Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________
Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.
Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.
Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?
Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.
Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Misterius!
...[Beri like dan komen]...
Keesokan harinya pukul 10.34 pagi. Raka sedang berada di rumah sakit bersama Sovia dan Dean. Tujuannya ingin memeriksa kondisi Sovia sekaligus ingin tahu apakah istrinya itu telah hamil atau belum.
Keluarga kecil itu berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Raka nampak geleng-geleng kepala melihat Dean berjalan di samping Sovia dan begitu menempel pada istrinya itu.
Awalnya, Dean tak ingin ikut karena ia begitu takut dengan jarum suntikan. Sovia yang melihatnya cuma bisa tersenyum kecil sambil meraih tangan kecil putrinya itu lalu membimbingnya ke sebuah ruangan.
Saat ketiganya mendekati ruangan tersebut. Sovia tak sengaja berpapasan dengan Vani. Wanita yang pernah menjadi saudaranya dan sampai kini ia masih menganggap Vani sebagai adiknya.
"Hai, Sovia. Tumben nih ke rumah sakit? Mau periksa Dean?" tanya Vani melihat Dean sambil tersenyum.
Dean langsung menggelengkan kepala lalu ia berkata kepada Vani.
"Hm, tidak,"
"Dean ke sini cuma mau temani Mami periksa. Dean tidak sakit, jadi Dean tidak diperiksa." jawab Dean pasti.
"Ahaha ... tingkahmu lucu sekali, mirip seperti kakakmu." Vani tertawa kecil melihatnya.
"Ya, dong. 'Kan Dean adiknya." ucap Dean dengan wajah menggemaskan. Vani dan Sovia hanya menahan tawa.
Raka yang di sana cuma bisa geleng-geleng kepala lalu melihat Vani dan berkata kepadanya.
"Oh ya, Vani. Kebetulan kamu ada di sini, jadi tolong kamu periksa baik-baik istriku ini." ucap Raka mendorong sedikit tubuh Sovia mendekati Vani.
"Siap, serahkan saja padaku." Vani pun menarik tangan Sovia lalu masuk ke ruangan di dekatnya, namun ia berhenti lalu menoleh melihat Dean.
"Dean, mau ikut masuk nggak?" tanya Vani.
"Hm, tidak! Dean di sini saja sama Papi." jawab Dean segera memeluk kaki Ayahnya, tentu ia tak mau melihat suntikan. Vani dan Sovia kembali menahan tawa lalu keduanya pun masuk ke ruangan lalu mulai memeriksa Sovia.
Raka pun duduk di kursi tunggu bersama Dean. Lalu tiba-tiba saja, ia bertemu dengan Roy yang lewat di depannya. Dean yang melihatnya, ia langsung menahan Roy dengan cara berdiri di depan pria itu.
"Hai Paman Roy," sapa Dean sambil tersenyum manis. Namun respon Roy tak ada dan bahkan ia berjalan kembali mengabaikan Raka dan Dean lalu menuju ke sebuah ruangan. Tentu Roy datang mengunjungi Elma dan tidak peduli lagi pada Raka dan begitupun Mira.
"Hm, kenapa dengan Paman Roy?" gumam Dean melihat Roy mulai menghilang dari pandangannya.
"Dean, duduk di sini. Jangan berdiri di situ." ucap Raka sambil menyuruh Dean duduk di sampingnya. Masalahnya gadis kecil itu berdiri di tengah jalan hingga menghalangi jalan pengunjung rumah sakit.
Dean segera melihat Ayahnya dan cuma bisa cengengesan. Gadis kecil itu pun duduk di samping Raka.
"Papi!" panggil Dean menarik lengan Raka.
"Hm, kenapa?" tanya Raka menoleh melihatnya.
"Papi, kemarin malam tuh ya, Dean melihat ada bayangan hitam masuk ke kamar Papi." Dean mulai menjelaskan yang ia lihat kemarin malam. Dari ucapan putrinya itu, tentu Raka terkejut.
"Bayangan hitam? Dean tidak lagi mengarang kan?" tanya Raka lagi.
Dean mengangkat dua jarinya lalu menatap Ayahnya dengan serius.
"Dean beneran lihat bayangan hitam, Pih," jawab Dean.
"Tapi, apa mungkin kemarin Dean salah lihat ya." lanjut Dean menyentuh dagunya mulai memikirkan yang ia lihat kemarin.
"Hm, mungkin saja. Dean tak usah pikirkan ya." ucap Raka menyisir poni putrinya itu.
Dean hanya mengangguk saja sambil tersenyum. Walau begitu, Raka mulai kembali memikirkan hawa aneh kemarin malam yang sempat ia rasakan.
"Sepertinya mulai ada yang iseng dengan keluargaku. Tapi siapa lagi?" gumam Raka mulai terdiam memikirkannya.
Sedangkan di dalam ruangan. Tentu Sovia sedang diperiksa oleh Vani. Memeriksa kondisi tubuhnya lalu memeriksa perut Sovia.
"Hm, gimana, Van. Apa aku sudah hamil?" tanya Sovia. Vani menggelengkan kepala.
