NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta di Mansion Issac

Hari Jumat. Adden sedang melatih pukulan tinjunya pada samsak bersama teman-temannya. Sejak Melody berjalan kaki sejauh hampir lima kilometer menuju rumah Messy, Adden diam-diam mengikutinya dari belakang. Ia ingin memastikan gadis itu sampai dengan selamat, meski harga dirinya tak pernah mau mengakui hal itu. Ia tidak pernah mengikuti cewek mana pun. Tidak pernah. Sampai Melody muncul kembali.

Adden menjaga jarak aman agar tidak ketahuan. Ia hafal betul rutinitas keluarga Lukita dan jam makan malam Pujiana. Ia menunggu sampai yakin semua orang sudah tidur, lalu memanjat pohon di samping rumah dan mengintip ke arah kamar gadis itu. Anehnya, tempat tidur itu kosong. Entah Melody menyelinap keluar atau tidur di tempat lain. Adden tahu persis itu kamarnya karena Messy pernah bilang, Melody menginap dua pintu dari kamarnya. Messy bahkan sempat mengeluh, susah mau bawa cewek kalau kamar Melody sedekat itu.

Tiba-tiba Messy muncul dari belakang. Adden menurunkan tangannya dan berhenti memukul samsak. Ia menyeka keringat di dahi, mencoba merilekskan otot-otot yang tegang.

Kehadiran Melody benar-benar mengacaukan segalanya. Tadi malam, ia bermimpi buruk tentang gadis itu. Dalam mimpi itu, ada seseorang yang berusaha memaksanya, dan Adden hanya ingat dirinya menghajar orang itu tanpa ampun. Setiap pukulan terasa berat, tapi ia terus melakukannya. Ia bisa melihat wajah penjahat itu, bisa mendengar suara Melody memanggil namanya, tapi anehnya, ia tidak bisa melihat sosok gadis itu.

Adden terbangun dengan badan basah kuyup oleh keringat dingin. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur, mencari keberadaan Melody, tapi yang ada hanya kehampaan. Ia kemudian mengambil surat tua itu, membacanya kembali.

Rasanya ingin sekali ia sobek surat itu menjadi potongan kecil, tapi lagi-lagi ia tidak sanggup. Sekeras apa pun ia berusaha melupakan, ada sesuatu pada Melody yang selalu menahannya untuk pergi.

"Aku harus bicara sama kamu."

"Apa?"

"Soal Melody."

Seketika kepala Adden mendongak cepat. Jantungnya berdegup kencang.

Ada apa?

Apa gadis itu melakukan sesuatu?

Atau ada bahaya yang mengancamnya?

Adden berusaha menyembunyikan kepanikan itu, memasang wajah datar seakan Melody bukan siapa-siapa.

"Ada apa dengan dia?"

Messy menunduk, tampak bersalah. "Aku tahu aku pernah cerita kalau kedatangan dia bikin masalah, tapi aku minta kamu jangan ganggu dia lagi."

"Wait. Ini soal kejadian kemarin? Dia ngomong apa sama kamu?"

Messy menggeleng. "Enggak. Kami sudah bicara, dan dia setuju buat tutup mulut. Lagipula, dia memang enggak berniat tinggal lama setelah wisuda. Dia di sini cuma karena permintaan Papaku."

Kenapa dia harus pergi?

Ke mana tujuan dia?

Adden tahu seharusnya ia tidak peduli, tapi ia tidak bisa membiarkan Melody menghilang lagi. Belum saatnya. Tidak sampai ia bisa membuat gadis itu merasakan sakit yang sama persis seperti yang pernah ia rasakan dulu.

"Apa yang terjadi sebenarnya? Dia bikin masalah? Pujiana baik-baik saja kan?"

"Mamaku baik-baik aja, Adden. Percaya deh. Pokoknya jangan ganggu Melody lagi."

Wait.

Kenapa Messy malah membela dia?

"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Dia ancam kamu?"

"Enggak, urusan ini jangan dicampuri, Adden. Aku tahu sifatmu, kamu merasa tahu segalanya, tapi ini masalah keluarga aku yang harus aku selesaiin. Aku tahu kamu mau lindungi aku, tapi aku bisa handle ini."

Adden mengangkat bahu, pura-pura setuju. Seakan peringatan itu tidak mengganggunya sama sekali. Padahal, di dalam hati ia mendengus. Tidak ada yang boleh melarangnya mendekati Melody. Tidak ada siapa-siapa. Termasuk sahabatnya yang juga saudara tiri gadis itu.

...***...

Minggu depannya ... pesta tahunan pertama yang diadakan Issac. Cowok yang populer ini memang hobi sekali mengadakan acara, apalagi orang tuanya sering pergi keluar kota.

Adden masuk ke dalam rumah bersama Luccy. Cewek itu langsung melingkarkan lengannya di pinggang Adden, matanya sudah terlihat sayu dan linglung, efek dari kokain yang dihisapnya ditambah lima gelas shot yang diminumnya di garasi tadi.

Luccy memang tipe yang suka persiapan dulu sebelum pesta dimulai, takutnya di dalam nanti kehabisan stok. Obat-obatan itu dia dapat dari Leonardo, pemain sepak bola yang juga bandar lokal. Dan semua itu berjalan lancar berkat koneksi Adden.

