pusing.
Anjani kembali mencoba membuka pintu, tetap tidak berhasil. "Awas kau, Satriya."
Anjani benar-benar merasa sedang dijebak. Dan yang paling menyakitkan, ia bahkan tidak bisa pergi begitu saja, karena di kamar sana masih ada Bella yang masih membutuhkan seseorang untuk menjaganya.
Anjani perlahan menurunkan tangan dari gagang pintu. Dadanya terasa sesak. Kini ia mulai mengerti. Mungkin Bella memang sakit. Mungkin Bella memang benar-benar mencarinya. Tapi Satriya telah memanfaatkan keadaan itu.
Sementara di tempat lain. Satriya berada di dalam mobil sembari menatap layar ponsel beberapa detik, lalu mematikan panggilan Cintya yang baru saja masuk. Senyum tipis muncul di bibirnya. Ia merasa memegang kendali lagi.
"Hanya beberapa hari, maka semuanya akan kembali normal. Cintya dengan mimpinya, dan Anjani...tetap wanita yang harusnya di rumah saja."
Pukul 08. 30 pagi, di kantor Ren...
Biasanya lantai Aurora sudah bergerak seperti mesin yang terkalibrasi sempurna. Namun, hari ini tidak. Hari ini suasana kantor menyerupai kapal yang mulai kehilangan kompas.
"Masih belum bisa dihubungi?"
"Tidak."
"Kirim pesan?"
"Centang satu."
"Maria?"
"Sudah."
"Raka?"
"Sudah."
"Keluarganya?"
"Tidak ada yang tahu."
Satu demi satu jawaban itu membuat wajah orang-orang semakin pucat. Di ruang pemasaran, beberapa staf bahkan sudah berhenti berpura-pura tenang, marena mereka tahu apa arti ketidakhadiran Anjani hari ini.
Aurora bukan lagi sekadar kampanye. Aurora sudah menjadi investasi. Media sudah bergerak. Teaser sudah viral. Investor sudah masuk. Sponsor sudah menunggu.
Dan model utamanya...menghilang.
Kepala Divisi Marketing menutup laptopnya sedikit keras. "Kita tidak bisa begini terus."
Di seberangnya, Kepala Divisi Event mengusap wajah. "Kita masih punya waktu."
"Waktu?"
Pria itu hampir tertawa. "H-1."
"Tapi Pak Ren--"
"Pak Ren juga manusia."
Kalimat itu langsung membuat ruangan sunyi, marena tidak banyak orang berani mengucapkannya. Namun, hari ini keadaan berbeda. Semua orang sedang panik. Dan kepanikan membuat keberanian tumbuh di tempat yang salah.
"Kita mempertaruhkan miliaran. Kita mempertaruhkan nama perusahaan. Kalau model utama benar-benar tidak muncul bagaimana?"
Tidak ada yang bisa menjawab.
Sementara di ruang lain. Divisi PR mengalami hal yang sama. Media mulai menghubungi mereka. Beberapa wartawan bertanya tentang gladi bersih, meminta wawancara, bahkan mulai menebak-nebak identitas model utama. Biasanya hal itu menguntungkan, tapi hari ini tidak, karena orang yang menjadi pusat kampanye justru tidak diketahui keberadaannya.
Kabar buruk itu akhirnya naik lebih tinggi dan tinggi lagi. Sampai akhirnya tiba di lantai direksi.
Ruang rapat utama terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya. Sebuah layar besar menampilkan jadwal Aurora.
Ren duduk di ujung meja. Wajah datarnya tidak berubah. Tidak terlihat marah, tidak juga terlihat panik. Dan justru itulah yang membuat orang lain semakin tegang, sebab semua orang tahu satu hal. Ren Aksara yang berteriak masih bisa diprediksi dari pada Ren Aksara yang diam jauh lebih mengerikan.
Seorang direktur keuangan membuka suara lebih dulu. "Pak Ren."
"Hm."
"Kita perlu membahas risiko."
Tatapan Ren terangkat, membuat direktur itu menelan ludah, tapi tetap melanjutkan.
"Ini bukan proyek kecil."
"Tentu."
"Dan ini bukan proyek pribadi."
"Tentu."
"Risiko finansialnya terlalu besar."
Ruangan kembali sunyi, tidak ada yang berani menyela. Semua orang tahu kalimat itu bermaksud menekan Ren untuk sebuah keputusan baru sekarang juga.
