Kegagalan dari Cinta Pertama terkadang membuat kita terpuruk dan sulit untuk memulai cinta yang baru ... Perasaan takut gagal, kecewa dan sedih kembali terus menghantui.
Begitu juga dengan Intan, kegagalan Cinta Pertamanya membuat ia trauma hingga ia menutup rapat hatinya. Ia membangun sebuah pintu besi yang sangat kokoh.
Lantas, adakah sosok yang mampu mendobrak pintu besi dari hati Intan?
Update tiap hari pkl 05.00 dan 17.00 WIB😁✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syukurlah kamu selamat. Syukurlah!!
"Intan!!" Teriak Setya sembari mengangkat kepala Intan, ia melihat wajah Intan sudah pucat dan tubuhnya juga dingin.
Tanpa berpikir panjang lagi, Setya segera mengangkat tubuh Intan menuju UKS. Diikuti yang lain.
"Ku mohon bertahanlah!" Gumam Setya dan semakin mendekap tubuh Intan.
Intan yang setengah sadar, mulai merasakan kehangatan mendekap tubuhnya. Nafasnya sudah tak sesesak sebelumnya.
"Dokter!! Tolong dia!!" Seru Setya ketika memasuki UKS. Sang dokter sudah tak terkejut lagi saat melihat Setya datang dengan Intan digendongannya.
"Kali ini ada apa lagi?" Tanya dokter yang mengira kekhawatiran Setya berlebihan seperti sebelumnya.
"Dia terkurung di gudang dengan ventilasi minim, banyak debu juga disana. Wajahnya jadi pucat dan tubuhnya terasa dingin. Tolong dia!!" Seru Setya masih khawatir yang teramat.
Dokter segera memeriksa keadaan Intan. Ia mengerutkan dahi saat memeriksa detak jantung dan nadi Intan terasa lemah. Ia segera mengambil botol oksigen dan memberikannya pada Intan.
Sampai 15 menit berlalu akhirnya, nafas, detak jantung dan nadi Intan sudah kembali normal. Wajahnya sudah tak sepucat sebelumnya. Tubuhnya juga tak sedingin sebelumnya. Perlahan Intan membuka matanya dengan lemas.
"Dimana ini?" Ucap Intan lirih.
"Syukurlah kamu selamat. Syukurlah!!." Seru Setya sembari mengenggam tangan Intan.
"Kak Setya. Tangan kakak?!" Tanya Intan yang melihat tangan Setya berdarah hingga tangannya juga terkena darahnya.
"Dok, bantu dia membalut lukanya juga!" Seru Bayu mengingat kondisi tangan Setya.
"Aih, ini kenapa bisa begini? Kalau tidak dibersihkan bisa infeksi.!!" Seru dokter gemas.
"Dia sudah tidak apa-apa kan dok?" Tanya Setya memastikan.
"Ya, dia sudah tidak apa-apa. Istirahat sebentar saja dia akan segera pulih. Tapi, tadi memang fatal, kalau sedikit lebih lama mungkin dia akan kehabisan nafas." Jawab dokter yang membuat mereka semua terkejud.
"Sudah jam pelajaran baru. Kita tak bisa bolos lagi. Sebaiknya biarkan Intan disini bersama Setya, dia juga terluka. Kamu dan Toni segera kembali ke kelas, aku pun juga akan kembali ke kelas." Saran Bayu.
"Aku tid ..."
"Baiklah, yuk Ton ... Intan, aku tinggal dulu ya. Nanti ku bawakan barang-barangmu ke sini. Kamu harus istirahat dulu." Ucap Ifa memotong perkataan Toni dan segera menyeret Toni keluar UKS diikuti Bayu dibelakangnya.
"Kamu istirahatlah. Aku disini." Ucap Setya lembut disamping Intan setelah tangannya dibalut oleh dokter.
"Kalian istirahatlah. Saya mau cari makan dulu." Ucap dokter yang mengerti Setya dan Intan membutuhkan waktu berdua.
"Kamu sudah merasa baikan? Apa ada yang terasa tidak nyaman?" Tanya Setya memastikan lagi.
"Aku sudah tidak apa-apa. Apakah kakak tadi yang menyelamatkan ku?" Tanya Intan sembari melirik tangan Setya yang diperban.
"Ini hanya luka kecil, pasti sembuhnya akan cepat. Yang ku bingungkan adalah, kenapa kamu bisa berada di dalam gudang itu?" Tanya Setya mengalihkan pembicaraan.