Saat melihat Mihoy, Luccy langsung tertawa kecil dan berlari menyapa temannya itu. Adden memperhatikan bagaimana mata Mihoy menelusuri badannya, dari kaos hitam Armani sampai celana jeans hitam yang dipakainya.

"Jangan mimpi, cantik," batinnya. Ia harus segera memutus harapan cewek-cewek itu sebelum terlambat.

Matanya beralih ke arah pintu masuk. Ada seorang gadis yang baru datang yang ia kenal dari tim tari. Namanya Clarinne. Tubuhnya seksi, memakai tank top yang memperlihatkan belahan dada yang cukup besar dipadukan dengan rok jeans pendek.

Adden memalingkan wajah, dan tepat saat itu, mata mereka bertemu. Ia menyunggingkan senyum khasnya, senyum yang selalu berhasil membuat cewek klepek-klepek. Clarinne melihat ke kiri dan kanan, memastikan Adden memang tersenyum padanya. Begitu yakin, gadis itu langsung berjalan mendekat dan menempelkan kedua tangannya di dada bidang Adden.

"Mau jalan sama aku?" tanya Clarinne dengan suara yang sengaja dibuat seksi.

Adden membalas dengan senyum paling mematikannya. "Boleh. Apa rencanamu?"

Jari-jari Clarinne melingkar di tangan Adden, lalu menariknya menuju kamar mandi di ujung lorong. Gadis itu berjalan dengan gaya yang dibuat-buat, pinggulnya bergoyang mengikuti irama sepatunya. Namun, di tengah jalan, dari sudut matanya, Adden melihat Mihoy menatap tajam ke arah Clarinne. Adden mengikuti gadis itu masuk ke kamar mandi lalu menutup pintu.

Clarinne bersandar di meja. Adden sadar kalau cewek itu terlihat agak pusing.

Kepala Adden sendiri terasa ringan karena wiski yang diminum barusan. Musik dari luar terdengar sangat keras hingga membuat pintu bergetar.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Adden. Ia tidak mau melakukan sesuatu kalau cewek itu tidak mau atau terlalu mabuk.

"Iya, aku baik-baik aja. Akhirnya juga," jawab Clarinne.

Adden memiringkan kepala. "Akhirnya apa?"

"Kita berdua akhirnya barengan."

"Oh, begitu ya?"

Clarinne mengangguk sambil menjilat bibir, berusaha terlihat seksi. Cewek itu bukan tipe Adden, tapi dia bukan tipe cowok yang menolak kesempatan.

Clarinne berbalik, menyibakkan rambutnya ke samping lalu membungkuk. Tangannya mengangkat rok jeans, memperlihatkan celana dalam renda hitam. Adden pun mengambil kondom dari dompet dan membukanya pakai gigi. "Yakin nih?"

"Ya, aku udah pengen ini lama banget."

Sinyal hijau. Clarinne menggesekkan pinggulnya ke bagian tubuh Adden yang sudah tegang lalu mendesah.

Adden membuka kancing celananya, memakaikan kondom, lalu mengusap-usapkan ujungnya di celah kewanitaan Clarinne. Astaga, dia bahkan sudah.

"Kamu pengen main sama aku, kan?" bisik Adden.

"Sejak kelas sepuluh."

Adden terkekeh lalu memasukkannya perlahan supaya Clarinne bisa beradaptasi. Beberapa cewek sering kesakitan, dan dia tidak mau melukainya.

"Aduh, Adden. Ternyata bener ya, kamu gede banget."

Adden mendorong lebih dalam dan mulai bergerak sementara Clarinne mencengkeram pinggiran meja.

"Pasti dong."

Ia mendorong lagi hingga Clarinne menegang. "Keras banget, Adden. Pelan-pelan."

Adden memperlambat gerakan, tidak memasukkannya sampai mentok. Ia mengatur ritme sambil tangannya bermain di dada gadis itu.

Adden pengen cepet selesai. Clarinne mendesah keras saat mencapai puncaknya, dan Adden bisa merasakan otot di sana berdenyut kencang.

"Hmm, enak banget. Astaga, Adden."

Setelah Clarinne selesai, Adden menghentak beberapa kali lalu melepaskan hasratnya di dalam kondom.

Ia menarik diri dan membuang kondomnya. Misi berhasil. Sekarang Clarinne pasti akan mennyebar cerita kalau sudah tidur sama dia.

Biarkan Mihoy tahu kalau cewek itu sama saja kayak yang lain. Cuma pelarian sesaat.

"Tadi luar biasa. Kita harus ulangi lagi," kata Clarinne sambil mengecup bibir Adden.

Adden tersenyum tipis lalu cuci tangan. "Nanti aku telepon."

Seseorang mengetuk pintu. Adden membuka pintunya dan jantungnya seketika berhenti berdetak.

Di depannya berdiri Melody. Mata cewek itu menatapnya lalu beralih ke Clarinne. Wajahnya langsung mengerti apa yang baru saja terjadi.

"Maaf, aku nggak tahu kalau ada orang di dalam."

Clarinne berjinjit dan mengecup pipi Adden. Tatapan Adden tak lepas dari Melody.

Apa yang dia lakuin di sini?

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!