NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31 Kebanggan dan Luka

Reigan bergeming. Tatapan tajamnya mengunci Hana.

"Duduklah."

"Ini bukan luka besar," ujar Reigan menolak. Rahangnya mengetat kencang. Ia terbiasa menahan rasa sakit, namun sikap acuh tak acuh Hana jauh lebih mengusik egonya malam ini. "Aku ulangi. Jangan mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan, Hana."

Hana diam. Wajah esnya sama sekali tidak terusik oleh intimidasi pria itu. "Baik. Kau bisa menganggapnya begitu jika mau. Yang penting adalah obati lukamu." Hana menyodorkan kotak P3K pada Reigan.

Mata Reigan menatap Hana lurus-lurus tanpa menerima sodoran kotak P3K. Keheningan di antara mereka sempat membeku selama beberapa detik. Lalu dia memilih duduk.

"Obati," perintah Reigan. suaranya rendah, mutlak, dan sarat akan dominasi yang tidak bisa dibantah.

Hana menipiskan bibir. menatap kotak obat di tangannya sebentar sebelum akhirnya melangkah maju memangkas jarak.

Hana mulai mendaratkan kapas beralkohol itu di atas pelipis Reigan yang robek, membersihkannya dengan gerakan sewajarnya orang mengobati—fokus dan tanpa memikirkan apa pun.

Namun, Reigan terdiam. Rasa perih yang tiba-tiba menyengat kulitnya justru membuat pria itu tanpa sengaja terpaku, mengunci pandangannya pada wajah Hana yang berada tepat di depan matanya.

Di jarak sedekat ini, amarah Reigan entah bagaimana mendadak surut. Detak jantungnya seolah melambat saat matanya tanpa sengaja menangkap ketenangan mutlak di wajah dingin Hana.

Ada rasa takjub yang mendalam yang tiba-tiba menyergap batin Reigan—takjub karena wanita berbahaya yang baru saja lolos dari ledakan bom bersamanya ini bisa bersikap tenang ini, merawat lukanya seolah kekacauan di pelabuhan tadi hanyalah angin lalu.

Rasa takjub itu menyergap tanpa bisa ia kendalikan. Rahang Reigan mengatup rapat, terpaku melihat ketenangan mutlak yang terpancar dari wajah es wanita itu. Tidak ada binar ketakutan, tidak ada kepanikan.

Alis Reigan bertaut samar. Ada sesuatu yang tidak beres dengan kepalanya malam ini.

Logikanya menuntut amarah. "Cukup," pinta Reigan seraya menggeram. Tangannya menangkap tangan Hana yang mengobatinya.

Hana mengerjap. "Baiklah. Kau bisa lepaskan tanganku."

Reigan tidak segera menurut. Kebingungan di kepala Reigan semakin mengusik egonya. Wanita ini benar-benar tidak punya rasa takut. Untuk seseorang yang baru saja tertangkap basah sebagai pembunuh bayaran, dia terlampau tenang!

Hana yang tadinya berpikir untuk berlalu, urung. Dia melirik ke arah tangannya yang tetap di pegang Reigan.

Alih-alih melepaskannya dengan kasar, Reigan justru menurunkan tangan Hana perlahan, namun cengkeramannya tetap mengunci, memaksa wanita itu tetap berada dalam jarak dekat dengannya.

"Kau tidak berniat menjelaskan apa pun, Vesper?" bisik Reigan. Suaranya tajam, dingin, dan langsung menodong identitas asli Hana tanpa basa-basi lagi.

"Tidak ada yang perlu aku jelaskan. Kau sudah tahu."

Mereka saling bertatapan.

Reigan mendengus. "Sungguh menakjubkan kakek menjodohkanku dengan seorang Pembunuh Bayaran," Sarkas Reigan dengan senyuman tipis memuakkan.

Kilat berbahaya di mata Reigan kembali menyala, menggunakan topeng sinis itu untuk menutupi gejolak asing yang sempat menahan lidahnya tadi. Cengkeramannya di tangan Hana perlahan melonggar, lalu terlepas sepenuhnya, berganti dengan sorot mata menuntut kepatuhan yang mutlak.

Tidak mungkin aku dengan terbuka mengumumkan aku adalah Vesper, Reigan. Itu kebanggaan juga luka, batin Hana.

"Sepertinya, apartemen ini akan jadi ruang interogasi dan eksekusi." suaranya mengalun dingin, memetakan ancaman baru di antara mereka.

Hana menatap Reigan lurus. Mencerna kalimat pria ini perlahan. Mencari makna terselubung di balik tatapan kelamnya.

"Mulai sekarang, jangan menutup pintu apapun yang terjadi. Aku tidak mau nyawaku hilang hanya karena kau merencanakan strategi pembunuhan di dalam kamar."