"Ada yang mendorong dan mengunci ku dari luar. Aku tak tahu siapa, aku tak melihatnya. Aku hanya bingung, aku tak memiliki musuh, kenapa ada yang ingin mencelakaiku?" Jawab Intan sedih
"Aku tau kamu orang baik, maka dari itu banyak yang tak suka karna banyak yang iri padamu." Ucap Setya menenangkan Intan.
"Aku ingin tau siapa orang yang telah melakukan ini dan aku ingin menanyakan langsung padanya." Ucap Intan pelan.
"Ehm ... Bagaimana, kalau nanti kita ke ruang cctv? Setahuku setiap sudut sekolah ini ada cctvnya. Mungkin, kita akan menemukan bukti disana." Ajak Setya.
"Bisakah? Mau!" Jawab Intan langsung.
"Ok, kalau begitu kamu istirahat dulu. Supaya tenagamu cepat pulih." Perintah Setya dan diangguki oleh Intan. Intan mulai memejamkan matanya, tak lama ia pun terlelap mungkin memang karna kondisinya yang belum pulih sepenuhnya.
Setya yang mendengar nafas Intan sudah teratur pun, memberanikan diri untuk membelai kepala Intan dengan lembut.
"Aku senang kamu selamat. Aku tak bisa membayangkan, kalau aku sedikit saja lebih lama menemukanmu ... Bahkan, aku tak sanggup membayangkannya." Gumam Setya lembut, kemudian ia menggenggam tangan Intan dan menciumnya beberapa kali.
Ia terus memperhatikan Intan yang tengah terlelap, seakan ingin memastikan bahwa gadis didepannya itu benar-benar sudah aman bersamanya.
...****************...
Di kelas >> Jam pulang sekolah
"Bagaimana keadaan Intan tadi?" Tanya Dharma cemas setelah jam pulang dan beberapa temannya berhamburan meninggalkan kelas.
"Dia sudah tidak apa. Tapi, kata dokter sedikit saja kita terlambat dia bisa kehabisan nafas. Aku tak tahu siapa dalang dibalik ini. Dia sudah bukan manusia, tapi iblis! Awas saja jika aku sudah menemukannya!" Seru Ifa marah.
Di bangkunya, Linda juga mendengarkan penjelasan Ifa. Dia menggenggam roknya kuat, tangannya nampak gemetar dan wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Baiklah. Aku akan menemui Intan. Aku duluan." Pamit Ifa hendak pergi.
"Aku ikut!" Seru Toni dan Dharma bersamaan. Ifa hanya cuek dan membiarkan Toni dan Dharma mengikutinya.
Sesampainya di UKS, Bayu sudah menunggunya. Dia sengaja menunggu Ifa untuk masuk bersama.
"Kamu punya 2 bodyguard ya?" Bisik Bayu.
"Dia para bucinnya Intan." Jawab Ifa.
Akhirnya, mereka masuk ke dalam UKS dan pertama yang mereka lihat adalah Intan yang masih tertidur dengan Setya yang tidur dengan duduk disebelah Intan sembari menggengam tangannya. Toni dan Dharma nampak kesal, sedangkan Ifa sudah pasti langsung mengabadikan momen itu.
"Setya." Panggil Bayu membangunkan Setya sembari menepuk ringan bahunya.
Setya segera terbangun. Pertama yang ia pastikan adalah kondisi Intan, kemudian ia melihat dua bocah yang selalu mendekati Intan dengan tatapan dingin.
"Apa Intan sudah baik-baik saja?" Tanya Ifa mendekati Intan yang masih tertidur.
"Sudah. Kondisinya sudah stabil." Jawab Setya.
Karna, mendengar keributan disekitarnya Intan pun terbangun. Ia heran melihat banyak yang mengerubunginya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Toni dan Dharma bersamaan.
"Aku sudah tidak apa-apa." Jawab Intan dengan senyum diwajahnya.
"Syukurlah." Ucap Toni dan Dharma bersamaan lagi. Ifa dan Bayu melihat itu sembari menggelengkan kepala.
"Kak, tentang rencana kita jadikan?" Tanya Intan sambil menatap Setya yang duduk disebelahnya.
"Tentu." Jawab Setya lembut.
"Rencana apa?" Tanya Ifa bingung.
"Kami ingin mengecek cctv untuk mencaritahu siapa dalang dibalik ini." Jawab Setya dengan tangan yang mengepal erat menahan emosi.
"Aku ikut!" Seru Ifa tak kalah emosinya.
"Kami juga!"
Akhirnya, semua ikut untuk mengecek cctv. Namun, karna ruang kontrol tak terlalu besar hanya dua orang yang diperbolehkan masuk. Tentu saja Intan dan Setya.
"Pak apa ada cctv di taman belakang atau daerah gudang belakang?" Tanya Setya pada penjaga.
