Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.
cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 DIBALIK UJIAN
Bobby sangat sakit hati tidak percaya bahwa anak seorang pengusaha berkelakuan bejat seperti itu, dengan tubuh gemetar Dinar berjalan dipeluk oleh Bobby, Malam ini hancurlah karirnya karena ulah bosnya sendiri. Dia tidak menyangka akhirnya dirinya berhenti dan karir yang diimpikannya juga selesai.
Sesampai diparkiran, Dinar dan Bobby naik mobil yang sama, sementara mobil Bobby dijemput sopir nantinya, Dinar menghela nafas panjang, pikirannya masih tertuju pada kejadian tadi. Bobby dan Dinar duduk didalam mobil dan mereka sama-sama termenung dan menata kembali nafas dan pikiran mereka.
"Kamu jangan kwatir, nanti kerja dirumah sakit saja, ada bagian lowongan yang buka disana sesuai bidang kamu sayang, aku akan bicara dengan Dokter Arya besok" jadi kita bisa sama-sama, apa yang aku takutkan terjadi juga rupanya"
"Maksud Kamu apa yank, yang ditakutkan apa, kamu kenal Yuda?" Dinar bertanya merasa penasaran dengan ucapan Bobby barusan. "Aku tidak kenal Bobby tapi teman aku kenal dia, Yuda hobby main perempuan membanggakan kekayaan Papinya, dia baik dan humble tapi kelemahannya adalah wanita, banyak wanita yang dipacarinya tapi tak satupun dinikahinya.
"Dia akan mengejar sampai wanita itu jatuh dalam pelukannya tapi setelah mendapat dia akan meninggalkan wanita itu tanpa rasa bersalah."ya Allah sadisnya, untung pacarku datang Tuhan mengerakkan hatimu Bob datang ke kantor Dinar, dan menyelamatkan Dinar"
"Hmm_ really aku nyakin tanpa kehadiranku, kamu juga, bisa menangani semua kok, masa pemegang sabuk hitam membiarkan dirinya dilecehkan, Hahahha" Bobby mengambil tubuh Dinar dan memeluknya"
"Tapi itulah wanita butuh perlindungan juga walau aku punya sabuk, aku bahagia dijaga dan dilindungi dengan kamu Bob, jadi aku tidak menunjukan kekuatan itu, Dinar sayang sama kamu Bob, terima kasih" Dinar menatap Bobby, mata mereka pun beradu pandang, Berlahan Bobby mendekatkan bibirnya ke bibir Dinar, "Bolehkan aku mencium bibir mu sayang" Dinar menganggu, merekapun melakukan ciuman bibir perdana sejak mereka pacaran, Dinar pun membalas ciuman itu, walau.mereka masih baru tapi mereka merasakan sensasi hisapan dan ciuman itu.
"Terima kasih sayang, kita jangan sampai larut sebelum pernikahan kita"
"Iya Bob terima kasih sudah menjaga aku" Dinar merasa bersyukur bahwa laki-laki didepannya sangat mencintainya. "Aku akan segera menikahi kamu setelah semua urusan kita selesai" ucap. Bobby penuh keyakinan.
Setelah mengantar Dinar, Bobby pun pamit, pulang ke rumahnya. Dinar dengan langkah lesu mengetuk pintu rumahnya yang dibukakan oleh Bik Ani. "Bibi__" Dinar memeluk Biki Ani dan menangis karena trauma yang baru dialaminya. "Kenapa Non, ada Apa, Non baik-baik saja?" Dinar mengangguk lunglai.
"Dinar berhenti Bik,Dinar mengundurkan diri" Pak Sukri muncul dari belakang, "Kenapa Nak, kenapa kamu mengundurkan diri?"
"Bos Dinar melecehkan Dinar"
"Apa__!" Pak Sukri nampak kaget mukanya merah, Bik Ani pun sama kagetnya. "Bagaikan ceritanya, kamu baik-baik saja kan Nak?"
"Alhamdulillah Dinar baik berkat Bobby datang" Dinar menceritakan kejadian yang menimpanya, Pak Sukri dan Bik Ani mendengarkan cerita Dinar sampai akhir. "Bos kurang ajar, jahat" Bik Ani mengupat setelah mendengar cerita tersebut.
"Sekarang Non sudah selamat dari perbuatan Bos jahat itu, sekarang Non istirahat dan mudahan Non bisa dapat kerja lagi yang lebih baik. "Baik Bik, InshaAllah Dinar diberi rezeki lagi oleh Allah".
Sementara Bobby yang sudah sampai dirumahnya dengan halaman yang luas, nampak parkiran mobil yang tidak dikenalnya. "hmmm, kelihatanya ada tamu dirumah" Bobby berencana masuk lewat pintu samping karena tidak ingin menganggu suasana didalam ruangan tamunya.
Saat Bobby memasuki rumah dan langsung akan menaiki tangga yang tak terlihat oleh orang-orang diruang tamu, Tiba-tiba Maminya muncul melihat kehadiran Bobby.
