Azara Amora adalah gadis cantik berambut panjang dan bertubuh pendek
Bryan Jason Willy, cowok tampan, bertubuh tinggi,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurdahlia Awani hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 33 jahil dan hamil
"Huaa!" Aku langsung terkejut dan terbangun mendengar teriakan dari Ara.
"Kenapa? Kenapa!?" tanyaku panik.
"HUAA! SAKIT!" tangisnya semakin membesar, cairan bening keluar dari mata beserta hidungnya.
Aku mengusap wajah, dan menarik Ara kedalam pelukanku. "Cup, cup, cup, udah sayang. Maaf yah," sesekali aku mengusap rambutnya.
"HUAA! Abang jahat!" ucapnya dengan memukul-mukulku.
Memang seperti inilah rasanya, inilah akibatnya karena ia terlalu polos.
"Yaudah, jangan nangis lagi. Mending mandi dulu, sayang," aku mengecup kening Ara, seraya melepas pelukanku.
"Tapi, Ara nggak bisa jalan," ujarnya, seraya menatapku dengan tatapan polosnya. Langsung saja aku mengangkat tubuh mungilnya, dan membawanya kedalam kamar mandi.
...
"Morning, semua," sapaku pada semuanya ketika berada di ruang makan. Semuanya tersenyum kearahku.
"Morning to," balas semuanya. Oke, aku langsung saja mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan berapa lauk pauk. Pastinya untuk Ara, sebagai suami yang baik harus seperti itu bukan?
"Lho, itu buat siapa?" tanya Mami saat kaki ini melangkah pergi. Aku berbalik, menggaruk kepala yang tak gatal, karena memang bingung harus menjawab apa.
"Hm, Anu Mi ...," aku menggantung ucapanku, apa aku harus menjawab dengan jujur? Ah, malu!
"Abang, cepetan!"
Aku mengusap dada, dalam hati aku berterima kasih pada Ara, karena telah menyelamatkanku dari pertanyaan Mami. Kakiku dengan cepat melangkah pergi menaiki tangga, aku membuka pintu kamar dan menghampiri Ara yang sedang duduk di samping ranjang.
Ara dengan cepat, mengambil alih piring tersebut dan menaruh ke pangkuannya. Tangan mungil tersebut menyambar sendok dan langsung melahap makanan.
"Aaa. Sini suapin Abang," pintaku dengan mulut menganga. Ara menyodorkan sendok yang dipenuhi nasi tersebut kearahku, namun, belum sempat aku memakannnya Ara kembali memasukkannya kedalam mulutnya.
Gak ada akhlak mang!
"Ini makanan punya Ara! Kalau mau, ambil aja sendiri," ucapnya dengan bibir monyong lima senti. Gini amat ya Allah.
"Jadi istri tu jangan pelit! Nanti aku kutuk jadi batu, mau?" Sesekali aku ingin menjahilinya. Kepolosannya, akan membuatku mudah untuk jahil padanya.
Bush!
Mataku terpejam, ketika semburan air mengenai wajahku. Apa ini yang dinamakan tuan makan senjata, eh senjata makan tuan?
Tanganku mengusap wajah yang basah, menatap datar kearah Istriku ini.
"Ara nggak mau jadi batu, jangan kutuk Ara! Pliss," Ara menyatukan kedua tangannya, menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Dengan segenap jiwa dan hati, aku kutuk kamu jadi batu," dramaku yang mampu membuat mata Ara membola.
"Nggak mau! Ara nggak mau jadi batu, jangan kutuk Ara, huaa!" teriaknya lagi. Ah, senangnya bisa menjahili istri polosku ini.
Hari ini aku memutuskan untuk berjalan-jalan bersama Ara. Sesekali menghirup udara segar pagi ini, aku menoleh kearah istriku ini, wajahnya terlihat cukup letih.
"Ara capek, kayaknya Ara mau meninggal karena kecapek'an," keluhnya sambil menatapku dengan wajah berpura-pura sedih. Bilang saja mau dibelikan minuman!
"Apa? Mau es krim?" tanyaku, dan berhasil membuat matanya berbinar.