"Perintahmu, aku terima." Hana patuh begitu saja. Membuat Reigan geram dan memilih menuju ke lantai dua.

...----------------...

Jika di apartemen lantai teratas tegang antara Hana dan Reigan. Lantai bawah yang jadi markas Nico dan Marco berbeda lagi.

Ruang kerja Nico hanya diterangi lampu meja yang temaram. Berbeda dengan Marco yang bergerak memakai otot, Nico bekerja dengan akurasi data. Dan malam ini, berkas di hadapannya membuat pria itu menahan napas.

Beberapa lembar dokumen hasil retasan deep web berserakan di meja. Nico sengaja menyembunyikan penyelidikan ini dari Marco sampai semua buktinya valid. Marco terlalu sering meremehkan Hana. Atau sebenarnya tidak ingin mengakui Hana kuat.

Nico membalik halaman berikutnya. Matanya terpaku pada diagram balistik dan lini masa belasan kasus pembunuhan kelas atas yang tidak pernah terpecahkan.

Nama Hana memang tidak ada di sana. Namun, semua kasus itu mengarah pada satu nama yang ditakuti dunia bawah: Vesper.

Ada juga yang hilang. Foto Hana yang dilihat Reigan lenyap. Sepertinya hangus bersama api yang membakar pelabuhan lama.

Nico bersandar, mengembuskan napas panjang. Ini bukan sekadar catatan kriminal biasa, melainkan rekam jejak seorang profesional sejati.

Rasa hormat muncul di benak Nico. Selama ini, orang-orang mengira Vesper adalah pria paruh baya yang penuh bekas luka. Nyatanya, pembunuh paling dicari itu sekarang sedang duduk tenang di rumah Tuan Reigan. Tepat di lantai paling atas gedung apartemen.

"Hebat," bisik Nico lirih.

Langkah sepatu bot yang berat terdengar di koridor luar. Marco. Nico dengan cepat menyapu berkas-berkas itu ke dalam laci rahasia dan menguncinya. Dia tidak akan membiarkan kebodohan Marco merusak penyelidikannya.

Pintu terbuka kasar. Marco masuk sambil memutar gelas sloki di tangannya.

"Masih memeriksa data?" sindir Marco, mendengus.

"Itu tugasku."

"Benar. Itu tugasmu, tugasku adalah eksekusi," desis Marco dengan wajah bangganya. Raut wajah arogan khas orang lapangan.

Nico tersenyum mengakui.

"Aku harus memastikan tidak ada detail yang terlewat," gumam Nico.

...----------------...

Pintu kamar Hana tetap terbuka. Dia mengikuti aturannya. Atau dia sengaja membuat pintu itu terbuka saat aku bangun? Reigan berdiri di koridor lantai dua.

Hana muncul dan mendapati Reigan menatapnya dari lantai dua. Bersandar pada pagar balkon. Dengan matanya menatap ke bawah.

"Pagi, Reigan," sapa Hana. Suaranya mengalun datar, memecah kesunyian fajar tanpa ada rasa canggung sedikit pun.

"Ternyata kau patuh," ujar Reigan dengan senyuman tipis.

Hana melirik ke arah daun pintu dobel yang terbuka sebentar. Gerakannya begitu tenang.

"Hanya ini. Aku pasti bisa mematuhimu," ujar Hana sambil mendongak. Aura tidak bisa dikendalikan tampak jelas dari sepasang manik mata esnya, menegaskan bahwa kepatuhan ini adalah pilihannya sendiri, bukan karena dia tunduk.

Reigan hanya mendengus geram. Egonya terusik melihat intimidasinya sama sekali tidak mempan. Dia langsung turun memotong jarak ke lantai bawah untuk menghadapi Hana secara langsung.

"Vesper ternyata dirancang untuk patuh juga," desis Reigan tepat di depan Hana, menodongkan nama maut itu langsung ke wajah istrinya.

Hana menatap lurus-lurus. "Di rumah ini aku tetap Hana."

1
Normawati
😘
Inah Ilham
terhura....eh terharu nya aku 😭😭😭
E F
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
Inah Ilham
kita yg baca berasa ikut diterperangkap dikegelapan
E F
lanjutt thor💪😍😄
Inah Ilham
sepertinya kok ada bau" gosong ya 🤣🤣🤣
Latifa Latifa
selalu suka karya othor...bahasa simple..alur jelas ..sukaa pokoknya
Inah Ilham
sabar Mas Bro
Inah Ilham
aku tau apa yang ada dikepalamu Reigan 🤣🤣🤣
Inah Ilham
mereka pikir Hana adalah mangsa padahal dialah predatornya
Inah Ilham
kaget ngga tuh si Abang Reigan
Dik Yude
karya2mu sll luar viasa thor..😍
Latifah Latifah
lanjut up thor💪💪😍
Riri
cemburu bang...😄
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!