NovelToon NovelToon
Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
​Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Keluarga Ailen yang Terungkap

Matahari baru saja menyembul di ufuk timur perairan Maluku ketika helikopter taktis siluman klan Vancort memotong awan kelabu. Di bawah mereka, hamparan laut biru tua membentang luas, menyembunyikan sebuah pulau terisolasi yang dikelilingi oleh tebing-tebing karang yang curam dan ombak yang bergulung ganas. Pulau Elang Hitam, benteng terakhir klan Gavrilov, akhirnya berada di depan mata.

​Di dalam kabin helikopter yang bising, atmosfer terasa sangat kontras. Leon Vancort duduk tegak dengan senapan serbu terkokang di pangkuannya, wajahnya sedingin es utara. Sementara di sebelahnya, Ailen Gavril sedang duduk bersila di kursi berlapis kulit premium, mengenakan daster bermotif buah semangka dengan jaket militer kebesaran milik Leon sebagai luaran. Di tangannya, sebuah kantong plastik hitam berisi sisa muntahan akibat mabuk laut sejak subuh tadi masih didekap erat.

​"Mas Leon... pulau bapak saya kok serem banget ya? Dari atas keliatan kayak jengkol raksasa yang udah busuk," keluh Ailen dengan suara serak, wajahnya masih sedikit pucat.

​Leon menoleh, ekspresi kerasnya melunak sesaat. Ia mengambil botol minyak kayu putih dari saku taktisnya dan mengoleskannya ke pelipis Ailen dengan ibu jarinya. "Itu bukan jengkol, Ailen. Itu formasi batuan vulkanik mati. Struktur alami seperti itu yang membuat satelit militer dunia tidak pernah bisa mendeteksi apa yang ada di dalam pulau ini selama dua puluh tahun."

​"Tuan, kita memasuki radius jangkauan menara pengawas otomatis," suara Marco memecah ketegangan melalui headset komunikasi. "Sistem pertahanan udara pulau mendeteksi kita. Mereka meminta verifikasi kode biologis."

​Leon menatap Ailen. "Ini waktunya, Ailen. Ambil kotak dekoder di bawah kursimu."

Helikopter mendarat darurat di sebuah landasan helipad tua yang sudah ditumbuhi lumut dan semak belukar di puncak tebing. Di depan mereka berdiri sebuah pintu baja raksasa yang tertanam langsung ke dalam dinding gunung batu. Tidak ada gagang pintu, tidak ada lubang kunci. Hanya ada sebuah layar pemindai digital kuno yang tertutup debu tebal.

​Leon, Marco, dan empat anggota elit tim Alpha membentuk formasi melingkar, melindungi Ailen dari segala kemungkinan serangan mendadak oleh sisa-sisa Black Cobra yang mungkin sudah mengintai di sekitar pulau.

​"Nona, silakan bersihkan layar pemindai itu dengan kain ini," ucap Marco sambil menyodorkan tisu antiseptik khusus militer.

​Ailen maju selangkah, menatap pintu baja yang tampak angkuh itu. Ia tidak mengambil tisu dari Marco. Sebaliknya, dengan kepraktisan khas anak panti asuhan, ia mengangkat ujung daster semangkanya dan menggosok layar kaca tersebut menggunakan kain dasternya sampai bersih mengkilap.

​"Nah, kalau pake daster lebih kesat, Mas Marco. Hemat tisu juga," ucap Ailen polos, membuat Marco terbatuk kecil dan Leon hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.

​Ailen kemudian meletakkan telapak tangan kanannya pada pemindai sidik jari, lalu mendekatkan mata kanannya ke lensa pemindai retina sesuai instruksi Leon di berkas digital kemarin.

​BZZZZZT... KLIK.

​Suara mekanik kuno yang sudah berkarat mulai berputar dari dalam dinding batu. Layar monitor yang tadinya mati mendadak menyala merah, menampilkan teks dalam bahasa Rusia kuno, disusul oleh suara panduan digital wanita yang terdengar patah-patah.

​"Identifikasi Biologis Diterima. Selamat datang kembali, Putri Mahkota Anastasia Gavrilova."

