Bagi Alysia Mareana kisahnya bersama Bagas Adiputra telah luruh dan membentuk sebuah kenangan yang disebut masa lalu. Tapi siapa yang dapat mengira jika ada benang masa lalu yang belum putus dan hendak mengikat mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmakJomblo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-Tiba
***Hai pembaca selama malam, maaf udah tiga hari aku nggak update 🙏😢
Saat aku mau update 3 hari lalu, datanya tiba-tiba hilang padahal aku udah ngetik sebanyak 3rb kata 😭
Bisa aja aku ngetik ulang, tapi tubuhku benar-benar lagi nggak sehat, mataku perih kalau lihat layar laptop dan ponsel. Untuk itu aku benar minta maaf 🙏
Semoga part ini dapat membayar semuanya meskipun ini sedikit wordnya
Enjoy 😊***
Hening.
Tak ada yang membuka suara baik aku maupun Bagas, kalau aku memang tidak berniat untuk membuka suara karena aku tahu saat ini suasana hatinya sangat buruk. Kalau kalian ingin tahu, Bagas bahkan memarahi Iyam di tengah orang banyak yang membuatku merasa bersalah karena itu. Terpaksa aku meninggalkan Iyam di sana, perempuan itu juga sudah ketakutan karena melihat ekspresi wajah yang ditunjukan Bagas.
Hingga akhirnya aku tersadar saat mobil sudah berbelok masuk ke dalam pekarangan rumah kami. Setelah memarkir mobil Bagas turun terlebih dahulu masih dengan tidak membuka suaranya. Laki-laki itu pergi meninggalkanku.
Apa Bagas tidak takut aku kabur? Oh jelas tidak karena gerbang sudah ditutup dan hanya dapat dibuka dengan akses code yang sudah pasti diganti oleh Bagas. Aku tahu dia tidak sebodoh itu dengan meninggalkanku di sini sendirian dengan segala rencana yang ada di kepala kecilku ini.
Aku masuk ke dalam rumah secara perlahan sembari mataku menyapu seluruh sudut rumah memastika keberadaan Bagas. Tak lama setelah itu ku dengar dentuman yang sangat-sangat keras disusul dengan bunyi pecahan. Aku terkejut, jangan-jangan itu Bagas.
Sekali lagi indra pendengaranku menangkap suara yang sama untuk kedua kalinya dan tidak berhenti setelah itu. Dengan perasaan was-was aku melangkah menaiki tangga hendak menuju kamarku yang ada di lantai dua. Betapa terkejutnya aku melangkah ke sana, aku melihat Bagas yang terduduk di depan lemari tangan yang berlumuran darah, sementara kamarku sudah seperti kapal pecah.
“Kamu udah gila!” teriakku secara spontan.
Tak menjawab, Bagas malah terkekeh seperti orang gila.
“Gila? Aku? Kamu yang udah gila Re, kamu!” teriaknya dengan 10 kali lebih keras dari teriakanku.
Laki-laki itu tak peduli dengan luka di tangannya.
“Segitu jahatnya aku dimata kamu sampai mengandung benihku kamu tidak sudi?”
Bagas mulai menangis tapi sesekali terkekeh seperti orang mabuk. Aku diam tak ingin menengahi ucapannya dan tiba-tiba aku sadar aku sekejam itu hendak membunuh anakku sendiri.
“Aku tahu 6 tahu lalu adalah salahku yang tidak pernah bicara, tapi coba kamu ada di posisiku saat itu. Apa yang akan kamu lakukan. Ganesa hendak bunuh diri dan kamu menangis. Kamu tahu aku berada di pilihan yang sulit Re. Kalau bisa saat itu aku ingin membagi tubuhku menjadi dua.”
Bagas nampak mulai bercerita.
“Aku baru saja tahu ternyata aku bukanlah anak kandung dan setelah tahu keluargaku aku harus mendapati bahwa kakak lelakiku meninggal karena ulahku sendiri. Kakak iparku hampir gila karena dia baru saja menggandung sementara suami sudah meninggal.”
