Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.
Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.
Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Diandra berhasil mempertahankan posisinya selama beberapa menit.
Detik demi detik yang terlewati terasa bagaikan sebuah pencapaian besar.
Meskipun seluruh persendiannya gemetar hebat dan peluh dingin mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya, ia menolak untuk langsung menyerah pada rasa sakit.
Ia ingin membuktikan pada dunia, pada Pratama, dan pada musuh-musuhnya bahwa raga aslinya tidak akan bisa dilumpuhkan lagi.
Setelah dokter dan perawat memastikan bahwa stimulasi sarafnya sudah cukup untuk sesi hari ini, Diandra perlahan menurunkan tumpuan badannya.
Bruk.
Ia terduduk kembali ke atas bantalan kursi roda dengan lelah namun bahagia.
Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat, tetapi seulas senyuman kemenangan merekah sempurna di bibirnya yang pucat.
Rasa frustrasi dan ketakutan yang sempat menggelayuti benaknya beberapa saat lalu kini menguap, digantikan oleh rasa bangga yang luar biasa.
Pratama menepati janjinya. Tanpa membuang waktu, pria itu memajukan kursi rodanya hingga benar-benar merapat di sisi Diandra.
Dengan gerakan jemari yang telaten, ia membuka bungkus cokelat premium berwarna emas tersebut.
Aroma pekat dark chocolate berpadu kacang hazelnut yang khas langsung menguar, memenuhi indra penciuman Diandra.
"Hadiah untuk istriku yang luar biasa," bisik Pratama dengan tatapan mata yang sangat teduh dan penuh pemujaan.
Ia mematahkan satu kotak kecil cokelat itu, lalu menyuapkannya langsung ke Diandra sebagai hadiah atas langkah pertamanya.
Diandra menerima suapan itu dengan mata yang berbinar haru.
Rasa manis dan sedikit pahit yang mewah dari cokelat kesukaannya seketika meleleh di dalam mulut, menjalar menjadi sensasi hangat yang menenangkan seluruh saraf tubuhnya yang tegang setelah disiksa terapi fisik.
Cokelat ini bukan lagi sekadar makanan manis biasa, melainkan simbol bahwa perjuangan mereka untuk kembali ke kehidupan yang normal telah dimulai.
"Bagaimana? Enak?" tanya Pratama lembut, mengulurkan ibu jarinya untuk mengusap sisa cokelat yang sedikit tertinggal di sudut bibir Diandra.
Diandra mengangguk cepat sambil mengunyah perlahan, air mata bahagianya kembali menetes namun kali ini tanpa rasa sakit.
"Sangat enak, Mas. Rasanya jauh lebih manis karena kamu yang menyuapkannya."
Pratama terkekeh pelan, sebuah suara bariton rendah yang sangat dirindukan Diandra.
Pria itu kemudian menggenggam tangan Diandra yang bebas, mengecup punggung tangan itu dengan penuh khidmat.
"Satu langkah sudah kita lewati, Sayang. Besok, kita akan melangkah lebih jauh lagi. Setelah tubuhmu dan tubuhku pulih sepenuhnya, tidak akan ada lagi tempat bersembunyi bagi Mita dan Ferdian di dunia ini."
Kembali ke dalam kehangatan kamar rawat VIP, suasana tenang itu mendadak beralih ketat saat pintu diketuk dengan ritme konstan yang tak asing.
Diko kembali masuk membawa tablet militer berspesifikasi tinggi di tangan kanannya.
Langkahnya tegap, mencerminkan urgensi dari informasi yang baru saja ia himpun dari jaringan intelijen di lapangan.
Pratama yang bersandar di ranjangnya langsung menoleh, sementara Diandra yang sedang menikmati cokelatnya tampak begitu tenang, menyandarkan punggung tirusnya pada bantal medis yang dinaikkan.
"Melapor, Pak, Nyonya Besar," ujar Diko sambil membungkuk hormat, lalu menyerahkan tablet tersebut agar bisa dilihat oleh kedua atasannya.
"Pergerakan target terkunci sempurna. Mita sudah berada di dalam hotel transit dekat pelabuhan internasional sejak dua jam yang lalu."
Layar tablet menampilkan tangkapan layar kamera pengawas tersembunyi serta laporan mutasi sistem yang sempat dicoba oleh Mita.
Pada layar, terlihat rekaman CCTV amatir dari lobi hotel transit kelas melati yang tampak kumuh. Di sana, Mita—yang mengenakan wig hitam pendek dan kacamata besar untuk menyamar—tampak panik luar biasa.
"Berdasarkan laporan agen kita di lapangan, kepanikan Mita bermula saat ia mencoba membayar biaya akomodasi hotel dan bersiap menyuap salah satu oknum petugas pelabuhan agar bisa naik ke kapal roro malam ini," lanjut Diko dengan nada puas yang tertahan.
"Namun, seluruh kartu kredit, kartu debit, hingga akses mobile banking-nya ditolak mentah-mentah oleh sistem. Statusnya declined total."
Pratama terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar dingin.
Ia melirik istrinya yang masih mengunyah potongan cokelat premium Swiss di sampingnya dengan anggun.
"Kerja bagus, Sayang. Kamu benar-benar memotong urat nadinya."
Diandra menelan cokelatnya perlahan. Ekspresi wajah aslinya yang cantik kini sepenuhnya diselimuti oleh keangkuhan mutlak seorang nyonya besar Pratama Group.
Tidak ada lagi sisa kepedihan dari ruang terapi; yang ada hanyalah insting predator yang siap menguliti mangsanya hidup-hidup.
"Diko," panggil Diandra, suaranya terdengar begitu rendah namun sarat akan titah yang tidak bisa diganggu gugat.