"Maaf, Sovia. Sepertinya belum." jawab Vani. Seketika Sovia langsung murung.
"Huft ... bagaimana ini, Dean selalu saja menanyakan adik kecilnya. Kalau begini, mungkin dia tak bisa punya adik." keluh Sovia mengelus perutnya.
"Oh jadi ini karena gadis kecilmu itu." ucap Vani menyimpan alat pemeriksaannya.
"Ya begitulah."
"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan dia?" lanjut Sovia bertanya soal hubungan Vani dengan Dokter Kevin.
"Baik-baik saja." jawab Vani tersenyum, walau sebenarnya dalam hatinya ia nampak sedih.
"Bagus deh, semoga hubunganmu bisa lanjut ke ikatan pernikahan dan jangan lupa undang kami ya." Sovia menepuk bahu Vani lalu turun dari brankarnya.
Vani cuma bisa mengangguk saja. Keduanya pun berjalan keluar dari ruangan itu.
...Klek!...
Pintu ruangan terbuka. Raka dan Dean langsung berdiri mendekati Sovia. Raka pun melihat Sovia dengan wajah penasaran akan hasil pemeriksaan. Sovia cuma menggelengkan kepala saja.
Tiba-tiba ketiga tatapan orang dewasa itu tertuju pada Dean yang langsung memeluk Vani.
"Bibi Vani, Bibi Vani kapan menikah sama Paman Dokter?"
"Dean kepengen punya adik kecil dari Bibi Vani. Bibi Vani boleh kan kasih Dean adik kecil perempuan? Dean mau adik kecil." ujar Dean melompat-lompat sambil memeluk Vani memohon diberikan adik kecil untuknya.
Inilah yang meresahkan bagi Raka dan Sovia. Dean tak bisa berhenti meminta adik kecil untuknya.
"Ahaha ... Dean berdoa saja ya buat adik kecilnya, atau minta saja sama orang tuamu." jawab Vani menggaruk kepalanya tak bisa berkata-kata lagi.
"Hmp! Papi tidak mau, Bi. Papi itu sibuk jadi tak sempat jemput adik kecilku." ujar Dean bermuka cemberut sambil melirik sinis ke Ayahnya.
Raka cuma bisa menepuk wajahnya melihat tingkahnya Dean. Raka kemudian memberi kode pada Sovia untuk membawa Dean pergi ke mobil terlebih dahulu.
Sovia mengangguk paham lalu meraih tangan Dean sambil berkata padanya.
"Sini, cantik. Kita ke mobil ya, soal adik kecil nanti Mami yang akan bicara sama Papimu." ucap Sovia tersenyum.
"Baiklah, tapi Dean mau adik perempuan biar bisa main drama-drama ya mih!" pinta Dean kegirangan. Sovia cuma bisa menahan tawa lalu membimbing Dean pergi dari tempatnya menuju keluar rumah sakit.
Sementara Raka, ia bertanya kepada Vani soal kesehatan Sovia. Vani menjelaskan sejujur-jujurnya jika Sovia baik-baik saja tetapi belum hamil. Raka yang mendengarnya, ia hanya menghela nafas sebentar merasa sedikit kecewa. Ia pun pergi dari tempatnya meninggalkan Vani begitu saja.
"Beruntung sekali Sovia mempunyai suami seperti Presdir Raka. Keluarganya bahkan langsung menerima Sovia yang amnesia. Sementara diriku malah sebaliknya." keluh Vani masuk ke ruangannya. Ia nampak murung dan mulai memikirkan sesuatu sambil duduk di kursinya.
Setelah keluar dari rumah sakit, Sovia tiba-tiba saja tak sengaja menyenggol seseorang. Ketika Sovia ingin meminta maaf, orang yang dia senggol malah pergi begitu saja. Namun pandangan Sovia tak henti-hentinya melihat wanita yang ia semggol nampak misterius.
"Wanita itu, kenapa aku merasa tak asing. Sayangnya aku tak melihat wajahnya tadi." gumam Sovia dalam hati terdiam.
"Mami, kenapa?" tanya Dean membuyarkan lamunan Sovia.
"Eh, tidak apa-apa. Yuk kita ke mobil sambil nunggu Papi datang." jawab Sovia kembali berjalan sambil menggenggam tangan kecil putri kecilnya. Dean yang melihat tampang Ibunya, ia pun menoleh sebentar ke belakang. Namun tak ada siapa-siapa yang dia lihat. Dean pun mengabaikan hal itu.
Sedangkan Raka, Pria itu ketika ia ingin keluar dari rumah sakit. Ia malah tak sengaja berpapasan lagi dengan Roy yang juga ingin keluar. Ketika Raka ingin menyapanya, Roy malah pergi begitu saja meninggalkan Raka.
"Hm, apa dia marah padaku?" gumam Raka. Ia pun kembali berjalan mengabaikan sikap cuek dari Roy barusan. Langkah Pria tampan itu menuju ke arah mobilnya.
______
Bersambung ....
Terima kasih, jangan lupa komen ^^