“Coba kamu ada di posisiku Re!”
“Atau mungkin aku sehina itu ya untuk dimaafkan?”
Aku masih diam, tak ingin membalas ataupun menjawab ucapannya.
“Oke, karena keberadaanku sepertinya hanya melukai kamu, mending aku lenyap saja dari dunia ini. Tapi aku minta kamu jangan singkirkan adik William, dia bukan hanya anakku tapi anak kamu juga.”
Kulihat Bagas mengambil pecahan gelas dan mengarahkan pada pergelangan tangan kirinya yang memang sudah lebih dahulu dipenuhi darah.
“Selamat tinggal Re!”
Aku masih terdiam, mataku melotot melihat apa yang dilakukan laki-laki, terlambat, saat aku bergerak laki-laki itu sudah terkapar terlebih dahulu dengan bersimba darah.
***
Mataku nampak silau, aku mencoba membiasakannya.
Aku menyapukan pandanganku ke seluruh ruangan, hingga aku sadar bahwa saat ini aku sedang berada di rumah kedua orang tuaku, tepatnya di kamarku. Sejak kapan aku pulang? Terakhir aku ingat bahwa aku sedang berada di kamarku di rumahku bersama Bagas dan Bagas yang terkapar bersimbah darah.
Aku bergerak pelan untuk turun dari ranjang.
“Al,” ucap sebuah suara.
Aku menoleh dan mendapati mama yang datang bersama nampak berisi bubur dan teh hangat.
“Apa yang terjadi Ma? Bagaimana keadaan Bagas?” tanyaku dengan cepat.
“Sudah semua baik-baik saja, sekarang kamu makan dulu. Kata dokter kandungan kamu lemah karena banyak pikiran.”
Mama nampak meletakan nampan itu di atas nakas tempat tidur, mama tampak pula menghindari obrolan tentang Bagas ini.
“Apa Bagas di rumah sakit?” tanyaku lagi.
“Sudahlah, tidak usah bahas Bagas dulu, sekarang Mama minta kamu untuk makan karena dari semalam kamu belum makan.”
Jawaban Mama sekali lagi menampakkan bahwa dia benar-benar enggan untuk membicarakan Bagas. Tanpa bertanya lagi aku memutuskan untuk melahap bubur yang mama sediakan itu karena jujur saja sedari tadi perutku benar-benar keroncongan. Setelah itu mama undur diri untuk keluar dari kamar.
Aku menyapukan pandangan ke segala penjuru kamar dan mendapati beberapa barang yang harus masih di rumahku bersama Bagas kini sudah ada di dalam kamar ini. Aku menoleh ke ponselku yang berdering tiba-tiba.
“Halo,” sapaku setelah melihat nama pelepon.
“Lo benaran cerai sama Bagas? Astaga Al! Pernikahan Kalian bahkan baru dua bulan lho!”
Tanpa sapaan hangat atau sekadar membalas sapaanku, Riando langsung menyosor dengan pertanyaan yang jelas membuatku bingung. Aku memang sempat memikirkan perceraian namun belum sempat melakukannya.
“Media lagi heboh dengan perceraian lo sama Bagas, apalagi setelah Bagas menyumbangkan rumah kalian sebagai bahan amal!”.
Aku sangat terkejut mendengar ucapan itu.
Kok aku nggak tahu? Padahal semalam kan dia baru saja mengamuk dan mencoba bunuh diri.
“Hah, Ri gue nggak tahu masalah ini. Malah dengarnya dari lo,” sahutku tiba-tiba.
“Lah, gue pikir lo yang ngajuin perceraian kemaren!”
“Kemarin kan gue di rumah lo, Ri!”
Aku menjadi bingung dengan situasi ini.
“Eh itu kan udah dua hari yang lalu.”
Aku lebih terkejut mendengarnya, jadi aku tidur selama dua hari? Atau situasi apa ini sebenarnya.