​BRAAAAKKKK... KREEEEEEKKK...

​Pintu baja seberat puluhan ton itu perlahan bergeser terbuka, melepaskan kepulan udara dingin bermutu tinggi yang sudah tersimpan selama dua dekade di dalam perut bumi.

Bagian dalam Pulau Elang Hitam ternyata bukan sekadar gudang penyimpanan senjata kaku, melainkan sebuah kompleks pemukiman bawah tanah yang sangat megah namun telah mati. Lorong-lorongnya dilapisi marmer putih yang kini berdebu, dengan lampu-lampu kristal yang bergantung di langit-langit tinggi. Di dinding-dinding lorong, terpajang lukisan-lukisan besar yang menggambarkan kejayaan klan Gavrilov di Eropa Timur.

​Ailen berjalan perlahan, matanya menatap sebuah lukisan raksasa yang berada di lobi utama. Di dalam lukisan itu, seorang pria gagah dengan seragam militer penuh bintang jasa sedang merangkul seorang wanita cantik bergaun sutra putih. Di pangkuan wanita itu, duduk seorang bayi perempuan bermata bulat besar yang sedang memegang sebuah liontin elang perak—liontin yang sama dengan yang sekarang menggantung di leher Ailen.

​"Itu... Ayah dan Ibu saya, Mas?" bisik Ailen, suaranya mendadak bergetar. Rasa konyol yang biasanya mendominasi dirinya seolah menguap, digantikan oleh kerinduan mendalam pada sosok yang bahkan tidak sempat ia ingat wajah aslinya.

​Leon berjalan di sampingnya, meletakkan tangannya di pinggang Ailen untuk memberikan kekuatan. "Ya. Andrei Gavrilov dan Elena Gavrilova. Mereka bukan sekadar pedagang senjata ilegal, Ailen. Dari dokumen yang baru didekripsi, ayahmu sebenarnya adalah seorang agen intelijen ganda yang membelot dari sistem korup pemerintahan lama untuk melindungi ribuan keluarga pelarian perang."

​Mereka terus melangkah hingga sampai di ruang arsip utama—sebuah ruangan melingkar yang dipenuhi oleh ribuan tabung silinder berisi piringan data digital kuno. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja holografik yang langsung aktif begitu Ailen mendekat.

Sebuah proyeksi holografik tiga dimensi muncul di atas meja. Sosok Andrei Gavrilov—dalam versi digital yang sedikit bergetar karena usia data—berdiri di depan mereka. Pria di dalam hologram itu memiliki mata yang sangat mirip dengan Ailen: tajam namun menyimpan kehangatan.

​"Anastasia, putri kecilku..." suara pria itu terdengar berat, berbicara dalam bahasa Indonesia yang sangat fasih namun dengan aksen Rusia yang kental. Rekaman ini jelas dibuat sesaat sebelum panti asuhan tempat Ailen dititipkan diserang dua puluh tahun lalu.

​"Jika kau melihat rekaman ini, berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, dan kau sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik. Maafkan Ayah karena harus meninggalkanmu di tanah asing dengan identitas palsu sebagai 'Ailen'. Ayah harus memotong seluruh jalur hubungan darah agar klan-klan serakah di Eropa tidak memburumu."

​Hologram Andrei bergerak, seolah-olah ingin menyentuh wajah Ailen yang kini sudah basah oleh air mata.

​"Rahasia terbesar keluarga kita bukan terletak pada daftar pasokan senjata atau emas yang tersimpan di ruang bawah tanah pulau ini. Rahasia sebenarnya adalah tentang dirimu, Anastasia. Kau adalah kunci dari proyek 'Czar'- sebuah sistem enkripsi global yang bisa mematikan seluruh jaringan satelit militer dunia dalam satu detik. Ayah menanamkan kode master dari proyek itu di dalam struktur DNA-mu."

​Leon dan Marco tersentak mendengar penjelasan tersebut. Ini jauh lebih besar daripada sekadar jalur logistik mafia. Ini adalah senjata pemusnah massal digital.

