NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:94.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Ancaman Tersembunyi

Sabrina merapikan selimut Sebastian. Mata tajamnya menangkap sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Lampu tidur temaram di kamar memancarkan cahaya kuning lembut, membiaskan bayangan panjang di dinding pualam. Di sela-sela lipatan kain flanel biru yang membungkus tubuh Sebastian, sebuah benda kecil terikat melilit jeruji kuningan ranjang bayi. Benda itu kontras dengan warna selimut. Sebuah garis tipis, pucat, dan mengilap di bawah cahaya.

Sabrina mengulurkan jemarinya. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut, melainkan otot-ototnya masih lemas akibat pendarahan hebat seharian ini. Ia menjepit benda itu.

Benang sutra putih.

Dingin seketika merayap dari ujung jarinya, memanjat lewat saraf, lalu meledak di pangkal otaknya. Bau besi dari darah nifas yang mengering di korset mendadak terasa lebih tajam. Aroma karat itu memanggil paksa memori kelam Maureen dari kehidupan sebelumnya.

Dada Sabrina mendadak sesak. Nyeri siluman merobek tulang rusuknya secara kasar, menenggelamkan rasa perih di jahitan perut bawahnya.

Api, serpihan besi, lalu kegelapan. Maureen tewas di tengah ledakan pabrik.

Hawa panas mencairkan kulitnya dari tulang. Udara di sekitarnya berubah menjadi racun mematikan yang merobek paru-paru setiap kali ia menarik napas.

Gelombang kejut dari bahan peledak C4 melempar tubuhnya menabrak pilar beton. Suara tulang rusuk yang patah tenggelam di bawah raungan api.

Darah menyumbat tenggorokannya. Ia memuntahkan gumpalan merah pekat ke lantai besi yang membara.

"Vincent," ucap Maureen, suaranya parau tertahan darah.

Pria jangkung berjas hitam itu berdiri aman di balik kaca antipeluru di ruang kendali lantai atas. Mata elangnya menatap lurus ke bawah.

Wajahnya sedingin bongkahan es. Tidak ada senyum kemenangan, tidak ada jejak penyesalan. Vincent Santoso menganggap emosi adalah kelemahan, dan ia baru saja membuktikan prinsip dasar itu dengan mengorbankan partner terbaiknya.

Pria itu menekan tombol merah terakhir.

Lantai di bawah kaki Maureen runtuh.

Mati.

Napas Sabrina tersengal. Ingatan kematian itu menyentak kesadarannya kembali ke masa kini, menyisakan keringat dingin sebesar biji jagung di dahinya. Ia mencengkeram erat benang sutra putih tersebut.

Ini adalah tanda tangan Ordo Sutra. Simpul putih berarti satu hal. Misi aktif. Kontrak kematian absolut yang tidak akan pernah bisa dibatalkan sampai target benar-benar berhenti bernapas.

Target utama Ordo Sutra malam itu adalah Sabrina Tanjung. Kania telah mentransfer angka triliunan kepada sindikat tersebut untuk menyingkirkan adik angkatnya. Namun Ordo memiliki pantangan mutlak, mereka dilarang keras menerima misi menghabisi anak kecil dan wanita hamil. Maureen menolak menarik pelatuknya saat menatap perut buncit Sabrina. Ia memilih menggagalkan misinya sendiri.

Tetapi Vincent meludahi kode etik itu. Ia menjebak Maureen di pabrik tua, membakarnya hidup-hidup sebagai hukuman karena penolakan Maureen dianggap sebagai kecacatan emosional.

Ironi takdir bekerja terlalu sadis. Kini, jiwa Maureen bereinkarnasi masuk ke dalam tubuh target yang harus ia bunuh. Dan kehadiran benang ini membuktikan satu hal mengerikan, kontrak maut Kania masih berjalan utuh.

Pintu jati kamar terbuka perlahan. Langkah kaki yang mantap terdengar mendekat. Aroma tembakau cerutu dan musk mengambil alih udara ruangan.

"Kau belum tidur juga, Sabrina?" Adrian masuk tanpa mengetuk. Pria itu sudah melepas jas kerjanya.

"Tutup pintunya rapat-rapat, Adrian," desis Sabrina pelan.

"Tirta bilang kau butuh istirahat total." Adrian melangkah mendekati ranjang bayi. "Jangan mencari keributan baru setelah kau menguras habis kekuasaan pamanku di ruang rapat tadi."