"Tidak ada nak. Adanya cuma sampai koridor terakhir menuju kesana. Karna, tempat itu tidak banyak yang mendatangi." Jawab penjaga.
"Tidak apa pak. Kalau tidak banyak yang kesana, berarti kami akan lebih mudah mengeceknya." Jawab Intan.
Akhirnya, mereka dengan seksama melihat siapa yang datang dan pergi dari sana. Intan cukup terkejut dengan siapa yang dilihatnya. Linda.
"Kamu mengenalnya?" Tanya Setya melihat ekspresi terkejut diwajah Intan.
"Ya. Dia teman sekelasku." Jawab Intan masih terkejut dan tak habis pikir. Apa alasan Linda melakukan itu padanya.
"Pak bolehkah bapak mengcopykan video ini ke ponsel saya?" Tanya Intan lagi.
"Ya boleh." Jawab penjaga.
Setelah video itu tercopy Intan dan Setya pamit pergi meninggalkan ruangan itu. Namun, sebelum keluat Intan memohon pada Setya untuk tidak memberitahu siapapun akan dalang dibalik ini, termasuk Ifa.
"Kak, bisakah kakak tidam memberitahu ini pada siapapun? aku ingin menanyakan alasannya dulu melakukan ini padaku." Pinta Intan.
"Baiklah." Jawab Setya dengan senyum diwajahnya.
"Bagaimana, apakah ketemu siapa pelakunya?" Tanya Ifa setelah Intan dan Setya keluar.
"Tidak. Gudang belakang tak ada cctvnya." Bohong Intan.
"Tapi, bukankah ada cctv di koridor dekat sana? Mungkin kita ..."
"Aku masih lelah. Aku ingin pulang." Ucap Intan memotong ucapan Toni.
"Aku akan mengantarmu." Ucap Setya lembut. Intan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah. Kita bisa bubar sekarang. Intan perlu pulang dan istirahat." Ucap Bayu melerai tatapan tak suka dari Dharma dan Toni pada Setya.
Akhirnya, Setya mengantar Intan pulang sampai rumahnya seperti sebelumnya.
"Makasih kak. Aku rasa kali ini kakak juga tak bisa mampir, aku ..."
"Tentu. Beristirahatlah. Jangan banyak pikiran, kita urus itu besok. Pulihkan dulu tenagamu ya." Ucap Setya lembut. Intan mengangguk menginyakan.
Setelah itu Setya melajukan motornya meninggalkan rumah Intan. Intan sendiri setalah tak melihat Setya ia segara masuk kedalam rumah.
"Assalamu alaikum, Intan pulang." Ucap Intan sembari memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam. Loh, baju kamu kenapa kotor gitu dan apa ini? Darah?" Pekik bunda khawatir.
"Intan gak apa-apa bunda. Hanya habis menolong temen Intan yang jatuh tadi." bohong Intan, ia tak mau membuat bunda menjadi khawatir.
"Oh, syukurlah. Bunda kira kamu yang luka sayang." Ucap bunda lega.
"Tidak kok bunda ... Intan baik-baik saja."
"Yasudah cepat mandi dan bersihkan sergammu. Noda darah sulit hilang kalau terlalu lama dibiarkan." Ucap bunda lembut.
Setelah itu Intan menuju kamarnya, ia melihat pantulan dirinya di cermin.
"Ini darah kak Setya? Dia yang menyelamatkan ku hingga terluka seperti ini." Gumam Intan merasa tak enak. Dia juga mengingat bagaimana Setya mengkhawatirkannya. Ia tersenyum kecil dibuatnya.
"Tapi, aku tak habis fikir kenapa Linda melakukan ini padaku?!" Seru Intan bingung.
Dirumahnya Setya juga menatap luka ditangannya. Walaupun sang mama panik melihat tangan Setya terluka, Setya tak terlalu merasakan sakit yang ia pikirkan adalah bagaimana jika ia sebelumnya tak bisa menyelamatkan Intan tepat waktu? Apa yang akan terjadi pada Intan? Setya tak dapat membayangkannya.
"Tapi, kenapa teman Intan itu ingin melukai Intan? Aku harus mengikuti Intan besok. Aku tak ingin membuat Intan terluka lagi nanti." Gumam Setya dengan sorot mata tajam.
.
.
.
Bersambung..
krna ak gak suka dgn perselingkuhan
dtunggu updatenya ka
ak pikir kmu gak kan nulis cerita lagi sekian lama menghilang hemm...
ywdh semangat bwt cerita baru yg pastinya seru juga yaaa semangat
aku tunggu ka hehe