"Bobby kamu sudah datang Nak, kesini dulu lihat siapa yang datang" Bobby sedikit kaget melihat Maminya sudah dibawah tangga menunju lantai dua rumahnya. "Ayo turun kamu lihat dulu" Bobby turun dari tangga. "Siapa Mi, Bobby capek pulang kerja" Dengan agak terpaksa Bobby mengikuti Maminya.
Sesampai di ruang tamu, Bobby melihat Jamilah disana."Mila__! Kamu kok disini dirumah saya?" Kedua keluarga itu nampak tertawa. Pak Ferdian berdiri dari duduknya. "Kenalkan Bob ini Pak Hardinata teman Papi dia bekerja di bidang Pajak sama dengan Pak Rudiansyah tapi beliau bagian keuangan seluruh kantor perpajakan di daerah, dan ini dokter Jamilah anak Pak Surya yang dulu kerja di Bengkalis sekarang pindah ke rumah sakit kamu kabarnya ya Bob dan kalian sudah kenal rupanya"
"Iya Pi, Jamilah dinas di rumah sakit Bobby, kami satu team" Bobby bersalaman dengan Pak Hardinata dan Istrinya dengan senyum dan keramahan Bobby duduk disamping mereka sejenak. "Oh Ya Om, tante dan Mila saya ke atas dulu sudah gerah rasanya badan"
"Oh ya silakan" pak Hardinata nampak tersenyum ramah, Mila menatap Bobby dengan seribu pertanyaan karena tadi dia tidak dapat menumpang di mobil Bobby. Tapi dia tidak. mengatakan itu didepan Keluarga Bobby takut ada salah paham nanti dan niat perjodohan Bobby dengan dirinya bisa batal, karena Jamilah sangat tertarik dengan Bobby walau tidak berapa lama kenal dirumah sakit, atas rekomendasi Papanya dia bisa pindah dan bertemu Bobby.
"Bob nanti makan malam kamu turun ya" Ucap Maminya dokter Tia "Maaf Mi aku mau tidur badanku capek dan aku sudah makan tadi bersama Dinar" Setelah berucap seperti itu Bobby pergi melangkahkan kaki ke lantai atas tanpa melihat ekspresi Maminya.
Ada perasaan yang tidak enak terasa di dada Bobby melihat peristiwa hari ini, pertama masalah Dinar sekarang keluarga Mila datang ke rumahnya, dia baru tahu Mila adalah anak teman Papinya, apakah akan ada kelanjutan setelah hari ini, Bobby berusaha menerka pikirannya sendiri.
"Bobby ngak turun Mi_? Pak Ferdian bertanya kepada istrinya, Bobby sudah tidur Pi, sudah Mami ketuk Pintunya, Maaf Pak Han, Mila Bobby tidak dapat ikut makan Malam hari ini. "Ngak apa Tante" Ucap Mila yang sebenarnya ingin melihat Bobby hingga dia ikut kesini.
Dokter Jamilah, dokter cantik putri Pak Hardinata ini adalah salah satu dokter penyakit dalam yang setahun lalu pernah bertemu dengan Bobby saat dia mengadakan Seminar, disana Mila sangat tertarik oleh Bobby saat memberi penjelasan di sebuah seminar dan mereka bertemu di lift hotel waktu itu dan saling menyapa.
Ketika Mila dipindahkan dari rumah sakitnya atas bantuan Pak Ferdian ke kotanya lagi dan ditawarkan kerja dirumah sakit dimana Bobby kerja, dia langsung setuju, pucuk dicinta ulam tiba, karena akhirnya dia bisa bertemu dengan Bobby lagi. Kebetulan Papanya dan Mamanya dikota itu juga. "Nak Mila tambah makannya nak_" Lamunan Mila tersentak buyar saat Mami Bobby menyentakkan lamunannya.
"Setelah beberapa saat keluarga Pak Hardi disana akhirnya, mereka pamit" Pak Ferdian nampak menahan emosi sengaja Bobby yang tidak turun saat makn malam. "Anak itu tidak menghargai Papi Mi, masa tamu datang dia tidak makan bersama mereka"!
"Sudah Pi Jangan dipaksa dia Pi, kita tidak boleh memaksakan sesuatu yang harusnya tidak kita lakukan Pi" Bobby menyukai Dinar apa salahnya kita Terima dia, Dinar juga anak baik dan santun" Papi tidak. mau besanan dengan lelaki korup dan Narapidana Ma, Apa kata kolega Papi nanti"
"Kan belum tentu Pak Rudiansyah itu bersalah Pi, siapa tahu dia memang dijebak, Lagian apa kesalahan Dinar Pi?!
"Sudah Mi jangan memihak Bobby dan ikut menentang Papi pokoknya Papi ingin Mila dan Bobby berjodoh" Buk Tia menarik dalam nafasnya, karena dia tahu akan apa yang terjadi di keluarganya karena Bobby tidak suka dipaksa apalagi urusan hidupnya.
"Besok pagi Papi akan bicara dengan Bobby dan Mami cukup diam, kita akan cepat pertunangan mereka, kalau perlu" Pak Ferdian meninggalkan meja makan tersebut dengan kesal. "Uffff___tarikan nafas Mami Tia seolah menunjukkan seribu pertanyaan akan apa yang terjadi esok.