NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sirene ambulans membelah keheningan malam saat kendaraan darurat itu merangsek masuk ke pelataran Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit swasta bertaraf internasional.

Suasana yang tadinya tenang seketika menjadi kacau oleh hiruk-pikuk tim medis yang berlarian.

Begitu pintu ambulans terbuka, petugas medis langsung mengevakuasi Pratama dan Diandra.

Meskipun kondisi fisik Pratama babak belur, ia bersikeras untuk tetap mendampingi istrinya. Namun, tim paramedis segera memisahkan mereka.

"Bawa pasien pria ke IGD untuk pemeriksaan trauma fisik, segera lakukan pemindaian seluruh tubuh!" teriak kepala tim medis.

"Pasien wanita kondisi kritis, siapkan ruang operasi sekarang juga!"

Diandra, yang wajahnya tertutup masker oksigen dan tubuhnya penuh dengan lebam serta luka terbuka akibat penyiksaan Vincent, tampak begitu rapuh.

Pratama yang sedang dibersihkan lukanya di ranjang IGD terdekat, berusaha bangun dan mengejar brankar Diandra.

"Selamatkan istriku!" ucap Pratama dengan suara serak yang penuh permohonan, mencengkeram lengan dokter bedah yang hendak menutup pintu ruang operasi.

Tatapan matanya yang biasanya tajam dan berwibawa kini menyiratkan ketakutan murni.

"Apapun risikonya, apa pun biayanya, bawa dia kembali padaku! Aku mohon!"

Dokter bedah senior itu mengangguk tegas, mengerti betapa besarnya taruhan nyawa di hadapannya.

"Kami akan melakukan yang terbaik, Pak. Mohon tenang, Anda juga butuh penanganan segera."

Pintu ruang operasi tertutup rapat, menyisakan lampu merah yang menyala di atas pintu, menjadi satu-satunya sumber pengharapan Pratama saat ini.

Di tengah kesunyian lorong rumah sakit yang dingin, Pratama terduduk lemas di kursi tunggu dengan tangan yang masih gemetar hebat.

Kini, ia tidak bisa melakukan apa pun selain berdoa. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan batin.

Pria yang biasanya mengendalikan nasib ribuan karyawan dan imperium bisnis besar tersebut, kini merasa begitu tak berdaya menghadapi takdir yang tengah dipertaruhkan di balik pintu ruang operasi.

Ia memejamkan mata, memutar kembali rekaman suara tawa Diandra di pantai tadi siang, menjadikannya satu-satunya pegangan untuk menahan hancurnya mental yang tersisa.

"Bertahanlah, Sayang. Jangan tinggalkan aku," bisiknya dalam hati.

Ia menunggu kabar apakah sang belahan jiwa akan kembali membuka matanya atau membiarkan dunianya runtuh untuk selamanya.

Di ruang operasi yang steril, suasana begitu tegang.

Lampu operasi yang terang benderang menerangi tubuh Diandra yang terbaring lemah.

Dokter bedah senior yang menangani Diandra menggelengkan kepalanya dengan raut wajah penuh kecemasan.

"Kondisinya sangat kritis," gumam dokter tersebut kepada tim medisnya.

"Semoga kita bisa menyelamatkannya."

Luka-luka yang diderita Diandra begitu parah akibat penyiksaan kejam Vincent.

Darah mengalir cukup deras, membuat tim medis harus bekerja ekstra keras untuk menghentikan pendarahan dan menstabilkan kondisinya.

Setiap detik terasa begitu berharga, dan ketidakpastian menyelimuti ruang operasi tersebut.

Hampir lima jam berlalu, suasana di ruang operasi akhirnya mulai mereda.

Setelah perjuangan panjang dan melelahkan, dokter berhasil menghentikan pendarahan dan menjahit luka-luka Diandra.

"Dia sudah melewati masa kritisnya," ucap dokter tersebut dengan nada lega.

"Kini, kita hanya bisa berdoa agar dia bisa pulih sepenuhnya."

Sementara itu, di ruang perawatan di mana Pratama menunggu kabar, kecemasan begitu terasa.

Ia tak henti-hentinya berdoa dan berharap agar istrinya bisa selamat.

Saat perawat masuk ke ruangan tersebut, Pratama langsung bangkit dari kursinya.

"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Pratama dengan suara gemetar.

"Pasien sudah melewati masa kritisnya," jawab perawat dengan senyum tipis. "Dan setelah ini, perawat akan membawanya ke ruangan ini."

Mendengar kabar tersebut, Pratama langsung menghela napas lega.

Ia merasa begitu bersyukur karena istrinya bisa selamat dari maut.

Meskipun masih harus menjalani perawatan yang panjang, namun harapan untuk pulih sepenuhnya mulai tumbuh di hati Pratama.

Tak berselang lama setelah perawat memberikan kabar baik itu, pintu ruang perawatan terbuka lebar.

Beberapa perawat dengan hati-hati mendorong brankar masuk ke dalam ruangan, membawa tubuh Diandra yang masih tampak begitu rapuh.

