Su Yinyin adalah aktris cantik yang baru mekar. Ia banyak memghabiskan waktu bersama pria tampan dan mempermainkan mereka. Semua mengagumi dan mencintai nya. Namun, bagaimana jika ia harus masuk ke dalam novel berlatar kuno dan menakhlukan hati seorang pangeran kedua yang dingin dengan tingkat cinta minus seratus! Gila itu sih bukan cinta tapi sudah tidak cinta dari awal!
Belum lagi ditambah konflik Dikrit Kaisar yang mengharuskan pangeran kembali menikahi Putri Mahkota dari Utara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 : Bayang Bayang Masa Lalu
Gema suara wanita paruh baya itu memantul di dinding gua batu, beradu dengan suara gemercik air panas yang mengepulkan uap putih. Su Yinyin menyipitkan mata, menatap lekat-lekat sosok di seberang altar. Liontin teratai perak yang tergantung di leher wanita itu memancarkan kilau dingin yang sama persis dengan sketsa di surat tantangan dan tanda lahir di tubuh aslinya.
Jenderal Chi dan dua pengawal bayangan segera mengangkat pedang mereka, membentuk formasi pertahanan yang rapat di belakang Mo Jue dan Su Yinyin.
"Siapa sebenarnya yang kau maksud?" Suara Su Yinyin memecah kesunyian, tenang namun tegas. Ia melangkah keluar dari balik punggung Mo Jue, berdiri sejajar dengan suaminya. "Jangan berbicara dalam teka-teki. Katakan siapa dirimu dan apa hubungannya klan bayangan selatan dengan kematian keluargaku."
Wanita paruh baya itu tersenyum miring. Garis-garis penuaan di wajahnya tampak semakin menonjol di bawah temaram cahaya obor, menyiratkan masa lalu yang penuh dengan kepahitan dan dendam kesumat.
"Kau ingin tahu siapa aku?" Wanita itu merentangkan kedua tangannya perlahan. "Aku adalah Pemimpin Tertua dari Klan Teratai Hitam—kelompok yang dua puluh tahun lalu dikhianati dan dibantai habis-habisan oleh kaisar pendahulu dan faksi istana pusat. Dan kau, Su Yinyin... adalah darah daging terakhir dari darah bangsawan murni klan kami yang sengaja disusupkan ke ibu kota sebagai alat pembalasan."
Kebenaran itu menghantam gua bawah tanah bagaikan petir. Mo Jue melirik istrinya sekilas. Wajah pria itu tidak menunjukkan rasa terkejut yang berlebihan, melainkan kemarahan yang mulai mendidih di balik manik mata kelamnya. Pangeran itu tahu betul bagaimana kekejaman politik istana pusat di masa lalu; tidak aneh jika ada korban yang memilih jalur balas dendam melalui bayang-bayang.
"Jadi, pernikahan politik itu... dan sistem yang membawaku ke tubuh ini... semua adalah bagian dari rencana kalian?" tanya Su Yinyin tajam, jemarinya mengepal di balik lengan jubah.
"Benar," jawab Pemimpin Klan Teratai Hitam itu tanpa ragu. "Sistem yang membimbing kesadaranmu bukanlah keajaiban dunia lain, melainkan artefak spiritual kuno milik leluhur kami yang diaktifkan melalui ikatan darah teratai perak. Tubuh asli Su Yinyin seharusnya menjadi wadah untuk menghancurkan keluarga kekaisaran dari dalam. Tapi sayangnya... kau justru memilih berjalan bersama pangeran es ini."
Wanita itu mengalihkan pandangannya tajam ke arah Mo Jue. "Dan kau, Pangeran Kedua! Kau mengira ibumu tewas karena diracun oleh selir lain? Ketahuilah, ibumu mati karena ia mengetahui rahasia bahwa darah klan kami mengalir di dalam nadi wanita yang kau nikahi sekarang!"
Suasana di dalam gua mendadak membeku. Mo Jue tertegun sepersekian detik. Cengkeramannya pada gagang pedang perangnya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih, namun pandangannya sama sekali tidak beralih dari sosok Su Yinyin di sampingnya.
Bagi Mo Jue, masa lalu dan silsilah darah tidak mengubah apa pun. Wanita yang berdiri di sisinya hari ini adalah satu-satunya orang yang mempertaruhkan nyawa bersamanya di Aula Agung dan di tengah badai intrik istana.
"Aku tidak peduli dari mana darahnya berasal," suara Mo Jue dingin, memecah keheningan gua dengan ketegasan mutlak. Ia melangkah maju satu langkah, menatap tajam sang pemimpin klan. "Masa lalu adalah urusan para leluhur yang sudah mati. Tapi jika kau berniat menyakiti istriku hari ini... maka klan teratai hitammu akan musnah tanpa sisa malam ini juga."
Pemimpin klan tertawa kecil—sebuah tawa sinis yang menggema mengerikan. "Kau pikir kau bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup bersama pasukan kecilmu, Pangeran?"
Bum!
Tiba-tiba, suara gemuruh hebat terdengar dari arah lorong masuk di belakang mereka. Sisa-sisa pilar batu runtuh dan menutup rapat jalur jalan keluar, menjebak mereka di dalam gua bawah danau air panas tersebut. Dari balik celah-celah dinding gua, puluhan pemanah bayangan berpakaian hitam mulai bermunculan, mengarahkan panah beracun tepat ke arah rombongan Mo Jue.
***
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️
permaisuri
jika kau berdamai dgn mu jue pasti hidupmu akan tenang
TPI sayang sekali kau selalu mengusik singa yg sedang tidur
lalu kenapa seorang permaisuri begitu merasa terancam dgn kehadiran dan kesuksesan jendral joe
sehingga permaisuri hidup semena mena👊
kena kaisar begitu ceroboh
permaisuri👊
wah gawat, dua wanita dlm satu atap
yg terkadang sejalan😭😭
semoga putri mahkota bisa diajak kerja sama
pasti bisa meluluhkan pangeran kedua
su😁😁
gak tau apa gimana hantun su yinyin😁😁👊
sungguh belum tau rasanya jadi buucin yaa🤣
apa dia dicekik atau terpeleset di kamar🤔🤔🤔