"Siap, Nyonya Besar?"
"Perintahkan timmu di lapangan untuk tidak langsung menangkap Mita. Jangan sentuh dia malam ini," perintah Diandra yang sedang menikmati cokelatnya, membuat Diko sempat melebarkan mata karena terkejut.
Pratama menatap istrinya, langsung memahami arah permainan psikologis yang sedang dirancang oleh Diandra.
"Nyonya ingin membiarkannya lolos?" tanya Diko memastikan.
"Lolos? Tidak akan ada kata lolos untuk wanita ular seperti dia," desis Diandra dengan senyuman tipis yang teramat mengerikan di sudut bibirnya.
"Aku ingin Mita merasakan ketakutan batin terlebih dahulu. Aku ingin dia tahu bagaimana rasanya berada di titik terbawah, menjadi gelandangan di sekitar pelabuhan internasional yang bising dan kotor tanpa uang sepeser pun. Biarkan dia kelaparan, ketakutan melihat setiap orang yang lewat karena mengira itu adalah polisi, dan mengemis di jalanan pelabuhan yang dingin."
Diandra menjeda kalimatnya, kilat matanya memancarkan kekejaman yang murni.
"Setelah mentalnya benar-benar hancur dan dia menyadari bahwa dia tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak punya kekuatan apa-apa lagi, baru kita seret dia masuk ke dalam sangkar pengadilan sebelum dihancurkan sepenuhnya."
Diko merasakan tengkuknya merinding mendengar rencana tersebut. Sisi dingin Diandra yang asli telah kembali seutuhnya.
"Dimengerti, Nyonya Besar. Tim pengawas akan tetap melekat pada target tanpa melakukan kontak fisik. Kami akan memastikan dia menikmati malamnya sebagai gelandangan pelabuhan."
Malam kian larut, namun pelabuhan internasional justru semakin bising oleh deru mesin truk-truk kontainer besar dan klakson kapal roro yang bersiap angkat sauh.
Bau solar yang menyengat, debu jalanan, dan angin laut yang dingin menusuk tulang seolah bersekongkol untuk menyiksa siapa saja yang tidak memiliki tempat berlindung.
Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, Mita berjalan luntung-lantung menyusuri trotoar beton yang kotor.
Pakaiannya yang semula rapi kini tampak kusut. Wig hitam pendek yang digunakannya untuk menyamar sudah agak miring, dan kacamata besarnya melorot ke ujung hidung, menyembunyikan sepasang mata yang dipenuhi oleh ketakutan dan keputusasaan yang teramat sangat.
Baru saja, dengan cara yang paling memalukan, Mita diusir dari hotel transit kelas melati itu.
Pihak pengelola hotel tidak peduli dengan penyamarannya atau masa lalunya sebagai nyonya besar di korporasi kelas atas.
Begitu seluruh kartu kredit dan rekening banknya dinyatakan declined oleh mesin EDC, petugas hotel langsung melempar tas pakaiannya ke luar lobi tanpa belas kasihan.
"Sialan! Bajingan! Bagaimana mungkin semua rekeningku bisa dibekukan secara bersamaan?!" umpat Mita dengan suara tertahan, air mata frustrasinya mulai menetes berbaur dengan debu pelabuhan.
Ia mencoba meraba saku celananya, berharap
menemukan beberapa lembar uang tunai yang tersisa. Namun kosong.
Ia benar-benar tidak memegang sepeser pun uang bahkan hanya untuk membeli sebotol air mineral untuk membasahi tenggorokannya yang kering dan perih.
Seseorang telah merancang semua ini dengan sangat rapi, menguncinya di dalam sangkar tak kasat mata tepat di ambang pintu pelariannya.
Mita terduduk lemas di atas undakan semen sebuah ruko kosong yang menghadap langsung ke gerbang masuk pelabuhan.
Tubuhnya menggigil hebat saat angin laut malam menerpa kulitnya.
Perutnya berbunyi nyaring, melilit kesakitan karena sejak siang tadi belum sebutir nasi pun masuk ke dalam lambungnya.
Setiap kali ada langkah kaki orang mendekat atau sorot lampu mobil patroli melintas, jantung Mita berdegup liar karena panik.
Ia langsung menundukkan kepala dalam-dalam, berpura-pura tidur seperti gelandangan pelabuhan lainnya, takut jika orang-orang itu adalah polisi yang dikirim untuk menangkapnya.
Siksaan batin ini jauh lebih mengerikan daripada jeruji besi; ia dipaksa hidup dalam paranoia yang menggerogoti kewarasannya perlahan-lahan.
Sementara itu, beberapa puluh meter di seberang jalan, di dalam sebuah mobil SUV hitam dengan kaca film yang sangat gelap, dua orang agen kepercayaan Diko terus mengawasi setiap pergerakan Mita melalui keker keker canggih berteknologi night-vision.
Salah satu agen mendekatkan mikrofon kecil ke bibirnya.
"Melapor ke pusat. Tikus pelabuhan sudah berada di jalanan. Target saat ini sedang mengemis rasa aman di depan ruko kosong setelah diusir dari hotel transit. Kami tetap menjaga jarak sesuai perintah Nyonya Besar."
Di ranjang rumah sakitnya, Diandra yang menerima laporan tersebut hanya tersenyum tipis sambil menyesap sisa teh hangatnya.
Skenario pembalasan psikologisnya berjalan dengan sangat sempurna.
Mita harus merasakan bagaimana rasanya menjadi sampah yang tidak berdaya, persis seperti apa yang pernah ia lakukan pada orang-orang tidak berdosa di masa lalu.