Mereka memindahkan Diandra ke ranjang perawatan dengan sangat perlahan agar tidak mengganggu selang infus dan peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.

Setelah para petugas medis memastikan semua mesin pemantau detak jantung berfungsi dengan normal, mereka mundur beberapa langkah.

Pratama melangkah mendekat dengan tumpuan kaki yang masih terasa agak kaku.

Ia berdiri di sisi ranjang, menatap lekat-lekat wajah istrinya yang lebam dan dipenuhi perban di beberapa bagian.

Hatinya kembali berdenyut perih melihat sisa-sisa kekejaman Vincent yang tercetak jelas di kulit mulus Diandra.

Diandra masih memejamkan matanya dengan rapat, napasnya terdengar halus dan teratur di bawah pengaruh obat bius pasca-operasi yang belum sepenuhnya hilang.

Tidak ada lagi jeritan kesakitan, hanya ada kedamaian semu yang menyelimuti wajah cantiknya.

Perawat senior yang menyadari pancaran rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam di mata sang CEO, menyentuh lengan Pratama dengan sopan.

"Biarkan dia istirahat, Tuan Pratama. Kondisi Ibu Diandra sudah jauh lebih stabil, namun tubuhnya memerlukan waktu yang cukup untuk memulihkan diri dari trauma fisik yang hebat," ucap perawat itu dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan.

Pratama menganggukkan kepalanya pelan, tidak ingin membantah saran medis demi kebaikan wanita yang teramat dicintainya. "

"Terima kasih, Suster," jawabnya lirih dengan suara bariton yang terdengar sangat lelah.

Setelah para perawat pamit keluar dan menutup pintu dengan rapat, keheningan kembali menguasai ruangan serbaputih itu.

Pratama menarik sebuah kursi kayu ke dekat sisi ranjang, lalu duduk di sana.

Ia meraih jemari tangan Diandra yang bebas dari jarum infus, menggenggamnya dengan kedua belah tangannya yang besar, lalu membawanya ke depan bibir untuk dikecup dengan penuh takzim.

Pratama berjanji di dalam hatinya, ia tidak akan beranjak bahkan untuk satu jengkal pun.

Ia akan tetap berada di sana, menjadi penjaga setia dalam kesunyian, menunggu hingga sepasang mata indah itu kembali terbuka dan menyambut dunianya yang baru.

Diandra tertawa kecil, meskipun ringisan halus sempat meloloskan diri dari bibirnya akibat rasa perih di sudut mulut yang ketarik.

Melihat wajah suaminya yang begitu tegang dan dipenuhi kekhawatiran, rasa sakit di sekujur tubuhnya seolah mereda begitu saja.

"Sepertinya kita berdua bulan madu di sini," ucap Diandra dengan nada berguyon yang lirih, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan serbaputih yang dipenuhi peralatan medis. "Dan jangan hubungi Papa, Mas."

Pratama menaikkan sebelah alisnya, menatap istrinya dengan bingung.

"Kenapa, Sayang? Papa pasti sangat khawatir kalau tahu apa yang terjadi pada kita di pulau itu."

Diandra menggelengkan kepalanya perlahan di atas bantal.

"Biarkan Papa mengira kita bulan madu dengan tenang di pulau terpencil. Mas tahu sendiri bagaimana kondisi jantung Papa setelah semua teror Mita kemarin. Kalau Papa tahu kita diculik dan aku harus masuk ruang operasi lagi, Papa bisa syok berat."

Pratama terdiam sejenak, meresapi perkataan istrinya.

Apa yang dikatakan Diandra ada benarnya. Mertuanya itu baru saja bernapas lega setelah mendekamnya Mita dan Ferdian di penjara.

Jika mendengar kabar buruk ini, kesehatan Tuan Bayu pasti akan langsung ambruk.

"Lagipula..." Diandra meremas pelan jemari Pratama, mencoba memberikan kekuatan.

"Kita sudah aman sekarang. Vincent dan anak buahnya pasti sudah diringkus polisi. Jadi, biarkan satu bulan ini menjadi waktu kita untuk benar-benar sembuh di sini, tanpa ada beban pikiran dari luar."

Melihat senyuman tulus di wajah istrinya, kekakuan di wajah Pratama akhirnya mencair.

Ia menunduk, mengecup kening Diandra dengan sangat lembut dan lama.

"Baiklah, Sayang. Mas turuti kemauanmu," bisik Pratama pasrah.

"Kita akan 'bulan madu' di rumah sakit ini sampai kamu benar-benar pulih total. Mas akan meminta tim siber untuk memblokir semua berita tentang kejadian di pulau agar tidak sampai ke telinga Papa."

Diandra tersenyum puas, menyandarkan kepalanya dengan nyaman sementara Pratama terus menggenggam tangannya, memulai hari-hari pemulihan mereka dalam kedamaian rahasia yang sengaja mereka ciptakan.

1
Aretha Shanum
oh paling malas bca, ujung2 nya ga jelas
Dede Dedeh
kiraan mau happy ending........
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!