"Seseorang menyusup masuk ke kamar anakku lima menit yang lalu."

"Mustahil." Adrian menatap istrinya datar. "Pengawal di depan adalah orang-orang elit. Lapis tiga."

"Keamananmu adalah lelucon mahal." Sabrina menunjuk jeruji ranjang. "Lihat ikatan ini."

Adrian menunduk. Ia menyentuh benang itu menggunakan telunjuknya. "Hanya benang rajut yang tersangkut. Pelayan pasti kurang teliti saat mencuci selimut Sebastian."

"Ini sutra putih murni dari Tiongkok." Sabrina menatap langsung menembus pupil mata suaminya. "Diikat dengan simpul algojo. Ini tanda kontrak pembunuhan dari dunia bawah, Adrian."

"Imajinasimu terlalu liar akibat obat bius."

"Kania menyewa sindikat bayaran sebelum kau mengusirnya tadi. Dia membayar sangat mahal untuk menyembelihku."

"Kania tidak punya kapasitas otak untuk menyewa pembunuh profesional," bantah Adrian tenang. Pria tiran ini paling tidak suka propertinya dianggap rentan.

"Kau meremehkan keputusasaan seorang wanita yang kehilangan seluruh hartanya."

Adrian merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan pemotong cerutu dari baja putih.

Klik.

Bilah kecil tajam itu memotong benang sutra putih di jeruji ranjang hingga terputus dua. Adrian memungutnya, lalu menjatuhkan sisa benang itu ke karpet.

"Masalah selesai," ucap Adrian mutlak. "Tidak ada kontrak pembunuhan di rumahku."

"Kau mengundang malapetaka jika kau membuang peringatan ini, Adrian."

"Aku penguasa di sini. Aturanku yang berlaku." Adrian memasukkan kembali alat pemotong itu ke saku. "Aku sudah menggandakan personel jaga di seluruh akses masuk. Kepala keamanan baruku akan mengawasi lorong ini secara pribadi mulai detik ini."

"Siapa dia?" tanya Sabrina waspada.

"Vincent Santoso."

Sabrina membeku. Jantungnya melewatkan dua ketukan berturut-turut. Rasa sakit di jahitan perut bawahnya mendadak tergantikan oleh hawa dingin yang merayap menggigit tulang belakangnya.

"Tarik dia dari lorong ini sekarang juga," perintah Sabrina, suaranya sedikit bergetar menahan luapan emosi gelap.

"Kau mulai berani mengatur keputusanku?" Mata Adrian memicing tajam.

"Aku tidak suka orang asing mendekati kamarku."

"Dia mesin pembunuh paling efisien yang pernah kurekrut," puji Adrian lugas. "Latar belakangnya sangat bersih. Dia tentara bayaran elit. Dia tidak punya emosi. Dia profil yang sempurna untuk menjaga aset sepertimu."

Sabrina menggigit pipi bagian dalamnya hingga terasa anyir darah. Pria yang membakarnya hidup-hidup kini berdiri sepuluh meter dari posisinya, disewa secara legal oleh suaminya sendiri.

"Tidak ada kesetiaan mutlak di dunia tentara bayaran, Adrian."

"Tidurlah, Sabrina. Aku harus kembali ke ruang kerja meninjau portofolio saham barumu."

Adrian memutar tubuhnya. Pria arogan itu berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pintu jati tebal ditutup rapat, memutus sisa suara dari luar.

Sabrina berdiri mematung di samping ranjang. Napasnya memburu cepat. Otaknya berputar menyusun ribuan skenario pertarungan. Vincent tidak tahu bahwa jiwa Maureen berada di dalam tubuh ini. Pria itu mengira ia murni hanya sedang menjaga Sabrina Tanjung, target utamanya sendiri, menunggu celah paling rapuh untuk mengeksekusi kontrak Kania tanpa terendus oleh Adrian.

Sabrina perlahan memutar pandangannya ke arah ranjang. Ia menatap wajah damai Sebastian yang terlelap.

"Mereka tidak akan menyentuhmu," bisik Sabrina pelan. Ia mengelus dahi Sebastian yang hangat menggunakan punggung jarinya.

"Dulu aku mati karena menolak menyingkirkanmu dari dunia ini. Sekarang, aku akan membunuh mereka semua agar kau tetap bernapas."

