Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Profil Elang Dirgantara (flashback)
Nama : Elang Dirgantara. berusia tiga puluh tahun. ia adalah anak tunggal dari Surya Dirgantara, pemilik Dirgantara Group, perusahaan besar yang menjadi tempat Arumi bekerja. Tidak banyak orang yang tahu siapa ia sebenarnya. Selama ini Dia menempuh pendidikan di luar negeri dan baru kembali ke tanah air empat bulan yang lalu. Orang tuanya sengaja menyembunyikan identitasnya demi keamanan,Namun, bila waktunya tiba, Elang akan diperkenalkan ke publik sebagai pewaris tunggal Dirgantara Group.
Sebelum orang tua Elang memperkenalkannya pada publik sebagai pewaris Dirgantara Group, Orang tuanya memberi ia sebuah tantangan besar.Dia harus bisa memecahkan masalah penggelapan dana dan menangkap para tikus kantor yang menggerogoti perusahaan cabang tempat Arumi bekerja. Kerugian yang ditimbulkan sangat besar dan harus ditanggung oleh pusat perusahaan. Untuk melancarkan penyelidikan, ia menyamar sebagai office boy (OB) di kantor cabang tersebut. Hanya asistennya, Bima, yang mengetahui identitas asliku.
Sebagai tantangan tambahan, selama Elang belum berhasil menyelesaikan misi,Orang tuanya meminta ia menjadi penjual bakso bakar. Tujuannya agar bisa merasakan sendiri betapa sulitnya mencari uang,karena selama ini ia hanya terbiasa meminta dan menghambur-hamburkan uang tanpa tahu nilai perjuangan.
“Elang! Kamu sekarang sudah menyelesaikan pendidikanmu!” ujar Ayahnya saat mereka makan malam bersama
“Iya, Pa,” jawabku sambil mengunyah makanan.
“ Papa janji padamu. Kalau kamu bisa menyelesaikan pendidikan dengan nilai terbaik, maka kamu akan mengambil alih semua perusahaan Papa,” ucap Elang mengingatkan
“Itu Papa tidak lupa.”
Elang tersenyum senang. Sebentar lagi ia akan menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah pewaris Dirgantara Group. Dia juga ingin membuktikan pada mantan pacarnya bahwa orang yang dulu ia hinakan dan remehkan ternyata adalah calon pemimpin perusahaan besar yang diperhitungkan di seluruh dunia.
Selama menempuh pendidikan di luar negeri, Orang tuanya sengaja menutup jati diriku dengan alasan keamanan. Secara diam-diam, ia selalu menempatkan orang untuk menjaganya Meski begitu, Elang tetap merasa tersiksa karena harus menyembunyikan identitas.
“Kira-kira kapan, Pa, aku diperkenalkan pada publik sebagai pewaris Dirgantara Group?” tanyanya dengan penuh antusias.
“Itu belum waktunya.”
“Hah? Belum waktunya? Terus kapan? Bukankah Papa sendiri yang berjanji kalau aku sudah lulus kuliah, aku akan memegang semua perusahaan."
“Itu tidak semudah itu, Elang. Kamu harus bisa melewati tantangan yang kami berikan. Baru setelah itu Papa bisa menyerahkan perusahaan-perusahaan yang Papa bangun untuk kamu pimpin,”
“Kenapa begitu? kalian tidak sayang aku? Aku sedari dulu selalu dihina dan diremehkan orang karena kalian menyembunyikan identitasku!”
“Bukan begitu, Elang. Semua yang kami lakukan adalah untuk kebaikanmu dan keamananmu,” jelas Mama dengan lembut.
“Tetap saja, Ma. Selama kuliah aku selalu diremehkan karena identitasku disembunyikan,”
Memang benar. Selama di luar negeri, orang tuanya membatasi pengeluarannya sehingga orang-orang di sana hanya mengira ia miskin dan sekolah melalui jalur beasiswa.
“Iya, kamu tahu. Tapi kami melakukan itu demi kebaikanmu,”
“Tapi kalian pilih kasih! Bima kalian suruh pulang lebih cepat dan diberi jabatan di perusahaan. Sedangkan aku disuruh meneruskan pendidikan di jurusan yang berbeda!”
Bima adalah sahabat Elang sejak SMA. Karena ia anak yatim piatu dan sangat pintar, Orang tuanya memberi kesempatan kepadanya untuk melanjutkan sekolah di luar negeri bersama Elang Sekaligus menjadi teman Elang ,agar ia tidak terpengaruh oleh kehidupan Barat yang bebas.
“Iya, sengaja kami lakukan itu agar Bima terlebih dahulu belajar sebelum mendampingimu menjalankan perusahaan,” jelas Papa. Memang karena kepintaran Bima, ia bisa menyelesaikan pendidikan lebih cepat dari Elang . Mereka kuliah di dua jurusan berbeda: Elang di ekonomi dan Bima di IT. Bima lebih unggul sehingga ia lulus lebih dulu.
“Tapi kenapa tidak sekarang saja Papa mempercayakan perusahaan kepadaku? Bukankah aku sudah menyelesaikan kuliah dengan nilai seperti yang Papa inginkan?”
“Perusahaan itu akan jatuh ke tanganmu. Tapi tidak untuk saat ini. Sebelum kamu menyelesaikan tantangan yang kami berikan,”
“Tantangan? Tantangan apa itu, ?”
“Begini, Elang. Perusahaan cabang di daerah tertentu mengalami kerugian sangat besar. Imbasnya, perusahaan pusat harus menutup kerugian tersebut. Papa tidak mau perusahaan cabang itu bangkrut dan menyebabkan PHK massal bagi karyawan yang menggantungkan hidup mereka di perusahaan kita,”
“Jadi Papa menginginkan aku bagaimana?”
