NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 34

"Oh, kamu sudah tau rupanya. Kamu benar, aku adalah orang yang terlibat dengan kasus yang menyeret namamu." Stefani tersenyum begitu manis, tak sedikitpun menunjukan rasa sesal atau sorot mata bersalah.

"Stefani Aurora." Dirinya mengulurkan tangan dengan santai, terus bermain peran — berusaha bersikap tenang.

Alyra tersenyum samar, sama sekali tak menatap ramah, manik tajamnya terus membidik sengit sosok wanita tampak menggatal.

Ia dapat menangkap gerak-gerik wanita yang baru dikenalnya detik itu juga. Senyum yang dibuat-buat, ekor mata terus berkedut melirik sosok yang duduk di atas ranjang tunggal.

Setiap bicara, gadis itu berulang kali menyelipkan rambut pada daun telinga, bersikap anggun, tutur kata dibuat lembut, jelas mencari perhatian dari seorang Erlando Pradana.

Alyra menyeringai, memutar bola matanya.

Gadis berparas cantik yang tak lagi berambut pirang — telah dicat hitam pekat, menarik uluran tangan yang tak kunjung mendapat sambutan. "Kamu ... Cukup blak-blakan, ya. Sangat berterus terang menunjukan rasa tak sukamu kepada seseorang," sindirnya halus.

"Tentu saja, aku tak pandai bermuka dua," ketusnya tanpa sungkan.

"Apa karena sikapmu ini yang membuat Erlan begitu menggilaimu—"

"Tentu saja. Dia menikahiku karena tergila-gila padaku." ia menjawab telak, tak memberi kesempatan lawan bicara mengolah kata.

Erlan menatap tak percaya, namun membiarkan sang istri terus bicara, enggan menyela. Sudut bibirnya terangkat, sorot matanya penuh akan sarat makna.

'Aku nggak tau kalau dia punya sisi seperti ini. Lihat tatapannya ... Udah kayak mau nerkam orang, cocok diajak buat nagih utang ini,' batinnya menahan tawa.

Stefani mengatupkan bibir, mengatur napas, kemudian tersenyum tipis. "Benarkah?"

Alyra menganggukan kepala, bersikap jumawa. "Heem." ia menatap sebentar, lalu kembali melempar tanya. "Ada perlu apa datang ke sini? Mau berdiskusi perihal kasus yang sedang ramai di sosmed?"

"Bukan." Stefani menggeleng pelan. "Aku datang sebagai teman," sahutnya santai.

"Teman?" Matanya menyipit, sejenak berpikir. "Sejak kapan kita berteman?"

Gadis bermanik indah, bulu mata lentik memikat, kembali tersenyum tipis. "Bukan kamu, tapi suamimu. Kami berdua berteman sejak remaja sampai sekarang," jelasnya sengaja memancing kecemburuan seorang istri Erlan. "Sepertinya kalian tidak saling bertukar cerita akan hal kecil. Seharusnya kamu sudah tau tentangku yang tak cuma sehari mengenal suamimu."

Ia menyilangkan kaki, tatapannya sangatlah pongah, namun dibalut dengan senyum hangat. "Aku mendengar kabar kalau Erlan dilarikan ke rumah sakit, lalu buru-buru datang untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Aku juga dengar ... kalau istrinya sedang healing ke luar kota, sehingga dia sendirian di rumah sakit." Stefani menghela napas, lalu menatap sinis Alyra.

"Suamimu ditemukan tak sadarkan diri dan hampir overdossis, bisa-bisanya seorang istri malah santai-santai memikirkan diri sendiri—"

"Fani," sela Erlan datar. "Aku nggak pernah memintamu untuk datang. Berhenti ikut campur tentang sakitku, dan soal istriku di luar kota ... Kurasa itu juga bukan urusanmu."

"Erlan ...." Fani menatap tak percaya, mendengar kata-kata menusuk dari seorang Erlan.

"Lebih baik kamu pergi. Lagipula istriku sudah datang, aku nggak mau dia berpikir sembarangan, mencurigai hubungan kita yang hanya sekadar teman." Nada bicaranya penuh wibawa, matanya menyorot penuh peringatan.

"Apa maksud kamu? Aku cuma datang karena khawatir, Erlan." Ia bangkit dari duduknya, menatap mengiba. "Apa dia tahu tentang sakitmu, traumamu? Aku yang paling tau tentangmu, Erlan. Biar sedikit kuberi paham." Ia menatap sinis sosok wanita hamil, berdiri di samping suaminya.

"Seseorang yang hanya memikirkan lukanya sendiri tanpa melihat derita orang lain ... Dia sama sekali nggak pantas berdiri di sampingmu," katanya tajam.

Hilang sudah kesabaran, Stefani mulai bertindak menunjukan sisi tersembunyi.

"Fani." suara berat itu seketika membungkam bibir yang bergetar. "Aku sudah peringatkan, tentangku dan istriku ... Itu bukan urusanmu."

"Kenapa kamu jadi berubah drastis setelah menikah? Apa karena hasutan istrimu ini, kamu jadi kejam dan menjauhi semua temanmu—"

"Stefani Aurora!" rahang tegas itu mengetat, Erlan menatap tajam.

Mbok Tum dan Wina membelalak bersamaan, lalu saling pandang, sedari tadi keduanya hanya menyimak seraya mengupas kuaci, camilan yang di bawa oleh Andi untuk menopang rasa kantuk dua asisten rumah tangga itu. Duda beranak satu itu singgah sebentar untuk melihat kondisi sang tuan, lalu pergi lagi usai mendapat tugas penting.

Alyra menatap lekat sosok pemilik tatapan menusuk. Bukan padanya, netra pekat nan tegas itu menyorot menghujam ke arah gadis berparas jelita, wajahnya tertunduk dalam, tak mampu balik menatap.

"Pulanglah. Jangan membuatku menaikan intonasi saat bicara," pintanya dengan tegas, tak memutus pandangan menusuk ke arah Stefani Aurora.

Gadis yang digadang-gadang memiliki nama besar di dunia kepenulisan itu menghentakan kaki, menatap sengit Alyra, lalu melangkah berbalik tanpa sepatah kata.

"Tunggu." Alyra ikut berbalik, menatap sosok yang sudah melangkah, memegang daun pintu.

Stefani berhenti, kembali menatap sinis.

"Erlan dilarikan ke rumah sakit bukan karena overdosis, melainkan akibat reaksi alergi," ujar Alyra kepada Stefani.

"Apa?" Kening gadis yang sejak tadi berwajah kesal itu langsung mengernyit.

Alyra menatapnya datar. "Sekadar mengingatkan. Aku jauh lebih mengenal suamiku. Kami saling berbagi hal-hal penting dalam hidup."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada tenang yang sarat makna.

"Jadi, jika namamu tak pernah muncul dalam cerita hidupnya ... kurasa itu sudah cukup menjelaskan posisimu, Stefani Aurora."

Stefani berdiri kaku, pupilnya membesar, giginya bergemeretak. Ia cengkeram erat gagang pintu, kemudian menariknya keras, setelah keluar, lalu menutupnya sekuat tenaga.

Brak!

Yang di dalam ruangan sedikit tersentak.

Erlan meneguk ludah, menatap melunak bahu istrinya yang masih berdiri seraya mengepalkan tangan.

"Sini, duduklah," pintanya sambil mengusap-usap kasur bed pasien, ia menggeser sedikit bokongnya.

Alyra menoleh, sorot matanya tak berubah, masih sama tajam.

"Senangkah kamu menjadi dambaan banyak wanita, Erlando Pradana?"

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!