1
Endang Sulistia
seru..menegangkan..keren...
lee zha
bagus...tegang penuh intrik 🥳🥳🤩🤩semangat Thor...
Anonim
aneh ya tirannya lembek nggak bisa ngapa ngapain
Sandisalbiah
LUAR BIASA
Sandisalbiah
hanya untuk menyambut satu org perempuan Vincent mengerahkan seluruh tim elit ordo sutra... kau yg terlalu pengecut buat hadapin Maureen sendiri atau kau ngerasa gak mampu buat menghadapi dia sendirian, Vincent..? bahkan kau mempersiapkan segala jebakan secara maksimal dan totalitas... sebegitu menyeramkan sosok Maureen bagimu ternyata... dasar banci..
Sandisalbiah
untungnya Adrian sudah memberi mandat utk Sabrina akan kekuasaan mutlak yg tak bisa di banyak oleh bawahan Adrian.. siapa sangka musuh begitu lihai, licik dan licin.. Sabrina kudu ekstra kerja keras.. memaksa otot dan otak kolaborasi buat menghadapi lawan..
Sandisalbiah
intinya Adrian percaya sepenuhnya pd Sabrina.. good job.. krn emang Sabrina yg paling paham apa yg sedang mereka hadapi juga mengingat insting nya yg lebih tajam dan peka...
Sandisalbiah
mereka berdua mulai berdamai dgn kondisi dan sedikit mengarah pd perdamaian hati.. mungkin..
Sandisalbiah
Sabrina dan Vincent ibarat raga dan bayangan.. satu sama lai saling memahami keunggulan dan keahlian masing² .. insting yg sama² tajam.. jadi waspada dan siaga total adalah solusi terbaik buat pertahanan diri..
Sandisalbiah
Sabrina seolah menghadapi dirinya sendiri, itu sebabnya dia faham betul apa yg perlu dia lakukan dan dia siapkan..
Sandisalbiah
harusnya kepala dan tubuh Kania ini dipisahkan dan di kirim dlm paket yg berbeda... otak bebalnya gak pernah belajar dr yg sudah dia alami.. masih aja menjual kesedihan dgn fitnah murahan menjadi senjatanya.. gak merah dgn ending yg selalu Sabrina berikan
Sandisalbiah
Sabrina selalu memprovokasi lawan utk menyatukan mental mereka.. lawan mendapat serangan kepanikan krn tekanan psikologis drnya
Sandisalbiah
hem.. akhirnya sang tiran mengakui kekuatan Sabrina dan tunduk patuh padanya.. ya walau gak sepenuhnya tunduk rp jelas dia mengakui kalau Sabrina itu lebih dr mampu..
Sandisalbiah
sadar sepenuhnya kalau itu jebakan tp masih di ladenin.. konyol si kalau sampai Sandrina gak punya rencana sebelumnya... krn dia faham betul situasinya kan..?
Sandisalbiah
hah.. selalu ya.. kenapa musih selalu mudah menebak, memprediksi gerakan atau mencium siapa yg jd target mereka.. dan sayangnya Adrian terlalu bebal utk mpercayai insting istrinya walau berulang kali Sabrina sudah mbuktikan bahkan beraksi dlm melindungi mereka...
Sandisalbiah
Sabrina adalah korban Vincent tepatnya Maureen lah korban yang dan Sabrina adalah target Vincent... dia bukan ragu tp waspada pd pengawal bayaran itu.. krn uanglah tuan mereka yg sesungguhnya dan uang bisa merubah dr yg harus di jaga malah menjadi target..
Sandisalbiah
istriku.. istriku.. mulai lembek hati lu.. Adrian.. ishh
Sandisalbiah
lagian manusia bodoh mana yg akan merasa aman tinggal seatap dgn perempuan yg sudah menculiknya dan menyewa preman buat membunuh dia dan bayinya seperti binatang.. di tambah suami iblis yg otaknya sebelas duabelas belas dgn iblis dan hewan predator tanpa ada sisi kemanusiaan yang sama sekali.. lalu dr segi mana Sabrina harus merasa aman Adrian.. lu tololl apa buta atau sengaja biar Sabrina beneran mati kah..
Sandisalbiah
itu suami dajjal si Sabrina membawa mereka ke tempat paling aman katanya tp justru Menyerahkannya ke sarang yg isinya anjing penjaga Kania... otak Adrian itu bodoh atau tololl sebenarnya.. jd gedeg sendiri...
Dewi Kasinji
si Adrian ini tiran apa ya ??? kok kyk e ceroboh banget 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!