​"Klan Moretti dan Black Cobra tahu tentang proyek ini. Mereka mengira kode itu ada di dalam liontinmu, padahal liontin itu hanyalah pengalih perhatian. Kodenya ada di dalam dirimu. Ayah mohon, Anastasia... gunakan kekuatan ini hanya jika dunia sudah tidak memiliki jalan lain untuk perdamaian. Dan carilah seseorang yang bisa melindungimu, seseorang yang tidak melihatmu sebagai senjata, melainkan sebagai manusia."

​Proyeksi holografik itu perlahan meredup dan menghilang, meninggalkan keheningan yang sangat pekat di dalam ruang arsip.

"Mas Leon... saya ternyata bukan cuma anak panti yang hobi makan jengkol ya?" ucap Ailen sambil menghapus air matanya dengan lengan jaket militer Leon. "Saya ternyata... semacam tombol kiamat berjalan?"

​Leon membalikkan tubuh Ailen, menatap langsung ke dalam matanya yang basah. "Kau adalah Ailen-ku. Tidak peduli kode apa yang ada di dalam tubuhmu, bagiku kau tetaplah gadis semprul yang merusak tembok ruang latihanku. Aku tidak peduli dengan proyek Czar atau satelit dunia. Tugas utamaku adalah menjaga jantungmu tetap berdetak."

​Momen emosional itu mendadak hancur berantakan ketika sistem alarm pulau berbunyi dengan nada melengking yang mengerikan.

​WIUUUUU... WIUUUUU... WIUUUUU...

​"Tuan! Laporan dari perimeter luar!" Marco berteriak sambil mengokang senapannya. "Pasukan gabungan Black Cobra dan klan Moretti berhasil menembus blokade laut! Mereka menggunakan kapal selam mini dan sekarang sudah berada di jalur pendakian tebing barat! Jumlah mereka lebih dari lima puluh orang!"

​"Mereka sengaja membiarkan kita membuka gerbangnya terlebih dahulu," ucap Leon dengan rahang mengeras. "Taktik parasit klasik."

Leon segera membagi tim Alpha untuk menahan posisi di pintu masuk utama, namun jumlah musuh yang terlalu banyak membuat mereka terdesak masuk ke dalam koridor marmer. Suara desing peluru dan ledakan granat mulai menggema di dalam labirin bawah tanah klan Gavrilov.

​"Marco, bawa Ailen ke ruang kendali inti! Aku akan menahan mereka di lobi!" perintah Leon sambil merunduk di balik pilar marmer, membalas tembakan musuh dengan akurasi mematikan.

​Ailen yang ditarik oleh Marco menuju ruang kendali merasa tidak bisa tinggal diam. Saat melewati ruang penyimpanan logistik kuno pulau, matanya menangkap sesuatu yang sangat tidak biasa: Ratusan karung tepung gandum tua dan tabung gas pemadam api raksasa yang sudah kedaluwarsa.

​"Mas Marco! Berhenti! Jangan lari dulu!" seru Ailen menarik rompi taktis Marco.

​"Nona! Kita harus segera mengamankan Anda!"

​"Mas Marco mau menang apa mau mati keren? Sini bantu saya! Kita bikin efek 'Tepung Maut' versi skala industri!" perintah Ailen dengan mata berbinar licik.

​Dengan bantuan Marco yang terpaksa patuh karena tidak punya waktu untuk berdebat, Ailen menyusun puluhan karung tepung di atas balkon lantai dua yang menghadap langsung ke koridor utama tempat pasukan Black Cobra mulai merangsek masuk. Ia mengikat tabung gas pemadam api di antara karung-karung tersebut, menciptakan sebuah sistem jebakan tekanan udara buatan sendiri.

​Saat pasukan musuh yang dipimpin oleh seorang komandan klan Moretti bertubuh kekar mulai melewati kolong balkon, Ailen berteriak dengan lantang dari atas.

​"WOI BULE BOTAK! LIAT KE ATAS!"

​Komandan itu mendongak, dan tepat pada saat itu, Ailen memukul katup tabung gas pemadam api menggunakan sebuah linggis besi dengan sekuat tenaga.

​BOOOOOOOOOOOMMMMMM!!!