"Mau! Ara juga pengen cokelat, susu, yogurt, permen karet, permen kapas, yupi, cemilan, sama--"
'Ni istri mau buat gue bangkrut kali yak?' Aku hanya membatin mendengar ocehannya. Langsung saja aku menarik tangannya menuju Indomaret terdekat, dia bahkan tak pernah bersikap dewasa dan selalu seperti kanak-kanak usia lima tahun.
Lucu, sampe-sampe pen bunuh!
"Silahkan dipilih," Ara langsung mengambil beberapa es krim dengan rasa yang berbeda, dan jenis yang beda. Aku juga mengambil satu botol yogurt, saat kembali, keranjang yang tadinya kosong, kini sudah penuh.
"Udah, Ara beli sedikit aja, hehe."
Apa katanya? Sedikit? Oh ayolah, keranjang belanjaannya sudah penuh dan aku, hanya membeli satu botol minuman saja.
"Eh, mbak udah nikah belom? Kalau belom nikah sama saya aja!" Aku menatap tajam kearah kasir pria yang tersenyum manis kearah Ara. Membuat pria tersebut berhenti tersenyum.
Setelah selesai membeli makanan, aku dan Ara pun berjalan kaki untuk pulang. Tangan Ara memegang satu es krim dan tangan satunya memegang kresek dengan berbagai es krim dan lainnya.
"Eh, disini lo rupanya," aku menghentikan langkah ketika mobil berwarna hitam tersebut berhenti didepanku dan keluarlah jin, eh Karell maksudnya.
"Iya, tadi gue jalan-jalan aja sama Ara. Btw, ada apa nih?" tanyaku. Karell menyodorkan sebuah undangan bermotif tersebut padaku.
"Gue cuman mau ngasih ini, jangan lupa bilang Tante sama Om. Jangan lupa datang juga ya," ucap Karell disertai cengirannya dan masuk begitu saja kedalam mobilnya.
"Busett, mau nikah ternyata tu anak," ucapku setelah membawa undangan pernikahan bertuliskan nama Karell dan calon istrinya.
...
"Abang, Ara bosen," Ara mendekatiku dan menidurkan kepalanya di pangkuanku. Aku yang tengah sibuk dengan HP menatap heran kearahnya.
"Kenapa, hm?" tanyaku.
"Ara bosen makan," jawabnya yang kemudian memainkan pipiku.
"Tumben-tumbenan bosen makan, biasanya makan terus. Kesambet apaan?" Ara hanya nyengir kuda menatapku.
"Hehe Ar--" ucapannya terpotong ketika ia bangkit dan menutup mulutnya.
"Huekkk!" Ara langsung berlari kecil kekamar mandi. Tentu saja aku langsung panik, dan langsung menghampirinya.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja?" wajah Ara terlihat lesu.
"Ara baik-bai--" Ara kembali mual dan masuk kedalam kamar mandi.
"Kamu sakit? Yaudah, kita kerumah sakit," Ara mengangguk, aku pun menuntunnya untuk berjalan keluar.
Setelah menyiapkan mobil, aku pun langsung masuk kedalamnya beserta Ara. Mobil pun aku lajukan dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
...
"Istri saya kenapa?" tanyaku pada seorang Dokter wanita dihadapanku. Dokter tersebut ternyum kearahku.
"Selamat ya, Anda sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah."
Mataku membola, terkejut sekaligus bahagia dengan ucapan dari Dokter tersebut. Hamil? Aku akan menjadi Ayah?
Ingin rasanya melompat bahagia, tapi sayang, salah tempat, alhasil aku hanya memeluk tubuh mungil Ara.
"Terima kasih, ya Allah," ucapku bersyukur pada sang kuasa.
"Jaga pola makannya, dan jaga kesehatan ya," ucapan terakhir dari Dokter membuat Ara mengangguk.
"Sayang, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua."
#BERSAMBUNG!
Bentar lagi mereka punya Debay:') Maaf buat yang nggak ketag.
___
Gimana part yang ini?😭
Author butuh pendapat dari kalian💪😾
Krisan:')
anak" bryan kak gimana ketemu sama anak sabahat papanya😁😁
jangan lupa mapir di KARYA ku yaaa🙏❤️🖤
awas az klo Bryan sampe luluh
lucu
semangat thor lanjutin up nya. di tunggu epsd selanjutnya, aku suka dengan ceritanya, menarik😍