Direktur Operasional ikut berbicara. "Kami menghormati keputusan Bapak sejak awal."
Tidak ada yang membantah. Memang selalu begitu. Selama ini mereka mengikuti keputusan Ren dan hasilnya selalu benar.
"Tapi kondisi hari ini berbeda.
"Model utama tidak bisa dihubungi. Tidak ada konfirmasi."
"Tidak ada kepastian. Dan acara tinggal satu hari."
Satu per satu suara mulai muncul tanpa menanggalkan sikap sopan dan profesional, namun tekanannya terasa jelas.
"Kita harus menyiapkan rencana cadangan."
"Kita perlu alternatif."
"Kita tidak bisa mempertaruhkan semuanya pada satu orang."
Ren mendengarkan semuanya tanpa memotong. Ia bahkan tidak membantah dengan emosional. Yang ada justru membuat suasana semakin tidak nyaman.
Di luar ruang rapat. Kantor mulai terpecah menjadi beberapa kubu.
Kubu pertama. Mereka yang masih mempercayai Ren. "Kalau Pak Ren memilih Mbak Anjani, berarti ada alasannya. Beliau nggak mungkin asal pilih. Beliau pasti punya rencana."
Kubu kedua. Mereka yang mulai panik. "Rencana apa kalau orangnya hilang? Besok acaranya. Kita nggak bisa hidup dari keyakinan."
Kubu ketiga. Mereka yang paling vokal. "Mau nggak mau harus ganti model. Kita tidak punya pilihan lain. Daripada seluruh acara gagal."
Bisik-bisik itu menyebar cepat dari lantai desain ke pemasaran, ke event, ke PR. Sampai merembet ke investor relation.
Dan untuk pertama kalinya sejak Aurora dimulai, banyak orang mulai mempertanyakan keputusan Ren Aksara.
Sementara itu, di dalam ruang rapat. Seorang direktur akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Pak Ren." Kali ini suaranya lebih hati-hati. "Kami hanya ingin memastikan."
Tatapan mereka semua tertuju pada pria di ujung meja.
"Apakah Bapak masih yakin dengan pilihan Bapak?"
Sunyi. Ren menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya menyapu seluruh ruangan dengan tenang.
"Ada yang sudah melihat saya mengubah keputusan?"
Tidak ada yang menjawab.
"Belum," lanjut Ren.
Pria itu lantas berdiri. Jasnya dirapikan sekali, kemudian ia melanjutkan dengan nada datar yang justru membuat seluruh ruangan semakin tegang.
"Kalau begitu rapat selesai."
"Pak Ren." Salah satu direktur kembali memanggil. "Kita tetap butuh rencana cadangan."
Ren berhenti melangkah tanpa berbalik. "Kalau saya membutuhkan model cadangan." Suara dinginnya memenuhi ruangan. "Saya sudah menyiapkannya sejak minggu lalu."
Seluruh ruangan langsung terdiam, karena itu berarti, bahkan dalam kondisi seperti ini Ren ternyata sudah memikirkan semuanya.
Lalu tanpa menjelaskan lebih lanjut, ia keluar meninggalkan ruang rapat, membuat seluruh direksi saling pandang. Mereka tidak lagi yakin siapa yang sedang selangkah di depan.
Raka yang sejak tadi menunggu di luar ruang rapat segera menyusul langkah Ren.
"Pak."
"Hm."
"Masih belum ada kabar langsung dari Mbak Anjani."
Langkah Ren tetap tenang. Namun, sebelum mereka mencapai lift, Raka kembali bersuara.
"Kecuali satu hal."
Kali ini langkah Ren berhenti, tatapannya beralih.
"Apa?"
Raka tampak ragu beberapa detik, lalu menyerahkan ponselnya. "Barusan masuk sekitar satu jam yang lalu."
Ren menerima ponsel itu. Sebuah pesan singkat dari nomor Anjani terpampang di layar.
Pak Ren, maaf. Saya tidak bisa melanjutkan sebagai model Aurora.
Terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan.
Bersambung~~
tep kotep cellot.
kayaknya ini bukan karakter Anjani..
aku pikir itu tajuk untuk koleksi terbaru yang launching..
bukan tajuk sih tepatnya tapi..tema. mungkin ya..kayak beberapa Brand yg lagi melaunching koleksi terbaru mereka dalam perhelatan berjudul..Manik Raya. atau swarna bumi gitu...