​Tekanan gas yang luar biasa besar meledakkan seluruh karung tepung gandum di atas balkon, menciptakan fenomena dust explosion atau ledakan debu skala besar. Seluruh koridor seketika dipenuhi oleh awan putih yang sangat pekat, membutakan mata musuh secara total dan membuat mereka terbatuk-batuk hebat karena paru-paru mereka kemasukan bubuk tepung gandum kuno yang sudah berjamur.

​"Uhuk! Uhuk! Apa-apaan ini?! Gas kimia apa ini?!" teriak para tentara Moretti dalam kepanikan.

​"Itu bukan gas kimia, Om! Itu bahan dasar martabak buatan bapak saya!" teriak Ailen dari atas sambil melemparkan kaleng-kaleng sosis kosong ke arah kepala mereka untuk menambah kekacauan.

Leon yang melihat kesempatan emas dari aksi konyol Ailen langsung bergerak maju bersama tim Alpha. Menembak musuh yang sedang buta dan terbatuk-batuk di dalam awan tepung bukanlah hal yang sulit bagi pasukan elit Vancort. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh pasukan penyerbu berhasil dilumpuhkan tanpa ada satu pun korban jiwa dari pihak Leon.

​Setelah debu tepung mulai turun, seluruh kompleks bawah tanah itu kini tampak seperti tertutup salju putih. Leon berjalan mendekati Ailen yang sekarang rambut kuncir duanya sudah memutih penuh tepung, membuatnya tampak seperti hantu cilik bermotif semangka.

​Leon berhenti di depannya, menatap pemandangan itu, lalu perlahan menyeka tepung dari hidung Ailen. "Kreativitasmu... benar-benar melampaui batas logika militer mana pun di dunia ini, Anastasia."

​Ailen cemberut. "Jangan panggil Anastasia ah Mas, aneh kedengerannya. Panggil Ailen aja. Lagian nama Anastasia kayaknya terlalu anggun buat cewek yang barusan ngehancurin pasukan elit pake tepung terigu."

​Leon tersenyum, lalu mengecup bibir Ailen yang masih terasa sedikit manis karena sisa ubi bakar tadi subuh—ciuman yang kali ini benar-benar bersih dari gangguan suara kentut maupun interupsi dari Marco.

​"Baiklah, Ailen. Mari kita ambil data klanmu, kita kunci sistem 'Czar' ini agar hanya bisa aktif jika kau yang memintanya, lalu kita pulang ke rumah. Aku berjanji akan membangun kembali panti asuhanmu dengan sistem keamanan yang sama kuatnya dengan pulau ini," ucap Leon tulus.

​Mereka berjalan keluar dari Pulau Elang Hitam menuju helikopter yang sudah menunggu, meninggalkan masa lalu yang kelam dengan membawa kebenaran yang baru. Ailen kini tahu siapa dirinya, namun yang lebih penting, ia tahu di mana ia seharusnya berada—di samping sang Iblis yang kini telah sepenuhnya dijinakkan oleh daster stroberi dan segala kegilaannya.

1
Riska Baelah
ap pun msalh ny slalu berakhir dng manis🤣😄🤣😄🤭👍
kya martabak komplit👍👍👍
Riska Baelah
suka bnget sama leon mna bos kaya, sabar lg ngadepin si aelin kekasih semprul ny😄🤣😄🤭👍👍👍👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄😄😄🤣🤭
Riska Baelah
ya gak d kenyataan gak d dunia novel yg nma ny perempuan, klu liat diskon gak akan thannnn🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
swettt😍😍😍😍
Riska Baelah
sempat2 ny leon ailen ciuman d tengah perang yaaa🤣😄🤣😄🤭
Riska Baelah
😍😍😍😍😍
Riska Baelah
lnjut👍👍👍👍
Riska Baelah
😍😍😍😍😍😍
Riska Baelah
kk ini ya bisa bnget buat kata2"
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍
Riska Baelah
gimana cara ny mati sambil ketawa😄🤣😄🤣🤭 ad2 aj kk ini👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭👍
Riska Baelah
kk, ap ini kisah ank ny karin sama vittorio,,yg d sebelah
Riska Baelah: kirain, soal ny blum rela jg klu vittorio d tamatin🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!