“Papa ingin kamu menyelesaikan masalah di perusahaan cabang itu. Kamu harus bisa menemukan dan menangkap orang-orang yang terlibat dalam penggelapan dana. Apakah kamu sanggup menerima tantangan ini?”
Elang termenung sejenak, memikirkan tawaran itu.
“Gimana, Elang? Kamu sanggup tidak mengatasi masalah di kantor cabang itu?”
“Sanggup, Pa! Aku sanggup! Aku akan membongkar semua dalang yang berada di kantor cabang itu!” jawabnya dengan penuh percaya diri.
“Bagus! Itu baru anak Papa!”
“Iya dong, Pa! Siapa dulu, Elang Dirgantara!” kata Elang sombong sambil menepuk dada.
“Tapi selama kamu menyelesaikan misi ini, kamu tidak boleh menunjukkan jati dirimu!” ujar Papa tegas.
Elang terbengong. “Hah? Maksud Papi apa? Kenapa aku tidak boleh membuka jati diriku?”
“Saat ini belum waktunya kamu membuka identitasmu, Elang. Ini semua untuk keselamatanmu dan agar kamu lebih mudah menyelesaikan misi,” jelas Papa
“Benar, Nak. Kalau tidak ada yang tahu identitasmu, justru itu akan mempermudah tugasmu,” tambah Mama
“Tapi, Ma bagaimana aku bisa mengetahui orang-orang yang terlibat kalau aku tidak boleh menunjukkan jati diriku? Dan bagaimana aku bisa masuk ke perusahaan itu?” tanya Elang manja
Mama berpikir sejenak. “Emm… gimana kalau kamu menyamar sebagai OB saja?”
“Hah? OB, Ma? Tidak salah?” sahut Elang terkejut. Seumur hidup ia belum pernah bekerja seperti itu.
Papaku langsung setuju. “Papa setuju dengan usul Mami-mu, Elang. Dengan menyamar sebagai OB, kamu akan lebih mudah menyusup dan mencari bukti kecurangan di dalam perusahaan kita.”
“Tapi, Pa! Aku kan belum pernah bekerja seperti itu. Nanti aku capek dan bau!” protes Elang , berharap mereka mengasihani.
“Kamu laki-laki, jangan cengeng, Elang. Ingat, kamu harus bertanggung jawab dan belajar bekerja keras. Nanti kamu yang akan memberi makan istri dan anak-anakmu,”
“Harta Papi kan banyak. Ngapain repot-repot kerja keras? Toh nantinya semua milikku juga,”
“Kamu tidak boleh berpikir begitu, Elang,” kata Mama lembut tapi tegas. “Meski harta Papamu melimpah, suatu saat kami tidak akan ada lagi. Kalau perusahaan bangkrut, bagaimana kamu bisa bertahan kalau tidak punya bekal dan mental yang kuat?”
Mendengar penjelasan Mama, Elang mulai mengerti tujuan orang tuanya
“Benar, Mi. Tapi aku tidak mau Mama dan Papa meninggalkan aku. Nanti aku sama siapa?” tanya Elang manja.
Mam tersenyum. “Suatu saat kamu akan punya keluarga sendiri, istri, dan anak yang menjadi penerus kita. Kami akan tua. Jadi selama kami masih ada, kami ingin menjadikanmu anak yang kuat, bertanggung jawab, dan sukses meneruskan Dirgantara Group.”
“Iya,Ma. Aku akan menjadi anak yang kuat seperti keinginan Mami dan Papi,”
“Bagus! Itu baru anak Papi. Jadi, kamu mau menjalankan misi ini dan menyamar sebagai OB di perusahaan cabang yang bermasalah itu?” tanya Papiku.
“Baiklah, Pi. Aku terima tantangannya!” jawabku tegas.
“Bagus, itu baru anak lelaki!”
“Jadi cuma itu tantangannya, Pa? Untuk bisa menjadi pimpinan Dirgantara Group?”
“Masih ada satu lagi,”
“Hah? Satu lagi? Apa itu, Pa?” t
“Selama menjalani misi membongkar dalang penggelapan, Papi ingin kamu berjualan bakso bakar dan tinggal terpisah dari kami dengan mengontrak seperti rakyat jelata pada umumnya,”
Aku
Elang nampak shock berat. “Hah? Sampai begitunya, Pa?”
“Iya. Dan kamu tenang saja, Papi beri waktu enam bulan untuk menyelesaikan misi ini,”
“Hah? Enam bulan, Pa?”
“Iya, kenapa?”
“Itu terlalu lama, Pa! Nanti kalau ada orang yang tahu aku berjualan bakso bakar, gimana? Apalagi kalau mantan pacarku tahu, pasti dia semakin menghinaku!”
Elang sedih mengingat mantan pacarnya yang meninggalkannya karena mengira ia miskin dan berselingkuh dengan rivalnya yang orang tuanya kaya raya. Ia tidak tahu bahwa Elang sebenarnya anak orang kaya.
“Kenapa kamu harus malu? Dengan berjualan bakso bakar, kamu akan tahu sifat asli mantan pacarmu. Siapa tahu kamu justru menemukan jodoh yang lebih cantik, yang mencintaimu apa adanya,”
“Iya, benar apa yang dikatakan Mama-mu. Dengan bekerja sebagai OB dan berjualan bakso bakar, kamu bisa menemukan orang yang benar-benar tulus padamu."
“Tapi ,,, mana ada wanita yang mau dengan aku? Apalagi aku hanya OB dan penjual bakso bakar,”
Dengan tekad baru, Dia siap menghadapi tantangan ini. Meski berat, ia percaya semua ini akan membentuknya menjadi pemimpin yang lebih baik. Suatu hari nanti, ia akan memimpin Dirgantara Group dengan ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan dari bawah.